Tampilkan postingan dengan label Anggi Ermona. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anggi Ermona. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Desember 2024

Satu Dekade Stoples Cerita




Hai …… Readears dan Luvnaer,

para pembaca kisah cinta yang penuh warna.


Selamat datang di babak baru petualangan Rainbow of Love!

Bertepatan dengan satu dekade blog Stoples Cerita,

akan dirilis seri terbaru dari Rainbow of Love.

Setelah sukses dengan Red Lie, Orange Sunset,

Green Eyed, Purple Maple pada tahun 2014-2017.

Kini White Promises/White Vows hadir dengan kejutan istimewa.

Berbeda dengan 4 novel sebelumnya,

White Promises/White Vows merupakan novel pertama

yang ditulis secara duet alias ditulis bergantian

setiap chapternya oleh Anggi Ermona & Deana Asta.

Ini bukan sekadar novel, melainkan sebuah

petualangan kreatif yang mengajak pembaca

untuk ikut serta dalam sebuah eksperimen literatur yang unik.

Kalian bisa ikut merasakan bagaimana dua perspektif berbeda,

menyatu menjadi sebuah kisah yang utuh dan memikat.


Siap merasakan sensasi baru membaca novel duet?

Yuk, mulai membaca!

Atur pengingat untuk 14 Desember 2024 pukul 19.00 WIB.

Hanya di wattpad


Sabtu, 07 Desember 2024

Rainbow of Love #5 - White Vows & White Promises

 






Rafael setuju menikahi Revina Adam karena itu wasiat ayahnya. 

Revina menerima lamaran Rafael Williams karena lelaki itu kaya raya.


Halangan dan rintangan datang silih berganti. Sementara cinta terus bertumbuh di dalam hati.


Namun, perselisihan mengantar mereka ke tepi jurang perpisahan. Sanggupkah keduanya menjaga ikrar yang telah diucapkan?



Prolog
Chapter 1            Chapter 2        Chapter 3        Chapter 4        Chapter 5
Chapter 6            Chapter 7        Chapter 8        Chapter 9        Chapter 10 
Chapter 11          Chapter 12      Chapter 13      Chapter 14      Chapter 15
Chapter 16          Chapter 17      Chapter 18      Chapter 19      Chapter 20
Chapter 21          Chapter 22      Chapter 23      Chapter 24      Chapter 25
Chapter 26          Chapter 27      Chapter 28      Chapter 29      Chapter 30
Epilog

Kamis, 27 April 2017

Purple Maple (Epilog)




INI pasti mimpi.

Kalila mendongak, memandang takjub sekumpulan bunga wisteria yang menggantung di atas kepalanya. Bunga-bunga itu berwarna putih, violet, dan ungu. Semuanya kompak bermekaran dan membentuk terowongan panjang yang indah. Seolah sedang menuntunnya ke alam mimpi.

Diego berada di belakang, mendorong kursi rodanya. Kalila memang sudah diperbolehkan pulang. Beberapa perbannya sudah dilepas. Tetapi kakinya masih tidak kuat berdiri maupun berjalan. Jadi, ia akan membutuhkan kursi roda sampai ia dinyatakan benar-benar sembuh. Berdua, mereka menyusuri keindahan itu tanpa banyak bicara. Hingga akhirnya mereka tiba di ujung terowongan.


Tetapi mimpi indah itu ternyata belum berakhir.

Dua orang berseragam seperti pramusaji restoranlengkap dengan dasi kupu-kupu berwarna ungudatang menyambut dan menunjukkan sebuah meja yang sudah disiapkan untuk mereka. Meja itu berbentuk bundar dengan taplak satin sewarna lavendel berada di antara dua kursi yang berhadapan. Kursi-kursi itu memiliki sandaran tinggi yang dipenuhi ukiran. Seperti kursi yang biasanya berada di istana. Dan semua itu ditata di bawah naungan pergola yang juga berhiaskan bunga wisteria.

Saat masih tersihir dengan pemandangan di hadapannya, tiba-tiba Kalila memekik kaget saat merasakan tubuhnya melayang. Dengan mudah, Diego menggendong dan mendudukkannya di salah satu kursi yang dilapisi beledu bewarna ungu gelap itu.

“Lil Princess seharusnya duduk di kursi untuk Tuan Putri,” bisik lelaki itu di telinganya.

Wajah Kalila menghangat. “Terima kasih.”

“Terima kasih untuk apa?” tanya Diego begitu ia duduk di kursinya.

Dan saat itulah Kalila baru menyadari bahwa kedua pramusaji tadi sudah menghilang. Bersama dengan kursi rodanya. Sengaja memberi ruang privasi untuk mereka berdua.

“Terima kasih untuk semuanya. Tempat ini sangat indah,” jawab Kalila lalu menghirup dalam-dalam udara di sekitarnya. Udara yang terasa segar dan membawa harum bunga wisteria. Ia juga bersyukur masih diberi kesempatan untuk berterima kasih pada Valeria. “Dan terima kasih kau sudah bersedia mengantarkanku menemui Elliot.”

“Justru aku yang heran, setelah apa yang bajbajaj itu lakukan padamu, kau malah berbaik hati menjenguknya di penjara.”

“Apa?” Kalila mengernyit, berusaha menahan tawanya. Tetapi ia takut sudah salah mendengar. “Bajaj?”

“Yah, aku tidak mau berkata kasar di depanmu,” jawab Diego sambil mengangkat bahu.

Baru kemudian Kalila melepaskan tawanya. “Jangan membencinya. Elliot melakukan itu karena kasih sayangnya yang terlampau besar pada Evelyn. Kau lihat sendiri, kan, dia menangis dan meminta maaf. Aku yakin dia sudah menyesali perbuatannya. Lagi pula karena kecelakaan itu, aku jadi sadar bahwa hal terpenting adalah orang-orang yang kucintai.”

Itu benar adanya. Orang tuanya sepakat untuk membagi tugas untuk mengurus bisnis mereka dan menemani Kalila di rumah secara bergantian. Dan itu berlaku seterusnya bahkan setelah Kalila sembuh total. Ia juga sudah tidak mau lagi menyembunyikan perasaannya kepada lelaki di hadapannya.

“Apa aku termasuk di dalam orang-orang itu?” tanya Diego sambil menatap langsung sepasang mata cokelat terang milik gadis di hadapannya.

Gadis itu tersipu, menghindari pandangannya. Tetapi detik berikutnya, ia menjawab dengan anggukan. Dan juga senyuman.

“Omong-omong, aku tidak menyangka kau masih menyimpan itu.”

Kalila menyentuh benda yang dimaksud Diego. Syal ungu pupus pemberian Diego di malam yang nahas itu. Yang selalu menghangatkannya saat tidur. Yang tetap membuat ia mampu mengingat semua kesalahannya di masa lalu.

“Tentu saja. Aku tidak punya alasan untuk membuangnya.”

“Tapi kurasa syal dan bunga kurang sesuai kalau dipadukan bersama.” Sekarang Diego mengerti mengapa Kalila memilih syal dibanding topi.

Kalila memandang bunga-bunga di sekelilingnya. Penuh nuansa musim semi. Sementara ia berpenampilan seperti hendak menghadapi musim dingin. “Biar saja.”

“Aku punya sesuatu yang jauh lebih baik daripada syal buluk itu.” Diego meletakkan sebuah kotak persegi panjang ke atas meja, lalu mendorongnya perlahan ke hadapan Kalila. “Mungkin ini terlambat, tapi lebih baik daripada tidak. Jadi, selamat ulang tahun, Lil Princess.”

Mata Kalila terbelalak heran sekaligus senang. Ia menatap bergantian antara kotak di atas meja dan lelaki di hadapannya. Lelaki yang masih saja penuh dengan kejutan. Kalila membuka hadiahnya dan mendapati sebuah kalung berliontin batu ametis di dalam kotak itu. Liontin itu berbentuk daun maple.

“Oh, cantik sekali.” Entah sudah berapa kali matanya melihat keindahan hari ini.

“Biar kupasangkan,” ucap Diego sambil mendahului Kalila untuk mengambil kalung itu dari kotaknya. Lelaki itu bangkit dan berpindah ke samping kanannya. Lalu melepaskan syal yang melingkari leher gadis itu. “Sebenarnya aku merencanakan makan bersamamu di bawah pohon maple berdaun ungu yang tumbuh lebat di hari ulang tahunmu. Tapi sekarang semua daunnya sudah gugur.  Jadi, aku hanya bisa memberimu ini.”

“Terima kasih, My Hero Diego,” ucap Kalila dengan tersipu.

Terjadi keheningan selama Diego memasangkan kalung itu di leher Kalila. Ia bisa merasakan dingin dari ujung jemari lelaki itu yang menyentuh sekilas tengkuknya. Tetapi entah mengapa justru membuat kedua pipinya terasa hangat. Bahkan dengan posisi tubuh yang memunggungi Diego, ia bisa merasakan daya tarik yang kuat di antara mereka berdua. Diam-diam, dalam hati Kalila bersyukur Diego tidak bisa melihat wajahnya saat ini. Karena ia yakin, segala perasaannya tergambar jelas di sana.

Setelah selesai memasangkan kalung itu, Diego tidak langsung kembali ke tempat duduknya. Kedua tangannya bertumpu pada tepi meja dan lengan kursi, tubuhnya menunduk ke arah Kalila.

Kalila menggigit bibirnya. Gawat. Ia tidak akan tahan berada dalam suasana canggung seperti ini. Apa sih yang lelaki itu inginkan?

“Oh, ya, waktu itu kau bilang ada sesuatu yang ingin kau katakan langsung padaku? Apa itu?” tanya Kalila berusaha mengalihkan keheningan.

Diego tidak langsung menjawab. Lelaki itu tertegun, mencoba mengingat. Tetapi detik berikutnya, ia menyeringai. Lalu merunduk lebih rendah. Lebih dekat pada Kalila.

“Aku ingin mengatakan bahwa apa pun perasaan yang ada di hatiku, kau selalu ada di sana.”

Tubuh Kalila yang tadinya membeku langsung menghangat ketika Diego berbisik di telinganya. Ia menolehkan kepalanya pada Diego. Hingga ia bisa merasakan napas lelaki itu di pipinya. “Hanya itu yang ingin kau katakan?”

Diego mengangguk. “Dan aku juga selalu berharap jika suatu hari nanti kita bisa bertemu lagi, aku ingin menjadi orang yang pantas bagimu. Yang bisa kau banggakan di depan teman-temanmu. Kalau tidak bisa menjadi pasanganmu, setidaknya aku bisa menjadi temanmu.” Ia menatap kedua mata gadisnya. “Terdengar sinting, kan?”

Kalila menggeleng. “Kau selalu pantas. Aku saja yang bodoh.”

“Lupakan masa lalu, Lil Princess.” Diego menyibak sedikit rambut Kalila yang sudah mulai kembali tumbuh. Setelah sebelumnya dicukur untuk mempermudah proses pengobatan lukanya. Ada sebuah luka memanjang dari bagian atas kepala hingga ke dekat telinga kanannya. “Lagipula sekarang kita punya luka serupa. Yang tidak dimiliki pasangan lain.”

Kening Kalila mengernyit. Untuk menjawab pertanyaan tanpa suara itu, Diego meraih tangan Kalila. Lalu ia membuat gadis itu menyentuh bekas lukanya yang tersembunyi di balik helai-helai rambutnya.

“Malam itu, aku mendapatkan luka ini. Mirip seperti luka milikmu.”

Ekspresi Kalila berubah ngeri. Perasaan bersalah melumuri wajahnya. “Aku sungguh-sungguh minta maaf... atas segala kebodohanku.”

Bukannya marah atau merasa kesal, Diego malah menggerakkan kepalanya sedikit hingga pipinya berada di depan wajah Kalila. “Ungkapkan maafmu di sini,” gurau Diego sambil menyentuh pipinya sendiri dengan telunjuk.

Kenapa harus begini?  Kalila menelan ludah. Ia beringsut mundur tetapi sandaran kursi membatasi geraknya. Sekujur tubuhnya berubah tegang. Karena sejujurnya, ia belum pernah mencium laki-laki selain ayah dan kakeknya. Dan sekarang... Diego?

Tetapi sedetik berikutnya, Kalila sudah memajukan wajahnya sedikit demi sedikit ke pipi Diego. Sementara kedua tangannya mencengkeram erat kedua lengan kursi.

Beberapa senti sebelum bibirnya menyentuh pipi Diego, tanpa disangka, lelaki itu malah menggerakkan kepalanya menghadap Kalila. Sehingga bibir mereka yang bersentuhan. Walaupun hanya sedetik.

Diego langsung menegakkan tubuhnya. Sambil memasang seringai untuk menyembunyikan gemuruh yang mengguncang rongga dadanya. “Hem, apa ini rasa anggur? Oh, bukan. Mungkin wine? Karena ini memabukkan,” gumamnya tanpa berani menatap Kalila.

Sementara Kalila masih terpangah dengan pipi semerah tomat. Karena ia menyadari bahwa Diego baru saja mencuri ciuman pertamanya.

Ciuman pertama mereka.


PURPLE MAPLE – TAMAT

Senin, 17 April 2017

Purple Maple (Empat belas)


ANNA mengemudi dengan tenang, Ia mendengarkan setiap petunjuk arah dari Erin yang duduk di belakangnya. Suara gadis itu pecah dan gemetar. Mungkin karena Diego duduk di sampingnya. Padahal lelaki itu sama sekali tidak melakukan tindakan yang mengintimidasi. Selama perjalanan ia sibuk menghubungi banyak orang melalui ponselnya.

Sampai akhirnya tiba-tiba kalimat Diego terputus. Ia mengakhiri panggilannya dengan kening mengernyit. Erin meminta Anna menghentikan mobil di jalan yang di kenalnya. “Tunggu... bukankah ini indekos Kalila?”

Erin mengangguk cepat. Punggungnya menegang setiap kali mendengar suara Diego. “Tapi Val tinggal di sana,” jawab Erin sambil menunjuk rumah di seberang indekos Kalila. “D-dia memang terobsesi pada Kal. Bahkan meniru penampilan Kal. Kurasa dia sudah sinting. Jadi mungkin saja, kan, kalau dia berusaha melenyapkan Kal.”

Ingatan tentang seorang gadis bergaya seperti Kalila muncul dalam benaknya. Saat itu Diego tidak terlalu memerhatikan ke mana gadis itu pergi setelah meninggalkan indekos Kalila.

“Cepat temui dia,” perintah Diego. “Sekarang!”

Erin tersentak langsung keluar dari mobil. Tetapi Anna masih terpaku. Ia memandang Diego dengan raut wajah khawatir.

Tetapi lelaki itu mengartikan lain. “Tenang saja. Aku tidak akan kabur.”

Tidak sampai sepuluh menit berlalu sejak Erin dan Anna meninggalkan mobil, kedua gadis itu sudah kembali. Dan sayangnya, Valeria tidak ada bersama mereka.

“Kami hanya bertemu pemilik kos. Katanya, Valeria sudah pindah kos beberapa hari yang lalu.” Anna langsung menjelaskan. Sementara Erin kembali duduk meringkuk di samping Diego.

Diego melayangkan tinjunya ke punggung jok di hadapannya, melampiaskan emosinya. Tidak hanya Erin yang terkejut hingga tubuhnya seolah menyusut, Anna juga tidak menyangka Diego akan bereaksi seperti itu.

“Antar aku ke rumah sakit. Lalu aku akan ikut ke kantormu.”

“Tidak,” tolak Anna cepat. “Sebaiknya kau pulang saja ke apartemenmu.”

Ekspresi Diego mengeras. “Tapi aku harus memastikan keadaan Kalila.”

“Kau terlihat buruk, Diego. Kau butuh tidur,” ucap Anna acuh tidak acuh. “Serahkan penyelidikan padaku dan Liza. Kau harus istirahat.”
***

Senada dengan Anna, orang tua Kalila juga terus mendesaknya untuk pulang dan beristirahat. Ayahnya berjanji akan segera meneleponnya jika ada perkembangan dari keadaan Kalila. Maka dengan enggan, Diego berpamitan kepada kedua orang tua Kalila.

Di depan pintu ruang tempat Kalila terbaring, Diego menarik napas dalam-dalam dan bau rumah sakit yang dibencinya membuat dadanya terasa sesak. Tetapi bagaimanapun perasaan bencinya, ia merasa enggan untuk meninggalkan bangunan serba putih itu. Karena di sanalah Kalila berada.

Sejak kecelakaan yang menimpa Kalila, Diego tidak mampu merasakan apa pun selain dingin yang membelenggunya. Seolah jutaan jarum es menusuk sekujur tubuhnya. Bahkan otaknya pun terasa membeku sehingga sulit digunakan untuk berpikir. Sementara tubuhnya hanya bergerak begitu saja tanpa ia sadari. Persis seperti robot yang bergerak sesuai perintah. Seperti malam ini, ia tidak ingat kapan ia membawa dirinya sendiri pulang ke apartemen.

Begitu sadar, Diego sudah berbaring di atas tempat tidurnya. Matanya menatap nyalang ke langit-langit kamar. Tubuhnya tidak mau beristirahat seperti yang diharapkan. Sesekali, ia memeriksa ponselnya yang sedang mengisi daya, hanya untuk memastikan tidak ada pesan atau panggilan yang terlewat.

Hingga akhirnya, saat jarum jam hampir menyentuh jam tiga pagi, Diego terlelap. Dan tiga jam kemudian, dering ponsel meraungi telinganya. Tersentak, ia langsung duduk sambil menjawab telepon. Matanya terpejam paksa karena menantang cahaya matahari yang masuk melalui jendelanya yang tidak tertutup tirai.

“Halo?”

Diego, bisa kau ke kantorku sekarang?

Itu bukan telepon dari orang tua Kalila seperti yang dinantikannya. Melainkan dari Anna. Gadis yang sudah seperti kakaknya sendiri. Detektif tomboi yang membuat Diego tertarik mengambil kuliah tentang hukum.

Kita sudah menemukan Valeria,” sambung Anna lagi tanpa menunggu jawaban Diego.
***

“Di mana dia?” tanya Diego begitu Anna menyambutnya turun dari mobil.

“Ada di ruanganku.”

“Bagaimana kau menemukan dia?” tanya Diego saat mereka berjalan beriringan memasuki kantor.

Anna tidak langsung menjawab. Ia memilih menghentikan langkahnya untuk menjelaskan. “Tadi aku berniat menemuimu di rumah sakit, tapi aku melihat seseorang yang berdiri di seberang jalan. Selama beberapa menit, dia terus memandang lurus ke arah bangunan. Aku menunggu tapi dia tidak melakukan apa pun. Tingkah lakunya tampak mencolok, jadi aku menghampirinya

“Tunggu, siapa ‘seseorang’ yang kau maksud?”

“Dia. Valeria,” jawab Anna. “Orang itu sangat mirip dengan foto yang ditunjukkan Erin. Jadi, aku mengajaknya kemari. Dan dia menurut begitu saja. Walaupun, yah, dia terus saja bungkam. Tidak mau menjawab pertanyaan apa pun. Sekali pun Erin yang mengajaknya bicara.”

Diego mengernyitkan kening. Tetapi ia kembali melanjutkan langkah. Yang sedetik kemudian kembali dihentikan Anna.

“Aku mengatakan ini padamu agar kau bisa menjaga emosi dan jangan bersikap keras padanya. Atau dia tetap tidak akan mau bicara.”

“Aku mengerti, Anna,” jawab Diego sambil melepaskan genggaman Anna di lengannya. Lalu ia bergegas menuju sebuah pintu dengan gantungan kayu bertuliskan Anna & Liza. Tanpa repot-repot mengetuk, ia membuka pintu itu. Dan langsung disambut tatapan tiga orang gadis.

Liza membetulkan letak kacamatanya, lalu mengangguk mempersilakan Diego masuk. Erin langsung menundukkan kepala. Dan seorang gadis dengan gaun terusan bermotif bunga-bunga, berdiri dari duduknya di sofa untuk mendatangi Diego.

“Diego?” bisik gadis itu lirih. Rambutnya yang dikeriting tampak bergoyang-goyang setiap kali ia melangkah. Lalu tanpa dinyana, tiba-tiba ia memeluk Diego. “Val merindukanmu.”

Diego terpaku. Begitu juga Liza dan Erin.

“Bisa kita bicara berdua saja?” tanya Valeria sambil mendongak dengan wajah memelas.

Dengan isyarat mata, Diego meminta Liza dan Erin untuk meninggalkan ruangan. Dan begitu pintu tertutup, Valeria buru-buru melepaskan pelukannya. Sebelum lelaki itu mendorongnya dengan jijik.

“Maaf aku memelukmu.” Takut-takut, Valeria berbisik.

“Jadi, kau... orang yang membobol kamar Kalila?”

Wajah Valeria pias seketika mendengar kalimat Diego yang tanpa basa-basi itu. “Ya. Selama beberapa waktu, kukira aku bisa menjadi seperti Kal. Tapi ternyata aku salah. Kal membuatku menyadari bahwa tidak semua hal sesempurna kelihatannya. Jadi, yah, aku mulai kembali mencintai diriku sendiri sebelum aku benar-benar kehilangan jati diriku.”

Diego mengangguk setuju. “Lalu apa yang kau lakukan di depan rumah sakit?”

“Kemarin aku tidak sengaja melihatmu keluar dari rumah sakit itu.” Ekspresinya berubah sedih. “Dan aku jadi berpikir bahwa sesuatu yang buruk terjadi pada Kal.”

“Ya.” Diego menelan ludahnya yang terasa pahit. “Dia mengalami kecelakaan yang parah.”

Raut wajah Valeria berubah ngeri. “Padahal hari itu... aku sudah berusaha memperingatkannya. Tapi Kal tidak mau mendengar. Aku melihat

“Apa yang kau lihat?” potong Diego tidak sabar.

Valeria memeriksa jendela lalu menutup tirainya. Setelah memastikan semua aman, ia menarik Diego menjauh dari pintu. Lalu ia menarik keluar gumpalan kertas dari dalam tasnya.

“Sebenarnya hari itu aku mau memberikan ini pada Kal,” ucapnya pada Diego yang langsung sibuk membongkar lembaran foto yang sudah kusut itu. Tetapi gambarnya sudah tidak lagi terlihat jelas.

Diego mengernyit. “Apa kau tidak punya salinan foto ini?”

Valeria mengangguk. “Aku sudah menyalin videonya ke sini,” ucapnya sambil menyodorkan ponsel.

Diego menekan tombol play. Mobil Kalila terparkir di antara mobil lainnya. Lalu tiba-tiba datang seseorang dengan gerak-gerik mencurigakan. Diego memicingkan mata. Gambarnya memang tidak terlalu jelas dan sedikit bergetar. Tetapi ia bisa melihat postur tinggi dan ramping orang itu. Dan dengan mudah, ia mengenali bajingan itu.

“Kau lihat, sepertinya dia mendatangi mobil Kal untuk melakukan hal buruk.”

Diego mengangguk. Ekspresinya mengeras. Dan sekarang, keparat, aku yang akan mendatangimu.
***

Gadis itu duduk bersandar sambil memeluk lutut. Pandangannya kosong. Raganya nyata, tetapi jiwanya entah ada di mana. Tiga hari sudah berlalu sejak kejadian menyakitkan itu terjadi. Dan selama itu pula ia hanya terus mengurung diri di kamar. Ia menolak makan, juga tidak mau bicara. Satu-satunya hal yang mampu dilakukannya dengan benar hanyalah bernapas.

Pintu kamarnya kembali diketuk. Ia tetap bergeming. Mungkin itu ibunya, ayahnya, atau salah seorang dari belasan pelayan rumahnya yang terus saja menyuruhnya makan. Tetapi suara lembut yang mengikuti bunyi ketukan selanjutnya, ternyata mampu menghancurkan dinding es yang melingkupinya. Dengan langkah kikuk, ia bergerak membukakan pintu. Dan begitu pintu terbuka, ia mendapati kakaknya berdiri di sana. Lengkap dengan ransel usangnya.

Ia ingin bersorak saat mendapati kakaknya yang sudah hampir satu setengah tahun bersekolah di luar negeri akhirnya pulang demi dirinya. Tetapi ia tidak bisa. Senyum dan tawa sudah meninggalkannya.

Kakaknya berusaha tetap tersenyum seperti biasa. Walaupun penampilan adiknya benar-benar lebih buruk dari dugaannya. Kedua matanya bengkak. Pipinya tirus. Kulitnya pucat. Tetapi bagaimanapun, itu adalah adik yang disayanginya. Mereka nyaris berbagi segala hal bersama. Hingga tidak ada lagi rahasia di antara mereka.

‘Apa kabarmu, Adik kecil?’ Ia selalu memanggil adiknya seperti itu. Walaupun sebenarnya usia mereka hanya terpaut satu tahun.

Tetapi adik kecilnya tidak menjawab.

Dan ia tidak kuasa mendesak. Maka ia hanya mampu menuntun adiknya kembali ke kamar. Mereka duduk di tepi tempat tidur berseprai merah muda, warna kesukaan adiknya.

‘Aku membawa donat matcha dan jus stroberi kesukaanmu,’ ucapnya sambil membongkar ranselnya. ‘Kau pasti suka.’

Adiknya hanya menjawab dengan anggukan kecil. Tetapi itu sudah lebih dari cukup. Ia membukakan tutup botol minuman dan adiknya menerima dengan tangan gemetar. Dan ia melakukan itu secara berulang selama seminggu penuh. Membawakan makanan kesukaan adiknya, menyelimuti adiknya saat tidur. Hingga akhirnya kondisi adiknya tampak membaik.

Mengetahui perkembangan itu, membuat kekhawatiran kedua orang tua mereka sedikit berkurang. Malam itu, pasangan suami istri itu kembali menemui putri mereka setelah sekian lama.

‘Jadi, kapan kau akan kembali ke sekolah?’ tanya ayahnya. ‘Kakakmu juga tidak bisa terus menerus berada di sini untuk mengurusmu. Dia harus kembali ke sekolah.’

Putri mereka tetap bungkam.

‘Jangan terus diam, Sayang,’ sambung ibunya. ‘Bukankah kau sendiri yang ingin sekolah di sana agar bisa tinggal bersama nenekmu?’

Lima belas menit kemudian, mereka sudah keluar dari kamar dengan tangan hampa. Tidak satu pun kata terucap dari bibir anak mereka.

Dan keesokan paginya, sang kakak sudah siap dengan kue ulang tahun untuk memberi kejutan pada adiknya. Tetapi malah ia yang terkejut saat menemukan adiknya sudah terbujur kaku. Terlalu banyak obat tidur yang ditelan adiknya. Hingga tanpa perlu menunggu hasil pemeriksaan dokter, ia tahu adiknya sudah pergi untuk selamanya.

Setelah pemakaman adiknya, ia nekat mengendarai mobilnya menuju sekolah adiknya. Dua jam perjalanan ia lalui dengan air mata yang tidak berhenti mengalir. Yang hanya mampu disembunyikan kacamata hitam.

Begitu tiba di gerbang sekolah elite itu, ternyata bel pulang sekolah sudah berbunyi. Tidak banyak siswa yang masih tinggal di sekolah. Perhatiannya terpaku pada seorang gadis yang tampak  kesal menunggu jemputannya yang belum juga datang. Melihat dari penampilan seragamnya yang tidak terlalu menaati perturan sekolah, sepertinya gadis itu cukup ‘berkuasa’ atau setidaknya mengerti gosip seputar lingkungan sekolahnya.

Tanpa disangka-sangka, gadis itu langsung bangkit dari duduknya. Seolah menyambut ia yang turun dari mobil sedan dua pintu itu. Senyum lebar penuh minat tergambar di wajah gadis itu.

‘Hei, boleh temani aku mengobrol?’ Ia melontarkan basa-basi. ‘Aku sedang menunggu teman.’

Gadis itu mengangguk. ‘Silakan,’ ucapnya lantas kembali duduk dan menepuk tempat di sebelahnya. ‘Aku juga sedang menunggu dijemput.’

Ia membuka pembicaraan mereka dengan hal-hal yang umum. Hingga perlahan-lahan menuju ke arah yang diingkannya.

‘Apa di sini sering terjadi hal seperti pemalakan atau bullying?’

Kening gadis itu mengernyit miris. ‘Se-sepertinya tidak ada.’

‘Oh, baguslah. Karena aku sangat membenci hal seperti itu,’ ucapnya. ‘Maka dari itu aku melakukan studi tentang hal ini. Kukira di sini ada semacam geng atau orang yang sok berkuasa dan suka menindas orang lain. Jadi kau bisa menjadi narasumberku.’

‘Oh... kalau yang seperti itu ada.’

Got you!  ‘Oh, ya? Siapa namanya?’

‘Namanya... Kalila.’ Gadis itu menjawab dengan polosnya.

Ia langsung mengingat-ingat nama itu dalam benaknya. ‘Apa dia atau gengnya baru-baru ini melakukan sesuatu pada murid lain?’

Hem... ya. Kalau tidak salah, nama cecanak itu Emily, Felin, atau Evelyn begitu.’

Jawaban itu seperti sebuah tinju di dadanya. ‘Apa ada korban lain?’

‘Seingatku, cuma itu.’

‘Baiklah. Kalau begitu, terima kasih, ya, hem, siapa namamu?’

Gadis itu memasang senyum manis. ‘Namaku Sharon.’
***

Sharon tidak menyangka. Gara-gara sopirnya yang bodoh terlambat menjemputnya dengan alasan ban mobil bocor, ia jadi bisa bertemu dengan seseorang yang luar biasa.

Pertanyaan orang itu membuat ingatan Sharon terpanggil ke kejadian beberapa minggu yang lalu. Saat itu seorang cecunguk menabrak dan menumpahkan susu ke seragam mahalnya. Ia tidak bisa menerima permintaan maaf begitu saja. Cecunguk itu harus diberi pelajaran setimpal.

Maka Sharon mengajak teman-teman gengnya untuk menyeret cecunguk itu ke kamar mandi. Ia menjambak rambut dan menampar anak itu biar jera. Dan terakhir, ia menyirami seragam anak itu dengan setengah ember air pel sebagai ganti seragamnya yang kotor. Teman-teman yang lain mendukungnya. Tentu saja, semua menghormatinya. Semuanya kecuali si sombong Kalila.

Tetapi Sharon tidak mau menunjukkan dominasinya di depan orang tadi. Karena sepertinya ia bukan tipikal orang yang menyukai gadis yang tegas. Jadi, tidak masalah, kan, kalau Sharon meminjam nama Kalila? Lagi pula Kalila memang ada di sana. Walaupun gadis itu selalu sibuk dengan kata-katanya. ‘Teman-teman, hentikan!’ atau ‘Sharon, ini sudah cukup!’. Dasar sok suci!

Oh, iya, siapa tadi nama lelaki itu? Scott, Elliot, atau Charlotte? Entahlah. Sharon bisa menanyakannya saat mereka bertemu kembali.
***

Seluruh jendela di ruangan itu tertutup tirai tebal berwarna abu-abu nyaris hitam. Sementara semua saklar lampu dalam posisi off. Satu-satunya sumber cahaya adalah televisi yang tengah menayangkan berita kecelakaan sebuah mobil mahal berwarna ungu. Aroma wiski dan mie instan basi menggumpal di udara. Siapa pun yang berada di ruangan itu pasti merasa mual.

Walaupun itu tidak berlaku untuk seseorang yang terdiam seperti kentang di atas sofa. Meja di hadapannya penuh dengan botol-botol wiski kosong dan gelas karton bekas mi instan. Penampilannya berantakan. Kulitnya kering. Wajahnya pucat. Matanya nanar. Pakaian yang dikenakannya adalah pakaian yang sama dengan lima hari yang lalu. Selama beberapa hari ini, Elliot hidup seperti itu.

Ia sama sekali tidak ingat nama ataupun rupa orang yang sudah memberinya informasi tentang orang yang menindas Evelyn. Tetapi ia sama sekali tidak pernah melupakan nama orang yang sudah menyebabkan kematian adiknya itu. Kalila.

Dengan membawa dendam itu, Elliot kembali ke Amerika untuk menyelesaikan sekolahnya. Itu adalah bentuk tanggung jawabnya untuk pendidikan yang diinginkan ayahnya. Ia juga tidak ada niat untuk mengecewakan kedua orang tuanya yang sedang bersedih karena kepergian adiknya.

Dan setelah lulus, alih-alih melanjutkan kuliah di negara adidaya itu, ia memilih untuk pulang. Ayahnya menentang keputusannya tentu saja. Bagi ayahnya, seorang lelaki harus hidup mandiri dan menuntut ilmu di tempat terbaik.

Untuk pertama kalinya, Elliot tidak menghiraukan ucapan ayahnya. Semuanya demi membayar lunas kematian Evelyn.

Dengan segala kuasa dan koneksi yang dimiliki keluarganya, ia berhasil mendapatkan info terbaru tentang Kalila. Ia juga berhasil ditempatkan di kelas dan universitas yang sama dengan gadis itu. Tanpa membuang waktu, ia langsung melancarkan serangan dengan mendekati Kalila. Sialnya, gadis itu cukup sulit untuk didapatkan. Belum lagi, muncul gadis bernama Erin yang menarik perhatiannya. Karena entah bagaimana, Erin mengingatkannya pada Evelyn.

Elliot berusaha fokus pada tujuannya. Ia mengabaikan segala hal. Termasuk perasaannya. Bahkan ia dengan teganya, meletakkan anting Erin di dalam mobil Kalila. Agar jika polisi mencurigai ada yang tidak wajar dari kecelakaan itu, ia tidak akan menjadi tersangka utama.

Dan setelah rencananya berhasil. Lalu sekarang apa?

Selama berhari-hari, itulah yang selalu Elliot tanyakan pada dirinya sendiri. Karena setelah semua ‘pengorbanannya’, ia sama sekali tidak merasa bahagia. Ia juga tidak merasa puas. Atau bangga karena berhasil membalaskan dendam pada orang yang sudah menyebabkan kematian adiknya.

Yang ada ia justru merasa hampa. Seolah ada lubang besar di dalam dadanya yang kosong. Dan sedikit demi sedikit penyesalan memenuhi ruang kosong itu.

Tetapi untuk apa lagi ia menyesal? Kalila sudah mengalami kecelakaan seperti yang diinginkannya. Itulah yang ia lihat di televisi. Bahkan mungkin sekarang gadis itu sedang sekarat atau mungkin sudah bertemu Evelyn di akhirat.

Saat Elliot hendak menenggak isi botol wiskinya lagi, ia mendengar pintu apartemennya digedor kuat berkali-kali .
***

Kegelapan masih membelenggunya. Hanya menyisakan rasa sakit. Lengannya. Kepalanya. Sekujur tubuhnya terasa seperti ditusuk-tusuk sekaligus membara. Perlahan, ia mencoba menggerakkan kelopak matanya agar terbuka, tetapi ia tidak bisa.

Mungkin ia sudah mati.

“Hai, Lil Princess.”

Telinganya menangkap suara yang dikenalnya. Tetapi kenapa suara itu terdengar seperti kesakitan? Seolah orang itu bisa merasakan apa yang dirasakan Kalila saat ini.

“Tidurlah walau hanya lima menit, Nak. Ini sudah jam 3 dini hari.”

“Tidak apa-apa,” tolak Diego keras kepala. “Aku tidak mau menginggalkan Kalila.”


“Pelakunya sudah tertangkap. Setidaknya kau harus memberi tubuhmu istirahat.”

Suara itu! Suara yang sangat ia rindukan. Samar-samar terdengar juga tangis tersedu-sedu, di belakang percakapan antar dua lelaki berbeda usia itu. Dan Kalila yakin itu suara tangis ibunya. Papa dan Mama ada di sini bersamanya.

Sekuat tenaga ia mencoba meraih kesadaran. Ia mencoba. Terus mencoba. Lagi-lagi kegelapan menenggelamkannya. Ia melawan. Ia ingin bertemu Diego. Ia ingin bertemu orang tuanya. Tubuhnya menentangnya. Dan ia ditarik semakin dalam hingga kembali tidak sadarkan diri.

“Kenapa dia belum bangun juga?”

Suara itu membuat kegelapan di sekitar Kalila sedikit memudar. Tetapi ia belum bisa mengenali waktu. Ia hanya mampu mendengarkan suara-suara di dekatnya.

“Kalila mengalami luka yang cukup parah di kepalanya. Tapi itu tidak menganggu kinerja otaknya. Dia akan segera bangun. Kita hanya harus memberinya waktu sampai dia siap.”

“Bagaimana dengan lukanya yang lain, Dokter?” Itu suara Papa.

“Semuanya berangsur membaik. Rusuknya yang memar dan tulang kakinya yang retak sedang dalam proses pemulihan. Kita berharap Kalila bisa sembuh secepatnya.”

Suara dokter itu terdengar tenang. Sangat tenang. Seperti alunan musik yang membuat Kalila kembali dalam kegelapan.

Kepalanya seperti ditekan kuat-kuat. Nyeri. Kemudian, saat rasa sakit itu menembus kegelapan dan menariknya. Ia dibawa pada rasa sakit yang lain. Ia menjerit, tetapi suaranya tidak keluar.

Kegelapan lenyap dan digantikan cahaya putih terang. Sebuah ruang putih yang asing. Terdengar bunyi bip yang bising. Kepala dan dadanya terasa nyeri. Selebihnya, ia mencoba menggerakkan anggota tubuhnya. Ia memekik senang saat tangannya yang diinfus memberi respon. Tetapi suaranya terhambat. Kemudian ia mencoba memutar kepalanya. Dan sekali lagi ia bersyukur karena kepalanya bergerak sesuai keinginannya.

Kalila terbaring di tempat tidur dengan besi pengaman di salah satu sisi. Di sisi yang lain, Diego tengah tertidur. Lelaki itu duduk di samping tempat tidurnya. Kepalanya berbantalkan lengannya yang terlipat. Perlahan, Kalila kembali menggerakkan tangannya. Ia mengusap lembut kepala lelaki itu.

Diego terjaga dengan terkejut. Ia berdiri dengan cepat, hingga tangan Kalila terjatuh kembali ke atas tempat tidur. Tubuhnya membeku. Mulutnya ternganga. Matanya yang dikelilingi garis menghitam terbelalak. Dan beragam perasaan lega dan tidak percaya berkelebat cepat di sana.

Susah payah, Kalila mencoba tersenyum dengan slang terpasang di mulutnya. Ia hanya ingin memberi tanda pada Diegodan dirinya sendiribahwa ini bukan mimpi.

“Lil Princess?” Suaranya tersedak sekaligus merasa lega. Lelaki itu meraih dan menggenggam tangan Kalila yang tadi mengusap rambutnya. Dan saat itulah Kalila merasa dirinya melayang-layang, hingga semua sakit berangsur menghilang.