Tampilkan postingan dengan label cermin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cermin. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 April 2015

Keajaiban Bersampul Merah


Yoga termenung di atas tempat duduknya, mata sayunya memandang wajah yang tak asing itu. Mata indah seorang gadis yang tengah duduk di kursi perpustakaan paling ujung itu tertutup oleh kacamata yang bertengger di hidung mancungnya. Ini adalah kali pertama Yoga melihat langsung gadis itu. Tapi menurutnya ia telah puluhan kali atau bahkan ratusan kali melihat wajah itu. Wajah yang selalu muncul dalam mimpinya, wajah yang selalu membuatnya penasaran.

Gadis itu membalik buku bersampul hijau yang sedari tadi dibacanya. Namun setelah hampir satu jam lamanya Yoga justru masih berada di halaman pertama, membuka bukunya tanpa melihatnya sedikitpun. Tentu saja, gadis itu lebih menyita seluruh perhatiannya ketimbang buku-buku perpustakaan yang hampir seluruhnya telah ia baca.

Gadis itu menutup bukunya, kemudian berdiri. Yoga bergegas mengembalikan perhatian pada buku malang yang ada di tangannya. Kursi yang berada tepat di hadapan Yoga ditarik, kemudian seseorang menempatinya. 

“Kakak kenapa melihatiku dari tadi?” Tanya gadis itu dengan nada sedikit ketus.

“Aku tidak melihatimu.” Yoga mencoba membuat dirinya tampak tenang. Matanya kembali pada buku sastra membosankan yang justru terlihat menarik di mata Yoga.

“Bohong. Aku tahu kakak melihatiku. Apa ada yang salah denganku?” Gadis itu menopang dagu dengan sebelah tangannya, memandang Yoga yang berpura-pura tenggelam dalam bacaannya. 

“Tidak ada. Aku juga tidak melihatimu. Sudah, aku mau baca.” Yoga ketus. Tapi bukan itu maksudnya, ia hanya bingung bagaimana cara membuat dirinya tenang. Suasana hening menyelimuti mereka berdua untuk beberapa saat.

“Aku pernah melihat kakak beberapa kali dalam mimpiku.” Pernyataan gadis itu sontak mendapatkan perhatian penuh dari Yoga. Yoga menutup bukunya, melipat tangan di atas meja dan menatap gadis itu dalam-dalam untuk menuntut cerita lebih.

“Ah sudahlah. Aku Ririn. Nama kakak siapa?” Gadis itu menyodorkan tangannya untuk bersalaman, Yoga pun menjabat tangan gadis bernama Ririn itu.

“Aku Yoga.”

Sejak itu, setiap hari Yoga selalu menghabiskan waktunya di perpustakaan, ditemani buku-buku sastra tebal yang sudah beberapa kali ia baca demi mendapatkan kesempatan bertemu Ririn. Mereka pun semakin dekat sejak perkenalan itu sebulan yang lalu. 

Lambat laun perasaan Yoga pada Ririn mulai berubah. Rasa penasaran yang berubah menjadi persahabatan, kini mulai berubah menjadi cinta. 

“Rin, aku menyukaimu.” Ujar Yoga ketika mereka duduk bersama di bangku depan perpustakaan. Ririn yang tengah menikmati roti coklat itu berhenti mengunyah dan menatap Yoga lekat-lekat.

“Kakak serius?” Tanya Ririn meyakinkan kakak tingkatnya itu. 

“Tentu saja aku serius. Apa kau keberatan untuk merubah hubungan kita menjadi—” Yoga memberikan jeda sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya “—pacaran?” Yoga menelan ludah, khawatir dengan jawaban Ririn.

Ririn tak menunjukkan ekspresi bahagia, lega, maupun kecewa. Wajahnya begitu datar, membuat jantung Yoga seakan hendak meloncat dari tenggorokannya.

“Kau keberatan? Jika begitu aku tak akan memaksamu.” Nada kecewa terdengar dari suara Yoga. 

“Kakak ingat saat pertama kali kita bertemu, aku mengatakan pada kakak bahwa aku berkali-kali memimpikan kakak meski kita tak pernah bertemu sebelumnya?”

Yoga mengangguk. Dia ingat betul Ririn pernah mengatakan itu. Bagaimana bisa Ririn pun juga memimpikan dirinya, masih menjadi sebuah pertanyaan besar dalam diri Yoga. Namun Yoga tak pernah punya keberanian untuk menanyakannya.

“Tahun lalu, sebelum aku lulus SMA, aku pernah menemukan sebuah buku ramalan di perpustakaan sekolah. Disana tertulis bahwa aku harus menuliskan apa yang ingin diramalkan pada sebuah kertas. Lalu aku menulis ‘jodoh’ dan kuselipkan di dalam buku itu.” Ririn menarik nafas kemudian mengembuskannya perlahan. 

“Lalu apa yang terjadi?”

“Keesokannya kubuka kembali buku itu dan aku menemukan tulisan lain pada kertasku. Enam belas Januari dua ribu lima belas, perpustakaan. Begitu yang tertulis dan itu adalah hari dimana kita bertemu untuk pertama kalinya.”

Yoga terdiam. Apa yang diceritakan Ririn, ia pernah memimpikannya. Seorang gadis mengenakan seragam SMA dengan sebuah buku bersampul merah.

“Apakah buku itu bersampul merah?” Tanya Yoga ragu. Ririn membelalakkan matanya, menutup mulutnya yang terbuka dengan kedua tangannya.

“Kakak pernah menemukan buku itu?” 

Yoga menggeleng. “Aku pernah memimpikan seorang gadis tengah menggenggam buku itu dan sejak saat itu gadis itu berulang kali muncul dalam mimpiku. Dan hari dimana pertama kali kita bertemu, aku sangat yakin bahwa itu adalah kau. Kau adalah gadis yang sama dengan gadis yang ada dalam mimpiku. ”

“Apa mungkin kakak adalah jodohku?” Pemikiran Ririn membuat Yoga berbunga-bunga. Dan senyuman pun melebar di bibir Yoga.

“Lalu mengapa kita tak mencobanya sebagai awal?” Ekpresi Ririn melembut, disusul seulas senyum tersungging di bibirnya.

“Tentu saja.”
TAMAT

Jumat, 03 April 2015

Mystical Words


Entahlah ini sudah yang ke berapa kalinya. Cukup melelahkan memang jika harus bertahan seperti ini. Dikorbankan untuk orang lain. Bukankah aku seperti seorang super hero yang ada di televisi?

Tunggu, aku tak berbicara tentang aku mengorbankan diriku terluka untuk menolong nenek-nenek borjuis yang tengah dihadang kawanan perampok. Tapi ini tentang aku yang berkorban demi seseorang yang bahkan aku tak mengenalnya sama sekali.

Malam ini begitu cerah setelah bumi diguyur hujan yang berlebihan. Aku masih duduk di depan meja rias. Menatap seorang gadis di hadapanku yang tak juga beranjak dari tempat duduknya sejak lima puluh menit yang lalu. Matanya berkilat merah karena amarah tengah merundung hatinya. Air matanya pun tak kunjung berhenti, terus membasahi wajahnya.

Dia bukan orang lain, melainkan pantulan wajahku yang memang sedang kusut masai. Hampir satu jam aku menghabiskan waktuku untuk berdandan demi sebuah rencana yang memang akhirnya hanya rencana semu. Aku melirik ponselku dan sebuah pesan muncul di layar ponselku.

Jangan marah terus, besok kan masih ada waktu. Kenapa kau marah-marah terus beberapa hari ini? Aku salah sedikit saja sudah kau besar-besarkan.

Well… Tidakkah lelaki itu tahu bagaimana perasaanku sebagai seorang perempuan yang selalu terkalahkan oleh orang lain? Dia bilang ini masalah kecil? Oke, mungkin ini memang masalah kecil. Namun ini bukan pertama kalinya, ini sudah kesekian kalinya aku harus berkorban karena keputusannya yang lebih mendahulukan orang lain dari pada aku.

“Sialan kau! Bagaimana bisa kau berkata seperti itu dengan mudahnya? Kau sering membatalkan rencana kita karena orang lain dan sekarang kau bilang aku membesar-besarkan masalah?” Aku berteriak pada ponselku yang terpajang fotonya sebagai wallpaper, kemudian membantingnya ke ranjangku. Tenang. Aku masih bisa berpikir. Aku tak akan membantingnya ke lantai, karena aku tahu seperti apa resikonya.

Bagaimana bisa ada makhluk yang tidak peka mengenai rapuhnya perasaan seorang perempuan? Kurasa lain kali aku harus mendaftarkan namanya ke MURI sebagai makhluk yang sangat tidak peka.

“Sudahlah, kau tak bisa menuntut orang lain untuk selalu menurutimu.” Suara yang sangat ku kenal melangkah mendekat, duduk di ujung ranjangku.

“Ibu, aku mau keluar.” Ujarku sambil mengusap air mataku.

“Jangan, ini sudah malam.”

“Tapi aku sudah dandan. Bedakku mahal, parfumku juga. Setidaknya biarkan aku keluar sebentar.” Aku berusaha merendahkan nada suaraku, berusaha tak berkata kasar pada ibuku. Akupun pergi melajukan motorku tanpa tujuan tentu setelah ibuku memberikan ijin.

Sebuah taman menjadi pilihanku kali ini. Begitu ramai dengan anak-anak yang bermain dengan riang. Aku mendengus kesal, masih tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Aku memainkan ponselku sambil duduk di sebuah bangku beton yang disediakan di salah satu sisi taman.

“Sendirian?” Suara maskulin terdengar begitu dekat. Aku menengadahkan kepalaku, menatap seorang lelaki yang tengah berdiri di hadapanku. Tampan. Tapi sama sekali bukan seleraku. Aku tak menjawab pertanyaannya kemudian kembali menundukkan kepalaku untuk memainkan ponselku dengan bosan. Lelaki itu kemudian melangkah, mengambil duduk tepat di sebelahku.

“Malam-malam begini kenapa sendirian?” Tanya lelaki itu sambil menyalakan rokok yang ada di tangannya. Membuatku terbatuk-batuk karena asapnya yang terbawa embusan angin.

“Tidak apa-apa.” Jawabku ketus —atau lebih tepatnya takut— pada lelaki itu. Ia menatapku, tentu aku bisa melihatnya dari ekor mataku. Kemudian sebuah pesan muncul di layar ponselku menyelamatkanku dari kebosanan.

Kau dimana?

Pergi.

Antara lega dan jengkel mendapatkan pesan dari Arya —pacarku—. Entah apa yang kupikirkan sekarang, aku hanya berharap ia akan datang menjemputku bak seorang pahlawan, lalu membawaku pulang. Foto Arya muncul, memenuhi layar lima inchiku yang berkedip-kedip.

“Kau dimana? Tidak bisakah kau menjawab pesanku dengan serius?” Tanya Arya sebelum aku sempat mengucapkan halo. Nada tingginya membuatku semakin kesal. Ini semua salahnya, mengapa ia harus marah padaku?

“Bukankah aku sudah bilang, aku pergi. Ya sudah, silahkan bersenang-senang dengan temanmu, kenapa masih menghubungiku? Aku tak ingin mengganggu waktumu yang berharga.” Jawabku ketus.

“Ana,  dimana kau sekarang? Cepat jawab aku. Kau pikir pantas seorang perempuan berkeliaran sendirian malam-malam begini? Ibumu mengkhawatirkanmu. Jangan bertingkah seperti anak kecil.” Anak kecil dia bilang? Apa otaknya tak berpikiran aku seperti ini gara-gara siapa? Tanpa menjawab pertanyaannya aku memutuskan panggilan.

“Bertengkar dengan pacarmu? Tidak baik perempuan berkeliaran malam-malam begini.” Ujar lelaki di sampingku.

“Tidak ada urusannya denganmu.”

“Jika kau tak penting untuknya, putuskan dia. Masih banyak laki-laki yang mau mati-matian membahagiakanmu.” Siapa sih laki-laki ini? Beraninya dia mencampuri urusanku. Aku memasukkan ponselku ke dalam tasku, kemudian beranjak dari kursi dan memutuskan untuk pulang.

“Mau kemana?” Lelaki itu memegang pergelangan tanganku.

“Aku mau pulang. Lepas.” Aku berusaha melepas genggaman tangan lelaki itu sekuat tenagaku. “Lepaskan!” Aku takut lelaki ini akan berbuat macam-macam kepadaku hingga aku terus meronta agar terlepas darinya.

“Tunggu lima belas menit lagi. Jika kau pulang sekarang, akan berbahaya untukmu.”

“Apa maksudmu? Ini sudah malam. Aku mau pulang.” Aku menendang kaki lelaki itu hingga ia melepaskanku akibat rasa sakit di kakinya.

“Berhati-hatilah.”

Itu kalimat terakhir yang diucapkan lelaki itu sebelum aku meninggalkannya. Dia membuatku takut. Justru aku harusnya berhati-hati pada lelaki itu. Akupun memutar kunci motorku, menancap gas dan melajukan motorku untuk segera pulang.

Jalanan masih ramai meski jam sudah hampir pukul sembilan malam. Jarum spidometer menunjukkan angka lima puluh, kecepatan normal untuk jalanan yang bergelombang karena aspal yang tidak rata. Aku menaikkan kecepatan hingga tujuh puluh km/jam.  Tak disangka sebuah truk dengan kecepatan tinggi melaju dari arah berlawanan untuk mendahului sebuah truk yang berjalan lambat. Akupun berusaha menarik kedua rem motorku.

Brak

Aku tak mampu menghindarinya. Yang aku tahu, helmku membentur sesuatu dan aku merasa sedang berada di alam mimpi.
***
Tubuhku terasa perih dan kaku. Ibu menangis sesegukan berdiri di dekat pintu kamar dan tengah berbicara dengan seorang dokter yang kuketahui bertempat tinggal di dekat rumahku.

“Dasar perempuan bodoh!” Ujar seorang lelaki yang duduk di samping ranjang. Wajahnya yang kusut membuatku geram. “Untung kau tidak mati.” Lalu aku tersenyum begitu menyadari bahwa dia mengkhawatirkanku.

“Kenapa disini? Bukannya kau sedang sibuk?” Aku masih berpura-pura merasa kesal padanya.

“Aku melihat motormu ketika aku dalam perjalanan pulang. Aku berharap itu bukan kau, sayangnya itu memang perempuan bodoh yang keras kepala.” Arya mendengus kesal.

“Ini salahmu.”

“Aku tahu, andai aku bisa menemanimu ini tak akan terjadi. Maafkan aku.”

“Katakan kau menyesal dan cinta kepadaku.”

“Ana, aku benar-benar menyesal. Kumohon maafkan aku. Aku mencintaimu, Ana.” Aku tersenyum pada Arya, raut wajahnya benar-benar panik dan ketakutan. Aku menggenggam tangannya yang masih gemetar, kemudian aku menariknya untuk mendekat padaku.


“Aku juga mencintaimu.” Bisikku di telinganya sebelum aku mengecup pipinya. Kemudian ekor mataku menangkap sesuatu di balik jendela kamarku, dan aku menolehnya. Seorang lelaki tengah berdiri dan tersenyum padaku. Tak salah lagi, dialah lelaki misterius yang kutemui di taman tadi.  Andai saja aku menuruti kata-katanya untuk menunggu lima belas menit lagi, mungkin aku tak akan menjadi korban truk sialan itu.

Jumat, 13 Maret 2015

Don't Follow Me


Kembali aku melangkahkan kakiku, sambil sesekali aku menoleh ke belakang. Aku terus melangkah secepat mungkin. Bahkan rasa takut mampu mengalahkan rasa dingin di tubuhku. Jantungku berdegup kencang seolah hendak meloncat melalui tenggorokanku.

Mereka berpikir aku gila. Tapi siapa mereka? Apa hak mereka mengatai aku perempuan gila? Tidak. Aku ini masih waras. Aku masih punya akal. Aku masih bisa berpikir dengan baik.

Dingin semakin menyerbu. Pakaianku basah kuyup oleh salju. Tapi aku masih terus melangkah. Aku harus melangkah sejauh mungkin, sementara laki-laki itu terus mengikutiku. Sebilah pisau tajam mengacung seolah siap menghujamku kapanpun aku lengah.

Air mata tak berhenti mengalir membasahi wajahku. Lelaki itu selalu membuatku takut. Sejak kami menikah, ia berubah. Ia sudah tak mencintaiku lagi. Ia menyiksaku, menyiksa fisik dan batinku.

Namun kali ini nampaknya dia benar-benar akan membunuhku. Aku terus melangkah, melawan salju yang semakin lebat. Sedikit lagi aku akan sampai ke rumah orang tuaku. Aku tahu hanya mereka yang mampu melindungiku. 

Langkahku semakin memburu, lelaki itu pun semakin mendekat padaku. 

Tok tok tok.

Aku mengetuk pintu rumah dengan keras sambil berteriak memanggil ibuku. Aku tahu mereka pasti sudah tertidur tengah malam begini. Kembali ku ketuk berulang-ulang pintu itu dengan keras. Sambil sesekali aku menoleh ke belakang untuk memastikan keberadaan suamiku yang semakin mendekat. Ya, hanya tujuh meter di belakangku.

Klek klek.

Suara kunci diputar dua kali. Diikuti dengan gagang pintu yang bergerak. Tapi terlambat. Lelaki itu telah berdiri tepat di belakangku, mengayunkan pisaunya ke arahku. Dan-

"Tidaaaaaak!!!" Aku menjerit sekeras-kerasnya. Sepasang tangan hangat merengkuhku dengan erat.

"Ada apa Emily?" seorang wanita bergumam lembut di telingaku. Aku membuka mataku perlahan. Ibu. Ibu memelukku yang tengah terduduk lemah di depan pintu.

"Steven. Dia menyakitiku lagi ibu. Dia akan membunuhku." Aku mengatakan yang sebenarnya terjadi. Kemudian aku menatap lelaki di samping ibuku.

"Ayah, aku ingin bercerai dengan Steven." Tangisku tak bisa berhenti. Justru semakin keras. Dia lelaki yang sangat ku cintai, namun perlakuannya tak bisa lagi ku terima. Dia selalu menyiksaku, terlebih ketika ia tahu aku tak bisa memberinya anak.

"Emily, bicara apa kau sayang?" Ayah mengerutkan dahinya. "Steven sudah meninggal dua hari yang lalu."

Aku terperangah mendengar ucapan ayah. Aku mengerutkan kening, memikirkan sesuatu yang sepertinya telah kulupakan. Seulas senyum tersungging di bibirku. 

Ya, aku lupa. Aku yang telah membunuhnya. 

Jumat, 27 Februari 2015

Keajaiban Hitam


“Sam, cepat sebarkan warna hitammu pada langit. Kau harus cepat sebelum gadis itu berangkat.” Perintah Ruth gadis yang mengenakan pakaian serba coklat itu pada Sam, gadis yang memakai pakaian hitam, senada dengan rambut, mata dan sayapnya yang indah.

Ini adalah negeri Elvios dimana semua peri memiliki tugas untuk memberikan warna pada apapun yang ada di dunia ini. Bunga, pohon, daun, bahkan langit. Namun Sam sangatlah menyesali mengapa ia dilahirkan dengan warna hitam. Hitam selalu buruk. Seperti halnya sore ini. Gadis itu harus menaburkan warnanya di langit untuk membuat hujan dan Ashley, gadis yang akan keluar rumah untuk bertemu kekasihnya yang hendak berangkat ke Jerman terpaksa harus membatalkan rencananya.

“Sialan kau peri hitam! Semua ini gara-gara kau aku tak bisa bertemu Ryan!”  Ashley mengumpat kesal pada langit yang telah menghitam disusul dengan badai dan hujan yang amat sangat deras.

***

“Ada apa denganmu, Sam?” Lelaki yang didominasi warna hijau itu mendekati Sam yang sedang  duduk murung di ranting pohon. Sam menggeleng. Kemudian lelaki itu terbang dan duduk di samping Sam. “Kau mau cerita?” Ia mencoba membujuk.

“Apa yang kau lakukan disini?” Sam mengalihkan pembicaraan.

“Tentu saja aku melakukan tugasku. Aku harus memberi warna pada daun-daun itu, supaya mereka terlihat segar.”

“Aku iri padamu.” Gerutu Sam pelan.

“Kenapa?”

“Warnamu cerah dan menenangkan, tugasmu memberikan kehidupan. Dan para petani sangat memujamu. Tidak sepertiku, yang hanya memberikan kesialan bagi orang-orang.” Ujar Sam sambil mengusap air matanya.

“Sam, jangan begitu. Kita punya tugas masing-masing sesuai warna kita. Dan lagi tidak semuanya hitam itu sial. Masih ada warna hitam yang lain yang begitu disukai oleh manusia.”

“Lalu apa menurutmu hitam yang disukai manusia?” Lelaki itu terdiam. Membuat Sam mendengus. “Sudah ku bilang warna hitam hanya menyusahkan manusia. Kau hanya menghiburku Cody, tapi itu sama sekali tak berhasil.” Sam mengepakkan sayapnya meninggalkan lelaki bernama Cody, sang peri hijau.

“Hei Sam, lihat karyaku hari ini.” Skye sang peri merah memperlihatkan hamparan bunga berwarna merah yang begitu indah. Membuat Sam semakin bersedih. Sam hanya tersenyum kemudian meninggalkan Skye.

***

Seperti biasanya, Sam memiliki tugas untuk menaburkan hitam pada langit sore. Gadis itu nampak murung. Ditatapnya perempuan tua yang tengah terburu-buru mencari tempat untuk berlindung. Tapi Sam masih melakukan tugasnya. Kemudian wanita itu setengah berlari untuk menyeberang. Sebuah motor melaju dengan kencang karena guyuran hujan semakin lebat. Kemudian motor itu menabrak wanita itu hingga jatuh tersungkur dan terguling-guling. Sedangkan pengendara motor kabur begitu saja.

Sam melihat Skye menenteng keranjang merahnya, menaburkan warna merah pada tubuh wanita itu. Teriakan orang-orang yang mencoba menyadarkan wanita yang kini berlumuran darah membuat Sam semakin merasa bersalah.

“Hidupnya memang hanya sampai disini Sam.” Skye menepuk pundak Sam yang masih tercengang menyaksikan kejadian itu. Air mata mengalir dari kedua matanya. Rasa bersalah kembali menyelimutinya. Andai saja dia bukan peri hitam, ia pasti tak akan membuat banyak orang meninggal karena ulahnya.

Sam mengepakkan sayapnya menuju ke padang rumput di dekat rumahnya dengan air mata yang terus mengalir membasahi wajahnya. Tentu saja setelah menyelesaikan tugasnya untuk menabur hitam pada langit malam.

“Ada apa lagi Sam?” Cody meletakkan keranjang hijaunya dan berdiri dihadapan Sam.

“Aku membunuh orang lagi, Cody.” Sam berhambur memeluk Cody.

“Sam sudahlah, ini bukan salahmu. Itu memang sudah takdir jika orang itu harus meninggal.”

“Tapi ini gara-gara aku. aku memang membawa sial untuk semua orang.”

“Tidak Sam. Ayo ikut denganku. Akan kutunjukkan sesuatu.” Cody menarik tangan Sam menuju suatu tempat.

“Lihatlah langit malam ini begitu indah dengan bintang-bintang yang bersinar terang.” Ujar seorang wanita yang tengah duduk diatas kursi roda pada lelaki disampingnya. Wanita itu masih muda dan cantik, namun sebelah kakinya menghilang dan balutan perban masih ada di kepalanya.

“Kau suka malam?” Tanya lelaki itu.

“Tentu saja. Aku jauh lebih menyukai malam–” Gadis itu menghentikan ucapannya saat sebuah kembang api membumbung tinggi di langit. “–dia membuat kembang api itu terlihat jauh lebih cantik bukan. Aku bersyukur Tuhan menciptakan malam.”

“Kau lihat Sam, hitammu tidak selalu memberikan musibah. Gadis itu justru bersyukur Tuhan menciptakan malam. Semua itu berkat kau.” Cody menepuk bahu Sam, membuat gadis itu melebarkan senyum di wajahnya.

“Semua warna memiliki kekurangan Sam, seperti aku misal, aku memberikan warna hijau untuk ulat dan mereka merusak daun-daun yang seharusnya utuh. Skye memberikan warna merah pada darah untuk orang-orang yang kesakitan dan Ruth bisa menaburkan warna coklatnya pada air bah yang membanjiri kampung. Tuhan menciptakan semua dengan kekurangan dan kelebihan.”

“Kau benar Cody. Terima kasih Cody, kau telah menyadarkanku.”

TAMAT


Jumat, 20 Februari 2015

Cinta Putih Monyet Merah


Keringat menetes dari pelipis lelaki itu. Ia berjalan menuju kelasnya dengan nafas tersengal karena hukuman yang ia dapatkan dari guru olah raganya. Segala emosinya terkumpul membuat alisnya menyatu dan tanduk seolah keluar dari kepalanya. Seorang gadis yang tengah berjalan dari arah sebaliknya mulai menarik perhatiannya. Rambutnya panjang tergerai indah dengan langkah anggun bak seorang model. Lelaki itu tak dapat mengalihkan perhatiannya, hingga gadis itu berhenti tepat di depannya.

“Permisi, kantor kepala sekolah dimana?” Tanya gadis itu ramah.

“Aku akan mengantarmu.” Kata lelaki itu dengan senyum di wajahnya, melupakan kekesalan di hatinya. “Siswa baru?” Tanya lelaki itu setelah menyamakan langkah.

“Iya, aku Arin.” Gadis itu memperkenalkan diri.

“Aku Adnan”  Kata lelaki itu mengeluarkan segala pesonanya. Aku harus pacaran dengan gadis ini, pikirnya dalam hati. Adnan yang memang berwajah tampan dikenal sering mendekati gadis-gadis di sekolahnya, sifatnya yang supel, ramah dan baik hati membuat gadis-gadis di sekolahnya tak dapat menolak pesonanya.

“Kelas berapa?” Tanya Arin memastikan apakah ada kemungkinan lelaki tampan ini sekelas dengannya.

“Kelas enam. Kau?”

“Sama.” Kelegaan menjalar di hati Arin. Ia harus bisa mendapatkan Adnan untuk dipamerkan pada teman-teman di sekolah lamanya, batinnya dalam hati. Akhirnya mereka sampai di kantor kepala sekolah dan Adnan berpamitan pada Arin untuk segera kembali ke kelas.

“Senang berkenalan dengan gadis cantik sepertimu.” Kata Adnan sambil mengedipkan sebelah matanya dan berbalik menuju kelasnya.

Sejak saat itu Adnan semakin dekat dengan Arin. Bangku yang sengaja diatur oleh Adnan agar bisa bersebelahan dengan Arin rupanya semakin mendekatkan mereka. Kantin, perpustakaan maupun di kelas, mereka selalu terlihat berdua hingga teman-teman mereka iri dengan kedekatan mereka.

Siang itu sepulang sekolah mendung tampak menyelimuti langit. Air menetes dengan kecepatan konstan mengguyur permukaan bumi. Lebih dari setengah siswa harus menunggu hujan reda agar bisa pulang ke rumah masing-masing. Adnan mulai menjalankan rencana yang telah disusunnya beberapa hari yang lalu. Ia berjalan mendekati Arin.

“Mau pulang bersamaku?” Tanya Adnan sambil menggoyangkan payung yang di angkatnya. Arin tersenyum, mengangguk dan mereka mulai menyamakan langkah berjalan seirama di bawah lindungan payung hijau milik Adnan.

“Arin..” Gumam Adnan pelan.

“Kau memanggilku?” Arin memastikan karena suara hujan nyaris menulikan telinganya.

“Aku menyukaimu sejak pertama kita bertemu. Maukah kau jadi pacarku?” Arin menghentikan langkahnya. Adnan yang menyadari Arin tertinggal beberapa langkah dibelakangnya segera mundur untuk melindungi Arin dari guyuran hujan.

“Maaf, kalau aku lancang.” Kata Adnan meraih tangan Arin. Arin menggeleng pelan.

“Bagaimana aku bisa menolak lelaki sepertimu Adnan.” Kata Arin dengan senyumnya. Adnan pun kegirangan dan menggenggam tangan Arin sepanjang jalan. Seorang lelaki dengan seragam biru putih yang basah kuyup menghentikan kayuhan sepedanya di depan Adnan dan Arin.

“Arin, masih kecil udah pegangan tangan!” Bentak lelaki itu membuat Arin ketakutan dan segera melepaskan genggaman tangan Adnan. “Ayo pulang. Kecil-kecil udah macem-macem aja kalian ini.” Imbuhnya membuat mata Arin berkaca-kaca. Dan berlari meninggalkan Adnan dan lelaki itu. Lelaki itu segera mengayuh sepedanya mengejar Arin dan meninggalkan Adnan begitu saja.

Keesokan harinya Adnan menunggu gadis itu di depan gerbang sambil melipat tangannya. Tak lama ia melihat Arin datang.

“Arin siapa laki-laki kemarin?” Tanya Adnan dengan nadanya yang seoktaf lebih tinggi.

“Dia kakakku.” Arin terus melangkah dengan cepat menuju kelasnya. Adnan terus mengejarnya hingga mereka duduk di bangku kelas. Arin melipat tangannya di atas meja, kemudian menempelkan dahinya diatas lipatan tangannya.

“Arin..” Panggil Adnan pelan.

“Aku tidak mau pacaran denganmu. Aku takut dengan kakakku.” Ujar Arin berlinang air mata. Otomatis Adnan yang pemarah pun tak bisa menerima keputusan Arin.

“Kamu tuh gara-gara gini aja nggak mau pacaran. Yang dewasa dikit dong!” Bentak Adnan meninggalkan Arin yang masih menangis. Sejak itu mereka tak pernah bertegur sapa. Bahkan Adnan pun pindah ke kursi paling belakang.

“Nan, ada cewek cantik. Pindahan. Kelas empat.” Kata Alif yang sedang menikmati onde-onde yang dibelinya di kantin.

“Ah, masih bocah Lif. Aku sukanya yang udah gede. Itu tuh kaya dia nah cantik.” Ditunjuknya seorang gadis yang tengah menulis di kursi depan ruang kelas lima. Adnan mulai melangkah mendekati gadis itu.


“Hai Afika..” Sapa Adnan tak lupa dengan menebarkan segala pesona yang dimilikinya.

Kamis, 19 Februari 2015

Do you dare to dream?



Setiap malam, apakah kau selalu bisa terlelap begitu saja? Perlahan merasakan dirimu tersedot ke dalam sebuah lubang hitam. Hingga kesadaranmu juga ikut tertelan dan melemparkanmu ke sebuah dunia yang semu. Di mana kau melihat potongan-potongan adegan bermain dalam benakmu. Dan tanpa diduga, kau  akan menemukan dirimu sendiri terjebak dalam sesuatu yang tidak nyata.

Jika kau bisa tidur dengan nyenyak, maka menjauhlah dariku. Kau tidak akan mengerti rasanya tidak tidur. Beberapa orang mungkin mengenal kata insomnia. Saat di mana kau merasa lelah dan membutuhkan istirahat tapi tubuhmu tidak melakukannya dengan benar.


Tapi apa yang terjadi padaku benar-benar berbeda. Aku sendiri yang tidak ingin tidur. Setiap hari aku selalu mencegah diriku untuk tertidur bagaimanapun caranya. Entah itu dengan memakan cabai, meminum kopi, melakukan kegiatan yang memacu adrenalin, atau apa sajalah yang penting aku tetap terjaga.

Rasa engganku untuk tidur bermula pada suatu malam dingin. Saat itu aku masih bisa terlelap setiap malam. Tapi sebuah mimpi buruk menetes dalam tidurku. Aku melihat diriku sedang berdiri di tepi sebuah jalan raya. Tiba-tiba aku melihat sebuah mobil yang sangat besar melaju cepat ke arahku. Sontak aku berteriak sekuat tenaga meminta diriku menyingkir.Tapi diriku yang di sana tetap bergeming. Hingga aku melihat mobil besar itu oleng dan menabrak sebuah besi panjang yang ditegakkan di atas tanah.

Aku terbangun dan langsung melompat berdiri di atas lantai kamarku yang dingin menusuk. Keringat dingin membanjiri sekujur tubuhku hingga piamaku kuyup. Mataku terbelalak lebar dan napasku terengah-engah tak bisa diatur.

Sekuat tenaga aku mencoba melupakan mimpi itu dan menganggapnya sebagai sekelumit penghias tidurku. Tapi aku gagal. Mimipi itu terus membayangiku sepanjang sisa malam. Hingga akhirnya cahaya kekuningan menembus jendela kamarku. Seolah memberitahuku bahwa pagi sudah menjelang.

Dengan langkah gontai, aku menuruni tangga menuju ruang makan di lantai satu. Saat itulah aku mendengar kedua orang tuaku tengah bercakap-cakap dengan ekspresi serius. Sayup-sayup aku mendengar  mereka menyebut nama salah seorang tetangga yang bekerja sebagai supir truk.

Entah mengapa, telingaku berkedut karena merasa tertarik dengan berita ini.

“Apa yang terjadi, Ayah?” tanyaku dengan perasaan takut sekaligus berani.

“Tetangga kita mengalami kecelakaan. Tadi pagi truk yang dikendarainya oleng dan menabrak tiang listrik di pinggir jalan.”

Angin dingin terasa menusuk di dalam relung dadaku. Kejadian yang baru saja diceritakan ayahku... sepertinya... aku pernah melihatnya. Tapi di mana? Tiba-tiba aku merasakan rahangku mengeras saat aku teringat pada mimpi buruk yang membuatku terjaga semalaman. Kenapa bisa seperti itu?

Malam itu, aku merasa kesulitan untuk memejamkan mataku. Sekelebat cuplikan mimpi itu seakan menyatu dengan cerita ayahku. Aku memeluk tubuhku sendiri yang gemetar. Hingga akhirnya aku tertidur malam itu.

Tentu saja aku kembali melihat mimpi yang lain malam itu. Aku merasakan kakiku yang telanjang sedang melangkah di atas kumpulan kerikil tajam. Tapi entah mengapa aku tidak merasakan sakit apapun. Kakiku terus melangkah tak tentu arah, membiarkan kerikil menggores kaki kecilku. Hingga aku tiba di sebuah bangunan bertingkat yang tampak aneh bagiku.

Gedung berwarna putih dan sangat tinggi menjulang ke langit. Di puncak gedung itu aku melihat sesuatu  yang besar berkobar hingga aku bisa merasakan hawa panas. Kobaran itu membuat gedung tersebut tampak seperti sebatang lilin raksasa. Hawa panas yang menyengat kulitku, membuatku terbangun lagi malam itu. benakku dipenuhi dengan segala macam kemungkinan mengerikan yang berhubungan dengan mimpiku.

Benar saja. Pembawa berita pagi itu menyampaikan sebuah peristiwa melalui layar televisi. Telah terjadi kebakaran yang melahap habis sebuah gedung apartemen dalam satu malam. Aku ternganga saat menonton berita itu. Cukup lama. Hingga sereal di mangkukku melebar karena menyerap banyak susu.

Mungkinkah aku diberi anugerah untuk bisa melihat masa depan? Bulu kudukku meremang dan sekujur tubuhku gemetar. Aku sama sekali tidak menginginkan kemampuan mengerikan seperti ini!

Tentu saja aku ketakutan dan mencoba mencari jalan keluar.

Tidur di malam hari merupakan latensi bagi sebagian orang. Dan aku ingin mengubah hal itu. aku mencoba untuk tidur di siang hari dan terjaga di malam hari.

Tapi mimpi-mimpi itu seperti tidak bisa meninggalkanku sekalipun aku tidur di siang hari. Aku terduduk dengan segala macam pikiran buruk yang menghantui. Matahari di luar sana begitu menyengat dan membuatku menyadari satu hal. Tidak ada tempat bagiku untuk lari. Mimpi-mimpi mengerikan itu akan terus berdatangan setiap kali aku membiarkan diriku terlelap.

Kau juga pasti pernah mengalaminya. Mimpi di mana seekor monster menyerangmu secara membabi buta. Sementara kakimu yang biasanya bisa melesat secepat kilat, terasa amat berat saat kau berada di alam mimpi. Sekali pun itu mimpimu sendiri.

Apa kau tidak pernah memperhatikan kolong tempat tidurmu? Mungkin saja monster mengerikan yang tadi malam hadir di mimpimu, sedang menunggumu di bawah sana. Cakar-cakarnya yang berkilauan siap mengoyak tubuhmu menjadi serpihan kecil saat kau asyik terlelap. Mungkin itu tidak akan terjadi malam ini. Tapi mungkin saja di malam selanjutnya kau tak akan bisa bersembunyi lagi.

Aku tahu jika suatu saat nanti aku pasti akan tidur. Dan saat itu tiba, aku tidak akan bermimpi lagi. Karena sekali aku menutup mata, itu berati untuk selamanya.
 
Dan jika kau tidur malam ini dan melihat mimpi, jangan pernah berjalan terlalu jauh. Jaga dirimu sendiri dari bayang-bayang mimpi yang menghantuimu dalam lelap. Atau  kau akan tersesat dan tidak akan pernah bisa kembali. Selamanya.

Jadi, apa kau masih berani untuk bermimpi?

Senin, 16 Februari 2015

No One Allowed to Know My Secret



Malam semakin larut. Seorang mahasiswa tingkat akhir berjalan keluar dari rumah kosnya. Tubuhnya mengenakan jaket bertudung sambil menggenggam beberapa lembar uang. Ia memasuki sebuah toko serbaada yang buka dua puluh empat jam. Bapak pemilik toko tersebut menyambutnya dengan senyuman ramah. Mahasiswa itu membalas dengan senyum sopan sebelum mencari apa yang ingin ia beli.

Tiga bungkus mi instan, tujuh kaleng kopi, dan lima bungkus keripik singkong dalam kantung plastik menggantikan lembaran uang yang tadi digenggamnya. Ia mendongakkan kepala menatap langit yang semakin menghitam. Langkahnya gontai saat kembali ke rumah kosnya. Ini sudah hampir tengah malam, tapi ia belum menyelesaikan proposal skripsinya. Sementara batas waktu yang diberikan dosen pemimbingnya adalah besok pukul satu siang.

Mahasiswa itu menghela napas berat. Sedetik kemudian, ia menyadari ada beberapa pasangan yang tengah bermesraan di sudut-sudut kegelapan malam. Entah mengapa, ia merasa malu hingga menundukkan kepala dalam-dalam. Bahkan saat ia melewati sebuah gang kecil di dekat rumah kosnya, ia melihat sepasang kekasih tengah berciuman begitu panas di sana. Di tengah cahaya minim di gang itu, ia bisa melihat jelas lelaki itu menghimpit tubuh gadisnya ke dinding. Mereka seperti tengah tenggelam nafsu yang memabukkan. Bahkan tidak menyadari bahwa mahasiswa itu melangkah cepat untuk menjauh tanpa suara.

Begitu mahasiswa itu jauh dari jangkauan pandangan, lelaki itu melangkah mundur. Ia melepaskan gadis yang tadi dihimpitnya ke dinding. Lelaki itu menyeringai sinis saat melihat kaus putihnya yang bernoda merah. Noda itu didapatnya dari dada kiri gadisnya yang terkoyak.

Gadis itu tergeletak tak berdaya. Punggungnya menyandar ke dinding sementara kepalanya tertunduk lemah. Rambutnya dicat pirang hingga membuat kulitnya semakin tampak begitu pucat seperti bulan purnama. Darah segar merembes melalui dada kirinya. Kedua matanya terpejam untuk selama-lamanya.

Lelaki itu berjongkok di samping jasad gadisnya. Tangan kirinya membelai lembut rambut panjang gadis itu. Sekali lagi, lelaki itu menyeringai.

“Maafkan aku, Sayang,” ujarnya sambil mengecup lembut dahi gadis itu. “Aku tahu kau gadis yang pemaaf. Maka, kau pasti akan memaafkan perbuatanku padamu.”
Lelaki itu berdiri lalu mengambil sebatang rokok dari saku jaketnya. Ia menyematkan rokok itu di bibir, lalu menyalakannya dengan sebuah pemantik. Api berkobar sekejap lalu menghilang. Lelaki itu mengembuskan asap yang membumbung ke langit malam.

“Kau mau merokok, Sayang?”

Lelaki itu menyodorkan kotak rokoknya kepada gadis yang tergeletak itu. Tentu saja tidak ada jawaban. Sehingga ia menarik kembali uluran tangannya.

“Ohmaaf. Aku lupa kalau kau sudah tidak mungkin bisa menjawabku lagi.”

Lelaki itu memasukkan kotak rokoknya kembali ke dalam saku. Ia menengadahkan kepala menatap langit malam yang gelap. Bintang-bintang tampak berkelap-kelip manja di atas sana.

“Keinginanmu adalah terbang tinggi untuk mengambil bintang di langit, kau ingat?” Lelaki itu bergumam lebih kepada dirinya sendiri. “Dan sekarang aku mengabulkan keinginanmu. Apa kau bahagia memiliki kekasih sebaik aku?”

Suasana kembali hening dan mencekam. Bahkan burung hantu dan gagak pun takut untuk bersuara. Lelaki itu melemparkan puntung rokoknya ke jalan lalu menginjaknya. Hingga bara apinya benar-benar padam. Sekarang ia kembali berjongkok di hadapan gadisnya. Seringainya kembali muncul di susut bibirnya. Tangannya terulur dan membelai rambut pirang gadis itu berulang kali.

“Kau juga pernah berkata bahwa kau lebih baik mati dari pada harus berpisah denganku. Maka, aku mengabulkannya.” Lelaki itu membelai pipi pucat gadisnya penuh kasih sayang. “Lagipula aku sudah mengenal gadis lain untuk menggantikanmu. Sebentar lagi ia akan datang kemari menjemputku.” Sekali lagi mungkin untuk yang terakhir, ia mengecup bibir gadisnya. “Bersembunyilah, Sayang. Aku tak mau kekasihku cemburu jika melihat kita berduaan sepert

Sebuah jeritan histeris menginterupsi kata-kata lelaki itu begitu saja. Ia menolehkan kepala dan mendapati seorang gadis tengah berdiri kaku di bibir gang sempit itu. Ujung rambut gadis itu menyentuh bahu, lebih pendek dari rambut gadis yang sebelumnya. Tapi kedua gadis itu memiliki persamaan. Mereka mengecat warna rambut mereka menjadi pirang.

Inilah gadis yang ditunggunya.

“Kau... kau...” Gadis itu terbata-bata sambil menunjuk dengan telunjuk gemetar. “A-apa yang kau lakukan?!”

Sedetik kemudian, ia melihat lelaki itu mulai melangkah mendekat. Ia ingin lari. Tapi kakinya beku seperti direndam dalam semen yang mengering. Sekilas gadis itu melihat lelaki itu menyeringai tajam hingga tanpa sadar air mata meleleh di pipinya. Jejak air mata membekas di kulitnya yang berlapis bedak.

“Jangan takut, Sayang,” ujar lelaki itu tenang. “Aku hanya sedang bersenang-senang.”

Mata gadis itu terbelalak lebar saat melihat noda darah yang mulai menghitam di kaus putih lelaki itu. Dan sepertinya lelaki itu menyadari arah pandangan itu. Dengan cepat ia menarik ritsleting jaket hitamnya dan menutupi noda darah itu.

Semakin lelaki itu mendekat, tubuh gadis itu semakin gemetar. Ia begitu ketakutan hingga otaknya membeku. Tak ada yang bisa ia lakukan selain memukulkan tas di genggamannya ke udara. Ia memejamkan mata sambil berharap salah satu serangannya mampu melumpuhkan lelaki itu.

Tiba-tiba gerakan tangan gadis itu terhenti. Lelaki itu sudah mencengkram tangannya dengan begitu kuat. Sedetik kemudian, lelaki itu sudah menarik tubuh gadis itu dengan kasar, menghimpit tubuh gadis itu ke dinding. Sehingga tidak ada ruang lagi untuk gadis itu untuk meronta.

“Sebenarnya aku tidak berniat melakukan ini padamu dalam waktu dekat. Tapi kau sudah melihat apa yang seharusnya tidak kau lihat malam ini. Jadi, aku tak punya pilihan lain.”

“Ja-jangan sakiti aku...” Gadis itu meraung pilu. Air matanya sudah tak tertahankan lagi. “Aku a-akan melakukan apa saja tapi le-lepaskan aku... Aku mohoooon...”

Lelaki itu mendekatkan wajahnya lalu berbisik dengan nada mesra. “Setahun yang lalu, aku mencintai seorang gadis dengan sepenuh hati. Tapi dia mencampakkanku begitu saja. Itu sangat menyakiti perasaanku. Dia sama sepertimu, juga gadis yang tergeletak itu.” Jari telunjuk lelaki itu mengarah pada gadis berambut panjang. “Kalian semua mengubah warna rambut menjadi pirang seperti ini. Sejak saat itu, setiap kali aku melihat gadis berambut pirang... aku selalu ingin mengoyak jantungnya.”

Bibir mereka bersentuhan. Lelaki itu memagut gadisnya dengan begitu panas. Seolah tak ada hari esok untuk berciuman. Sementara gadis itu merasakan suatu sengatan di jantungnya. Sengatan itu begitu dalam dan intens hingga rasanya menghisap habis darah di seluruh tubuhnya.

“Maafkan aku, Sayang. Tapi ini satu-satunya cara yang harus kita hadapi bersama.” bisik lelaki itu dengan wajah berpura-pura sedih. Ia membelai tengkuk gadis itu lalu menyusupkan tangannya ke dalam rambut pirang buatan itu. “Aku tidak mengizinkan siapapun mengetahui rahasiaku.”

TAMAT