Tampilkan postingan dengan label Deana Asta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Deana Asta. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Desember 2024

Satu Dekade Stoples Cerita




Hai …… Readears dan Luvnaer,

para pembaca kisah cinta yang penuh warna.


Selamat datang di babak baru petualangan Rainbow of Love!

Bertepatan dengan satu dekade blog Stoples Cerita,

akan dirilis seri terbaru dari Rainbow of Love.

Setelah sukses dengan Red Lie, Orange Sunset,

Green Eyed, Purple Maple pada tahun 2014-2017.

Kini White Promises/White Vows hadir dengan kejutan istimewa.

Berbeda dengan 4 novel sebelumnya,

White Promises/White Vows merupakan novel pertama

yang ditulis secara duet alias ditulis bergantian

setiap chapternya oleh Anggi Ermona & Deana Asta.

Ini bukan sekadar novel, melainkan sebuah

petualangan kreatif yang mengajak pembaca

untuk ikut serta dalam sebuah eksperimen literatur yang unik.

Kalian bisa ikut merasakan bagaimana dua perspektif berbeda,

menyatu menjadi sebuah kisah yang utuh dan memikat.


Siap merasakan sensasi baru membaca novel duet?

Yuk, mulai membaca!

Atur pengingat untuk 14 Desember 2024 pukul 19.00 WIB.

Hanya di wattpad


Sabtu, 07 Desember 2024

Rainbow of Love #5 - White Vows & White Promises

 






Rafael setuju menikahi Revina Adam karena itu wasiat ayahnya. 

Revina menerima lamaran Rafael Williams karena lelaki itu kaya raya.


Halangan dan rintangan datang silih berganti. Sementara cinta terus bertumbuh di dalam hati.


Namun, perselisihan mengantar mereka ke tepi jurang perpisahan. Sanggupkah keduanya menjaga ikrar yang telah diucapkan?



Prolog
Chapter 1            Chapter 2        Chapter 3        Chapter 4        Chapter 5
Chapter 6            Chapter 7        Chapter 8        Chapter 9        Chapter 10 
Chapter 11          Chapter 12      Chapter 13      Chapter 14      Chapter 15
Chapter 16          Chapter 17      Chapter 18      Chapter 19      Chapter 20
Chapter 21          Chapter 22      Chapter 23      Chapter 24      Chapter 25
Chapter 26          Chapter 27      Chapter 28      Chapter 29      Chapter 30
Epilog

Jumat, 01 September 2017

Green Eyed - Epilog


Elena menyuapkan sepotong rainbow cake dan mengunyahnya sambil berpikir keras, tentang apa yang seharusnya ia katakan saat lelaki itu muncul di hadapannya beberapa menit lagi. Rainbow cake yang terasa lembut itu,  seolah berubah menjadi sangat keras setelah menyadari bahwa lelaki yang sejak tadi ia nantikan telah berdiri tegak menyentuh pundaknya. Cake tersebut enggan turun dari tenggorokannya,  juga tak ingin kembali untuk keluar dari mulut Elena,  membuat gadis itu terbatuk-batuk sambil memukul dadanya keras-keras. 

"Apa kau baik-baik saja, sweetheart?" Tanya lelaki itu sambil menyodorkan segelas air pada Elena.

"Terima kasih, Andre." Ujar Elena setelah berhasil meloloskan cake yang tersangkut di tenggorokannya. 

"Papa..." Seru seorang anak kecil yang tiba-tiba menghampiri mereka berdua. Lelaki kecil itu tampak sangat tampan dengan kemeja yang dilipat hingga ke siku dan celana jeans serta sepatu boot yang berukuran kecil. Sama persis seperti lelaki di sampingnya itu.

"Halo sayang, apa kabar jagoannya mama?" ELena berseru girang saat mendapati lelaki kecil kesayangannya itu meraih jemari Andre sambil menarik-narik tangan sang ayah. 

Lelaki kecil itu cemberut menatap Elena,  sesaat kemudian senyum manis di bibirnya berkembang menjadi tawa renyah yang sangat Elena rindukan.  "Aku baik."

"Di mana Maria?" tanya Elena yang kembali dihadiahi wajah cemberut oleh lelaki kecil itu. 

"Sweetheart,  dia bukan Maria,  dia Mama.  Namanya Mama." Seru lelaki kecil itu memperingatkan. Elena dan Andre saling bertukar pandang,  kemudian saling tertawa terpingkal melihat kelakuan Axel. Lelaki kecil itu sungguh pandai berbicara,  dapat dipastikan siapa yang membuat lelaki kecil itu jadi begini. 

"Hey kau merayu calon istriku, anak kecil?" Suara yang sangat dikenal oleh Elena terdengar nyaring di telinganya. 

"Tidak, bro ampun." Seru Axel yang segera bersembunyi dibalik kursi Elena. Dia selalu menirukan bagaimana cara ayahnya memanggil seseorang,  tak terkecuali dengan panggilan 'bro' untuk Nico. 

"Kenapa kau selalu memanggilku seperti itu,  anak kecil. Akan kumakan kau." seru Nico sambil mengangkat kedua tangannya,  bergaya seperti seekor macan yang siap memangsa anak kelinci. 

"Aaampuuunnnn. Maafkan aku.  Sweetheart,  tolong selamatkan aku." ujar Axel ketakutan tanpa dibuat-buat. Elena terkekeh menyaksikan dua lelaki kesayangannya itu saling merebutkannya. 

Enam bulan yang lalu,  Elena telah mendapatkan kembali kebebasannya. Dan sesuatu yang cukup mengejutkan terjadi, karena pada akhirnya, setelah sekian lama, Evan menambatkan hatinya pada seorang gadis bernama Azzela.  Entah mengapa Elena sangat menyukainya tanpa memedulikan latar belakang gadis itu. Hingga hari saat pertunangan Evan terjadi, muncullah seorang pria yang hampir saja membuat pertunangan itu batal. 

Andre

Siapa sangka lelaki itu akan datang dengan mengenakan setelan mahal yang membuatnya tampak sangat keren dengan duplikat kecilnya yang berada dalam gendongannya. Ia tampak tercengang melihat siapa lelaki yang hendak memasangkan cincin pada jemari adik kesayangannya. Ia sempat menentang terjadinya pertunangan tersebut,  mungkin karena rasa bersalahnya pada calon adik iparnya atas kejadian beberapa tahun yang lalu. 

Namun kini semuanya berbeda,  Andre justru semakin dekat dengan Evan maupun Elena seolah telah melupakan kejadian penjebakan yang dilakukannya pada Elena beberapa tahun yang lalu. Terlebih Axel yang sangat dekat dengan Elena,  yang bahkan menjadi 'lelaki kecil kesayangan' Elena.

"Hey,  sudahlah Nick. Dia menangis." ujar Elena terkekeh sambil memeluk lelaki kecil yang kini berada di pangkuannya. 

"Sudahlah bro,  jika kau membuat Axelku menangis,  aku akan menculik calon istrimu." Canda Andre yang membuat Nico bersungut-sungut seperti seorang anak kecil yang akan kehilangan mainan kesayangannya. "Apa kau setuju,  Axel?" tanya Andre yang membuat lelaki kecil itu mengangguk antusias. 

"Jika kau nakal,  aku akan membawa Sweetheartku pergi. Aku akan menjadikannya istriku." Ancam Axel dengan nada suara yang masih bergetar karena menangis, hingga membuat semua orang terbahak-bahak karena ancamannya. 

"Hey,  Sweetheart terlalu tua untukmu,  nanti kau akan menemukan seorang gadis yang sesuai denganmu." Seorang wanita cantik dengan rambut pirangnya yang tergerai indah menginterupsi.

"Mama" Axel segera turun dari pangkuan Elena dan melompat ke dalam pelukan ibunya. 

"Aku sudah menghubungi Harry dan Trisia.  Mereka bilang akan sedikit terlambat.  Sedikit bersabarlah,  Elena." Ujar Maria yang disambut oleh embusan napas besar Elena. Lagi-lagi ia harus mempersiapkan kembali mentalnya,  setelah kedatangan Andre -yang ia pikir adalah Harry- telah mengacaukan perasaan yang coba ia tenangkan sejak beberapa hari yang lalu. 

Semakin lama,  Elena semakin gusar.  Niatnya untuk meminta maaf dan berdamai dengan Harry dan Trisia seolah terasa sangat berat. Beberapa kali ia mencoba mengajak Harry dan Trisia bertemu namun mereka berdua hanya mengiyakan tanpa berniat menemui Elena. Hingga pada akhirnya Elena harus meminta tolong pada Andre.

"Tenanglah sayang, semua akan baik-baik saja" Nico mencoba menghibur calon istrinya yang kembali tegang yang hanya ditanggapi dengan anggukan kepala oleh Elena. 

Beberapa menit berlalu,  sampai seorang wanita dengan dress berwarna merah gelap yang kontras dengan warna kulitnya yang seputih salju datang bersama seorang pria yang mengenakan kemeja coklat bergaris vertikal. Pria itu memeluk pinggang wanita di sampingnya yang perutnya tampak membuncit dan dengan hati-hari pria itu menuntunnya.

Hal tersebut sontak membuat Elena memelotot dan bertanya-tanya dalam hati. Apakah hanya dirinya yang tidak bisa melupakan kematian Leo?  Sementara wanita itu kini telah menikah dengan pria lain tanpa memikirkan Leo. 

"Apa yang ingin kau bicarakan dengan kami?" Suara maskulin yang cenderung menyeramkan itu menusuk telinga Elena hingga membuat jantungnya berdebar kencang.  

"A... Aku ingin membicarakan sesuatu.  Ini tentang..." Elena menghentikan ucapannya,  seketika merasa ragu akan niatnya untuk berdamai. 

"Katakan saja,  tak perlu ragu." Trisia akhirnya mencoba membujuk Elena,  wanita yang pernah menjadi sahabatnya beberapa tahun yang lalu.  Tentu saja sebelum ia mengetahui kenyataan bahwa Elenalah orang yang telah membuatnya berpisah dari Leo. 

"Sejujurnya,  selama aku di penjara aku banyak berpikir. Aku tahu salahku sangat besar pada kalian berdua," kembali Elena menghentikan ucapannya, menggigit bibir bawahnya sembari mencoba memilah kata yang hendak diucapkannya. 

Pikirannya teralihkan ketika tangan hangat menyentuh jemari Elena dan menggenggamnya dengan erat. Nico.  Pria itu selalu ada di sampingnya untuk menguatkannya. Sama seperti lima tahun yang lalu,  sama seperti hari ini.  Pria itu masih sama,  kecuali cintanya yang semakin besar untuk Elena.  Elena membalas genggaman tangan Nico,  menghela napas besarnya dengan pelan untuk menenangkan debaran jantungnya. 

"Aku tahu aku tak akan bisa mengembalikan Leo di tengah-tengah kehidupan kalian. Aku tahu salahku yang begitu besar mungkin saja bagi kalian tak akan termaafkan. Tapi tetap saja aku ingin meminta maaf pada kalian. Aku ingin berdamai dengan kalian." 

Harry hanya menatap datar wanita yang ada di hadapannya,  sementara Trisia mulai mengembangkan senyumnya untuk Elena. Entah apa maksud dari senyuman itu,  mengingat Trisia adalah wanita yang mudah menyembunyikan perasaannya. 

"Aku tahu kau menyesal. Permintamaafanmu tak akan mengubah apapun, Elena." Ujar Trisia tenang yang justru membuat Elena gusar. 

"Jika memang aku tak memiliki kesempatan untuk mendapatkan maaf kalian,  aku tak keberatan. Setidaknya aku mencoba meski tak ada hasil. Terima kasih kalian sudah bersedia menemuiku." 

"Semuanya memang tak akan berubah." Harry mulai membuka mulutnya.  "kau juga tak akan bisa mengembalikan Leo pada kami. Tetapi little Leo akan segera datang pada kita.  Jadi aku sedang memikirkan untuk dapat menerima permintaan maafmu,  Elena."

"Kupikir Leo pun telah memaafkanmu. Dan aku yakin,  Tuhan lebih menyayangi Leo sehingga membuat Leo meninggalkan kami.  Semua telah diatur oleh Tuhan, dan kami tak ingin membencimu untuk takdir yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Kami menerima permintaan maafmu, Elena." Kembali senyum itu menghiasi wajah Trisia, sorot hijau di matanya mengungkap ketulusan yang sama sekali tak dibuat-buat.

Tanpa terasa air mata pun membasahi wajah Elena, tangis penuh kelegaan, ketenangan,  kepuasan seolah bercampur membuat air mata Elena bagai air bah yang tak lagi terbendung. Kakinya terasa lemas, membuatnya bersimpuh di lantai kafe yang penuh kenangan baginya.  Rainbow cafe,  seperti kenangannya yang penuh warna dalam tempat ini. 

***

"Hai Sweetheart, kau sangat cantik. Iya kan Mama?" Puji lelaki kecil itu sambil memegang ujung dress Maria yang tengah berdiri menyaksikan Elena dengan gaun putihnya yang menjuntai panjang.  Sementara Trisia dengan perut buncitnya mencoba merapikan veil yang ada di kepala Elena. 

"Tentu saja,  apa kau tak ingin punya istri sepertinya? Lihatlah dia sangat cantik." Goda Azzela, mengingat keponakan kesayangannya itu sangat menyukai Elena,  bahkan ia pernah melamar Elena di depan semua orang,  membuat Nico kesal karena menurut Elena, lamaran Axel terasa lebih mengesankan. 

"Mama,  bolehkah aku menikah dengan Sweetheart?" Tanya Axel dengan wajah polosnya. 

"Tidak,  Axel.  Nico akan membunuhmu jika kau mencoba mencuri pengantinnya." Ujar Maria jengkel. Dia menyukai Elena,  tetapi anak lelakinya yang menggilai Elena membuatnya berpikir untuk menjauhkan Axel dari Elena. Ia khawatir kelak saat Axel tumbuh dewasa,  ia akan betul-betul mencintai Elena layaknya drama Korea yang Maria tonton beberapa waktu yang lalu. 

"Kau tak perlu khawatir,  Maria.  Dia hanya anak-anak. Dia tak akan benar-benar menikahi Elena saat dia besar nanti." Ujar Trisia terkikik geli.  Ia tahu apa yang ada di kepala Maria,  karena Andre pernah menceritakannya pada Harry dan Trisia. 

"Sudah,  sudah.  Kupikir sekarang sudah saatnya Elena keluar.  Ayo." Seru Azzela seraya menyentuh jemari Elena untuk menuntunnya menuju pusat acara. Ini adalah hari yang dinantikan oleh Elena untuk dapat bersanding dengan lelaki yang dicintainya,  Nico. 

Langkah Elena yang lembut menuntunnya perlahan menyusuri karpet merah yang terbentang panjang. Di ujung lainnya, Nico berdiri mengenakan jas putihnya, tampak tampan dan gagah. Penampilannya sangat kontras jika mengingat kembali masa sulitnya, tepatnya saat penantiannya untuk Elena.  Bahkan lelaki itu sama sekali tak mau repot mengurus dirinnya hingga membuat gadis-gadis yang menggilainya berubah prihatin atas keadaan Nico. 

Tapi bukan itu yang ia inginkan. Ia hanya menginginkan Elena, entah apapun yang terjadi.  Ia tak peduli meski seluruh dunia membencinya. Baginya, asalkan Elena ada di sampingnya, itu lebih dari cukup. 

Mata Nico sibuk mengawasi wanitanya yang berjalan anggun mencoba menghapuskan jarak di antara mereka. Baginya hal ini seperti mimpi. Dan jika ini hanya mimpi,  ia tak ingin terbangun lagi hanya untuk menyadari bahwa Elena yang kini perlahan mendekatinya adalah semu. 

Nico tersenyum lebar,  mengulurkan tangannya untuk menjemput pengantinnya. Saat itulah ia yakin bahwa ini bukanlah mimpi.  Elena adalah nyata, wanita itu adalah miliknya.

TAMAT


Jumat, 21 April 2017

Green Eyed - Chapter 14


NICO POV
Mataku menatap nyalang map hijau yang kuperoleh dari Dani sebelum aku sampai ke kantor. Pukul lima pagi aku segera berangkat menuju kantor, setelah Dani menelponku. Ia telah menemukan sesuatu tentang Andre. Hal itu membuatku buru-buru menemuinya. Aku ingin segera mencari jawaban atas rasa penasaranku yang tak henti-hentinya menghantuiku.

Apapun yang ada di dalam map tersebut adalah hasil pencarian Dani mengenai lelaki sialan itu, Andre. Dia menginginkan Elena atau dia memiliki niat tersembunyi, apapun motifnya untuk mendekati Elenaku, aku yakin itu pasti buruk.

Pikiranku kembali melayang pada gadisku. Masih pukul empat pagi dan aku sama sekali tak bisa memejamkan mataku. Perlahan aku membuka pintu kamar, kulihat gadis itu meringkuk di balik selimut tebal yang mengangatkan tubuhnya. Kulihat jejak-jejak air mata masih tercetak jelas di sudut matanya. Aku mengembuskan napas panjang dengan tenang sebelum mengecup puncak kepala gadis itu.

Aku menggaruk kepalaku yang tak terasa gatal dengan frustasi. Mengingat wajah murung gadis itu membuatku merasa bersalah. Tanpa membuang waktu lagi aku membuka map hijau yang sejak tadi membuatku tak tenang. Andreas Refiano,  dokter spesialis saraf yang juga mengembangkan berbagai bisnis. Wajah lelaki itu mengingatkanku pada jahanam bernama Jonathan Adam. Biang keladi segala masalah yang dimiliki Elena. Tapi pikiranku bahwa mereka adalah saudara buru-buru ditepis lantaran data Dani menunjukkan bahwa Andre hanya memiliki seorang adik perempuan.

Kembali kuamati lembar demi lembar tulisan rinci yang semakin menarik perhatianku. Lelaki itu ternyata memiliki tunangan yang kini sedang menyelesaikan pendidikan doktor di Australia dan rumornya mereka akan segera melaksanakan pernikahan mereka setelah gadis itu menyelesaikan pendidikannya.

Apakah mungkin lelaki itu akan mengkhianati tunangannya? Apakah ia benar-benar tertarik pada Elena? Segala macam pertanyaan berputar-putar di kepalaku, membuatku memijat ringan kedua pelipisku. Apa yang sebenarnya lelaki itu inginkan, sungguh membuatku sangat penasaran. Sekelebat perasaan aneh membuatku merinding setelah kutemukan sesuatu yang mungkin saja bisa menjadi benang merah antara semua masalah yang ada.

ELENA POV
Aku bergerak gelisah di atas ranjang berukuran queen size milik Nico. Aku menghirup dalam-dalam aroma yang ia tinggalkan di ranjangnya. Lelaki itu tampaknya benar-benar marah padaku. Semalaman aku menunggu di kamarnya hingga aku tertidur. Kupikir pagi ini ia akan menemuiku setelah ia mengatakan bahwa ia butuh waktu sendiri. Tetapi saat aku terbangun ia sudah berangkat ke kantornya, bahkan lebih pagi dari biasanya.

Aku berteriak kesal sambil melempar bantal Nico yang berakhir membuatku beranjak untuk mengambilnya dan meletakkannya kembali di tempat asalnya. Aku sungguh ingin menyusulnya, tetapi Evan melarangku keluar rumah dengan alasan bahwa aku tak bisa berkeliaran seenaknya, terlebih setelah kejadian kemarin.

Suara notifikasi pesan membuatku berguling ke sisi lain ranjang Nico untuk melihat pesan masuk yang kuharap itu berasal dari Nico.

From : Andre
Hai sweety, bagaimana keadaanmu? Bisakah kita bertemu di luar siang ini?

Aku menghela napas panjang yang berisi kekecewaan. Aku sama sekali tak berharap lelaki ini menggangguku lagi setelah semuanya yang terjadi. Dan apa dia bilang? Dia ingin bertemu denganku?

To : Andre
Aku baik. Bagaimana dengan lukamu? Aku mohon maaf atas sikap Nico kemarin.

Aku sengaja tak memedulikan pertanyaan kedua. Aku takut itu akan menjadi bumerang untukku jika aku masih saja berpegang teguh pada rasa penasaran mengapa lelaki itu ingin bertemu denganku. Pesan balasan segera datang tanpa aku perlu menunggu lama.

From : Andre
Jika kau merasa bersalah atas sikap Nico, kuharap kau bisa menemuiku di Rainbow Café jam 1 siang ini. Ada yang ingin kubicarakan tentang Nico. Aku berencana menuntutnya atas tindak kekerasan jika kau tak datang siang ini. Sampai nanti, sweety.

Pemaksa! Bagaimana jika ia menuntut Nico jika aku tak menemuinya? Lalu bagaimana jika aku lagi-lagi keluar tanpa seizin Nico? Hal itu benar-benar membuat kepalaku berdenyut. Aku memukul kepalaku pelan, mencoba mulai berpikir dengan jernih. Aku menyentuh beberapa angka yang kuhafal di luar kepala pada layar ponselku. Foto Nico yang tersenyum padaku terpampang di layar ponsel lima inci milikku, membuatku buru-buru membatalkan panggilan.

Aku beranjak dari kamar Nico, melangkahkan kakiku menuju dapur di mana ku lihat Evan tengah berkutat dengan microwave yang terletak di sisi kanan dapur.

Aku berdehem, menginterupsi kegiatan Evan hingga ia memberikan sedikit perhatiannya untukku. “Kak, aku ingin membicarakan sesuatu denganmu.”

“Apa itu?” Tanya Evan sembari mengalihkan pandangannya kembali menuju microwave.

“Begini, aku perlu keluar…” Evan tampak mencurahkan seluruh perhatiannya padaku, membuat tegang. “Hanya sebentar. Aku perlu izinmu kak.” Lanjutku yang dihadiahi tatapan tidak setuju oleh Evan.

“Ayolah kak, hanya sebentar saja. Aku janji.” Atau Nico akan berurusan dengan polisi nantinya, imbuhku dalam hati.

“Kurasa Nico memang harus benar-benar menghancurkan kepala batumu itu, Elena.” Ujar Evan dengan nada yang terdengar kesal.

“Kakak, aku tahu aku salah. Namun kali ini aku harus menemui Andre. Jika tidak sesuatu yang buruk akan terjadi dan...”

Prang!

Sebuah gelas tergeletak tak berdaya, hancur berkeping-keping, membuat air di dalamnya ikut berleleran membasahi lantai sebelum aku menyelesaikan kalimatku. Tatapanku beralih menuju lelaki di hadapanku yang kini mengepalkan tangannya dengan erat. Kemudian tangan itu dengan cepat memukul meja makan yang sebenarnya tak memiliki salah sama sekali pada lelaki itu.

“Elena!” Suara yang terdengar penuh amarah membuatku berjingkat. “Kau sadar dengan apa yang kau katakan? Apa tidak cukup kau membuat keributan semalam setelah jelas-jelas Nico melarangmu? Apa kau pikir Nico masih akan tetap menyelamatkanmu jika kau masih saja keras kepala seperti ini? Masalahmu bukanlah masalah sepele, Elena. Jika kau masih seperti ini, lebih baik kita pulang atau serahkan saja dirimu pada polisi!”

Aku yakin Evan sangat marah padaku. Dia bukan tipikal orang yang emosional sepertiku dan tindakannya tadi cukup menunjukkan bahwa ia benar-benar berada di luar kendali. Mungkin Andrelah pemicu emosi para lelaki di rumah ini. Entah mengapa mereka begitu sensitif dengan nama itu.

Aku kembali menuju kamar, menimbang-nimbang apa yang harus kulakukan untuk menanggapi ajakan Andre. Sering kali aku menonton drama, bahwa jika si perempuan menuruti apapun yang dikatakan oleh si laki-laki lain demi melindungi kekasihnya. Kurasa bukan hal yang salah jika akupun akan bertindak begitu. Tak akan ada yang terjadi padaku jika aku menemui Andre sekali lagi. Jika tidak, kemungkinan Nico yang akan menanggung segalanya. Padahal aku tahu dia melakukannya demi aku.

Aku akan membulatkan tekad. Aku harus menemui  Andre demi Nico karena dia telah melakukan banyak hal untukku. Sekarang giliranku untuk melakukan sesuatu untuknya.
***
Aku mengoleskan sedikit lipstik agar bibirku tak tampak pucat, tak lupa aku mengenakan kaca mata hitamku sebelum taksi sampai di sebuah kafe tempat janji kami bertemu. Aku sudah terlambat lima belas menit, tetapi aku yakin Andre masih akan menungguku.

Ponsel di tasku berteriak-teriak meminta perhatian. Kulihat nomor Andre terpampang di layar ponselku. Dengan gugup aku menggeser ikon hijau di layar.

“Sebentar lagi aku sampai, dokter.” Ujarku sebelum Andre sempat mengucapkan sesuatu.

“Tenang saja, sweety. Aku masih setia menunggumu di sini.” Kekehan Andre justru membuatku kesal. Tanpa menanggapi perkataan Andre, aku menutup telpon dengan segera. Penggoda!

Hanya dalam hitungan menit, taksi sampai di depan pintu kafe yang didominasi warna pelangi itu. Baru kemarin keributan terjadi gara-gara aku. Hal itu membuatku sedikit merasa sungkan kepada pegawai di kafe itu.

Aku melangkah masuk ke dalam kafe dan segera menyeret kursi yang ada di hadapan lelaki yang kini tengah mengenakan kemeja biru yang lengannya dilipat asal sampai ke siku. Lelaki itu mendongak sambil melempar senyumnya lebar hingga membuat matanya yang sipit nyaris terpejam.

“Apa yang sebenarnya ingin kau bicarakan, dokter?” Ucapku langsung tanpa perlu membalas senyuman lebarnya yang kuakui memang memesona.

“Kenapa kau terburu-buru, Elena. Aku hanya ingin memandang wajahmu untuk yang terakhir kali.” Ujar lelaki itu sambil menunjukkan raut wajahnya yang tampak sedih dibuat-buat. “Panggil saja aku Andre.” Imbuhnya sambil berkedip genit. Entah ada berapa wajah yang dimiliki lelaki itu. Ia sangat ahli mengubah ekspresinya. Mungkin bermodalkan wajahnya itu, ia akan menang banyak jika mencoba bermain poker melawan Alexa, si ratu poker.

“Baiklah, Andre. Kau bilang ingin mengatakan sesuatu? Tolong katakan sekarang, karena aku sungguh tak punya banyak waktu.”

“Jangan terburu-buru sweety, sebenarnya ada seseorang yang ingin bertemu denganmu.” Aku mengernyitkan dahi saat Andre mencoba membuatku penasaran. “Dia teman baikku. Aku ingin mengenalkannya padamu.”

“Untuk apa?” Untuk apa aku perlu mengenal teman-teman lelaki di hadapanku ini? Dia bukan calon suamiku. Akupun tak pernah berpikir akan jadi teman karib lelaki ini.

Pandanganku beralih pada seorang lelaki yang tiba-tiba menyeret kursi dan duduk di samping Andre. Mataku terbelalak menatap lelaki yang mengenakan setelan jas mahal yang melempar senyum sinisnya padaku.

NICO POV
Berulang kali aku mencoba menghubungkan panggilanku pada Elena.  Tetapi ia tak mengangkatnya. Firasatku semakin memburuk ketika lagi-lagi Evan kehilangan Elena untuk kedua kalinya. Kami memutuskan untuk berpencar dan mencari keberadaan si kepala batu itu.

Aku merasa amat sangat geram saat Evan mengatakan bahwa Elena sempat meminta izin untuk menemui Andre. Saat itu Evan menolaknya. Tetapi lagi-lagi si bodoh itu kehilangan adiknya begitu saja.

Ingatanku kembali melayang pada saat aku berulang kali membaca data yang diberikan Dani. Quartz Design. Nama perusahaan yang membuatku menyadari sesuatu. Menurut Dani, Andre memiliki hubungan dekat dengan CEO perusahaan tersebut. Mungkinkah itu alasan Trisia tampak dekat dengan Andre saat semalam aku menghajarnya?

Semakin aku menghubungkan beberapa kejadian yang ada, aku semakin yakin bahwa Andre telah mengetahui sesuatu tentang kecelakaan itu. Dan kemungkinan lelaki itu telak memiliki rencana bersama sahabatnya, Harry.

Ponselku berdering, membuyarkan lamunanku. Foto konyol Evan tersenyum bodoh pada layar ponselku.

“Aku menemukannya di Rainbow CafĂ©.” Ujar Evan terburu-buru.

“Baiklah aku…”

“Tapi...” Evan memotong kata-kataku sehingga kuurungkan niatku untuk meletakkan ponselku.

“Ada apa?”

“Firasatku jadi buruk, lelaki itu ada di sini. Aku akan masuk duluan untuk memastikan keadaan Elena. Kau cepatlah kemari.”

Aku melempar ponselku ke bangku penumpang yang ada di sampingku. Menginjak pedal gasku lebih dalam agar segera sampai di tempat tujuan. Aku tahu pasti maksud Evan tentang lelaki itu, dan itulah ketakutan terbesar kami.

Tubuhku terasa kaku saat kusaksikan Evan tengah bersitegang dengan Andre dan seseorang yang tak asing lagi, Harry. Firasatku benar. Mereka berdua telah bersekongkol dan aku lebih mementingkan perasaan untuk menghukum Elena lebih lama dari pada memperingatkannya, hingga semuanya terlambat. Kakiku bagai seonggok beton saat aku memaksa bergerak untuk mendekati meja itu.

“Aku yakin kau salah orang. Adikku tak pernah melakukan hal itu.”

“Tutup mulutmu!” Bentak Harry setelah ia memukul meja di hadapannya. “Dia sudah membunuh adikku. Wanita itu adalah pembunuh! Seharusnya dia mendekam di penjara!”

“Kurasa kau tak perlu mempermalukannya di depan semua orang seperti ini, Harry.” Aku merangkul Elena yang hanya menunduk diam di tempatnya sambil menangis sesegukan. Sementara semua pasang mata tertuju pada keributan ini.

“Apa dia masih punya malu sementara dia terang-terangan mengunjungi kekasih adikku tanpa tahu malu?”

“Kita bisa membicarakan semua ini di tempat lain.” Aku mencoba menenangkan Harry, sementara beberapa kamera ponsel pengunjung kafe telah menyorot pertengkaran kami.

“Untuk apa? Biarkan semua orang tahu bahwa kekasihmu telah membunuh adikku.”

Entah setan apa yang merasukiku, tiba-tiba saja kepalan tanganku menghantam wajah Harry. Lelaki itu tersungkur dan dengan segera ia balas menghantamku. Baku hantam pun terjadi, sementara Evan, Andre dan beberapa pegawai mencoba memisahkan kami. Sejauh yang aku tahu, Elena memang salah, namun lelaki itu tak searusnya mempermalukan Elena dihadapan umum.

Tak berapa lama, tiga orang petugas kepolisian menghampiri kami dan menyerahkan selembar surat yang disodorkan tepat dihadapan Elena. “Anda ditangkap atas tuduhan kelalaian berkendara hingga menyebabkan kematian orang lain.”

Seketika aku merasa tubuhku digodam. Ini sungguh-sungguh bagaikan mimpi untukku. Aku sudah berusaha semampuku untuk menyembunyikan gadis ini dan segalanya sia-sia. Di depan mataku, gadisku—Elenaku, diseret dengan borgol yang mengunci kedua tangannya.

“Elena!” Teriakku memberontak sementara tangan-tangan kekar masih memegang kedua lenganku dengan erat.

ELENA POV
Aku melihat Nico dan Evan yang berusaha menahanku. Meski sesungguhnya aku tak ingin menerima keadaan ini, tetapi aku menyadari bahwa ini adalah hukumanku. Kupasrahkan diriku memasuki mobil polisi yang terparkir tak jauh dari kafe. Beberapa pasang mata tampak memerhatikanku sambil berbisik dan aku yakin mereka sedang membicarakanku—membicarakan Elena yang tengah diseret oleh polisi karena kasus pembunuhan.

Air mataku tak berhenti mengalir sementara mobil semakin melaju meninggalkan Nico dan Evan yang tampak masih beradu dengan Harry. Mataku nyalang menatap borgol yang melingkar di kedua pergelangan tanganku. Hal ini membuatku menyadari bahwa seberapa jauhpun Nico membawaku pergi, seberapa dalampun Evan menyembunyikanku, pada akhirnya bangkai yang coba kusimpan rapat pun tetap akan tercium juga.

Pikiranku kembali pada saat-saat di mana keadaan belum seburuk ini, mungkin memang benar jika seharusnya Nico memecahkan saja kepala batuku ini. Jika saja aku tidak menjadi sok pahlawan. Jika saja aku selalu menuruti apa yang dikatakan Nico dan Evan. Jika saja aku membuang jauh-jauh pikiranku yang keras kepala ini. Namun tetap saja, jika akan tetap menjadi jika kecuali Leo bisa hidup kembali dan memaafkanku karena telah membunuhnya.
***

Ini adalah hal yang sama sekali tak pernah kubayangkan. Menginjakkan kakiku di pengadilan sebagai tersangka. Menantikan vonis hakim di bangku terdakwa. Seorang pengacara hebat telah disiapkan Nico untukku. Tapi apalah artinya seorang pengacara terbaik jika aku masih harus mendekam di balik jeruji besi? Tak akan ada yang berubah.

Aku menatap wajah Nico yang terlihat lelah, tersenyum padaku meski tampak terpaksa. Di sampingnya, Evan pun tak tampak lebih baik. Dan kedua orang itu menderita karenaku. Kuedarkan pandanganku di sekitar tempat duduk, mencoba berharap seseorang yang kunantikan berbaur di bangku penonton persidangan. Mungkin orang tuaku akan berpikir untuk mengunjungiku setelah mereka mendengar kabar pemakamanku.

Sepasang mataku kemudian bertemu dengan sesosok gadis yang baru saja datang bersama dua orang pria yang semuanya kebetulan kukenal. Ketiganya berdiri di pintu ruangan, tampak seperti karakter tokoh film animasi. Trisia dengan wajah datarnya yang tak bisa kupastikan perasaannya, Harry yang menghujamku dengan tatapan sinisnya dan Andre tetap dengan tatapan genitnya.

Waktu berjalan lambat, persidangan berjalan lebih lama dari yang kuduga. Aku tersenyum kecut mendengarkan putusan hakim. Hari ini aku kalah dalam permainan petak umpet yang kuciptakan sendiri. Menyerahkan kebebasanku pada keadilan. Menanti hari yang terus akan berjalan, menanti bulan berlalu, menanti tahun yang akan berganti. Hingga tak akan ada lagi batas yang membuatku terpisah dari Nico, Evan dan orang-orang di sekelilingku.

Bersambung...

Eat. Read. Repeat
Stoples Cerita.

Jumat, 14 April 2017

Green Eyed - Chapter 13


NICO POV
Mobilku melaju dengan kecepatan sedang, menghabiskan waktu dengan berputar-putar mengelilingi kota. Beberapa saat kemudian, kemudiku menuntun ke sebuah kafe dengan dominasi warna warni layaknya pelangi. Seorang waitress yang menggunakan pakaian sewarna pelangi itupun menghampiriku yang duduk di samping jendela.

“Silahkan menunya.” Ujar gadis itu sambil menyodorkan sebuah daftar menu.

“Coffe latte.” Aku memesan tanpa menyentuh daftar menu yang ia bawakan.

“Baiklah, silahkan tunggu sebentar.”

Selagi menunggu aku mencoba untuk menghubungi Evan. Aku perlu memastikan Elena tidak keluar rumah meski hanya selangkah. Kepalaku masih tak cukup dingin untuk menemui gadis keras kepala itu. Aku mengirimkan pesan singkat pada Evan untuk memastikan kebeadaan Elena dan segera memperoleh balasan.

From : Evan
Aku baru saja melihatnya, dia masih menangis di kamar.

Setidaknya itu lebih baik daripada dia pergi menemui Trisia dengan keras kepalanya itu. Jam tanganku telah menunjukkan pukul enam lebih tiga puluh menit saat waitress meletakkan coffe latte pesananku.

“Apakah anda ingin memesan yang lainnya?” Tanya waitress itu lagi. Aku menggeleng, membuatnya kembali meninggalkanku sendiri.

Aku melempar pandanganku ke luar jendela, memerhatikan lalu lalang orang-orang di sekitar kafe. Elena masih terus saja berlarian di pikiranku. Dari sekian banyaknya manusia di muka bumi ini, mengapa Elena harus bertemu dengan gadis itu?  Aku menghela nafas panjang sambil memejamkan sejenak mataku yang terasa lelah.

Pandanganku kembali memerhatikan pemandangan yang dibingkai oleh jendela kaca yang cukup besar. Tanpa sengaja aku memerhatikan sebuah mobil yang menurunkan seorang gadis yang tampak tak asing. Aku mengernyit, mencoba mengingaat-ingat lagi, namun masih saja tak kutemukan jawabannya.

Aku membelalakkan mata saat seorang lelaki menghampiri gadis berpakaian merah yang terlebih dahulu turun dari mobil berwarna hitam tersebut. Harry. Aku ingat betul wajah lelaki itu. Selain dia adalah rekan bisnis yang sempat kulupakan wajahnya, tetapi kecelakaan tempo hari membuatku sangat mengingat wajah lelaki itu.

Jantungku berdetak hebat saat menyadari kemungkinan bahwa gadis keras kepala itu akan termakan jebakan Harry dengan menggunakan Trisia sebagai umpan. Bergegas aku menghubungi nomor Evan. Aku menghentak-hentakkan kakiku tak sabar karena Evan tak kunjung mengangkat telponnya.

“Sialan!”

Evan tak juga mengangkat telponnya, sehingga membuatku menghubunginya kembali. Beberapa detik kemudian, tersengar suaranya menggantikan nada tunggu.

“Evan, tolong jangan biarkan Elena pergi dari rumah. Aku sekarang ada di Rainbow CafĂ©, aku melihat Harry dan Trisia. Aku khawatir jika Elena bertemu Trisia di Rainbow CafĂ©, Harry mungkin saja memiliki rencana untuk menangkapnya.”

Butuh beberapa detik bagi Evan untuk menanggapi penjelasanku barusan hingga ia terdengar kembali suaranya. “Aku sudah memastikan Elena. Dia sedang tidur di kamar.”

Aku merasa tak yakin bahwa Elena benar-benar akan tertidur, mengingat betapa keras kepalanya gadis itu. “Apa kau sudah mengecek bawa yang berada di atas ranjang itu adalah benar-benar Elena?”

Lagi-lagi Evan membutuhkan sedikit waktu hingga akhirnya menjawab petanyaanku. “Sekarang aku berada di hadapan Elena yang tertidur. Apa perlu kubangunkan jadi kau bisa bebicara dengannya?”

Menyadari akulah yang terlalu berlebihan dalam mengkhawatirkan Elena, akirnya aku dapat bernapas lega mendengar gadis itu masih berada di dalam rumah. Pandanganku kembali menyaksikan kedua orang yang masih berada di sisi mobil. Hary tampak mengatakan sesuatu yang disambut gelengan oleh Trisia. Kemudian lelaki itu menunduk untuk menatap gadis di hadapannya kedua tangannya menggenggam bahu Trisia. Mungkin ia sedang meyakinkan sesuatu.

Aku  melambaikan tangan pada waitress saat kurasakan perutku mulai bergemuruh. Kemudian memesan Australian Beef Striploin. Aku sengaja memesan menu tersebut. Itu mengingatkanku pada Elena karena ia selalu akan memesan itu pada setiap restoran yang menyediakannya dalam daftar menu.

ELENA POV
Aku tahu baru saja Evan mendapatkan telpon dari Nico. Aku yakin lelaki itu ingin memastikan bahwa aku memang masih di rumah. Aku meraba ponsel di bawah bantalku. Aku dan Trisia memiliki janji pukul tujuh malam, dan saat ini jam di ponselku menunjukkan pukul enam lebih empat puluh menit. Setelah kudengar Evan menutup pintu kamar, aku bergegas mengganti pakaianku dengan skiny jeans warna biru tua dengan kaos polos berwarna putih. Setelah membubuhkan sedikit make up dan menguncir rambut, kuraih jaket yang kugantungkan di belakang pintu.

Perlahan kubuka jendela kamarku. Tanpa menimbulkan suara, aku melompat keluar jendela dan menutupnya kembali. Dengan langkah mengendap-endap, aku berhasil keluar dari rumah Nico tanpa seseorang yang melihatku.

“Maafkan aku, kak Evan, Nick. Aku akan segera kembali.” Gumamku yang kemudian aku berlari menjauh dari rumah itu setelah melakukan kiss bye.

Rainbow café merupakan kafe tempatku dan Trisia menghabiskan waktu beberapa waktu yang lalu. Kali ini pun Trisia memilih kafe tersebut sebagai tempat pertemuan kami. Beruntung kafe tersebut tak begitu jauh dari rumah saat aku menyadari bahwa aku tak membawa dompet dan sepeser pun uang. Aku menelpon Trisia, dan mengatakan bahwa aku akan sedikit terlambat.

Pukul tujuh lebih dua belas menit aku sampai di halaman kafe dengan terengah-engah. Beberapa pasang mata menatapku yang masih mencoba mengatu napas. Aku tahu apa yang mereka perhatikan, bukan rambutku yang berantakan, bukan napasku yang terengah-engah, tapi aku yakin mereka memerhatikan sepasang sandal rumah berkepala kelinci dengan bulu yang lebat.

Tak ada pilihan lain. Jika aku memburu untuk mengenakan sepatuku yang ada di rak depan, sangat besar kemungkinan aku tak dapat bertemu dengan Trisia malam ini. Aku menghembuskan napas besar, sebagai tanda bahwa debaran jantungku sudah mulai normal akibat berlarian. Kaki jenjangku mulai menuntunku untuk menuju ke dalam kafe.

Tanpa perlu mengedarkan pandanganku, mataku segera tertuju pada seorang gadis berpakaian merah yang melambaikan tangannya padaku. Trisia. Akupun balas melambaikan tanganku dan segera menuju ke meja yang berada dekat kasir.

“Maafkan aku terlambat.” Aku menatap segelas lemon tea yang esnya mulai mencair sehingga membasahi meja kayu yang memiliki ukiran di tiap sisinya.

“Tidak masalah, Elena. Aku juga belum lama berada di sini. Kenapa kau tampak terengah-engah?” Tanya Trisia memerhatikan.

Aku melempar senyum pada gadis itu, “Aku lupa tidak membawa dompet, jadi aku berlari kemari.”

Seketika waja gadis itu membelalak tak percaya. “Kau lari dari rumahmu kemari?”

“Tidak.” Aku menggeleng sambil mengibaskan tanganku. “Bukan begitu, aku tinggal bersama seseorang. Jadi aku berangkat dari rumahnya yang tak jauh dari sini.”

“Seseorang? Apa itu pacarmu?” Tanya Trisia penuh selidik yang kuiyakan dengan anggukan. “Seandainya Leo masih hidup, dia juga sempat mengajakku tinggal bersama. Tetapi Tuhan tidak menghendaki.” Senyum tipis Trisia dikhianati oleh mata sendunya.

Aku terperangah dengan ucapan Trisia. Lidahku kelu kendati aku ingin mengatakan sesuatu untuk menghibur Trisia. Aku menarik napas, meraih tangannya yang masih terkepal kuat.

“Ikhlaskan dia Trisia, jika dia masih hidup, dia tak akan senang melihatmu seperti ini. Mulailah hidupmu yang baru, biarkan dia tetap berada dalam kenanganmu.” Ada luka menganga di dalam hati yang seolah kugarami sendiri. Mataku terasa berair saat menatap wajah sedih gadis di hadapanku.

“Ah, sudahlah. Aku memintamu kemari karena ada yang ingin kubicarakan denganmu.”

Aku sangat mengingat janji ‘hanya lima belas menit’ ku pada Nico namun siapa sangka percakapan kami justru telah memakan waktu empat puluh menit. Meski hanya sebentar, pada akhirnya aku mengatakan pada Trisia bahwa aku harus segera pulang. Untungnya Trisia mengerti, sehingga akupun tak perlu menjelaskan lebih panjang lagi.

“Aku berharap bisa bertemu lagi denganmu, Elena.” Ujar Trisia.

“Tentu. Aku akan menunggu kabarmu lagi nanti.”

Aku pun melangkan setengah berlari. Aku harus sampai di rumah sebelum Nico sampai atau semuanya akan menjadi semakin rumit. Aku melewati satu meja ketika seseorang mencengkeram tanganku, membuat tubuhku mendadak terasa kaku.

NICO POV
“Apa yang kau…” Teriakan gadis itu terhenti saat menyadari tangan siapa yang mencengkeramnya dengan kuat. Matanya terbelalak tak percaya, seolah hendak keluar dari tempatnya. Tubuh tegang gadis itu pelahan mulai melemas.

“Seharusnya aku yang bertanya padamu, Elena.”  Mataku menatap tajam gadis keras kepala yang kini berada tepat di hadapanku. Gadis ini benar-benar membuatku jengkel. Beberapa saat yang lalu aku masih menikmati makanku dengan tenang hingga aku terperangah menatap seorang gadis yang datang dan mencuri perhatian hampir semua pengunjung kafe.

Aku bergeming, mencoba mencari tahu apa yang akan dilakukan gadis itu sehingga ia berani menantangku dan kabur dari rumah. Kuperhatikan gadis itu berjalan mendekati seorang gadis yang melambaikan tangan padanya. Trisia. 

Aku mencoba mencuri dengar pembicaraan mereka, namun aku tahu itu tidak mungkin mengingat meja kami yang berjarak cukup jauh. Kutatap lekat-lekat kedua gadis itu, mencoba mereka-reka apa yang sedang mereka bahas. Sebentar menangis, sebentar tersenyum, sebentar bersedih. Membuatku tak mampu menebak apa yang sedang mereka bicarakan.

Kuperhatikan pasangan yang berada di dekat tempat duduk gadis-gadis itu, melangkah meninggalkan mejanya, sehingga dengan cepat akupun berpindah tanpa membuat gadis-gadis itu memerhatikanku. Aku mendengar mereka menyebut nama Leo dan percakapan canggung sayup-sayup terdengar di telingaku. Cukup lama aku mencuri dengar pembicaraan mereka, akhirnya kudengar Elena berpamitan untuk segera pulang.

Kini aku menatap penampilan gadis itu lekat-lekat. Perhatianku terpusat pada sepasang sandal berkepala kelinci yang menjadi pelindung kakinya. Dari situ aku bisa memutuskan bahwa gadis itu telah kabur tanpa sepengetahuan Evan.

“Katakan padaku, apa kau bersungguh-sungguh ingin aku memecahkan kepalamu itu, Elena?” Aku menghela napas untuk mencoba meredakan amarahku yang meletup-letup.

“Maafkan aku, Nick.” Gumam gadis itu lemah. Ia menunduk sambil menggigit bibir bawahnya. Tangannya berusaha memberontak, membuatku menggenggam peregelangan tangannya dengan semakin erat.

“Kurasa kau menyakitinya, bro.” Seseorang menepis tanganku, membuatku menengadahkan kepala dengan peasaan yang kian membara. Wajah itu kembali. Wajah yang paling membuatku muak.

“Ini bukanlah uusanmu, brengsek!” Dia selalu saja membuat segalanya semakin keruh. Bahkan emosi yang sengaja kubendung sejak beberapa waktu yang lalu, kurasa benar-benar akan meluap detik ini juga.

“Tentu saja ini urusanku, kau menyakiti gadis yang kusukai.” Nada suara tegasnya bagai menggodam kepalaku. Aku tidak habis piker bagaimana bisa lelaki itu begitu agresif pada gadis yang jelas-jelas telah menolaknya. “Jika kau, menyakitinya, aku benar-benar akan membuatnya menjadi milikku.” Imbuhnya.

Dalam detik itu juga tinjuku melayang tepat di wajahnya. “Brengsek kau! Aku akan membunuhmu!” Lagi-lagi tinjuku mendarat bertubi-tubi di wajahnya, disusul teriakan histeris yang menyeruak di udara. Aku sudah tak mampu lagi berpikir dengan jernih. Kepalaku telah dipenuhi oleh amarah yang bahkan tak bisa kukendalikan.

“Nick… Hentikan!” Suara melengking Elena mengembalikan pikiranku yang tenggelam oleh amarahku. Gadis itu menarik tanganku yang masih melayang di udara bersamaan dengan beberapa waitress yang mencoba melerai perkelahian kami.

Aku mencoba mengatur napasku yang terrengah-engah. Debaran jantungku terasa sangat kencang hingga seolah akan meloncat keluar dari tubuhku. Mata tajamku menatap lelaki yang kini berusaha berdiri sambil mengelap darah yang keluar dari hidungnya. Lelaki itu menatapku, melempar seringaian yang membuatku ingin kembali menghajarnya.

“Andre, apa kau baik-baik saja? Bagaimana ini? Apa yang harus ku lakukan?” Suara panik seorang gadis memberondongkan petanyaan pada lelaki sialan itu. “Tolong ambilkan P3K” Ujar gadis itu

“Aku baik-baik saja, Trisia.” Ujar lelaki itu pada gadis di hadapannya.

“Apa yang kau lakukan?” Bisik Elena geram. Aku hanya melirik Elena sejenak, kemudian fokusku kembali pada lelaki itu.

Aku menatap Trisia yang sedang berusaha menghentikan pendarahan pada hidung dokter sialan itu. Rupanya mereka saling mengenal satu sama lain. Semantara pikiranku masih berkutat pada kedekatan mereka berdua, tangan mungil yang melingkar pada lenganku mendorongku untuk pergi dari tempat ini.

“Maafkan aku, Nick, aku sudah mengkhianatimu. Tetapi seharusnya ini tak terjadi.” Ujar gadis itu saat kami berada di dalam mobil dan bersiap untuk meninggalkan Rainbow CafĂ©. Ragaku terasa lelah, bahkan untuk sekedar  membuka mulut.  Perjalanan kami hening, sehingga ku injak pedal gas lebih dalam agar perjalanan ini segera berakhir.

Mobilku terparkir sembarangan di halaman rumah. Sesegera mungkin aku membuka pintu mobil kemudian meninggalkan Elena sebelum ia bahkan membuka pintu.

“Ada apa, Nick?” Tanya Evan saat melihatku membuka pintu utama dengan kasar. Namun saat ini aku terlalu marah. Aku tak ingin berbicara pada siapapun, terlebih lagi pada Elena.

ELENA POV
Aku melangkah pelan, menggigit bibir bawahku sambil sesekali mengintip di balik pintu. Sebelumnya aku tak pernah melihat Nico berubah menjadi seseorang yang semenakutkan ini. Aku tahu aku sudah bersikap keterlaluan. Aku hanya mencoba melakukan sesuatu tanpa membuat masalah untuk siapapun, tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Aku menghela napas panjang, merutuki semua kebodohanku hari ini.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Evan yang tanpa kusadari kini telah bersandar pada kosen pintu. Ia melipat tangannya, menatapku dengan penuh selidik.

“Aku… Em… Begini kak…”

“Kupikir sekarang kau ada di kamar.” Evan memotong kata-kataku.  “Satu jam yang lalu aku sedang melihatmu tidur nyenyak. Apa sekarang kau sedang membodohiku, Elena?” Imbuhnya.

Aku diam. Aku tak pernah berpikir untuk membodohi siapapun. Aku hanya berpikir bahwa aku dapat menebus sedikit saja kesalahanku pada Trisia.

“Maafkan aku. Sebenarnya aku tidak bermaksud untuk membodohi siapapun, kak. Tapi kupikir aku bisa sedikit berguna untuk Trisia. Kau tahu pasti apa yang terjadi.”

“Apa karena itu Nico marah?”

Aku mengangguk. Tiba-tiba saja air mataku mengalir. Ini bukan mauku. Tetapi semuanya jadi berantakan. Air mataku terus mengalir hingga Evan mendekat dan memelukku. Ia mengusap punggungku dengan lembut, sementara tangisanku semakin menjadi-jadi.

“Lebih baik kau istirahatlah dulu. Biarkan Nico menenangkan dirinya. Berhentilah menangis, Elena.” Ujar Evan menenangkanku.
***

Aku membuka mataku saat sayup-sayup terdengar kicauan burung. Matahari masih belum terbit sepenuhnya. Kuraba ponselku untuk memastikan pukul berapa sekarang. Pukul empat lebih dua belas menit. Tak biasanya aku bangun sepagi ini. Terlebih aku baru saja menyadari bahwa aku baru saja menghabiskan dua jam waktuku untuk tidur.

Aku ingin membuka lebar-lebar mataku yang terasa mengganjal akibat menangis semalaman hingga tertidur. Memikirkan segala sesuatu yang terjadi semalam membuat hatiku mencelus. Sekelebat ingatan tentang Nico yang marah besar membuat air mataku kembali lolos.

Aku beranjak dari tempat tidurku, menuju kamar mandi hanya untuk sekadar mencuci wajah. Kemudian kakiku perlahan bergerak mengikuti permintaan hati, menuruni tangga tanpa membuat suara.  Aku berdiri tepat di depan pintu, dengan ragu aku memutar gagang pintu di hadapanku.

Aroma maskulin itu seketika menyeruak saat aku membuka pintu tersebut. Kulihat lelaki itu masih tertidur membelakangi pintu. Tubuhnya meringkuk tampak kedinginan, sedangkan selimutnya masih terlipat rapi di ujung ranjang. Kakiku menuntun untuk mendekatinya, menyelimuti tubuhnya yang sedingin es. Meski aku tak melihat wajahnya, aku yakin lelaki itu masih memendam kemarahan untukku. Lantas aku berbaring, melingkarkan lenganku pada tubuhnya, menempelkan dahiku di punggungnya.

“Maafkan aku, Nick. Ku mohon jangan marah padaku lagi.” Bisikku, seketika air mataku kembali menetes.

“Kau sungguh membuatku kecewa, Elena.” Suaranya yang terdengar serak mengejutkanku. Kemudian lelaki itu berbalik sehingga membuatnya dapat melihat wajahku yang sama sekali tak rupawan.

Kian merasa bersalah, aku mencoba untuk membela diri. “Tetapi aku sungguh tak ingin semua jadi seperti ini. Aku pikir aku bisa melakukan segalanya tanpa menyusahkan siapapun.”

Nico tertawa kering. “Tapi pada kenyataannya kau mengacaukan segalanya, Elena.”

Aku kehabisan kata-kata dan aku yakin Nico tak ingin lagi mendengarku mengucapkan kata maaf berkali-kali lagi. “Kumohon jangan membenciku, Nick. Aku memang bodoh. Kumohon maafkan aku. Aku sungguh tak ingin kehilanganmu, Nick. Aku…”

Nico menghela napas. Ia mengusap air mataku yang terus membasahi wajahku. “Akupun  tak ingin kehilanganmu, Elena. Aku mencintaimu. Tapi kuharap kau tahu bahwa ini tak akan mengubah apapun.” Ujar Nico yang semakin membuatku terisak.

“Berhentilah menangis. Aku tak suka melihatmu seperti ini, Elena.” Lelaki itu memelukku dengan erat, mengecup puncak kepalaku. Aku tahu lelaki itu masih menyayangiku, tetapi aku juga tahu bahwa ia masih kecewa padaku.

Beberapa saat kemudian, aku merasakan lelaki itu bergerak. Ia menjauhiku. “Nico, kumohon jangan tinggalkan aku.” Pintaku sekali lagi sambil menggenggam erat tangannya.

Lelaki itu hanya melemparkan senyum. Senyum yang bahkan tak sampai menyentuh matanya. “Aku tidak akan kemana-mana, Elena.” Ujar lelaki itu lembut, kemudian mencium puncak kepalaku. “Aku hanya masih membutuhan waktu untuk sendiri. Aku ingin berpikir dengan jernih, dan aku berjanji, besok semuanya akan baik-baik saja.” Imbuhnya.

Aku menatapnya yang berjalan menuju pintu. Otakku tak sanggup lagi berpikir jernih, terlebih setelah sosok Nico telah menghilang di balik pintu. Kali ini dia benar-benar meninggalkanku…

Bersambung…

Eat. Read. Repeat.

Stoples Cerita