Tampilkan postingan dengan label Purple Maple. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Purple Maple. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 April 2017

Purple Maple (Epilog)




INI pasti mimpi.

Kalila mendongak, memandang takjub sekumpulan bunga wisteria yang menggantung di atas kepalanya. Bunga-bunga itu berwarna putih, violet, dan ungu. Semuanya kompak bermekaran dan membentuk terowongan panjang yang indah. Seolah sedang menuntunnya ke alam mimpi.

Diego berada di belakang, mendorong kursi rodanya. Kalila memang sudah diperbolehkan pulang. Beberapa perbannya sudah dilepas. Tetapi kakinya masih tidak kuat berdiri maupun berjalan. Jadi, ia akan membutuhkan kursi roda sampai ia dinyatakan benar-benar sembuh. Berdua, mereka menyusuri keindahan itu tanpa banyak bicara. Hingga akhirnya mereka tiba di ujung terowongan.


Tetapi mimpi indah itu ternyata belum berakhir.

Dua orang berseragam seperti pramusaji restoranlengkap dengan dasi kupu-kupu berwarna ungudatang menyambut dan menunjukkan sebuah meja yang sudah disiapkan untuk mereka. Meja itu berbentuk bundar dengan taplak satin sewarna lavendel berada di antara dua kursi yang berhadapan. Kursi-kursi itu memiliki sandaran tinggi yang dipenuhi ukiran. Seperti kursi yang biasanya berada di istana. Dan semua itu ditata di bawah naungan pergola yang juga berhiaskan bunga wisteria.

Saat masih tersihir dengan pemandangan di hadapannya, tiba-tiba Kalila memekik kaget saat merasakan tubuhnya melayang. Dengan mudah, Diego menggendong dan mendudukkannya di salah satu kursi yang dilapisi beledu bewarna ungu gelap itu.

“Lil Princess seharusnya duduk di kursi untuk Tuan Putri,” bisik lelaki itu di telinganya.

Wajah Kalila menghangat. “Terima kasih.”

“Terima kasih untuk apa?” tanya Diego begitu ia duduk di kursinya.

Dan saat itulah Kalila baru menyadari bahwa kedua pramusaji tadi sudah menghilang. Bersama dengan kursi rodanya. Sengaja memberi ruang privasi untuk mereka berdua.

“Terima kasih untuk semuanya. Tempat ini sangat indah,” jawab Kalila lalu menghirup dalam-dalam udara di sekitarnya. Udara yang terasa segar dan membawa harum bunga wisteria. Ia juga bersyukur masih diberi kesempatan untuk berterima kasih pada Valeria. “Dan terima kasih kau sudah bersedia mengantarkanku menemui Elliot.”

“Justru aku yang heran, setelah apa yang bajbajaj itu lakukan padamu, kau malah berbaik hati menjenguknya di penjara.”

“Apa?” Kalila mengernyit, berusaha menahan tawanya. Tetapi ia takut sudah salah mendengar. “Bajaj?”

“Yah, aku tidak mau berkata kasar di depanmu,” jawab Diego sambil mengangkat bahu.

Baru kemudian Kalila melepaskan tawanya. “Jangan membencinya. Elliot melakukan itu karena kasih sayangnya yang terlampau besar pada Evelyn. Kau lihat sendiri, kan, dia menangis dan meminta maaf. Aku yakin dia sudah menyesali perbuatannya. Lagi pula karena kecelakaan itu, aku jadi sadar bahwa hal terpenting adalah orang-orang yang kucintai.”

Itu benar adanya. Orang tuanya sepakat untuk membagi tugas untuk mengurus bisnis mereka dan menemani Kalila di rumah secara bergantian. Dan itu berlaku seterusnya bahkan setelah Kalila sembuh total. Ia juga sudah tidak mau lagi menyembunyikan perasaannya kepada lelaki di hadapannya.

“Apa aku termasuk di dalam orang-orang itu?” tanya Diego sambil menatap langsung sepasang mata cokelat terang milik gadis di hadapannya.

Gadis itu tersipu, menghindari pandangannya. Tetapi detik berikutnya, ia menjawab dengan anggukan. Dan juga senyuman.

“Omong-omong, aku tidak menyangka kau masih menyimpan itu.”

Kalila menyentuh benda yang dimaksud Diego. Syal ungu pupus pemberian Diego di malam yang nahas itu. Yang selalu menghangatkannya saat tidur. Yang tetap membuat ia mampu mengingat semua kesalahannya di masa lalu.

“Tentu saja. Aku tidak punya alasan untuk membuangnya.”

“Tapi kurasa syal dan bunga kurang sesuai kalau dipadukan bersama.” Sekarang Diego mengerti mengapa Kalila memilih syal dibanding topi.

Kalila memandang bunga-bunga di sekelilingnya. Penuh nuansa musim semi. Sementara ia berpenampilan seperti hendak menghadapi musim dingin. “Biar saja.”

“Aku punya sesuatu yang jauh lebih baik daripada syal buluk itu.” Diego meletakkan sebuah kotak persegi panjang ke atas meja, lalu mendorongnya perlahan ke hadapan Kalila. “Mungkin ini terlambat, tapi lebih baik daripada tidak. Jadi, selamat ulang tahun, Lil Princess.”

Mata Kalila terbelalak heran sekaligus senang. Ia menatap bergantian antara kotak di atas meja dan lelaki di hadapannya. Lelaki yang masih saja penuh dengan kejutan. Kalila membuka hadiahnya dan mendapati sebuah kalung berliontin batu ametis di dalam kotak itu. Liontin itu berbentuk daun maple.

“Oh, cantik sekali.” Entah sudah berapa kali matanya melihat keindahan hari ini.

“Biar kupasangkan,” ucap Diego sambil mendahului Kalila untuk mengambil kalung itu dari kotaknya. Lelaki itu bangkit dan berpindah ke samping kanannya. Lalu melepaskan syal yang melingkari leher gadis itu. “Sebenarnya aku merencanakan makan bersamamu di bawah pohon maple berdaun ungu yang tumbuh lebat di hari ulang tahunmu. Tapi sekarang semua daunnya sudah gugur.  Jadi, aku hanya bisa memberimu ini.”

“Terima kasih, My Hero Diego,” ucap Kalila dengan tersipu.

Terjadi keheningan selama Diego memasangkan kalung itu di leher Kalila. Ia bisa merasakan dingin dari ujung jemari lelaki itu yang menyentuh sekilas tengkuknya. Tetapi entah mengapa justru membuat kedua pipinya terasa hangat. Bahkan dengan posisi tubuh yang memunggungi Diego, ia bisa merasakan daya tarik yang kuat di antara mereka berdua. Diam-diam, dalam hati Kalila bersyukur Diego tidak bisa melihat wajahnya saat ini. Karena ia yakin, segala perasaannya tergambar jelas di sana.

Setelah selesai memasangkan kalung itu, Diego tidak langsung kembali ke tempat duduknya. Kedua tangannya bertumpu pada tepi meja dan lengan kursi, tubuhnya menunduk ke arah Kalila.

Kalila menggigit bibirnya. Gawat. Ia tidak akan tahan berada dalam suasana canggung seperti ini. Apa sih yang lelaki itu inginkan?

“Oh, ya, waktu itu kau bilang ada sesuatu yang ingin kau katakan langsung padaku? Apa itu?” tanya Kalila berusaha mengalihkan keheningan.

Diego tidak langsung menjawab. Lelaki itu tertegun, mencoba mengingat. Tetapi detik berikutnya, ia menyeringai. Lalu merunduk lebih rendah. Lebih dekat pada Kalila.

“Aku ingin mengatakan bahwa apa pun perasaan yang ada di hatiku, kau selalu ada di sana.”

Tubuh Kalila yang tadinya membeku langsung menghangat ketika Diego berbisik di telinganya. Ia menolehkan kepalanya pada Diego. Hingga ia bisa merasakan napas lelaki itu di pipinya. “Hanya itu yang ingin kau katakan?”

Diego mengangguk. “Dan aku juga selalu berharap jika suatu hari nanti kita bisa bertemu lagi, aku ingin menjadi orang yang pantas bagimu. Yang bisa kau banggakan di depan teman-temanmu. Kalau tidak bisa menjadi pasanganmu, setidaknya aku bisa menjadi temanmu.” Ia menatap kedua mata gadisnya. “Terdengar sinting, kan?”

Kalila menggeleng. “Kau selalu pantas. Aku saja yang bodoh.”

“Lupakan masa lalu, Lil Princess.” Diego menyibak sedikit rambut Kalila yang sudah mulai kembali tumbuh. Setelah sebelumnya dicukur untuk mempermudah proses pengobatan lukanya. Ada sebuah luka memanjang dari bagian atas kepala hingga ke dekat telinga kanannya. “Lagipula sekarang kita punya luka serupa. Yang tidak dimiliki pasangan lain.”

Kening Kalila mengernyit. Untuk menjawab pertanyaan tanpa suara itu, Diego meraih tangan Kalila. Lalu ia membuat gadis itu menyentuh bekas lukanya yang tersembunyi di balik helai-helai rambutnya.

“Malam itu, aku mendapatkan luka ini. Mirip seperti luka milikmu.”

Ekspresi Kalila berubah ngeri. Perasaan bersalah melumuri wajahnya. “Aku sungguh-sungguh minta maaf... atas segala kebodohanku.”

Bukannya marah atau merasa kesal, Diego malah menggerakkan kepalanya sedikit hingga pipinya berada di depan wajah Kalila. “Ungkapkan maafmu di sini,” gurau Diego sambil menyentuh pipinya sendiri dengan telunjuk.

Kenapa harus begini?  Kalila menelan ludah. Ia beringsut mundur tetapi sandaran kursi membatasi geraknya. Sekujur tubuhnya berubah tegang. Karena sejujurnya, ia belum pernah mencium laki-laki selain ayah dan kakeknya. Dan sekarang... Diego?

Tetapi sedetik berikutnya, Kalila sudah memajukan wajahnya sedikit demi sedikit ke pipi Diego. Sementara kedua tangannya mencengkeram erat kedua lengan kursi.

Beberapa senti sebelum bibirnya menyentuh pipi Diego, tanpa disangka, lelaki itu malah menggerakkan kepalanya menghadap Kalila. Sehingga bibir mereka yang bersentuhan. Walaupun hanya sedetik.

Diego langsung menegakkan tubuhnya. Sambil memasang seringai untuk menyembunyikan gemuruh yang mengguncang rongga dadanya. “Hem, apa ini rasa anggur? Oh, bukan. Mungkin wine? Karena ini memabukkan,” gumamnya tanpa berani menatap Kalila.

Sementara Kalila masih terpangah dengan pipi semerah tomat. Karena ia menyadari bahwa Diego baru saja mencuri ciuman pertamanya.

Ciuman pertama mereka.


PURPLE MAPLE – TAMAT

Senin, 17 April 2017

Purple Maple (Empat belas)


ANNA mengemudi dengan tenang, Ia mendengarkan setiap petunjuk arah dari Erin yang duduk di belakangnya. Suara gadis itu pecah dan gemetar. Mungkin karena Diego duduk di sampingnya. Padahal lelaki itu sama sekali tidak melakukan tindakan yang mengintimidasi. Selama perjalanan ia sibuk menghubungi banyak orang melalui ponselnya.

Sampai akhirnya tiba-tiba kalimat Diego terputus. Ia mengakhiri panggilannya dengan kening mengernyit. Erin meminta Anna menghentikan mobil di jalan yang di kenalnya. “Tunggu... bukankah ini indekos Kalila?”

Erin mengangguk cepat. Punggungnya menegang setiap kali mendengar suara Diego. “Tapi Val tinggal di sana,” jawab Erin sambil menunjuk rumah di seberang indekos Kalila. “D-dia memang terobsesi pada Kal. Bahkan meniru penampilan Kal. Kurasa dia sudah sinting. Jadi mungkin saja, kan, kalau dia berusaha melenyapkan Kal.”

Ingatan tentang seorang gadis bergaya seperti Kalila muncul dalam benaknya. Saat itu Diego tidak terlalu memerhatikan ke mana gadis itu pergi setelah meninggalkan indekos Kalila.

“Cepat temui dia,” perintah Diego. “Sekarang!”

Erin tersentak langsung keluar dari mobil. Tetapi Anna masih terpaku. Ia memandang Diego dengan raut wajah khawatir.

Tetapi lelaki itu mengartikan lain. “Tenang saja. Aku tidak akan kabur.”

Tidak sampai sepuluh menit berlalu sejak Erin dan Anna meninggalkan mobil, kedua gadis itu sudah kembali. Dan sayangnya, Valeria tidak ada bersama mereka.

“Kami hanya bertemu pemilik kos. Katanya, Valeria sudah pindah kos beberapa hari yang lalu.” Anna langsung menjelaskan. Sementara Erin kembali duduk meringkuk di samping Diego.

Diego melayangkan tinjunya ke punggung jok di hadapannya, melampiaskan emosinya. Tidak hanya Erin yang terkejut hingga tubuhnya seolah menyusut, Anna juga tidak menyangka Diego akan bereaksi seperti itu.

“Antar aku ke rumah sakit. Lalu aku akan ikut ke kantormu.”

“Tidak,” tolak Anna cepat. “Sebaiknya kau pulang saja ke apartemenmu.”

Ekspresi Diego mengeras. “Tapi aku harus memastikan keadaan Kalila.”

“Kau terlihat buruk, Diego. Kau butuh tidur,” ucap Anna acuh tidak acuh. “Serahkan penyelidikan padaku dan Liza. Kau harus istirahat.”
***

Senada dengan Anna, orang tua Kalila juga terus mendesaknya untuk pulang dan beristirahat. Ayahnya berjanji akan segera meneleponnya jika ada perkembangan dari keadaan Kalila. Maka dengan enggan, Diego berpamitan kepada kedua orang tua Kalila.

Di depan pintu ruang tempat Kalila terbaring, Diego menarik napas dalam-dalam dan bau rumah sakit yang dibencinya membuat dadanya terasa sesak. Tetapi bagaimanapun perasaan bencinya, ia merasa enggan untuk meninggalkan bangunan serba putih itu. Karena di sanalah Kalila berada.

Sejak kecelakaan yang menimpa Kalila, Diego tidak mampu merasakan apa pun selain dingin yang membelenggunya. Seolah jutaan jarum es menusuk sekujur tubuhnya. Bahkan otaknya pun terasa membeku sehingga sulit digunakan untuk berpikir. Sementara tubuhnya hanya bergerak begitu saja tanpa ia sadari. Persis seperti robot yang bergerak sesuai perintah. Seperti malam ini, ia tidak ingat kapan ia membawa dirinya sendiri pulang ke apartemen.

Begitu sadar, Diego sudah berbaring di atas tempat tidurnya. Matanya menatap nyalang ke langit-langit kamar. Tubuhnya tidak mau beristirahat seperti yang diharapkan. Sesekali, ia memeriksa ponselnya yang sedang mengisi daya, hanya untuk memastikan tidak ada pesan atau panggilan yang terlewat.

Hingga akhirnya, saat jarum jam hampir menyentuh jam tiga pagi, Diego terlelap. Dan tiga jam kemudian, dering ponsel meraungi telinganya. Tersentak, ia langsung duduk sambil menjawab telepon. Matanya terpejam paksa karena menantang cahaya matahari yang masuk melalui jendelanya yang tidak tertutup tirai.

“Halo?”

Diego, bisa kau ke kantorku sekarang?

Itu bukan telepon dari orang tua Kalila seperti yang dinantikannya. Melainkan dari Anna. Gadis yang sudah seperti kakaknya sendiri. Detektif tomboi yang membuat Diego tertarik mengambil kuliah tentang hukum.

Kita sudah menemukan Valeria,” sambung Anna lagi tanpa menunggu jawaban Diego.
***

“Di mana dia?” tanya Diego begitu Anna menyambutnya turun dari mobil.

“Ada di ruanganku.”

“Bagaimana kau menemukan dia?” tanya Diego saat mereka berjalan beriringan memasuki kantor.

Anna tidak langsung menjawab. Ia memilih menghentikan langkahnya untuk menjelaskan. “Tadi aku berniat menemuimu di rumah sakit, tapi aku melihat seseorang yang berdiri di seberang jalan. Selama beberapa menit, dia terus memandang lurus ke arah bangunan. Aku menunggu tapi dia tidak melakukan apa pun. Tingkah lakunya tampak mencolok, jadi aku menghampirinya

“Tunggu, siapa ‘seseorang’ yang kau maksud?”

“Dia. Valeria,” jawab Anna. “Orang itu sangat mirip dengan foto yang ditunjukkan Erin. Jadi, aku mengajaknya kemari. Dan dia menurut begitu saja. Walaupun, yah, dia terus saja bungkam. Tidak mau menjawab pertanyaan apa pun. Sekali pun Erin yang mengajaknya bicara.”

Diego mengernyitkan kening. Tetapi ia kembali melanjutkan langkah. Yang sedetik kemudian kembali dihentikan Anna.

“Aku mengatakan ini padamu agar kau bisa menjaga emosi dan jangan bersikap keras padanya. Atau dia tetap tidak akan mau bicara.”

“Aku mengerti, Anna,” jawab Diego sambil melepaskan genggaman Anna di lengannya. Lalu ia bergegas menuju sebuah pintu dengan gantungan kayu bertuliskan Anna & Liza. Tanpa repot-repot mengetuk, ia membuka pintu itu. Dan langsung disambut tatapan tiga orang gadis.

Liza membetulkan letak kacamatanya, lalu mengangguk mempersilakan Diego masuk. Erin langsung menundukkan kepala. Dan seorang gadis dengan gaun terusan bermotif bunga-bunga, berdiri dari duduknya di sofa untuk mendatangi Diego.

“Diego?” bisik gadis itu lirih. Rambutnya yang dikeriting tampak bergoyang-goyang setiap kali ia melangkah. Lalu tanpa dinyana, tiba-tiba ia memeluk Diego. “Val merindukanmu.”

Diego terpaku. Begitu juga Liza dan Erin.

“Bisa kita bicara berdua saja?” tanya Valeria sambil mendongak dengan wajah memelas.

Dengan isyarat mata, Diego meminta Liza dan Erin untuk meninggalkan ruangan. Dan begitu pintu tertutup, Valeria buru-buru melepaskan pelukannya. Sebelum lelaki itu mendorongnya dengan jijik.

“Maaf aku memelukmu.” Takut-takut, Valeria berbisik.

“Jadi, kau... orang yang membobol kamar Kalila?”

Wajah Valeria pias seketika mendengar kalimat Diego yang tanpa basa-basi itu. “Ya. Selama beberapa waktu, kukira aku bisa menjadi seperti Kal. Tapi ternyata aku salah. Kal membuatku menyadari bahwa tidak semua hal sesempurna kelihatannya. Jadi, yah, aku mulai kembali mencintai diriku sendiri sebelum aku benar-benar kehilangan jati diriku.”

Diego mengangguk setuju. “Lalu apa yang kau lakukan di depan rumah sakit?”

“Kemarin aku tidak sengaja melihatmu keluar dari rumah sakit itu.” Ekspresinya berubah sedih. “Dan aku jadi berpikir bahwa sesuatu yang buruk terjadi pada Kal.”

“Ya.” Diego menelan ludahnya yang terasa pahit. “Dia mengalami kecelakaan yang parah.”

Raut wajah Valeria berubah ngeri. “Padahal hari itu... aku sudah berusaha memperingatkannya. Tapi Kal tidak mau mendengar. Aku melihat

“Apa yang kau lihat?” potong Diego tidak sabar.

Valeria memeriksa jendela lalu menutup tirainya. Setelah memastikan semua aman, ia menarik Diego menjauh dari pintu. Lalu ia menarik keluar gumpalan kertas dari dalam tasnya.

“Sebenarnya hari itu aku mau memberikan ini pada Kal,” ucapnya pada Diego yang langsung sibuk membongkar lembaran foto yang sudah kusut itu. Tetapi gambarnya sudah tidak lagi terlihat jelas.

Diego mengernyit. “Apa kau tidak punya salinan foto ini?”

Valeria mengangguk. “Aku sudah menyalin videonya ke sini,” ucapnya sambil menyodorkan ponsel.

Diego menekan tombol play. Mobil Kalila terparkir di antara mobil lainnya. Lalu tiba-tiba datang seseorang dengan gerak-gerik mencurigakan. Diego memicingkan mata. Gambarnya memang tidak terlalu jelas dan sedikit bergetar. Tetapi ia bisa melihat postur tinggi dan ramping orang itu. Dan dengan mudah, ia mengenali bajingan itu.

“Kau lihat, sepertinya dia mendatangi mobil Kal untuk melakukan hal buruk.”

Diego mengangguk. Ekspresinya mengeras. Dan sekarang, keparat, aku yang akan mendatangimu.
***

Gadis itu duduk bersandar sambil memeluk lutut. Pandangannya kosong. Raganya nyata, tetapi jiwanya entah ada di mana. Tiga hari sudah berlalu sejak kejadian menyakitkan itu terjadi. Dan selama itu pula ia hanya terus mengurung diri di kamar. Ia menolak makan, juga tidak mau bicara. Satu-satunya hal yang mampu dilakukannya dengan benar hanyalah bernapas.

Pintu kamarnya kembali diketuk. Ia tetap bergeming. Mungkin itu ibunya, ayahnya, atau salah seorang dari belasan pelayan rumahnya yang terus saja menyuruhnya makan. Tetapi suara lembut yang mengikuti bunyi ketukan selanjutnya, ternyata mampu menghancurkan dinding es yang melingkupinya. Dengan langkah kikuk, ia bergerak membukakan pintu. Dan begitu pintu terbuka, ia mendapati kakaknya berdiri di sana. Lengkap dengan ransel usangnya.

Ia ingin bersorak saat mendapati kakaknya yang sudah hampir satu setengah tahun bersekolah di luar negeri akhirnya pulang demi dirinya. Tetapi ia tidak bisa. Senyum dan tawa sudah meninggalkannya.

Kakaknya berusaha tetap tersenyum seperti biasa. Walaupun penampilan adiknya benar-benar lebih buruk dari dugaannya. Kedua matanya bengkak. Pipinya tirus. Kulitnya pucat. Tetapi bagaimanapun, itu adalah adik yang disayanginya. Mereka nyaris berbagi segala hal bersama. Hingga tidak ada lagi rahasia di antara mereka.

‘Apa kabarmu, Adik kecil?’ Ia selalu memanggil adiknya seperti itu. Walaupun sebenarnya usia mereka hanya terpaut satu tahun.

Tetapi adik kecilnya tidak menjawab.

Dan ia tidak kuasa mendesak. Maka ia hanya mampu menuntun adiknya kembali ke kamar. Mereka duduk di tepi tempat tidur berseprai merah muda, warna kesukaan adiknya.

‘Aku membawa donat matcha dan jus stroberi kesukaanmu,’ ucapnya sambil membongkar ranselnya. ‘Kau pasti suka.’

Adiknya hanya menjawab dengan anggukan kecil. Tetapi itu sudah lebih dari cukup. Ia membukakan tutup botol minuman dan adiknya menerima dengan tangan gemetar. Dan ia melakukan itu secara berulang selama seminggu penuh. Membawakan makanan kesukaan adiknya, menyelimuti adiknya saat tidur. Hingga akhirnya kondisi adiknya tampak membaik.

Mengetahui perkembangan itu, membuat kekhawatiran kedua orang tua mereka sedikit berkurang. Malam itu, pasangan suami istri itu kembali menemui putri mereka setelah sekian lama.

‘Jadi, kapan kau akan kembali ke sekolah?’ tanya ayahnya. ‘Kakakmu juga tidak bisa terus menerus berada di sini untuk mengurusmu. Dia harus kembali ke sekolah.’

Putri mereka tetap bungkam.

‘Jangan terus diam, Sayang,’ sambung ibunya. ‘Bukankah kau sendiri yang ingin sekolah di sana agar bisa tinggal bersama nenekmu?’

Lima belas menit kemudian, mereka sudah keluar dari kamar dengan tangan hampa. Tidak satu pun kata terucap dari bibir anak mereka.

Dan keesokan paginya, sang kakak sudah siap dengan kue ulang tahun untuk memberi kejutan pada adiknya. Tetapi malah ia yang terkejut saat menemukan adiknya sudah terbujur kaku. Terlalu banyak obat tidur yang ditelan adiknya. Hingga tanpa perlu menunggu hasil pemeriksaan dokter, ia tahu adiknya sudah pergi untuk selamanya.

Setelah pemakaman adiknya, ia nekat mengendarai mobilnya menuju sekolah adiknya. Dua jam perjalanan ia lalui dengan air mata yang tidak berhenti mengalir. Yang hanya mampu disembunyikan kacamata hitam.

Begitu tiba di gerbang sekolah elite itu, ternyata bel pulang sekolah sudah berbunyi. Tidak banyak siswa yang masih tinggal di sekolah. Perhatiannya terpaku pada seorang gadis yang tampak  kesal menunggu jemputannya yang belum juga datang. Melihat dari penampilan seragamnya yang tidak terlalu menaati perturan sekolah, sepertinya gadis itu cukup ‘berkuasa’ atau setidaknya mengerti gosip seputar lingkungan sekolahnya.

Tanpa disangka-sangka, gadis itu langsung bangkit dari duduknya. Seolah menyambut ia yang turun dari mobil sedan dua pintu itu. Senyum lebar penuh minat tergambar di wajah gadis itu.

‘Hei, boleh temani aku mengobrol?’ Ia melontarkan basa-basi. ‘Aku sedang menunggu teman.’

Gadis itu mengangguk. ‘Silakan,’ ucapnya lantas kembali duduk dan menepuk tempat di sebelahnya. ‘Aku juga sedang menunggu dijemput.’

Ia membuka pembicaraan mereka dengan hal-hal yang umum. Hingga perlahan-lahan menuju ke arah yang diingkannya.

‘Apa di sini sering terjadi hal seperti pemalakan atau bullying?’

Kening gadis itu mengernyit miris. ‘Se-sepertinya tidak ada.’

‘Oh, baguslah. Karena aku sangat membenci hal seperti itu,’ ucapnya. ‘Maka dari itu aku melakukan studi tentang hal ini. Kukira di sini ada semacam geng atau orang yang sok berkuasa dan suka menindas orang lain. Jadi kau bisa menjadi narasumberku.’

‘Oh... kalau yang seperti itu ada.’

Got you!  ‘Oh, ya? Siapa namanya?’

‘Namanya... Kalila.’ Gadis itu menjawab dengan polosnya.

Ia langsung mengingat-ingat nama itu dalam benaknya. ‘Apa dia atau gengnya baru-baru ini melakukan sesuatu pada murid lain?’

Hem... ya. Kalau tidak salah, nama cecanak itu Emily, Felin, atau Evelyn begitu.’

Jawaban itu seperti sebuah tinju di dadanya. ‘Apa ada korban lain?’

‘Seingatku, cuma itu.’

‘Baiklah. Kalau begitu, terima kasih, ya, hem, siapa namamu?’

Gadis itu memasang senyum manis. ‘Namaku Sharon.’
***

Sharon tidak menyangka. Gara-gara sopirnya yang bodoh terlambat menjemputnya dengan alasan ban mobil bocor, ia jadi bisa bertemu dengan seseorang yang luar biasa.

Pertanyaan orang itu membuat ingatan Sharon terpanggil ke kejadian beberapa minggu yang lalu. Saat itu seorang cecunguk menabrak dan menumpahkan susu ke seragam mahalnya. Ia tidak bisa menerima permintaan maaf begitu saja. Cecunguk itu harus diberi pelajaran setimpal.

Maka Sharon mengajak teman-teman gengnya untuk menyeret cecunguk itu ke kamar mandi. Ia menjambak rambut dan menampar anak itu biar jera. Dan terakhir, ia menyirami seragam anak itu dengan setengah ember air pel sebagai ganti seragamnya yang kotor. Teman-teman yang lain mendukungnya. Tentu saja, semua menghormatinya. Semuanya kecuali si sombong Kalila.

Tetapi Sharon tidak mau menunjukkan dominasinya di depan orang tadi. Karena sepertinya ia bukan tipikal orang yang menyukai gadis yang tegas. Jadi, tidak masalah, kan, kalau Sharon meminjam nama Kalila? Lagi pula Kalila memang ada di sana. Walaupun gadis itu selalu sibuk dengan kata-katanya. ‘Teman-teman, hentikan!’ atau ‘Sharon, ini sudah cukup!’. Dasar sok suci!

Oh, iya, siapa tadi nama lelaki itu? Scott, Elliot, atau Charlotte? Entahlah. Sharon bisa menanyakannya saat mereka bertemu kembali.
***

Seluruh jendela di ruangan itu tertutup tirai tebal berwarna abu-abu nyaris hitam. Sementara semua saklar lampu dalam posisi off. Satu-satunya sumber cahaya adalah televisi yang tengah menayangkan berita kecelakaan sebuah mobil mahal berwarna ungu. Aroma wiski dan mie instan basi menggumpal di udara. Siapa pun yang berada di ruangan itu pasti merasa mual.

Walaupun itu tidak berlaku untuk seseorang yang terdiam seperti kentang di atas sofa. Meja di hadapannya penuh dengan botol-botol wiski kosong dan gelas karton bekas mi instan. Penampilannya berantakan. Kulitnya kering. Wajahnya pucat. Matanya nanar. Pakaian yang dikenakannya adalah pakaian yang sama dengan lima hari yang lalu. Selama beberapa hari ini, Elliot hidup seperti itu.

Ia sama sekali tidak ingat nama ataupun rupa orang yang sudah memberinya informasi tentang orang yang menindas Evelyn. Tetapi ia sama sekali tidak pernah melupakan nama orang yang sudah menyebabkan kematian adiknya itu. Kalila.

Dengan membawa dendam itu, Elliot kembali ke Amerika untuk menyelesaikan sekolahnya. Itu adalah bentuk tanggung jawabnya untuk pendidikan yang diinginkan ayahnya. Ia juga tidak ada niat untuk mengecewakan kedua orang tuanya yang sedang bersedih karena kepergian adiknya.

Dan setelah lulus, alih-alih melanjutkan kuliah di negara adidaya itu, ia memilih untuk pulang. Ayahnya menentang keputusannya tentu saja. Bagi ayahnya, seorang lelaki harus hidup mandiri dan menuntut ilmu di tempat terbaik.

Untuk pertama kalinya, Elliot tidak menghiraukan ucapan ayahnya. Semuanya demi membayar lunas kematian Evelyn.

Dengan segala kuasa dan koneksi yang dimiliki keluarganya, ia berhasil mendapatkan info terbaru tentang Kalila. Ia juga berhasil ditempatkan di kelas dan universitas yang sama dengan gadis itu. Tanpa membuang waktu, ia langsung melancarkan serangan dengan mendekati Kalila. Sialnya, gadis itu cukup sulit untuk didapatkan. Belum lagi, muncul gadis bernama Erin yang menarik perhatiannya. Karena entah bagaimana, Erin mengingatkannya pada Evelyn.

Elliot berusaha fokus pada tujuannya. Ia mengabaikan segala hal. Termasuk perasaannya. Bahkan ia dengan teganya, meletakkan anting Erin di dalam mobil Kalila. Agar jika polisi mencurigai ada yang tidak wajar dari kecelakaan itu, ia tidak akan menjadi tersangka utama.

Dan setelah rencananya berhasil. Lalu sekarang apa?

Selama berhari-hari, itulah yang selalu Elliot tanyakan pada dirinya sendiri. Karena setelah semua ‘pengorbanannya’, ia sama sekali tidak merasa bahagia. Ia juga tidak merasa puas. Atau bangga karena berhasil membalaskan dendam pada orang yang sudah menyebabkan kematian adiknya.

Yang ada ia justru merasa hampa. Seolah ada lubang besar di dalam dadanya yang kosong. Dan sedikit demi sedikit penyesalan memenuhi ruang kosong itu.

Tetapi untuk apa lagi ia menyesal? Kalila sudah mengalami kecelakaan seperti yang diinginkannya. Itulah yang ia lihat di televisi. Bahkan mungkin sekarang gadis itu sedang sekarat atau mungkin sudah bertemu Evelyn di akhirat.

Saat Elliot hendak menenggak isi botol wiskinya lagi, ia mendengar pintu apartemennya digedor kuat berkali-kali .
***

Kegelapan masih membelenggunya. Hanya menyisakan rasa sakit. Lengannya. Kepalanya. Sekujur tubuhnya terasa seperti ditusuk-tusuk sekaligus membara. Perlahan, ia mencoba menggerakkan kelopak matanya agar terbuka, tetapi ia tidak bisa.

Mungkin ia sudah mati.

“Hai, Lil Princess.”

Telinganya menangkap suara yang dikenalnya. Tetapi kenapa suara itu terdengar seperti kesakitan? Seolah orang itu bisa merasakan apa yang dirasakan Kalila saat ini.

“Tidurlah walau hanya lima menit, Nak. Ini sudah jam 3 dini hari.”

“Tidak apa-apa,” tolak Diego keras kepala. “Aku tidak mau menginggalkan Kalila.”


“Pelakunya sudah tertangkap. Setidaknya kau harus memberi tubuhmu istirahat.”

Suara itu! Suara yang sangat ia rindukan. Samar-samar terdengar juga tangis tersedu-sedu, di belakang percakapan antar dua lelaki berbeda usia itu. Dan Kalila yakin itu suara tangis ibunya. Papa dan Mama ada di sini bersamanya.

Sekuat tenaga ia mencoba meraih kesadaran. Ia mencoba. Terus mencoba. Lagi-lagi kegelapan menenggelamkannya. Ia melawan. Ia ingin bertemu Diego. Ia ingin bertemu orang tuanya. Tubuhnya menentangnya. Dan ia ditarik semakin dalam hingga kembali tidak sadarkan diri.

“Kenapa dia belum bangun juga?”

Suara itu membuat kegelapan di sekitar Kalila sedikit memudar. Tetapi ia belum bisa mengenali waktu. Ia hanya mampu mendengarkan suara-suara di dekatnya.

“Kalila mengalami luka yang cukup parah di kepalanya. Tapi itu tidak menganggu kinerja otaknya. Dia akan segera bangun. Kita hanya harus memberinya waktu sampai dia siap.”

“Bagaimana dengan lukanya yang lain, Dokter?” Itu suara Papa.

“Semuanya berangsur membaik. Rusuknya yang memar dan tulang kakinya yang retak sedang dalam proses pemulihan. Kita berharap Kalila bisa sembuh secepatnya.”

Suara dokter itu terdengar tenang. Sangat tenang. Seperti alunan musik yang membuat Kalila kembali dalam kegelapan.

Kepalanya seperti ditekan kuat-kuat. Nyeri. Kemudian, saat rasa sakit itu menembus kegelapan dan menariknya. Ia dibawa pada rasa sakit yang lain. Ia menjerit, tetapi suaranya tidak keluar.

Kegelapan lenyap dan digantikan cahaya putih terang. Sebuah ruang putih yang asing. Terdengar bunyi bip yang bising. Kepala dan dadanya terasa nyeri. Selebihnya, ia mencoba menggerakkan anggota tubuhnya. Ia memekik senang saat tangannya yang diinfus memberi respon. Tetapi suaranya terhambat. Kemudian ia mencoba memutar kepalanya. Dan sekali lagi ia bersyukur karena kepalanya bergerak sesuai keinginannya.

Kalila terbaring di tempat tidur dengan besi pengaman di salah satu sisi. Di sisi yang lain, Diego tengah tertidur. Lelaki itu duduk di samping tempat tidurnya. Kepalanya berbantalkan lengannya yang terlipat. Perlahan, Kalila kembali menggerakkan tangannya. Ia mengusap lembut kepala lelaki itu.

Diego terjaga dengan terkejut. Ia berdiri dengan cepat, hingga tangan Kalila terjatuh kembali ke atas tempat tidur. Tubuhnya membeku. Mulutnya ternganga. Matanya yang dikelilingi garis menghitam terbelalak. Dan beragam perasaan lega dan tidak percaya berkelebat cepat di sana.

Susah payah, Kalila mencoba tersenyum dengan slang terpasang di mulutnya. Ia hanya ingin memberi tanda pada Diegodan dirinya sendiribahwa ini bukan mimpi.

“Lil Princess?” Suaranya tersedak sekaligus merasa lega. Lelaki itu meraih dan menggenggam tangan Kalila yang tadi mengusap rambutnya. Dan saat itulah Kalila merasa dirinya melayang-layang, hingga semua sakit berangsur menghilang.



Kamis, 13 April 2017

Purple Maple (Tiga belas)


DIEGO tidak pernah merasa seperti ini. Seolah seluruh jiwanya terisap paksa oleh pusaran yang membawanya ke dalam kegelapan. Sebagian dirinya merasa sakit. Bahkan lebih sakit ketika ia harus dirawat di rumah sakit selama hampir lima bulan lamanya. Karena insiden ia terjatuh ke atas bebatuan tajam dan Kalila meninggalkannya.

Untuk kali ini, ia benar-benar memohon agar gadis itu tidak meninggalkannya.

Seharusnya ia hanya boleh berada di dalam ruangan itu selama lima belas menit. Itu adalah peraturan di ruang ICU. Tetapi ia tidak mahir menaati hal itu. Para dokter juga tidak menegurnya atau mengusirnya dengan paksa. Mungkin itu karena pengaruh pamannya yang merupakan salah satu kepala dokter di rumah sakit ini. Atau mungkin mereka semua hanya iba padanya.

Tetapi yang  mana pun  alasannya, Diego sama sekali tidak peduli. Karena bagaimanapun,  yang  terpenting adalah ia bisa selalu berada di sisi Kalila.

Diego berdiri di sisi tempat tidur Kalila. Ia mengusap lengan gadis itu dengan ujung jemarinya. Kulit gadis itu terasa dingin, terlalu dingin. Dan ia berharap, sentuhannya mampu mengembalikan kehangatan untuk Kalila.

“Hai, Lil Princess,” sapa Diego dengan suara parau. Jantungnya terasa seperti dihantam gorila saat melihat Kalila yang terbaring lemah. Wajah cantik gadis itu penuh goresan. Kepalanya dililit perban. Dan kedua matanya terpejam.

“Aku masih ingat.” Diego memulai ceritanya. Walaupun ia tahu Kalila tidak bisa menjawabnya. Sebuah slang terpasang ke dalam tenggorokannya. Untuk membantunya bernapas. “Dulu waktu kita masih SMA, kau pernah bilang bahwa kau ingin kedua orang tuamu ada bersamamu saat hari ulang tahunmu.” Ia membelai buku jari Kalila yang pucat. “Dan tahu tidak, saat ini Mama dan Papamu sedang dalam perjalanan kemari. Walaupun terlambat satu hari, tapi mereka ada untuk hari ulang tahunmu.”

Diego menarik sebuah kursi ke dekat tempat tidur. Lalu ia duduk. Dadanya terasa sangat berat. Seluruh tenaganya terkuras habis. Ia merasa sangat lelah, tetapi tidak bisa terlelap.

“Jadi kumohon, bangunlah. Agar kau bisa bertemu mereka.”

Masih sama. Gadis itu tetap tidak menjawab. Yang terdengar hanya bunyi bip dari mesin-mesin yang katanya membantu Kalila agar tetap hidup.

Penuh kehati-hatian, Diego memberanikan diri menggenggam tangan Kalila. Dalam hati ia berharap bisa menggantikan gadis itu berbaring di atas tempat tidur yang dingin itu. tetapi kenyataannya, ia hanya bisa berada di sisi gadisnya. Perlahan-lahan digerogoti perasaan putus asa.
***

Baru saja Diego menyelesaikan pembicaraannya di telepon, ponselnya sudah berbunyi kembali. Kali ini dari Jason, kakak sepupunya yang bekerja di kepolisian. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding koridor rumah sakit. Lalu menjawab panggilan itu.

Aku meminta mekanik memeriksa mobil itu, dan mereka menemukan bahwa semua minyak rem dari mobil itu habis tidak bersisa,” ujar si penelepon begitu telepon tersambung. Jason  tahu Diego membutuhkan informasi secepat mungkin. “Jadi, karena itu mobil tidak bisa berhenti dan akhirnya hilang kendali.

Sekujur tubuh Diego seolah membeku. “Sabotase?” gumamnya saat teriakan Kalila di telepon hari itu terngiang di telinganya.

Ya,” sahut kakak sepupunya menanggapi gumaman Diego. “Dan bagaimana kabar temanmu itu?

“Keadaannya masih sama. Dia masih belum bangun.”

Aku berdoa untuk kesembuhannya,” ucap polisi itu dengan tulus. “Setelah ini aku akan melakukan penyelidikan lebih lanjut. Tunggu kabar selanjutnya.

“Baiklah. Terima kasih banyak, Kak atas bantuanmu.”

Diego memasukkan ponselnya ke dalam saku. Ia melangkah ke arah kamar Kalila. Lalu berhenti di depan pintu. Samar-samar ia bisa mendengar ibu Kalila yang masih terisak menangisi keadaan putrinya.

Baru saja ia hendak membuka pintu, saat tiba-tiba sebuah nama muncul dalam benaknya. Gerakannya terhenti. Ia menarik ke luar ponselnya lagi, lalu membuat sebuah panggilan.

Lalu dengan langkah-langkah panjang, ia menjauhi kamar Kalila. Ia harus menemui orang yang mungkin bertanggung jawab pada kejadian ini.
***
 
Tidak ada hujan, tidak ada salju. Lory melongok ke luar jendela hanya untuk memastikan hal itu. Langit tampak terang. Ia juga tidak merasakan firasat apa-apa pagi ini.

Ia memandang ponselnya yang masih menyala. Masih tidak percaya. Beberapa detik yang lalu Diego baru saja meneleponnya. Setelah sekian lama, akhirnya lelaki itu menghubunginya lebih dahulu. Ini sebuah kemajuan! Sekarang ia bisa tertawa bangga di hadapan si kancil genit. Karena Diego sudah bertekuk lutut padanya. Walaupun tadi suara lelaki itu terdengar seperti sedang merasa lelah.

Oh, apa seberat itu Diego merindukannya?  Lory terkikik geli pada pemikirannya sendiri.

“Hei, Lory,” tegur Jenna sambil mengguncang lengan Lory yang menggenggam ponsel. “Telepon dari siapa?”

Seketika itu juga Lory langsung kembali berpijak di atas lantai retoran cepat saji. Ia mengerjap, lalu menyunggingkan senyum. Tidak ada ruang bagi perasaan jengkel karena Jenna membuyarkan lamunan indahnya.

“Diego,” jawab Lory berusaha sedatar mungkin. Tidak ingin memperlihatkan perasaan senangnya. “Dia ingin bertemu denganku.”

“Tapi setelah ini kita, kan, ada kuliah? Kalian bisa bertemu nanti di kelas,” ucap Jenna. Ini Senin. Awal pekan diawali dengan kuliah dari dosen yang hobi memberi ujian dadakan.

Sharon hanya diam memerhatikan kedua gadis di hadapannya. Ia sudah hafal benar sifat Lory yang tidak menerima protes. Seolah dunia ada di bawah kakinya. Ia tahu benar. Karena ia juga memiliki sifat itu. Walaupun sudah tidak setajam dahulu. Entah apa yang mengubahnya. Mungkin karena waktu. Atau karena ada orang lain seperti Lory yang merasa lebih berkuasa darinya.

“Cuma sebentar. Sepertinya ada urusan penting,” jawab Lory acuh tidak acuh. Lalu ia bangkit dari kursinya. “Dia akan menemuiku di sini. Tidak akan mengganggu waktu kita, girls.”

“Sekarang kau mau ke mana?”

Lory memutar matanya. “Ke toilet. Sebentar.”

Tadi di telepon Diego berkata bahwa ia sedang berada di dekat sini. Jadi, Lory tidak ingin menghabiskan waktu terlalu lama di toilet. Ia hanya menghapus dan memulas ulang lipstiknya. Serta menambahkan pemerah pipi agar wajahnya tampak segar. Tidak lupa, ia menyisir rambut pirangnya yang kemarin baru dicat ulang.

Saat kembali, ia melihat Diego sudah berdiri di dekat mejanya. Penampilan lelaki itu tampak sedikit lusuh daripada yang selama ini diingatnya. Tetapi kantung mata hitam dan pipi yang tirus bukan masalah besar bagi Lory. Karena ia lebih memerhatikan ekspresi Diego yang mengeras saat berbicara kepada kedua temannya. Ada sesuatu yang tidak beres, pikir Lory. Apalagi sepertinya Diego tidak datang sendiri. Dua orang gadis berpenampilan membosankan berdiri di kedua sisi Diego. Seperti pengawal dan pelayan.

Maka, Lory mempercepat langkahnya untuk segera bergabung. Ia tidak bisa membiarkan Diego terus berada di bawah pengaruh negatif seperti itu.

“Hei, sudah lama menunggu?” Lory menyela jarak antara Diego dan gadis di sisi kanan lelaki itu. Ia menampilkan senyum sambil mengamit lengan Diego. Tanpa peduli pada gadis berkacamata yang terhuyung ke samping.

Beruntung, gadis yang satunya lagi sigap menangkap lengan temannya. “Kau baik-baik saja, Liza?”

Gadis yang dipanggil Liza itu mengangguk kikuk. Ia membetulkan letak kacamatanya lalu berujar, “Terima kasih, Anna.”

“Kau duduklah,” ucap Diego dingin.

Kening Lory mengernyit. Ia melepaskan lengan Diego. “Kukira kita akan mengobrol di tempat lain.”

Diego menggeleng. “Di sini saja.”

Walaupun masih merasa bingung, Lory menurut. Ia kembali duduk di antara Jenna dan Sharon. Tepat di hadapan mangkuk saladnya yang masih tersisa setengah.

“Perkenalkan, ini temanku Anastasia dan Elizabeth. Mereka akan menanyakan beberapa hal mengenai kegiatan kalian di akhir pekan kemarin,” ucap Diego begitu ia duduk di hadapan Lory, diapit Anna dan Liza.

“Sebelumnya, boleh aku memotret kalian?” tanya Anna sambil mengangkat kamera yang tergantung di lehernya.

“Apa ini semacam wawancara majalah?” tanya Lory dengan nada antusias.

Diego melirik ke arah Anna. Lalu ia mengangguk. “Ya. Kau bisa menganggapnya begitu.”

Mendengar itu, Jenna dan Lory berpose sebaik mungkin. Bahkan Lory bersyukur tadi ia sempat memperbaiki riasannya. Tetapi berbeda dengan Sharon yang justru tertunduk tidak nyaman.

Lantas Lory menyikut lengan temannya itu. “Sharon, kenapa kau tidak tersenyum?”

Perhatian Diego tersentak saat mendengar nama itu. “Sharon?” gumamnya sambil berusaha menggali ingatan. Tatapannya melekat pada wajah Sharon yang canggung. Selama ini, Diego memang tidak peduli. Tetapi setelah apa yang terjadi pada Kalila, ia jadi memerhatikan hal sekecil apa pun. Termasuk ingatannya pada masa lalu.

Dan Diego yakin, Sharon yang ada di hadapannya saat ini adalah orang yang sama dengan Sharon teman SMA-nya. Atau lebih tepatnya, salah seorang di geng Kalila yang sering menyebutnya sebagai pengecut. Kali ini, ia tidak akan melepaskan perhatiannya dari gadis itu. Tidak lagi.


“Jadi, apa yang kalian lakukan di akhir pekan kemarin?” tanya Liza memulai tugasnya.

“Seperti biasa saja. Kau tahulah, kegiatan para gadis di akhir pekan,” jawab Jenna lantas terkekeh.

Lory mengangguk setuju. “Kami pergi ke salon, menonton film, dan belanja.”

“Apa ada kontak yang bisa dihubungi untuk memastikan bahwa kalian benar-benar pergi ke tempat-tempat itu?”

Kening Lory mengernyit. Ini mulai terasa tidak seperti wawancara untuk majalah. Tetapi ia tetap menarik keluar ponselnya. “Ada. Kalian bisa menghubungi salon langganan

“Kalian yakin tidak melakukan sesuatu yang buruk?” potong Diego dengan tidak sabar. Ia mengangkat dagu dan melipat tangannya ke atas meja. “Misalnya... menyabotase mobil orang lain?”

Ketiga gadis di hadapannya saling melempar tatapan tidak mengerti.

“Apa maksudnya?” tanya Jenna bingung.

“Waktu itu kalau aku tidak salah dengar, bukannya kalian mau melakukan sesuatu yang buruk pada mobilku?”

Lory hanya meringis masam saat memahami perkataan Diego. “Waktu itu aku hanya kesal karena ada seseorang yang tidur di mobilmu. Tapi aku tidak akan melakukan hal melanggar hukum. Aku hanya berpikir menyiramkan seember tarkecoa atau sedikit mencoret-coret. Tapi itu tidak kulakukan karena aku tidak mau melakukan hal buruk pada mobilmu.”

“Lalu akhirnya kau memutuskan untuk menyabotase mobil orang yang tidur di mobilku itu?”

Lory mengerutkan kening. Begitu juga dengan kedua temannya. Ia bahkan tidak tahu si kancil genit punya mobil. “Apa, sih, maksudmu, Diego? Aku tidak mengerti.”

“Mengaku sajalah!” Suara Diego meninggi. Emosinya menjadi mudah meledak karena sudah hampir tiga hari dirinya belum terlelap. “Kalian, kan, yang menyabotase mobil Kalila hingga membuat dia mengalami kecelakaan!” Ia nyaris saja berdiri dan menarik kerah baju Lory, kalau saja Anna tidak segera menahan bahunya. Dan Liza yang dengan sigap mengusap punggungnya untuk membuat ia lebih tenang.

Mata ketiga gadis itu membelalak. Mereka kembali saling melempar pandangan.

“Diego, aku tidak mungkin melakukan itu,” ucap Lory dengan wajah memucat.

“Kau tidak bisa menuduh kami sembarangan,” tambah Jenna.

“Lantas siapa? Selama ini kalian, kan, yang selalu mencari masalah dengan Kalila. Hanya gara-gara dia menumpahkan kopi padaku,” ucap Diego sambil menudingkan jarinya ke wajah Lory. “Asal tahu saja, hari itu aku yang sengaja menabrak Kalila. Agar dia menyadari keberadaanku.”

Kata-kata itu seperti sebuah tamparan keras di wajah Lory. Selama ini ia selalu berusaha keras mendapatkan perhatian diego. Tetapi lelaki itu malah menginginkan perhatian dari orang lain.

Sial. Lory menelan ludah. “Sepertinya... aku tahu siapa...” ucapnya setengah meragu. Ia tidak tahu tindakannya ini bisa disebut pengkhianatan atau tidak.

“Siapa?” tanya Diego dengan nada tajam.

Sebenarnya, siapa pun bukan masalah asal bukan dirinya. Tetapi ia tidak bisa membiarkan Jenna dan Sharon ikut tertuduh. Karena kedua temannya itu adalah saksi untuk alibinya.

“Jawab!” desak Diego tidak sabar.

Persetan. Lagipula tidak pernah ada perjanjian sehidup semati di antara mereka berdua.

“Erin.” Lory akhirnya membisikkan nama yang menggantung di ujung lidahnya.
***

Erin tidak menyangka Lory yang meneleponnya. Tadi ia secara refleks langsung menjawab panggilan yang masuk tanpa melihat nama di layarnya. Karena sejak pagi ia memang sedang menunggu seseorang meneleponnya. Bukan Lory, tentu saja. Melainkan Elliot.

Kalau saja Erin tahu itu tadi Lory, ia tidak akan menjawab. Karena ia sudah tidak ingin lagi berurusan dengan Lory. Kalila sudah bukan lagi masalah baginya. Elliot sudah berpaling kepadanya. Bahkan lelaki itu berjanji akan menjemputnya pagi ini. Walaupun sampai matahari meninggi, Elliot tidak juga datang atau pun memberi kabar. Tetapi Erin tidak memedulikan hal itu. Ia masih bisa bersabar.

Pintu kaca restoran cepat saji itu otomatis terbuka begitu Erin mendekat. Dengan mudah, ia menemukan Lory bagitu kakinya melangkah masuk. Gadis itu duduk diapit dua dayang-dayangnya yang setia. Tetapi mereka tidak sedang menyantap apapun. Juga tidak terlihat seperti sedang membicarakan sesuatu. Mereka seperti benar-benar sedang menunggu. Persis juri yang menunggu peserta audisi memasuki ruangan.

“Hai, cepat juga kau datang,” sapa Lory.

Erin hanya membalas dengan senyum tipis sambil duduk di kursi yang berseberangan dengan Lory. Tentu saja cepat. Karena sejak pagi ia sudah bersiap. Tadi ia hanya perlu memperbaiki riasannya sedikit.

“Kau mau pesan sesuatu?” tanya Lory berlagak ramah.

“Langsung intinya saja, Lory,” ucap Erin sedikit ketus.

Mata Lory lantas mendelik. Sebelumnya Erin tidak pernah bersikap seperti itu padanya. Kalau begitu, ia juga tidak perlu bersikap manis. “Ck. Bukan aku yang punya urusan denganmu. Tapi dia,” ucap Lory sambil menggerakkan kepalanya ke kanan.

Pandangan Erin mengikuti ke arah seorang lelaki dan dua orang gadis yang menatapnya lekat-lekat dari seberang meja. Dan seketika itu juga ia merasakan dingin merayapi kulitnya. Tubuh Erin masih membeku bahkan saat teman duduknya sudah berganti.

Merasakan ada hal yang tidak beres, Erin sontak bangkit hendak meninggalkan tempatnya. Tetapi ia kalah cepat dengan gadis berambut sebahu di sisi kirinya. Gadis itu menahan pergelangan tangannya di atas meja. Sentuhan lembut, tetapi kuat. Membuat Erin tidak berkutik dan kembali duduk.

“Rileks saja,” ujar gadis lainnya yang berpenampilan lebih feminin. Senyum manis terpampang di wajahnya, tetapi entah mengapa Erin merasa ngeri. “Kami hanya ingin tahu apa kegiatanmu akhir pekan kemarin.”

“Itu b-bukan urusanmu!” bentak Erin, berusaha bersikap galak. Walaupun suaranya tetap saja gemetar.

“Kau pasti mengenal Kalila.” Kali ini Diego yang berbicara. Suaranya terdengar muram. “Apa kau tahu warna mobil Kalila?”

“Y-ya. Warna ungu.”

“Apa kau pernah masuk ke dalam mobil itu?”

Erin menggeleng kuat. “Aku hanya pernah melihatnya satu kali di parkiran kampus.”

“Hari Sabtu kemarin Kalila mengalami kecelakaan karena seseorang menyabotase mobilnya.”

“K-kau tidak bisa menuduhku tanpa bukti.”

“Barusan aku menerima telepon. Sebuah anting ditemukan terjatuh di dalam mobil Kalila. Setahuku, Kalila tidak pernah mengenakan anting dengan model seperti itu.” Mata Diego menyipit. Suaranya menggeram dan mendesis setiap kali ia menahan emosinya. Ia menunjukkan layar ponselnya yang menampilkan foto yang dikirim Jason padanya. Foto sebuah anting berwarna biru berbentuk bintang.

Mata Erin melebar. Itu... antingnya. Bagaimana bisa? Tetapi ia berusaha mengatur napasnya yang terasa beku. “A-aku rasa bukan hanya aku yang memiliki anting seperti itu.”

“Tapi menurut data yang kami punya, sidik jari pada anting itu, cocok dengan sidik jarimu,” tukas Diego sambil menunjukkan layar ponsel yang kini menampakkan foto identitas Erin dan foto sidik jarinya. Untuk saat seperti ini, Diego benar-benar bersyukur lahir di keluarga besar yang memiliki koneksi luas.

Dalam sekejap, Erin bungkam sejuta kata. Sekujur tubuhnya terasa lemas. Tetapi ia harus mencari cara untuk keluar dari sini. Ia tidak mau terkurung di penjara.

“Itu b-bukan aku!” ucap Erin nyaris berteriak.

Diego mendengus. “Masih mau mengelak?” Ia sedang tidak berada dalam suasana hati yang bagus untuk membiarkan orang yang mencelakakan Kalila untuk mengecohnya.

“Val!” Erin meneriakkan nama itu dengan panik. “C-coba cari dia!”

“Untuk apa? Bukti kuat mengarah padamu.”

“Itu fitnah! Pasti Valeria yang mencuri antingku dan menaruhnya. Sebelumnya dia pernah mencuri topi milik Kal.”

Amarah membakar punggung Diego. Ia pernah mendengar nama itu. Nama orang yang membobol kamar Kalila. Diego mengembuskan napas dengan kasar. Ia mendekat dan berdiri menjulang di hadapan Erin. “Bawa aku menemuinya sekarang juga.”
***

Dalam beberapa puluh menit yang berlalu, Sharon masih saja terkurung dalam pikirannya. Wajahnya sampai tidak mampu memutuskan harus memasang ekspresi seperti apa. Haruskah ia bersedih mendengar teman lamanya mengalami kecelakaan? Atau haruskah ia merasa senang karena rivalnya itu sedang dalam kondisi kritis?

Ia memerhatikan satu persatu orang di sekitarnya. Kedua temannya tampak resah. Jenna bahkan mengigiti kukunya karena gugup. Kedua gadis detektif itu tampak sibuk dengan ponsel dan catatan mereka. Erin tampak seperti hendak meremukkan ponselnya. Sepertinya ia kesulitan menghubungi orang bernama Valeria itu. Sementara Diegosi ulat yang sudah menjadi kupu-kuputampak menunggu dengan gelisah.

Kalila. Gadis itu selalu saja merebut apa yang diinginkannya. Guru-guru di sekolah lebih menyayanginya karena ia berprestasi. Padahal ayah Kalila hanya donatur nomor dua yayasan. Bukan donatur utama seperti ayah Sharon. Semua lelaki yang disukai Sharon, lebih menyukai Kalila. Tetapi gadis itu malah memilih berpacaran dengan si culun pengecut, Diego.

Semua spotlight selalu mengarah kepada Kalila. Tidak pernah kepada Sharon. Seolah ia hanyalah bayangan tidak kasatmata. Bahkan di saat seperti ini, semua orang merasa khawatir karena gadis itu. Sebagian mengkhawatirkan keselamatan Kalila. Sebagian lain mengkhawatirkan dirinya akan menjadi tersangka yang mencelakakan Kalila.

Dan Sharon benci itu!

Mungkin ini saat yang tepat baginya untuk bergerak. Sudah saatnya ia menjadi tokoh utama yang menggerakkan cerita. Dan ia butuh banyak pemain lain untuk bergabung dalam ceritanya.

“Sepertinya dia mengganti nomor ponselnya,” desah Erin lemas. Kalau seperti ini, ia akan terus menerus jadi yang tertuduh.

“Apa kau tahu di mana tempat tinggalnya?”

“Ya. Kurasa

“Ayo kita ke sana,” ucap Diego cepat. “Anna kau ikut aku. Liza kau urus yang lainnya. Hubungi aku—“

“Tunggu!” Sharon yang sejak tadi diam, tiba-tiba bersuara keras. Hingga semua orang memusatkan perhatian padanya. Termasuk para pramusaji yang sejak tadi berpura-pura tidak mendengar obrolan mereka. Juga beberapa pelanggan yang berdebat dengan petugas keamanan di pintu restoran. Karena tadi Diego memang meminta tempat di sekitarnya untu disterilkan sementara.

“Aku rasa, ada satu orang lagi yang patut dicurigai,” ucap Sharon dengan nada dingin.

“Siapa?”

“Kau.” Tatapan Sharon tidak sedikit pun lepas dari Diego. “Kau sibuk mencurigai semua orang. Tapi siapa yang tahu kalau kau merencanakan semua ini. Kalian cukup dekat. Kapan saja kau bisa meminta Kalila datang ke suatu tempat dengan mobil yang sudah kau sabotase.”

Sial. Urat di kening Diego berkedut kesal.

“Apa yang kau katakan, Sharon?” desis Lory sambil merintang di antara Sharon dan Diego.

“Sejak lama kau mendekati Kalila. Rela melakukan apa pun, termasuk mengubah penampilan. Itu semua demi Kalila.” Pandangan Sharon tetap lurus. Seolah ia bisa menembus kepala Lory yang membatasi mereka. “Tapi begitu kau sadar Kalila tidak juga berpaling padamu, kau mencelakainya.”

Anna dan Liza menatap klien mereka dengan mata memicing.

“Oh, atau mungkin kau membalas dendam karena kejadian malam itu?” ucap Sharon sambil melipat tangan di depan dada. “Kau marah karena Kalila meninggalkanmu dalam keadaan terluka parah.”

“Tutup mulutmu, Sharon!” bentak Lory. “Diego tidak mungkin melakukan hal seperti itu.”

“Dia benar, Diego. Kami juga harus memeriksa alibi dan motifmu,” ucap Anna.

“Silakan saja.” Suara Diego bahkan lebih dingin lagi sekarang. Matanya balas menatap ke arah Sharon. “Tapi setelah aku mendapatkan penguntit bernama Valeria ini.”