Senin, 06 April 2015

Once Upon A Time In The Forest Part 4



Forst memperhatikan beberapa poster yang ditempel pada dinding koridor. Di sana tertulis berbagai macam bagian dari tumbuhan. Seperti perbedaan tumbuhan monokotil dan dikotil, juga jenis akar tunggang dan akar serabut. Ia membaca semua semua penjelasan itu dengan saksama. Demi lebih mengenal teman-temannya.

Sebelum kemari, Karen juga mengajak Forst berjalan-jalan di daerah sekitar laboratorium. Di sana terdapat berbagai macam tumbuhan yang dibudidayakan di sini. Bahkan saat Forst bertanya pada tumbuhan-tumbuhan itu, mereka bercerita bahwa perawat kebun selalu memperlakukan mereka dengan sangat baik.

“Forst,” Karen bergumam dan membuyarkan konsentrasi Forst. Lelaki itu menoleh dan menatapnya leakt-lekat hingga membuatnya tersipu. “Ini jas lab untukmu.”

Forst terpana. Sebenarnya ruangan apa yang baru dimasuki Karen tadi? Apakah ruangan itu selalu bisa mengubah penampilan seorang gadis?

Mata Forst mengerjap beberapa kali. Penampilan Karen benar-benar berbeda dari sebelumnya. Jas lab berwarna putih membalut tubuhnya. Rambut ikalnya digelung rapi. Sebuah kacamata berbingkai hijau bertengger di wajahnya. Entah mengapa setiap kali melihat Karen, Forst selalu merasa bahwa gadis itu semakin... cantik.

Forst merasa pipinya merona. Kata-kata itu terasa asing di lidah Forst. Kapan terakhir kali ia menganggap seorang gadis cantik? Sepertinya sudah lama sekali. Biasanya ia lebih sering memuji kecantikan bunga-bunga yang tengah mekar.

Tapi kali ini Forst memuji kecantikan manusia. Apakah itu salah?

“Forst?” panggil Karen dan menarik Forst dari lamunannya. Kening gadis itu mengernyit heran. “Apa kau baik-baik saja?”

Forst tergeragap. “Te-tentu saja aku baik-baik saja.” Ia cepat-cepat meraih jas lab yang disodorkan Karen lalu mengenakannya.

Tiba-tiba saja Karen secara impulsif membantu Forst merapikan jas labnya. Gadis itu menepuk-nepuk bahu Forst, mengusir debu yang menempel di sana. Dan membuat Forst tersipu sekali lagi.

Tidak cukup sampai di situ.

Forst menelan ludah saat Karen menggenggam lembut tangannya. Gadis itu menariknya melintasi koridor. Ia hanya bisa mengikuti langkah gadis itu dengan jantung berdebar-debar. Ini pertama kalinya seorang gadis membuat Forst seperti ini.

“Ayo, aku akan memperkenalkanmu pada Profesor!”

***

Profesor yang dimaksud oleh Karen ternyata memiliki penampilan yang jauh berbeda dari bayangan Forst. Alih-alih botak dan beruban, Profesor itu justru memiliki rambut hitam yang menjuntai sebatas bahunya. Usianya mungkin sepuluh tahun lebih tua dari Forst. Lelaki itu bahkan tampak lebih pantas menjadi model majalah daripada berkutat dengan penemuannya di dalam laboratorium.

Saat Karen dan Forst memasuki laboratorium, Profesor itu tampak sibuk dengan mikroskop di atas meja. Terlalu fokus hingga tidak menyadari kedatangan mereka. Hingga Karen harus menepuk bahu sang Profesor untuk mengalihkan atensinya.

Sesaat Profesor itu tampak terkejut, tapi dengan cepat menguasai diri. Saat Karen memperkenalkan Forst padanya, Profesor itu membenahi letak kacamatanya lalu menjabat tangan Forst dengan hangat. Bahkan mengucapkan selamat datang sambil tersenyum ramah.

“Apa Anda tidak tidur lagi, Profesor?” tanya Karen sambil memicingkan mata. Ia sangat hafal dengan kebiasaan Profesornya ini.

Profesor itu tegeragap mendengar tuduhan asistennya yang tanpa basa-basi itu. Sedetik kemudian, ia mengangguk rikuh. Laboratorium ini sudah seperti rumah bagi dirinya.

“Bukankah aku sudah sering mengingatkan tentang pentingnya istirahat, Profesor?” Mata Karen melotot tidak suka. Sejak dahulu Profesornya ini memang keras kepala. “Bagaimana penemuan ini bisa berhasil jika Anda tidak memperhatikan kesehatan? Bukankah Anda sendiri yang mengatakan bahwa penemuan mutakhir tanpa kasih sayang sama dengan penghancuran?”

“Benar.” Profesor itu menunduk kaku. “Aku hanya tidak ingin membuang waktu, Karen.”

“Sayang diri Anda sendiri, Profesor. Kita tidak akan membuang waktu lagi.” Karen memiringkan kepalanya. Seulas senyum sayang terukir di wajahnya. “Terlebih ada Forst yang akan ikut serta dalam penelitian ini.”

Profesor itu mengangkat wajahnya, menunjukkan matanya yang berbinar. “Benarkah yang dikatakan Karen itu, Forst?”

“T-tentu saja,” sahut Forst sedikit tergeragap. Ia merasa bingung ditatap penuh harap seperti itu.

“Baiklah. Karena Forst sudah setuju, bagaimana jika kita segera memulai berbagai percobaan untuk hari ini?”

***

Eureka! Eureka! Eureka!”

Profesor itu bersorak senang setengah melompat. Tangannya mengangkat labu ukur berisi cairan jingga itu tinggi-tinggi di atas kepalanya. Seolah itu adalah mahkota yang akan membuatnya jadi raja.

Dan perasaan bahagia itu menular begitu saja. Karen serta merta memeluk erat Forst yang ada di sampingnya. Tindakan impulsif itu membuat Forst tergugu dan tersipu. Sekali lagi jantungnya berdebar tidak menentu.

Hampir dua belas jam lamanya mereka bertiga berkutat dengan segala macam percobaan di laboratorium. Forst juga membantu dengan mencampurkan beberapa cairan dan serbuk yang dimilikinya. Hingga akhirnya penelitian itu membuahkan hasil.

“Lebih baik cepat-cepat kita lihat khasiat cairan ini terhadap tanaman,” ucap Profesor. Matanya tidak bisa lepas dari cairan itu. Penemuan besarnya. “Karen, cepat ambilkan tanaman dari greenhouse.”

“Baik, Profesor,” sahut Karen cepat. Lalu ia memacu langkahnya keluar ruangan.

Beberapa menit kemudian, Karen sudah kembali dengan membawa sebuah pot tanaman di tangannya. Dengan sigap, Forst mengambil alih pot tersebut lalu mengangkatnya ke atas meja.

Apa yang akan kalian lakukan padaku?

Forst tersenyum lembut lalu menyapa ramah tanaman berdaun lebat itu. “Kami akan memberimu semacam vitamin yang bisa melindungimu dari serangan luar.”

Hei, kau bisa mengerti kata-kataku?

“Hei, Forst. Apa kau mengerti bahasa tanaman?”

Baik tanaman itu maupun Profesor, tampak takjub dengan kemampuan Forst. Sementara Forst hanya tersenyum dan menganggukkan kepal untuk menjawab kedua pertanyaan senada itu.

“Bagaimana jika kita mulai saja sekarang?” tawar Profesor yang tampak tidak sabar.

“Silakan, Profesor. Ia juga sudah merasa siap,” jawab Forst sambil melangkah mundur, memberikan ruang untuk Profesor.

Saat Profesor menggunakan pipet tetes untuk memindahkan beberapa tetes cairan jingga itu, Forst berdoa dalam hait. Semoga saja percobaan ini berhasil. Ia ingin semua tumbuhan di bumi bisa terlindungi.

Tiga tetes cairan tampak mulai meresap ke dalam akar tanaman tersebut. Tujuh detik berikutnya terasa begitu menegangkan hingga akhirnya tubuh tanaman itu tampak bersinar jingga. Itu pertanda bahwa cairan itu bekerja dengan sempurna.

Tapi sepertinya hanya Forst yang mampu melihat sinar itu. Sontak ia terbelalak bahagia. Sementara Profesor dan Karen malah mengernyitkan kening dengan bingung.

“Apakah itu berhasil?” gumam Karen skeptis.

“Sepertinya berhasil,” sahut Forst dengan pandangan berbinar.

“Maukah kau mencoba membuktikannya, Forst?” tanya Profesor.

Forst menoleh dan mengernyitkan alisnya. “Tapi... bagaimana caranya?”

“Patahkan salah satu tangkainya.”

“Apa?” Forst berseru dengan nada protes. “Aku tidak mungkin melakukan hal seperti itu. Bukankah itu... akan menyakitkan?”

“Kau harus melakukannya, Forst,” rayu Karen dengan lembut. “Bukankah kau ingin melindungi teman-temanmu?”

Benar juga. Forst menyerah begitu saja. Karen benar. Ia harus berani melakukan hal ini.

“Kau pasti bisa, Forst.” Karen kembali memberi semangat.

Forst mengangguk. Lalu perlahan ia melangkah mendekat. Ia menatap penuh maaf ke arah tanaman itu.

“Apa yang kaurasakan, kawan?”

Entah kenapa, aku merasa sekokoh pohon jati. Tanaman itu berujar lalu tersenyum.

“Benarkah itu?”

Tentu saja. Coba patahkan salah satu tangkaiku agar kaupercaya.

“Baiklah.”

Forst menganggukkan kepalanya. Takut-takut ia mengulurkan tangannya untuk mencengkram tangkai setebal tusuk gigi dan tampak rapuh itu. Lalu ia memejamkan mata dan mencoba mematahkan begitu saja.

Tapi tidak ada yang terjadi.

Cepat buka matamu. Lihatlah, aku tidak terluka sedikitpun.

Forst mendengar tanaman itu bersorak riang, tapi ia tidak bisa percaya begitu saja. Ia membuka matanya, lalu mencoba mematahkan tangkai itu sekali lagi. Dan benar saja tidak ada reaksi apa-apa. Tangkai itu kini sekokoh paku baja.

Profesor, Forst, dan Karen saling melempar tatapan tidak percaya. Mereka tidak menyangka bahwa percobaan kali ini berhasil begitu saja. Kehadiran Forst benar-benar seperti keajaiban.

“Baiklah. Aku harus bergegas menulis laporan penelitian ini sebelum pukul tujuh malam. Selagi masih segar di otak,” ucap Profesor lalu bergerak lincah menulis di buku catatannya.

Sebelum pukul tujuh? Kening Forst mengernyit saat mendengar kata-kata itu. Matanya melirik perlahan ke arah jam tangannya yang menunjukkan pukul enam lebih tiga puluh tujuh menit.

Benar juga. Forst tiba-tiba teringat bahwa ia harus kembali ke Derion pada pukul tujuh!

***

Bintang-bintang bertaburan di langit malam. Tampak berkelap-kelip ceria ke arah Forst dan Karen yang tengah berjalan beriringan. Dilihat dari manapun, mereka tampak seperti sepasang kekasih yang tengah kencan.

Profesor itu memberi Forst beberapa botol cairan penemuan bersama mereka. Dan Forst segera menggunakan cairan itu untuk melindungi teman-temannya. Sehingga ia bisa pergi dengan perasaan tenang.

“Aku tidak percaya kau akan pergi, Forst. Bukankah kita baru saja melewati waktu yang menyenangkan bersama?” gumam Karen memecah keheningan di antara mereka yang menurutnya sudah terlalu lama.

“Maafkan aku. Tapi janji ini sudah kubuat sebelum kita bertemu,” jawab Forst dengan suara perlahan. Ia belum bisa menceritakan tentang Derion kepada Karen. Tidak secepat ini. “Aku harap kita bisa bertemu lagi... secepatnya.”

“Aku akan menunggu,” ujar Karen. “Dan aku tidak keberatan jika kau ingin menginap di flatku. Bukankah tidur di hutan akan membuatmu kedinginan?” tambah gadis itu lantas tertawa jenaka.

“Tidak juga. Aku sudah terbiasa.” Forst ikut terkekeh. “Lagipula ada teman-teman yang menjagaku.”

“Benar juga.” Karen kembali terkekeh pelan. “Sampaikan salamku untuk teman-temanmu.”

“Tentu saja akan aku sampaikan.”

“Ini ada hadiah dari Profesor untukmu.” Karen menyerahkan sebuah kantung kepada Forst. “Orang itu sudah melakukan berbagai penelitian selama dua belas tahun terakhir, dan itu adalah salah satu penemuannya yang lumayan berhasil. Tapi sayangnya belum ada yang menghargai penemuan ini. Tempelkan saja di punggungmu, dan kau bisa terbang selama beberapa menit.”

“Benarkah?” Mata Frost berkilat senang. “Sampaikan terima kasihku untuk Profesor, ya.”

Waktu terasa bergerak cepat. Tanpa mereka sadari, langkah mereka sudah terhenti di dekat hutan tempat pertama kali mereka bertemu tadi pagi. Sebentar lagi waktu perpisahan sudah dekat.

“Mungkin dalam waktu dekat, Profesor akan mengadakan konferensi pers untuk mengumumkan penemuan besar ini.” Karen mengigit bibirnya sejenak lalu kembali menatap Forst. “Aku harap kau bersedia hadir. Bagaimanapun ini adalah penemuan kita bertiga.”

“Akan aku usahakan,” jawab Forst lantas tersenyum.

“Baiklah kalau begitu. Sampai jumpa, Forst,” Karen berkata lalu berjinjit dan mengecup cepat pipi kanan Forst.

Tanpa sempat saling bertatapan mata, gadis itu sudah pergi menjauh. Sementara Forst terpaku di tempatnya berdiri dengan wajah terbakar.

“Kau. Terlambat. Forst.”

Tiba-tiba sebuah suara membuyarkan perasaan Forst yang tengah melambung. Ia segera memutar tubuhnya untuk mencari pemilik suara. Tapi tidak ada di mana-mana. Bahkan pohon-pohon di hutan enggan memberi tahunya. Mereka malah menyoraki Forst dengan mengungkit kecupan singkat di pipinya tadi.

Forst tercengang. Ia melihat sesuatu sebesar telunjuk melayang-layang di hadapan wajahnya. Sesuatu itu seperti capung atau kupu-kupu yang diliputi cahaya putih-kehijauan.

Forst berkedip-kedip dan mulai menajamkan penglihatannya. Di tengah cahaya yang berpendar, tampaklah sosok yang dikenalnya. Kemilau rambut hijau panjang tergerai, disertai gaun hijau dan tubuh semampai. Matanya bersinar galak, tangan disilangkan di depan dadanya, dan sepasang sayap transparan berkibar di punggungnya. Sosok seorang gadis cantik itu tampak mengapung di udara.

Perlahan bibir gadis itu bergerak lalu bersuara dengan merdu tapi menusuk telinga Forst. “Bukankah sudah kukatakan jangan terlambat, Forst? Pukul tujuh malam. Bukan pukul tujuh lebih lima menit. Apakah jam di dunia manusia bergerak lebih lambat, huh?”

Suara ketus itu. Bukankah itu...

“Selva?” Mata Forst terbelalak tidak percaya. Ia bertanya tanpa peduli pada gerutuan Selva. “Kenapa ukuranmu menjadi sekecil ini?”

“Seperti inilah wujud kami jika menyebrang ke dunia manusia,” jawab Selva dengan nada ketus. Bahkan lebih ketus daripada sebelumnya. Dan walaupun tubuhnya kecil, tapi suara gadis itu tetap menggelegar.

Selva mendengus kesal saat melihat Forst yang masih menatapnya takjub. Ia tidak boleh membuang waktu seperti ini. Secepatnya mereka harus kembali ke Derion.

“Sampai kapan kau akan menatapku seperti itu? Kita harus bergegas,” Selva meliuk cepat di udara dan terbang ke dalam hutan yang gelap.

Forst dengan cepat mengikuti gadis itu. Ia tidak ingin disebut lamban lagi oleh gadis ini. Lagipula energinya terasa penuh sekarang.

“Apa yang akan kita lakukan malam ini, Selva?” tanya Forst sambil berlari.

“Berlatih pedang.”

***

Tubuh Forst gemetar. Walaupun pakaian melindung membungkus sempurna tubuhnya tapi tetap saja ia ketakutan. Lawannya kali ini adalah Selva. Dan walaupun gadis itu dijuluki sebagai ahli pedang terburuk dalam rasnya, tetap saja gadis itu terlalu kuat bagi Forst.

Para peri ahli pedang serba hijau mengajarkan teknik pedang kepada para peri yang lainnya. Forst dan Selva berada di tingkatan yang sama. Dan sekarang adalah saat di mana mereka berlatih tanding untuk mengukur pemahaman belajar mereka.

Tidak sedikitpun Selva berbaik hati kepada Forst.  Gadis itu terus saja menyerbu maju dengan kekuatan penuh untuk mendaratkan serangan kuat ke arah lawannya. Sementara Forst yang masih belum sempurna mempersiapkan kuda-kuda membuatnya memberikan banyak celah untuk diserang. Ia hanya bisa menghindar setengah berlari atau menggerakkan pedangnya tidak beraturan untuk melindungi dirinya sendiri.

Entah mengapa, Forst merasa Selva seperti sedang terbakar amarah. Sebenarnya apa yang membuat gadis itu marah? Dan kepada siapa ia marah? Jika memang Forst yang membuat Selva marah, apa kesalahan yang sudah diperbuatnya?

Selva memang ketus dan kaku. Tapi kali ini berbeda. Gadis itu selalu tampak geram. Serangannya begitu membabi buta. Seolah setiap gerakan Forst adalah kain merah yang berkibar di hadapan banteng.

Dengan tekad ingin mengimbangi gerakan Selva, Forst mendadak mulai mempercepat gerakannya. Ia menyerang dalam sudut rendah seolah sedang meluncur. Pedang kayunya memenghunus ke atas dari bagian kiri bawahnya. Gerakan itu bukanlah sesuatu yang mengejutkan bagi Selva, tapi karena itu dilakukan secara tiba-tiba membuat ia harus cepat-cepat mengelak dari serangan Forst.

Selva mengayunkan pedang kayunya cepat  ke arah ke lengan kiri bawah Forst. Seharusnya itu bisa menjadi serangan telak, tapi tanpa dinyanya, serangan itu hanya menebas ruangan hampa.  Kening Selva mengernyit tidak percaya. Mana mungkin lelaki ini bisa mengelak dari serangannya?

Tanpa membuang waktu, Forst mengarahkan serangannya yang ditujukan pada bagian kiri Selva yang  masih tampak  terkejut.  Pedang kayu di tangan Forst menghunus cepat. Sayangnya, Selva berhasil mengelak walaupun sempat diliputi perasaan panik.

Lelaki ini mulai serius rupanya! Selva menggeram dalam hati. Dengan cepat emosi mengisi seluruh tubuhnya, membuat darahnya seakan-akan mendidih.

Semakin serius, Selva memulai serangan gencar yang bertubi-tubi. Ia menghunuskan ujung pedang kayunya secara terus menerus. Dan di satu sisi, Forst selalu berhasil mengelak dan mengelak. Hal itu tentu saja membuat Selva merasa sebal.
Dengan memanfaatkan celah yang ada, Selva menghapus jarak di antara mereka lalu menghujamkan pedang kayunya ke arah Forst. Dan cara itu rupanya berhasil. Forst mulai kehilangan keseimbangan dan  terhuyung-huyung ke belakang.

Tidak sedikitpun Selva membiarkan Forst meninggalakan area penyerangannya. Tidak sebelum serangan penghabisan yang diarahkan secara langsung ke kaki Forst. Tidak sedikitpun Selva menahan diri dalam menyerang. Begitu Forst jatuh tergeletak di atas rumput, Selva bersiap menghunuskan pedang itu ke leher Forst. Lelaki itu memejamkan mata dan bersiap menerima rasa sakit.

“Ya. Pertandingan selesai. Pemenanganya Selva.”

Suara itu menggema dan mengehentikan tikaman pedang Selva di udara. Hanya beberapa sentimeter sebelum menusuk leher Forst. Gadis itu sepertinya memang berniat membunuhnya.

Selva bangkit cepat dari lututnya, membiarkan pedang kayunya tergeletak di samping Forst. Ia berjalan meninggalkan area latihan tanpa berkata apa-apa. Seulas senyum tersungging di wajahnya. Setidaknya sedikit perasaan menyakitkan yang mengapung dalam hatinya mulai sedikit berkurang.

“Kau baik-baik saja, Forst?” Saki bertanya dengan panik dan membantu Forst bangkit. Area rerumputan ini akan segera digunakan untuk pertandingan latihan selanjutnya.

“Aku baik-baik saja, Saki. Terima kasih banyak,” jawab Forst. Ia berjalan tertatih-tatih dengan Saki yang menyangga satu lengannya di bahu gadis itu. “Entah kenapa aku merasa Selva seperti ingin membunuhku tadi.”

“Aku juga merasakannya, Forst. Selva seperti sedang dibakar emosi,” ujar Saki sambil membantu Forst duduk di tepi lapangan. Seorang peri biru dan kuning mulai memasuki area pertandingan. “Tapi kau hebat, Forst. Kau bisa membuat Selva menjadi serius seperti tadi. Biasanya ia sangat membenci latihan pedang seperti ini.”



Kisah pertemuan pertama Forst dan Selva bisa dibaca dalam Waldeinsamkeit. ^^

Jumat, 03 April 2015

Mystical Words


Entahlah ini sudah yang ke berapa kalinya. Cukup melelahkan memang jika harus bertahan seperti ini. Dikorbankan untuk orang lain. Bukankah aku seperti seorang super hero yang ada di televisi?

Tunggu, aku tak berbicara tentang aku mengorbankan diriku terluka untuk menolong nenek-nenek borjuis yang tengah dihadang kawanan perampok. Tapi ini tentang aku yang berkorban demi seseorang yang bahkan aku tak mengenalnya sama sekali.

Malam ini begitu cerah setelah bumi diguyur hujan yang berlebihan. Aku masih duduk di depan meja rias. Menatap seorang gadis di hadapanku yang tak juga beranjak dari tempat duduknya sejak lima puluh menit yang lalu. Matanya berkilat merah karena amarah tengah merundung hatinya. Air matanya pun tak kunjung berhenti, terus membasahi wajahnya.

Dia bukan orang lain, melainkan pantulan wajahku yang memang sedang kusut masai. Hampir satu jam aku menghabiskan waktuku untuk berdandan demi sebuah rencana yang memang akhirnya hanya rencana semu. Aku melirik ponselku dan sebuah pesan muncul di layar ponselku.

Jangan marah terus, besok kan masih ada waktu. Kenapa kau marah-marah terus beberapa hari ini? Aku salah sedikit saja sudah kau besar-besarkan.

Well… Tidakkah lelaki itu tahu bagaimana perasaanku sebagai seorang perempuan yang selalu terkalahkan oleh orang lain? Dia bilang ini masalah kecil? Oke, mungkin ini memang masalah kecil. Namun ini bukan pertama kalinya, ini sudah kesekian kalinya aku harus berkorban karena keputusannya yang lebih mendahulukan orang lain dari pada aku.

“Sialan kau! Bagaimana bisa kau berkata seperti itu dengan mudahnya? Kau sering membatalkan rencana kita karena orang lain dan sekarang kau bilang aku membesar-besarkan masalah?” Aku berteriak pada ponselku yang terpajang fotonya sebagai wallpaper, kemudian membantingnya ke ranjangku. Tenang. Aku masih bisa berpikir. Aku tak akan membantingnya ke lantai, karena aku tahu seperti apa resikonya.

Bagaimana bisa ada makhluk yang tidak peka mengenai rapuhnya perasaan seorang perempuan? Kurasa lain kali aku harus mendaftarkan namanya ke MURI sebagai makhluk yang sangat tidak peka.

“Sudahlah, kau tak bisa menuntut orang lain untuk selalu menurutimu.” Suara yang sangat ku kenal melangkah mendekat, duduk di ujung ranjangku.

“Ibu, aku mau keluar.” Ujarku sambil mengusap air mataku.

“Jangan, ini sudah malam.”

“Tapi aku sudah dandan. Bedakku mahal, parfumku juga. Setidaknya biarkan aku keluar sebentar.” Aku berusaha merendahkan nada suaraku, berusaha tak berkata kasar pada ibuku. Akupun pergi melajukan motorku tanpa tujuan tentu setelah ibuku memberikan ijin.

Sebuah taman menjadi pilihanku kali ini. Begitu ramai dengan anak-anak yang bermain dengan riang. Aku mendengus kesal, masih tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Aku memainkan ponselku sambil duduk di sebuah bangku beton yang disediakan di salah satu sisi taman.

“Sendirian?” Suara maskulin terdengar begitu dekat. Aku menengadahkan kepalaku, menatap seorang lelaki yang tengah berdiri di hadapanku. Tampan. Tapi sama sekali bukan seleraku. Aku tak menjawab pertanyaannya kemudian kembali menundukkan kepalaku untuk memainkan ponselku dengan bosan. Lelaki itu kemudian melangkah, mengambil duduk tepat di sebelahku.

“Malam-malam begini kenapa sendirian?” Tanya lelaki itu sambil menyalakan rokok yang ada di tangannya. Membuatku terbatuk-batuk karena asapnya yang terbawa embusan angin.

“Tidak apa-apa.” Jawabku ketus —atau lebih tepatnya takut— pada lelaki itu. Ia menatapku, tentu aku bisa melihatnya dari ekor mataku. Kemudian sebuah pesan muncul di layar ponselku menyelamatkanku dari kebosanan.

Kau dimana?

Pergi.

Antara lega dan jengkel mendapatkan pesan dari Arya —pacarku—. Entah apa yang kupikirkan sekarang, aku hanya berharap ia akan datang menjemputku bak seorang pahlawan, lalu membawaku pulang. Foto Arya muncul, memenuhi layar lima inchiku yang berkedip-kedip.

“Kau dimana? Tidak bisakah kau menjawab pesanku dengan serius?” Tanya Arya sebelum aku sempat mengucapkan halo. Nada tingginya membuatku semakin kesal. Ini semua salahnya, mengapa ia harus marah padaku?

“Bukankah aku sudah bilang, aku pergi. Ya sudah, silahkan bersenang-senang dengan temanmu, kenapa masih menghubungiku? Aku tak ingin mengganggu waktumu yang berharga.” Jawabku ketus.

“Ana,  dimana kau sekarang? Cepat jawab aku. Kau pikir pantas seorang perempuan berkeliaran sendirian malam-malam begini? Ibumu mengkhawatirkanmu. Jangan bertingkah seperti anak kecil.” Anak kecil dia bilang? Apa otaknya tak berpikiran aku seperti ini gara-gara siapa? Tanpa menjawab pertanyaannya aku memutuskan panggilan.

“Bertengkar dengan pacarmu? Tidak baik perempuan berkeliaran malam-malam begini.” Ujar lelaki di sampingku.

“Tidak ada urusannya denganmu.”

“Jika kau tak penting untuknya, putuskan dia. Masih banyak laki-laki yang mau mati-matian membahagiakanmu.” Siapa sih laki-laki ini? Beraninya dia mencampuri urusanku. Aku memasukkan ponselku ke dalam tasku, kemudian beranjak dari kursi dan memutuskan untuk pulang.

“Mau kemana?” Lelaki itu memegang pergelangan tanganku.

“Aku mau pulang. Lepas.” Aku berusaha melepas genggaman tangan lelaki itu sekuat tenagaku. “Lepaskan!” Aku takut lelaki ini akan berbuat macam-macam kepadaku hingga aku terus meronta agar terlepas darinya.

“Tunggu lima belas menit lagi. Jika kau pulang sekarang, akan berbahaya untukmu.”

“Apa maksudmu? Ini sudah malam. Aku mau pulang.” Aku menendang kaki lelaki itu hingga ia melepaskanku akibat rasa sakit di kakinya.

“Berhati-hatilah.”

Itu kalimat terakhir yang diucapkan lelaki itu sebelum aku meninggalkannya. Dia membuatku takut. Justru aku harusnya berhati-hati pada lelaki itu. Akupun memutar kunci motorku, menancap gas dan melajukan motorku untuk segera pulang.

Jalanan masih ramai meski jam sudah hampir pukul sembilan malam. Jarum spidometer menunjukkan angka lima puluh, kecepatan normal untuk jalanan yang bergelombang karena aspal yang tidak rata. Aku menaikkan kecepatan hingga tujuh puluh km/jam.  Tak disangka sebuah truk dengan kecepatan tinggi melaju dari arah berlawanan untuk mendahului sebuah truk yang berjalan lambat. Akupun berusaha menarik kedua rem motorku.

Brak

Aku tak mampu menghindarinya. Yang aku tahu, helmku membentur sesuatu dan aku merasa sedang berada di alam mimpi.
***
Tubuhku terasa perih dan kaku. Ibu menangis sesegukan berdiri di dekat pintu kamar dan tengah berbicara dengan seorang dokter yang kuketahui bertempat tinggal di dekat rumahku.

“Dasar perempuan bodoh!” Ujar seorang lelaki yang duduk di samping ranjang. Wajahnya yang kusut membuatku geram. “Untung kau tidak mati.” Lalu aku tersenyum begitu menyadari bahwa dia mengkhawatirkanku.

“Kenapa disini? Bukannya kau sedang sibuk?” Aku masih berpura-pura merasa kesal padanya.

“Aku melihat motormu ketika aku dalam perjalanan pulang. Aku berharap itu bukan kau, sayangnya itu memang perempuan bodoh yang keras kepala.” Arya mendengus kesal.

“Ini salahmu.”

“Aku tahu, andai aku bisa menemanimu ini tak akan terjadi. Maafkan aku.”

“Katakan kau menyesal dan cinta kepadaku.”

“Ana, aku benar-benar menyesal. Kumohon maafkan aku. Aku mencintaimu, Ana.” Aku tersenyum pada Arya, raut wajahnya benar-benar panik dan ketakutan. Aku menggenggam tangannya yang masih gemetar, kemudian aku menariknya untuk mendekat padaku.


“Aku juga mencintaimu.” Bisikku di telinganya sebelum aku mengecup pipinya. Kemudian ekor mataku menangkap sesuatu di balik jendela kamarku, dan aku menolehnya. Seorang lelaki tengah berdiri dan tersenyum padaku. Tak salah lagi, dialah lelaki misterius yang kutemui di taman tadi.  Andai saja aku menuruti kata-katanya untuk menunggu lima belas menit lagi, mungkin aku tak akan menjadi korban truk sialan itu.

Kamis, 02 April 2015

Once Upon A Time In The Forest Part 3


Warna langit yang mulai terbagi dua mengintip dari celah dedaunan yang menaungi hutan. Hitamnya malam mulai dihapus perlahan oleh cahaya kemerahan fajar. Bulan tampak bertengger indah seperti mutiara putih yang berkilau. Forst berjalan menyusuri jalan untuk keluar dari hutan. Sesekali ia menyapa hangat pohon-pohon yang tumbuh menjulang.

Sejak lahir, Forst memang sudah memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan tanaman. Sebuah berkah sekaligus musibah bagi hidupnya. Forst merasa bahagia bisa mengerti perasaan tanaman di sekitar tempat tinggalnya. Ia mengerti benar bagaimana rasa bahagia mereka saat ada manusia yang menyirami penuh kasih sayang. Dan juga bagaimana tersiksanya mereka saat ada manusia yang menyakiti mereka dengan sengaja. Diinjak, dicabut paksa, bahkan ditebang secara membabi buta.

Sekuat tenaga Forst mencoba untuk mendeskripsikan rasa sakit para tanaman kepada teman dan keluarganya. Forst kecil memiliki impian agar seluruh makhluk bumi hidup damai dan saling menghargai. Tapi apa yang didapat Forst jauh dari yang diharapkannya. Alih-alih mengerti, teman-temannya malah menjauhi Forst dan menghinanya dengan kejam. Begitu juga dengan orang tuanya yang tega menelantarkan Forst dengan alasan yang senada.

Forst tahu ia berbeda. Tidak. Ia istimewa. Seperti kata neneknya.

Dan entah bagaimana caranya, Forst bisa terdampar di Derion. Tempat itu benar-benar asing baginya. Tapi ia merasa seperti pulang ke rumah. Di sana ia merasa diterima apa adanya. Padahal ia jelas berbeda dari mereka semua. Forst manusia sedangkan mereka semua adalah peri.

Siapa sangka peri itu nyata adanya? Selama ini manusia terus berusaha untuk mencari tahu keberadaan makhluk itu tapi tidak pernah berhasil. Sementara tanpa sengaja Forst bisa masuk ke dunia para peri. Bukankah itu keberuntungan yang patut disyukuri?

“Kembalilah nanti malam pukul tujuh tepat. Jangan terlambat!”

Saderet kalimat bernada tinggi terngiang di telinga Forst. Lelaki itu menggedikkan bahunya. Seulas senyum kecil terukir di bibirnya. Itu adalah suara Selva.

Tadi Selva dan Saki yang mengantar Forst pulang. Saki melafalkan mantra pembuka gerbang yang begitu panjang dengan sempurna. Sedangkan Selva bertugas menjaga dari serangan yang mungkin datang tanpa diduga.

Forst memang merasa bahagia tinggal di Derion. Apalagi Dash secara khusus memintanya terlibat dalam sebuah misi penting. Tapi bagaimanapun Forst harus pulang ke dunia manusia walaupun sebentar. Ada banyak teman-teman yang harus dilindunginya.

Teman-teman Forst masih saja mendapat perlakuan jahat dari manusia di sekitar mereka. Dan ia dengan senang hati, menyembuhkan luka mereka. Syukurlah, teman-teman Forst adalah makhluk yang sabar. Tidak pernah sekalipun ia mendengar mereka ingin membalas dendam kepada manusia. Memang manusialah yang bodoh karena menyia-nyiakan tanaman yang memberi kehidupan.

Para tanaman itu dilukai dengan berbagai cara. Entah ditusuk dengan paku, disayat dengan pisau, atau diinjak-injak tanpa ampun. Dan Forst memiliki cara istimewa untuk mengobati luka-luka seperti itu. Ia memiliki berbagai macam serbuk dan cairan beragam warna yang selalu dibawanya di dalam tas. Cairan dan serbuk itu memiliki kemampuan menyembuhkan dengan cepat. Sebuah pohon tua yang kokoh dan menjulang yang mengajarkan hal itu kepada Forst. Ia menyebutnya dengan sebutan ‘kakek’. Sayangnya, kakek Forst harus meninggal karena ditebang paksa untuk pelebaran jalan di daerah tempat tinggalnya.

Kala itu, Forst tidak sanggup melakukan apapun. Ia hanya mampu berteriak dan menangis tanpa bisa melindungi kakeknya. Ia terlampau belia untuk melawan orang dewasa yang terus menghalanginya.

Tapi kini berbeda. Forst ingin melindungi semua tanaman di dunia. Ia tidak ingin ada yang bernasib malang seperti kakeknya.

Kaki jenjang Forst melangkah lebar keluar dari hutan. Ia harus bergegas. Karena jika matahari sudah terbit, akan ada banyak manusia yang sudah terjaga dari tidurnya. Dan Forst tidak menyukai itu.

Baru saja kaki Forst menginjak tanah di luar hutan, ia mendengar seseorang menyerukan namanya. Perlahan lelaki itu menoleh dan mendapati seorang gadis tengah berlari kecil ke arahnya. Pupil matanya yang hijau melebar. Ekspresinya membeku seketika begitu mengenali sosok itu. Gadis itu... bukankah...

“Dasar kau anak pungut!”

Punggung Forst menegang seketika. Sederet kalimat menyakitkan menghunjam di belakang kepalanya. Perlahan ia menggelengkan kepalanya, mencoba mengusir kenangan pahit itu.

“Lihat, dia berbicara dengan pohon di halaman sekolah!”

Tapi sialanya, usaha itu sia-sia belaka. Sebaris hinaan lain kembali muncul dalam benaknya. Seolah mencekik kuat lehernya hingga kepalanya terasa pening.

“Jangan mendekatiku! Pergilah bergabung dengan orang yang sama anehnya seperti dirimu!”

Kata-kata menyakitkan yang lainnya ikut melompat dalam ingatannya, diikuti gelak tawa yang menghina. Dalam sekejap  ingatan itu menghisap habis oksigen di sekeliling Forst.

Forst menekan keningnya kuat-kuat. Ia ingin berlari. Tapi kakunya terpaku kuat tidak bisa bergerak. Apa yang harus dilakukannya sekarang. Tidak! Gadis itu sudah berdiri di hadapannya sekarang.

“Hei, Forst.” Gadis itu menyapanya dengan ramah dan tanpa beban. Seakan-akan kenangan buruk antara mereka di masa lalu hanyalah sebutir debu yang diembus angin. Sudut-sudut bibir gadis itu melengkungkan senyuman yang menusuk hati Forst. “Kau masih ingat padaku?”

Tidak sedikitpun Forst mampu menyembunyikan warna amarah di wajahnya. Matanya menyipit tajam. Alisnya menyatu di tengah kening. Bibirnya berkerut seperti melihat sesuatu yang menjijikkan.

“Ayolah, Forst. Jangan berwajah seperti itu.” Gadis itu sedikit menahan tawa kecilnya. “Bukankah kita teman?”

Teman? Teman! Teman! Teman! Satu kata itu terus berputar cepat dalam benak Forst, membuat kepalanya semakin terasa pening. Sebenarnya, apa makna teman sesungguhnya? Apakah pantas seorang teman menyakiti temannya sendiri?

Cepat pergi, Forst! Jangan hiraukan dia!

Tiba-tiba Forst mendengar suara di belakang telinganya. Itu pasti suara dari tanaman di sekitarnya... suara dari teman-temannya! Teman yang sesungguhnya!

Benar, Forst! Menjauhlah dari gadis itu.

Entah keajaiban apa yang sudah memberi Forst kekuatan. Beban berat yang membelenggu kakinya, tiba-tiba sirna begitu saja. Ia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu tentu saja. Ia angkat kaki dan mulai berlari.

Pacu langkahmu! Berlarilah, Forst!

Dukungan yang lainnya mulai bersahutan. Forst seperti sedang berada di lintasan lomba lari yang tidak berujung. Ia harus pergi dari hadapan gadis ini. Demi dirinya sendiri! Demi menjaga hatinya dari perasaan terluka!

“Hei, hei, Forst!” Suara gadis itu terdengar begitu terkejut dengan tindakan kabur Forst yang begitu tiba-tiba. Tapi sedetik kemudian, terdengar derap langkah gadis itu yang berusaha mengejar Forst. “Hei, tunggu aku, Forst! Kenapa kau tiba-tiba berlari?”

Forst menulikan telinganya dari teriakan gadis itu. Sementara kakinya tetap melangkah cepat. Tidak sedikitpun ia menoleh ke belakang!

***

Forst perlahan menurunkan tempo langkahnya. Ia sudah tidak lagi mendengar bunyi langkah yang mengikutinya maupun suara yang menyerukan namanya. Begitu tiba di jajaran pohon yang berderet di pinggir jalan, Forst menoleh ke belakang. Ia mendapati jalanan yang lengang. Sepertinya gadis itu sudah menyerah sekarang.

Mata Forst menatap nanar ke arah kondisi teman-temannya yang mengenaskan. Di tubuh mereka tertancap paku yang tampak menyakitkan. Semua itu hanya demi spanduk-spanduk kampanye sialan itu. Jalanan ini memang dianggap cukup strategis karena dilalui banyak orang. Hal itu membuat pohon-pohon di sini selalu menjadi korban.

Sambil menggigit bibirnya untuk menahan tangisnya, Forst bergegas meraih palu dari tasnya. Ia melepas paku-paku itu dengan cekatan. Paku-paku itu lepas satu persatu dan jatuh berdenting ke atas aspal, menyisakan lubang menganga di tiap batang pohon.

Tanpa menunggu waktu lama, Forst segera mengobati  teman-temannya. Ia mengeluarkan botol-botol kecil dari dalam tasnya, lalu menaburkan serbuk dan menuangkan cairan yang diperlukan untuk pengobatan. Perlahan, luka itu menutup dan menghilang tanpa bekas. Teman-temannya berujar terima kasih penuh suka cita.

“Aku harus pergi dalam waktu yang tidak bisa ditentukan. Tapi aku tidak ingin meninggalkan kalian semua,” gumam Forst sambil memeluk salah satu pohon.

Ke mana kau akan pergi, Forst?

Forst mengangkat bahunya. “Entahlah. Aku belum tahu benar. Tapi entah kenapa aku yakin ini adalah misi yang mulia. Aku....”

Sudahlah, Forst. Kami bisa menjaga diri. Kau ikuti saja kata hatimu.

Salah satu pohon itu berkata lalu tersenyum.

Forst menundukkan kepalanya, lalu menghela napas berat. “Andaikan aku memiliki cairan atau serbuk untuk membuat tubuh kalian sekokoh baja dan kebal dari serangan benda tajam,” bisik Forst penuh kesedihan.

Tiba-tiba sebuah ketukan halus mendarat di bahunya. “Aku rasa, aku bisa membantumu, Forst.”

***

Karen merasa beruntung.

Hari ini Tuhan menjawab doanya begitu saja. Ia dipertemukan dengan seorang teman dari masa lalu. Teman yang sudah lama tidak dilihatnya karena bertahun-tahun menghilang seperti ditelan bumi. Tapi sekarang temannya itu sedang berjalan beriringan di sisinya.

Saat pertama kali mendekati Forst, lelaki itu memang tampak jengah. Saat mereka bertatapan, mata Karen bertemu sepasang mata hijau cemerlang dengan ekspresi paling aneh. Mata itu tampak sama sekali tidak bersahabat dan... gusar.

Tapi Karen tidak mungkin menyerah begitu saja. Ia memilih untuk mundur sejenak dan menjaga jarak. Dengan saksama ia memperhatikan gerak-gerik Forst dari distansi yang sewajarnya. Tidak terlalu dekat, juga tidak terlalu jauh.

Dan saat melakukan penguntitan itu, mata Karen terbelalak takjub. Ternyata rumor yang beredar saat ia berusia sembilan tahun itu benar adanya. Seorang anak lelaki berusia enam tahun yang dikabarkan bisa berbicara dengan tanaman. Dan lelaki itu bernama Forst itu sudah tumbuh dewasa sekarang.

Karen memperhatikan Forst melalui ekor matanya. Lelaki itu memiliki rambut berwarna cokelat gelap yang menawan. Tampak begitu lembut dan jatuh di keningnya. Garis wajahnya tegas. Bibir tipisnya mengerucut gelisah. Sepasang mata hijau cemerlangnya tampak membara.

Tadi Karen tidak sengaja mencuri dengar saat Forst sedang mengobrol dengan pohon di pinggir jalan. Lelaki itu menginginkan cairan yang bisa melindungi teman-temannya. Dan Karen bersorak riang dalam hati karena itu sesuai dengan penelitian yang sedang dilakukannya dua tahun terakhir ini. Hari ini benar-benar menjadi hari keberuntungannya!

Lagi pula, apalagi yang harus dicari? Bukankah Profesornya sendiri yang menginginkan seseorang yang bisa berbicara dengan tanaman?

Sekarang yang harus dilakukan Karen hanyalah membuat Forst membuka hati untuk dirinya.

Forst pasti merasa terpaksa berjalan beriringan dengan Karen. Walaupun begitu, lelaki itu rela melakukannya demi teman-teman tanamannya. Karen tahu itu. Ia bisa merasakannya dari tatapan antagonis yang dilemparkan Forst secara terang-terangan.

“Apa kau yakin bisa memberikanku cairan itu?” tanya Forst memecah keheningan di antara mereka. Nada skeptis tidak bisa disembunyikannya sedikitpun.

Karena menoleh dan tersenyum seramah mungkin. “Tentu saja, Forst. Selama ini aku melakukan penelitian tentang itu tapi selalu gagal.” Ekspresi Karen mengerucut dan menunjukkan kesedihan. Tapi sedetik kemudian ia kembali tersenyum cerah kepada Forst. “Mungkin pertemuan kita ini sudah ditakdirkan. Kita bisa bekerja sama untuk melindungi alam. Melindungi teman-temanmu.”

Tatapan Forst melunak saat mendengar hal itu. Sepertinya temannya ini sudah berubah menjadi lebih baik. “Benarkah? Tapi... bukankah kau menganggapku aneh seperti alien?”

Tatapan Karen tertunduk penuh rasa sesal. Rambut ikalnya tergerai di bahu kanan seperti tirai yang sangat halus. “Maafkan aku atas apa yang aku lakukan di masa lalu, Forst. Saat itu aku hanyalah bocah yang tidak punya pendirian.”

“Dimaafkan.” Forst berkata lantas tersenyum. “Aku tidak mungkin memusuhi pecinta alam sepertimu.”

Mata Karen berbinar bahagia. “Benarkah itu, Forst? Terima kasih banyak. Aku harap kita bisa berteman baik setelah ini.”

“Tentu saja.”

“Baiklah.” Karen mengangkat tangan dan menatap jam di pergelangan tangannya. “Laboratorium baru dibuka sekitar satu jam lagi. Bagaimana kalau aku membelikanmu sarapan sebagai tanda persahabatan kita?”

Belum sempat Forst menyetujui atau menolak tawaran itu, ia sudah merasakan genggaman hangat si tangannya. Karen menariknya sedikit memaksa, seperti anak kecil yang ingin menaiki korsel bersama ayahnya. Dan ia hanya bisa tersenyum. Langkahnya mengikuti langkah gadis itu.

Setelah sekian lama, tidak ada salahnya bukan mencoba berteman dengan manusia?



Kisah pertemuan pertama Forst dan Selva bisa dibaca dalam Waldeinsamkeit. ^^