Tampilkan postingan dengan label Once Upon A Time In The Forest. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Once Upon A Time In The Forest. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 April 2015

Once Upon A Time In the Forest Part 7 (end)




Langkah Forst menjangkau cepat keluar dari istana bangsa Viridian. Tidak sedikitpun ia menoleh ataupun menghiraukan panggilan teman-temannya. Telinganya seperti tuli. Sekalipun Givka meneriakkan namanya penuh keputus asaan.

Fakta yang baru saja dihadirkan Lacano ke hadapan Forst benar-benar di luar dugaannya. Ternyata bangsa Zestorian yang selama ini diperangi Forst adalah bangsa manusia. Dan itu berarti ia berperang melawan bangsanya sendiri.

Forst tidak ingin langsung mempercayai hal itu. Ia ingin membuktikan dengan mata kepalanya sendiri. Jika memang benar Zestorian itu adalah manusia, mengapa Givka dan yang lainnya menyembunyikan hal ini darinya? Tidak adakah yang bisa dipercaya di dunia ini?

Begitu tiba di daerah penyerangan, Forst menghentikan langkahnya. Matanya menyapu pemandangan mengerikan di sekitarnya yang begitu porak poranda. Ini semua bukti dari kekejaman bangsa Zestorian yang seakan tidak memiliki hati dan perasaan.

Perlahan, Forst mencoba mengatur napasnya yang tersengal. Tadi ia memang melangkahkan kakinya lebar-lebar sementara amarah membakar deras perasaannya. Begitu denyut nadinya kembali stabil, ia kembali berjalan mendekat ke daerah yang benar-benar sudah rata dengan tanah.  Ia berjalan keluar dari hutan, memasuki wilayah Zestorian.

Saat itulah tiba-tiba saja salah satu makhluk mengerikan itu meraung keras. Dengan cepat makhluk itu melangkah mendekati Forst. Cakarnya yang besar seolah siap menerkam kapan saja.

Forst hanya terpaku. Tubuhnya mulai gemetar. Kepalanya mendongak kepada bayangan hitam yang bergerak-gerak mengerikan di antara pepohonan. Ia menelan ludah yang terasa menyakitkan di tenggorokannya. Benarkah makhluk menyeramkan ini adalah manusia?

Tangan Forst mencoba meraih pedang yang ada di pinggangnya untuk melindungi diri. Dan saat itulah ia menyadari bahwa pedangnya tidak ada di sana. Forst memejamkan mata dan tersenyum. Jadi, inikah akhir hidupnya yang singkat?

Tiba-tiba Forst mendengar makhluk mengerikan itu berteriak kesakitan. Takut-takut, ia membuka matanya. Ia merasa khawatir jika saja itu adalah suara kesakitan dari dalam hatinya sendiri.

Saat kelopak matanya terbuka sempurna, Forst melihat dua buah anak panah melasat bersamaan di udara mengarah kepada monster itu. Sehingga gerakan monster itu berhenti seketika. Tanpa perlu menolehkan kepalanya, Forst sudah tahu siapa pemilik senjata itu.

“Mengherankan. Tidak biasanya kau berjalan secepat itu, Forst.”

Dan nada bicara yang khas itu.

“Selva.” Forst bergumam penuh rasa syukur. “Terima kasih kau sudah menolongku.”

“Tidak masalah.” Selva mengangkat bahunya. Bibirnya melengkungkan senyum separuh yang terlihat bahagia. “Lagi pula kau juga pernah menyelamatkan hidupku sebelum ini.”

 Tanpa mereka sadari, Zestorian yang tadi kembali bangkit. Tubuh yang besar itu sudah bersiap menyerang. Dengan raungan yang menyakitkan telinga, cakar monster itu kembali mengayun di udara.

“Selva!” Forst yang lebih dulu menyadari gerakan itu, berteriak sambil melompat ke arah Selva. Ia mendorong bahu gadis itu hingga mereka berdua tersungkur di atas tanah.

“Forst? Kau baik-baik saja?” Selva berseru panik sambil merangkak ke arah Forst yang meronta kesakitan. Sebuah luka memanjang di lengan lelaki itu. Tampaknya serangan monster itu sempat mengenainya.

Forst masih meringis kesakitan saat monster itu kembali menyerang. Mata makhluk itu berkilat memancarkan aura membunuh di bawah bayang-bayang deaduanan. Raungan itu kembali menggema di udara sebelum lengan besar itu menghantam ke arah Selva dan Forst.

Selva terbelalak saat melihat serangan yang begitu dekat. Kalau seperti ini, senjatanya tidak bisa berfungsi dengan baik. Dalam hati, ia merutuk menyesali ketidak mampuannya menggunakan pedang. Tapi bagaimanpun ia harus melakukan perlawanan. Sehingga tanpa pikir panjang, ia menarik satu anak panahnya dan menancapkan begitu saja pada lengan besar yang berada sangat dekat.

Benar saja. Gerakan lengan monster itu berhenti di udara. Selva tidak menyangka anak panahnya sekuat itu. Dan begitu ia mencoba menajamkan penglihatannya, tampaklah sosok lelaki dengan rambut hijau cemerlang sedang berdiri di bawah bayang hitam lengan Zestorian. Tangan lelaki itu menggenggam kuat sebilah pedang yang menahan gerakan musuhnya.

“Lacano!” Selva memekik tidak percaya.

“Cepat bawa Forst kembali ke istana!” Lacana berteriak memerintah sambil tetap berkonsentrasi pada kekuatan pedangnya.

Selva menganggukkan kepalanya dan segara mengangkat tubuh Forst yang memucat. Ia membawa Forst terbang menjauh  untuk menghindari serangan. Begitu merasa sudah mendapat jarak yang aman, Selva membaringkan Forst pada batang pohon terdekat. Lalu ia mulai memelesatkan anak panahnya ke arah monster itu.

Akhirnya, monster itu sudah tidak berdaya dan berhenti menyerang. Mereka bertiga bergegas kembali ke istana. Lacano dan Selva bersama-sama memapah Forst yang mulai kehilangan kesadarannya.

“Apa semua manusia bodoh sepertimu, Forst?”

Forst bisa mendengar Lacano bergumam di dekat telinganya. Tapi ia tidak mampu menyahut ataupun menjawab kata-kata itu. Nada yang tajam seperti sebelumnya.

“Aku bukan kami semua memerlukan bantuanmu, Forst. Tapi aku ingin kau mengetahui dulu siapa kau sebenarnya. Untuk apa dan dengan siapa kau berperang.”

***

Pemandangan rangkaian ranting dan dedaunan yang menjalar menyambut Forst saat ia membuka mata.  Ia mengerjapkan mata beberapa kali. Walaupun pandangannya masih terasa kabur, Forst bisa menyadari bahwa ia sedang menatap langit-langit kamarnya di istana bangsa Viridian. Ia merasakan nyeri yang tidak tertahankan di lengannya. Secara refleks ia menyentuh luka yang dibalut berbagai macam dedaunan itu.

“Kau sudah sadar?”

Kepala Forst bergerak ke arah pemilik suara itu. Lalu ia bergumam dengan suara serak, “Putri Givka?”

“Syukurlah, kau masih bisa mengenaliku dengan baik.” Givka tersenyum lega lalu duduk di tepi tempat tidur Forst. Detik berikutnya, ekpresi Givka sudah berubah penuh penyesalan. “Maafkan aku, Forst. Aku sudah menyembunyikan kenyataan itu darimu. Aku hanya... aku sudah bersikap egois karena hanya memikirkan keselamatan bangsa kami.”

Forst mencoba bangkit. Ia berusaha menopang tubuhnya menggunakan tangannya yang tidak terluka.

“Pelan, pelan.” Givka membantu Forst untuk duduk.

“T-terima kasih,” gumam Forst sambil meringis kikuk. Ia mengulurkan tangannya dan mengusap lembut kepala Givka. “Kau tidak seharusnya menyalahkan dirimu sendiri.”

Tanpa dinyana, gadis itu tiba-tiba saja menghambur ke pelukan Forst. Givka menempelkan pipinya di dada bidang Forst kemudian mulai menangis sepuasnya. Seolah ingin menumpahkan seluruh beban yang diletakkan di bahu kecilnya yang tampak rapuh.

Sesaat Forst tersentak atas tindakan impulsif itu. Tapi kemudian ia tersenyum lirih dan menyambut baik pelukan itu. Tangannya kembali mengusap lembut kepala Givka. Forst tahu ia menyayangi gadis ini. Seolah Givka adalah adik kecilnya yang wajib ia lindungi sepenuh hati.

Begitu tangisnya reda, Givka menjauhkan diri dari Forst. Tapi ujung jemarinya masih mengusap sudut matanya yang basah. Walaupun masih terisak, Givka mencoba berkata-kata. “M-maafkan aku... Forst. Aku sudah... membuatmu... terluka seperti ini.”

Forst tersenyum tipis. “Tidak. Ini bukan salahmu. Semuanya karena kebodohanku. Jika tidak ada Lacano dan Selva, mungkin aku sudah tewas di tangan Zestorian sekarang,” kata Forst lantas terkekeh.

Givka terpana. Ia menatap lekat-lekat wajah pucat Forst. Mata hijau cemerlang itu masih tertutup karena lengkung senyuman di wajah lelaki itu.

“Jika Zestorian adalah manusia, lalu apa wujud Viridian sebenarnya? Aku yakin kalian bukan peri karena tidak satupun dari kalian yang memiliki sayap.”

“Benar, Forst.” Givka menganggukkan kepala. “Wujud bangsa Virdian bagi manusia adalah pohon, rumput, dan bunga. Dengan kata lain, di dalam bahasa manusia, kami adalah tumbuhan.”

“Tumbuhan?” Forst mengernyit. Jadi seperti inilah wujud teman-temannya selama ini.

“Wujud kami yang seperti ini tidak dapat disaksikan oleh manusia. Ini adalah sosok yang dirasakan oleh hati kami. Sosok Zestorian pun sosok yang dilihat oleh hati kami.”

“Kalau begitu, karena aku ada di sini, aku jadi melihat dari sudut pandang kalian?”

Givka kembali menganggukkan kepalanya. Keningnya mengernyit seperti orang kesakitan. “Kerajaan kami merupakan sebuah hutan yang terletak di pinggir kota. Tapi... sebentar lagi tempat tinggal kami ini... rumah kami... akan hancur dan hilang, Forst.”
Mata Forst terbuka lebar-lebar. Ia meraih dan menggenggam tanga Givka dengan tangannya yang tidak terluka. “Tidak! Kalian tidak boleh mati... kalian tidak akan mati. Pasti ada jalan keluar dari masalah ini.”

“Benar.”

Tiba-tiba seseorang melangkah masuk ke kamar Forst. Saat Forst dan Givka menoleh, tampaklah Menteri Jughosia sedang berdiri di ambang pintu. Janggutnya menjuntai dari dagu hingga nyaris menyentuh lantai. Matanya nyaris tidak terlihat tertutup oleh alisnya yang tumbuh lebat.

“Tolong maafkan kelancangan saya, Putri Givka. Tadi saya hanya ingin memanggil Anda untuk menghadiri rapat dan saya tidak sengaja mendengar percakapan Anda berdua. Tapi menurut saya, Forst benar. Ada jalan keluar dari masalah ini.” Menteri Jughosia menundukkan kepala. Matanya menatap ke arah lantai istana. “Tentu saja dengan rencana Jenggala yang sudah disepakati oleh semuanya. Itu adalah senjata rahasia kita... harapan terakhir kita....”

“Tidak!” sanggah Givka cepat. Lalu ia melanjutkan dengan suara yang mulai pecah. “Bukankah... bukankah aku sudah pernah mengatakan untuk tidak menggunakan rencana itu? Jangan pernah bangsa kita menebar kebencian seperti itu.”

“Tunggu dulu,” Forst menyela dengan kening yang mengernyit heran. “Bisakah kalian menjelaskan kepadaku rencana apa sebenarnya yang kalian maksud?”

Putri Givka menunduk dengan wajah yang ditekuk. Sehingga Menteri Jughosia memutuskan untuk menjelaskan kepada Forst.  Sebelum memberi penjelasan kepada Forst, ia berdeham penuh wibawa.

“Bangsa kami memiliki kemampuan menimbun air sebanyak mungkin. Dan saat ini, di bawah kerajaan ini sudah tersimpan air dalam jumlah yang besar.” Menteri Jugoshia memberi jeda sebelum melanjutkan kalimatnya. “Dan kami bisa mengeluarkan air itu sekaligus sebanyak apapun yang kami inginkan. Bukit akan hancur dan air akan bercampur dengan tanah. Lalu bencana akan mengubur kota tempat tinggal Zestorian.”

Mata Forst terbelalak saat mendengar penjelasan itu. Sementara wajah Givka berubah kaku seperti batu. Kentara sekali bahwa gadis itu tidak akan berani untuk sekedar membayangkan rencana itu.

“Apa... apa itu adalah bencana tanah longsor?” tanya Forst sedikit terbata, mencoba memahami penjelasan dari Menteri Jughosia.

Menteri Jughosia menganggukkan kepala membenarkan pertanyaan Forst.

“Kalau begitu lakukan saja! Manusia memang jahat. Sesekali memang harus diberi peringatan agar mereka mengerti.” Forst berkata sedikit menggebu. Setitik kenangan pahit menjalar dalam pembuluh darahnya.

“Jangan berkata seperti itu, Forst!” Givka menyentak dengan nada tinggi. Ia sama sekali tidak menyangka Forst tega mengatakan hal seperti itu. “Tidak semua manusia itu jahat. Bagaimana dengan manusia baik yang selalu membantu bangsa kami? Aku sudah sering mendengar tentang manusia lelaki bernama Forst yang selalu menolong bangsa Viridian di mana pun dia berada.”

Forst menatap nanar ke arah Givka. “Itu semua karena tumbuhan adalah teman yang baik. Tidak pernah sedikitpun mereka menyakitiku seperti yang dilakukan manusia.”

“Ayah....” Kali ini Lacano yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar Forst. Mohon maaf jika aku tiba-tiba menentang ayah. Tapi sama seperti Putri Givka, aku juga tidak menyetujui rencana ini. Memang benar Zestorian musuh kita. Tapi, apa benar balas dendam seperti ini akan membawa bangsa kita ke masa depan yang lebih baik?”

Menteri Jughosia dan Givka yang ada di ruangan itu terkejut. Begitu juga Forst. Ia juga tidak menyangka bahwa Lacano adalah anak dari seorang Menteri Jughosia.

“Manusia yang berada di sini, yaitu Forst, sudah bertempur dengan gagah berani melawan Zestorian bersama kita. Tidak kalah dengan prajurit manapun. Semua prajurit mengakui keberanian mereka. Dan percaya bahwa mereka ada di pihak kita. Daripada melakukan balas dendam yang menyakitkan seperti itu, bukankah lebih baik meletakkan masa depan kita di tangan manusia sebagai kebanggaan bangsa Viridian?”

Menteri Jughosia baru saja membuka bibirnya hendak mengutarakan sanggahan. Tapi Givka sudah menyela lebih dulu dengan titahnya yang tidak terbantahkan lagi.

“Aku lebih memilih mati daripada harus membuat bangsa kita dibenci!”

***

Seperti yang dikatakan Givka kala itu, ia lebih memilih mati daripada harus menebar benci.

Maka di sinilah bangsa Viridian sekarang. Walaupun mereka semua sudah bersiap menjemput ajal, tapi mereka tetap saja berjuang demi negeri yang mereka cinta. Tetap menghunuskan pedang di tengah Zestorian yang terus beragresi hingga nyaris mencapai istana.

Pagi-pagi buta, seluruh pejuang Viridian  menggali parit di sekitar kerajaan. Semua itu mereka lakukan atas petunjuk dari Forst. Setidaknya cara tersebut bisa sedikit menghambat pergerakan makhluk berbadan besar itu. Setelah digali cukup dalam, parit-parit tersebut akan ditutupi dengan dedaunan kering.

Air mata Forst menggenang di pelupuk matanya, saat menyadari wujud asli dari Zestorian. Makhluk besar dengan lengan kuat itu adalah buldoser penghancur. Sementara Zestorian bertubuh kecil dengan cakar sekuat baja adalah manusia yang membawa gergaji msein. Bagaimana manusia bisa berbuat sekejam itu?

Sejak matahari terbit, seluruh prajurit bangsa Virdian terus bertempur mati-matian melawan Zestorian. Makhluk mengerikan itu terus mendesak paksa masuk dan mendekati Qugentia. Mereka merobohkan pilar-pilar istana tanpa ampun, merusak dengan cara yang menakutkan.

Padahal mata air Qugentia adalah sumber kehidupan bagi seluruh bangsa Viridian. Selama ini Forst memperhatikan bahwa bangsa Viridian tidak pernah makan dan minum. Mereka hanya menenggak secangkir air yang dipancarkan Qugentia.

Begitu segerombolan Zestorian mendekat ke taman bagian selatan, tiba-tiba Lacano berteriak, “Forst cepat kau pergi ke tempat Givka menunggu! Ajak juga semua teman-teman perimu!”

“Lacano....” Forst bergumam seolah tidak ingin pergi dari sana.

“Cepatlah! Kau menyusahkanku saja!”bentak Lacano. Tangannya masih sibuk mengayunkan pedang untuk melindungi diri.

Forst mundur perlahan tanpa bermaksud membalikkan tubuhnya. Sedikitpun ia tidak ingin berpisah dari teman-teman sejatinya. Ia ingin berada di sini, berjuang bersama mereka. Tapi masa depan bangsa Viridian yang dititipkan Givka kepadanya, membuat ia mau tidak mau harus terus bertahan hidup.

Begitu melihat Forst sudah menjauh, Lacano melirik melalui bahunya. “Terima aksih, Forst. Di luar dugaanku, sebagai manusia ternyata kau bisa dipercaya.”

Selva menggandeng tangan Forst menuju tempat Givka menunggu mereka. Saat Forst menoleh ke arah pertempuran yang berlangsung sengit itu, para menteri, jendral perang, dan para prajurit tersenyum memberi isyarat perpisahan kepadanya.

Di wajah mereka tidak ada lagi tatapan kebencian. Walaupun mereka pernah meragukan ketulisan hati Forst. Kini mereka membayarnya dengan melanjutkan hidup dengan penuh kebanggaan dan berperang sampai akhir. Mereka tersenyum kepada Forst dengan tatapan penuh percaya. Ia membalas dengan senyuman. Sambil merasakan sakit di dada, Forst dan teman-teman perinya memasuki pertahanan terakhir.

Di taman selatan, orang tua dan perempuan yang tidak memiliki kemampuan bertarung, juga anak-anak, mengelilingi Givka menunggu saat-saat terakhir mereka. Mata air Qugentia tampak berkilauan di belakang mereka.

“Forst, Selva, Saki, dan teman-teman semua. Aku ucapkan terima kasih atas bantuan kalian selama ini. Aku tidak akan pernah melupakan kalian semua.”

“Aku juga mewakili teman-temanku memohon maaf karena tidak bisa melindungi negeri ini seperti yang diharapkan,” ucap Selva penuh sesal.

“Ini bukan salah kalian. Aku yang memutuskan untuk menyerah. Lagipula cepat atau lambat kerajaan ini akan hancur di bawah pimpinan orang yang tidak mampu sepertiku.” Givka menundukkan kepalanya yang tampak terbebani air mata. “Sampaikan salamku pada Diff, Dash, dan semua teman-teman di Derion.”

“Aku akan berjuang untuk melindungi bangsa Viridian yang lain hingga masa depan,” Forst berujar penuh ketulusan.

“Ya, Forst.” Seulas senyum tersungging tipis di bibir Givka. “Aku percaya akan hal itu.”

Zestorian semakin mendekati mata air Qugentia. Makhluk mengerikan itu merusak pintu taman dengan cakar mereka yang tajam. Terdengar suara pengrusakan yang mengerikan.

“Aku harus mengeluarkan kalian dari sini,” gumam Givka dengan bibir gemetar.

“Givka, boleh aku tahu apa wujudmu dalam bentuk tumbuhan?” tanya Forst cepat sesaat sebelum Givka merapal mantra.

Gadis itu tersenyum tipis dengan kening yang berkerut. “Aku adalah ruh dari bunga Azalea, Forst.azalea berwarna merah muda.”

Setelah menjawab pertanyaan Forst, Givka berdiri semakin dekat dengan mata air Qugentia. Ia akan menjaga tempat itu hingga akhir. Bibir gadis itu bergerak sementara matanya terpejam.

Forst memandang Givka yang tampak cantik dan tenang. Ia ingin mengingat gadis ini di dalam hati. Gadis yang menjadi Putri terakhir dari salah satu kerajaan di dunia bangsa Viridian. Sekuat tenaga Forst berusaha menjulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Givka, tapi pandangannya berguncang karena Zestorian sudah berhasil mendekati mata air Qugentia.

“Jangan pernah membenci manusia, Forst!” Givka berteriak hingga suara lembutnya menggema di udara.

Detik itu juga, cahaya putih memenuhi pandangan Forst dan teman-temannya. Mereka semua saling bergandengan tangan saling menguatkan. Tanpa menunggu lama, tubuh mereka sudah  terhisap oleh lorong cahaya yang merupakan kekuatan terakhir Givka.

***

Suara derum mesin dan desingan gergaji mengusik telinga Forst. Perlahan lelaki itu membuka matanya dan merasakan cahaya matahari menyilaukan matanya. Begitu terbiasa dengan cahaya, Forst memperhatikan sekelilingnya.

Tidak jauh dari tempat ia tergeletak, sebuah hutan tampak sedang dihancurkan paksa. Buldoser yang besar menumbangkan pepohonan tanpa ampun. Hingga pohon-pohon yang menjulang itu jatuh tergeletak di tanah.

Forst merasa geram. Ingin rasanya ia berlari ke tempat proyek pembangunan sialan itu lalu memukul manusia-manusia kejam itu satu persatu. Tapi sesuatu yang ada dalam genggamannya, mengalihkan perhatiannya.

Setangkai bunga Azalea berwarna merah muda terkulai lemah di telapak tangan Forst. Mahkota bunga itu tampak layu dan sedikit menghitam. Tangkainya yang rapuh sudah berpisah jauh dari akarnya seolah dicabut paksa. Dan begitu menyadari bahwa bunga itu adalah Givka, air mata Forst tidak terbendung lagi.

Tiba-tiba sebuah ketukan ringan di bahunya, membuat Forst mengangkat wajahnya yang berlinang air mata. Saat kepalanya bergerak ke kanan, ia melihat Selva dan teman-teman perinya sedang melayang di udara dalam ukuran sebesar jari telunjuk.

“Forst, bukankah itu salah satu... kenalanmu?” Selva menunjuk seorang gadis dengan telunjuknya yang mungil. Nada bicaranya terdengar sedikit pahit.

Pandangan Forst mengikuti arah yang ditunjuk Selva. Lalu ia memicingkan matanya memperhatikan dua orang yang tengah berdiri berhadapan di samping sebuah mobil. Untuk lebih meyakinkan pandangannya, Forst mengendap-endap lebih dekat lalu bersembunyi di balik sebuah truk pengangkut pasir.

“Aku tidak menyangka sebentar lagi impian kita akan tercapai.”

Forst mendengar suara seorang gadis yang berbicara.

“Ya. Setelah semua ini, kita hentikan penelitian tentang cairan sialan ini dan kita mulai lagi hidup kita dari awal.”

Lelaki di hadapan gadis itu berucap terdengar sedikit geram. Dan begitu Forst bisa melihat jelas kedua orang itu, matanya terbuka lebar. Lelaki itu adalah Profesor. Dan gadis di hadapannya adalah Karen.

Mata Forst berbinar bahagia. Rasanya sudah berabad-abad lamanya ia tidak melihat gadis itu. Sesaat Forst berharap bunga Azalea di tangannya masih mekar dengan indahnya. Tapi ia tidak ingin memikirkan kesedihan itu. Lebih baik  ia segera memeluk Karen penuh rasa rindu.

Baru saja Forst hendak melangkah, tapi tubuhnya mematung seketika. Profesor itu membisikan kata cinta lalu membungkukkan tubuhnya dan mengecup bibir Karen. Bukannya menolak, gadis itu malah menjawab ciuman itu seolah mereka sudah terbiasa melakukannya.

Tapi kata-kata selanjutnya yang terlontar dari bibir Profesor membuat tubuh Forst yang mematung hancur seketika.

“Kalau begitu, tunggulah di sini bersama cairan kelabu penghancur tumbuhan itu. Aku akan menemui pimpinan proyek untuk menjelaskan bahwa ini adalah persediaan terakhir kita.”

Seminggu setelah berhasil menemukan cairan pelindung tumbuhan, Profesor mengadakan konferensi pers untuk mengumumkan penemuannya tersebut. Respon yang beragam mampir silih berganti dari segala arah dan jajaran masyarakat dunia. Salah satunya adalah dari perusahaan konstruksi. Mereka justru meminta Profesor tersebut untuk membuat cairan penghancur tumbuhan. Cairan itu akan berguna bagi mereka saat ingin menghancurkan hutan dan membuka lahan bagi bangunan.


Pada awalnya, Profesor menolak saran tersebut. Karena selama ini bukan itu yang menjadi tujuan penelitiannya. Tapi karena tergiur dengan bayaran yang fantastis, akhirnya ia menyetujui permintaan tersebut. Apalagi ia memang terlilit hutang untuk membiayai penelitiannya selama ini. Hanya saja ia memang berencana ingin menjadikan penemuan itu sebagai teknologi temporer. Bahkan bahan yang diperlukan untuk membuat cairan itu tidak pernah ditulis di manapun kecuali dalam ingatan asisten sekaligus kekasihnya.

Segera setelah mendapat semua uang itu, Profesor berencana untuk melupakan semua penelitiannya dan memulai hidup barunya bersama Karen yang menajdi asistennya selama ini. Dan ternyata gadis itu juga memiliki perasaan yang sama terhadap dirinya. Sehingga hidupnya terasa lengkap.

Suatu hari, Profesor itu ingin bertemu dengan Forst. Ia ingin mengucapkan terima kasih sekaligus meminta maaf kepada lelaki itu. bagaimanapun kehadiran Forst benar-benar mengubah hidupnya yang kelabu.

Sekali lagi, Profesor menatap Karen penuh cinta lalu mendaratkan kecupan singkat di kening gadis itu. “Tunggulah sebentar lagi.”
Karen menganggukkan kepalanya. Bibirnya mengurai seulas senyuman. “Tentu saja aku akan menunggu.”

Selama beberapa detik, Karen masih terpaku di samping mobil. Matanya tidak lepas dari sosok Profesor yang memiliki rambut panjang itu.

Mata Forst terbelalak nyaris melompat keluar saat mendengar hal itu. Ini semua benar-benar di luar dugaannya. Jadi... cairan kelabu yang menyerang bangsa Viridian saat itu adalah... ulah Karen dan Profesor itu? Ternyata mereka sama saja. Mereka tega menyakiti sesama makhluk hidup di bumi. Padahal selama ini Forst menganggap mereka sebagai teman manusia pertamanya.

Tapi ternyata ia salah besar.

Darah Forst mendidih seketika. Giginya bergemelutuk karena geram. Tanpa mengalihkan pandangannya dari Karen yang mulai masuk ke dalam mobil, ia bertanya pada teman mungil yang terbang di dekatnya, “Saki, apakah kau bisa merapalkan mantra penghancur dan penghilang ingatan?”

TAMAT



 Kisah pertemuan pertama Forst dan Selva bisa dibaca dalam Waldeinsamkeit. ^^

Kamis, 16 April 2015

Once Upon A Time In The Forest Part 6




Tidak ada yang bisa dilakukan Forst untuk menghentikan air mata seorang gadis. Ia hanya bisa bersabar dan menunggu hingga air mata itu reda dengan sendirinya. Dan begitu Givka berhenti menangis, ia melepaskan pelukannya. Lantas merasa malu atas apa yang dilakukannya. Forst cepat-cepat mengucap maaf diikuti tawa kecil Givka yang malah berujar terima kasih.

Forst melangkah lebar menuju ke kamarnya dengan wajah terbakar. Ia langsung pamit begitu saja dengan alasan ingin beristirahat dan mempersiapkan pertarungan esok hari. Menurut info yang didengar Forst, Zestorian adalah makhluk yang tidak mudah menyerah. Mereka pasti akan kembali lagi besok untuk melanjutkan penyerangan.

Saat berbelok di koridor menuju kamar, mata Forst menangkap sosok Lacano. Bergegas Forst meneriakkan nama lelaki itu untuk menghentikan langkahnya. Tapi lelaki itu seperti tuli. Ia hanya terus berjalan tanpa menoleh sedikitpun.

Dengan berlari kecil, Forst menghampirinya untuk mengucapkan terima kasih atas kerja sama hari ini. Tapi, entah mengapa tatapan mata cokelat Lucano  tampak mengerikan. Tidak ada keramahan. Tajam dan menusuk. Mengingatkan Forst pada cara ibunya menatapnya dulu. Begitu enuh kebencian. Tapi apa alasan Lucano untuk membenci Forst?

“Jangan munafik,” kata Lucano dengan ketus sebelum Forst sempat mengucapkan apa-apa. “Hanya karena Givka ramah padamu saja sudah membuatmu angkuh. Tadi aku mau bekerja sama denganmu juga karena permintaannya.”

Kening Forst mengernyit. Tapi sesaat kemudian ia sudah bisa kembali menguasai diri. Seulas senyum hadir di wajahnya. Bukankah seharusnya aku sudah terbiasa dengan tatapan penuh kebencian?

 “Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih atas kerja sama hari ini.” Forst mengulurkan tangan bersahabat.

Tapi Lacano hanya memandang sekilas uluran tangan itu. Kemudian ia memalingkan wajah seperti baru saja melihat hal yang menjijikan. Rahangnya yang tegas tampak menonjol seperti menahan amarah.

“Meminta bantuan kepada manusia adalah keputusan paling bodoh yang pernah diambil Putri Givka.” Lacano berlalu dengan nada bicara yang mencemooh. “Benar-benar omong kosong.”

***

Forst berbaring di tempat tidurnya yang nyaman. Matanya menatap nyalang ke langit-langit kamar yang dipenuhi daun menjalar. Cahaya bulan mengintip perlahan melalui celah rangkaian ranting yang menyusun dinding.

Sudah banyak pertarungan yang dijalani Forst demi bangsa Viridian. Tapi ia tetap saja merasa ada yang kurang. Ada sesuatu yang tersembunyi dan harus diungkap. Bangsa Viridian harus  menang telak dan mengusir bangsa Zestorian selamanya.

Salah satu pertanyaan yang mengusik adalah mengapa Zestorian hanya menyerang saat terang?

Forst memejamkan matanya. Kejadian-kejadian di medan perang berputar cepat dalam benaknya. Keningnya mengernyit saat teringat dengan prajurit Viridian yang menjemput ajal. Memang tidak ada darah yang mengalir. Mereka akan langsung tumbang dan jasadnya hilang, melebur dengan tanah. Setiap hari Forst selalu menyaksikan gugurnya para prajurit. Sesekali perasaan takut membayangi hatinya.

Setiap hari Forst merasa semakin dekat dengan kematian. Bagaimana jika ia mati di sini? Itu berarti ia tidak akan dapat bertemu kembali dengan gadis teman masa kecilnya... dengan Karen. Ia bahkan belum sempat membalas kebaikan gadis itu kepadanya. Juga kepada Profesor yang membantunya menemukan cairan pelindung untuk teman-temannya.

Tiba–tiba Forst teringat pada pemberian gadis itu saat terakhir mereka bertemu. Penemuan Profesor yang bisa membuat penggunanya terbang di udara selama beberapa menit. Bergegas Forst membuka tasnya dan mengambil benda berbentuk tabung sepanjang sepuluh sentimeter itu. Lalu, ia menempelkan benda itu di punggungnya dan secara otomatis benda itu tersemat di antara tulang belikatnya.

Forst tersentak. Secara mendadak tabung itu mengeluarkan seperti bunyi letupan perlahan. Dan sepasang sayap transparan buatan melompat muncul di punggung Forst. Sayap itu mirip seperti sayap para peri Derion.

Mata Forst terbelalak. Ia memutar-mutar tubuhnya di hadapan cermin untuk melihat sayap itu. Sesekali ia mencoba menggerakkan sayap itu dengan pikirannya dan ternyata itu berhasil. Hanya saja ia merasa tidak mungkin mencoba terbang begitu saja tanpa ada pengarahan.

Hebat! Forst berseru dalam hati. Matanya masih menatap takjub pada bayangan di cermin. Sayap itu tampak bergerak naik dan turun secara perlahan di balik punggungnya.

Ini akan berguna saat pertarungan. Bukankah para peri Derion lebih sedikit yang terluka karena mereka bisa menghindar ke udara? Para peri juga dengan mudah bisa melakukan serangan dari udara. Forst hanya tinggal mempelajari cara untuk mengendalikan benda ini. Serta berapa lama benda itu bisa bertahan di udara.

Dan Forst tahu siapa guru yang sesuai untuk itu.

***

“Selva?”

Forst bergumam perlahan saat melihat sosok yang dikenalnya itu. Gadis itu tampak sedang berdiri di tepi koridor yang terbuka langsung ke arah taman istana. Tubuh Selva bersandar pada pilar kokoh istana. Sementara kepalanya menengadah ke arah bulan di langit. Dan matanya meneteskan bulir bening ke pipinya.

Selva... menangis? Lagi? Forst mengernyitkan keningnya. Ini kedua kalinya ia melihat gadis itu dalam keadaan seperti ini.

Beberapa saat yang lalu, Forst sedang berjalan untuk menemui calon guru terbangnya. Tapi di tengah perjalanan, langkahnya terhenti melihat Selva yang kembali menangis tanpa suara. Dan entah mengapa gadis itu selalu tampak menyembunyikan sesuatu di balik air matanya.

Selama ini sikap Selva memang selalu ketus kepada Forst. Tapi saat melihat gadis itu menangis seperti ini membuat hati Forst terenyuh. Seandainya diizinkan, ia ingin menghapus air mata Selva. Lagipula, bagaimanapun gadis itu adalah teman peri pertamanya.

Forst menahan napas sambil membulatkan tekad. Saat ia menghela napas, dengan mantap langkahnya melebar menuju Selva. Lalu, tanpa ragu ia mengetuk perlahan bahu Selva.

Selva tersentak. Ia memutar kepalanya dengan terkejut. Pemandangan mata yang melebar dan pipi yang basah karena air mata terpampang di hadapan Forst. Iris mata yang hijau itu tampak menggelap karena kesedihan.

Begitu menyadari siapa yang datang, Selva bergegas memalingkan wajahnya. Ia juga cepat-cepat menghapus air matanya. Dan sekarang sepasang mata itu menatap Forst dengan garang. Seolah tidak pernah ada kesedihan di sana sebelumnya.

“Forst?! Apa yang kau lakukan di sini?!” tanya Selva setengah membentak.

Selva berkata dengan nada ketus seperti biasanya. Tapi itu sama sekali tidak membuat Forst merasa tersinggung. Ia malah merasa kasihan kepada Selva. Ternyata di balik sikap ketusnya, gadis ini menyembunyikan kesedihan yang mendalam.

“Kenapa kau menangis, Selva?” tanya Forst selembut mungkin. Tangannya terulur, mencoba mengusap jejak air mata di pipi Selva.

Tanpa dinyana, Selva malah memalingkan wajahnya. Ia menghindari sentuhan tangan Forst. Dan tampak jelas bahwa lelaki itu terkejut atas penolakan mendadak itu.

“Kau bisa menceritakan apapun padaku, kau tahu?” Forst menarik kembali tangannya. “Bukankah kita teman?”

Melalui ekor matanya, Selva melihat ekspresi kesedihan atau kasihan entahlah, di mata Forst. Dan wajah itu membuat ingatan menyedihkan lainnya memenuhi benak Selva. Ia menggigit bibirnya menahan air mata. Tidak. Ia tidak boleh menangis di hadapan siapapun. Terlebih itu Forst.

“Selva?” Forst berbisik menuntut jawaban. Ia meletakkan tangannya di bahu Selva.

Selva menepis tangan Forst dengan kasar. “Ini sama sekali bukan urusanmu!” Ia membentak sambil melangkah cepat meninggalkan Forst.

***

“Ada apa, Forst? Kata teman-teman, kau mencariku?” tanya Saki sambil berjalan ke arah Forst yang sedang menunggunya.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Tapi Forst tetap bergeming. Lelaki itu menempelkan punggungnya pada pilar istana. Keningnya berkerut seperti sedang sibuk tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Gadis dengan rambut ungu itu mengerucutkan bibirnya dengan bingung. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk menyentuh ringan lengan Forst. Dan tanpa diduga, hal itu ternyata cukup membuat lelaki itu terkejut nyaris melompat.

“Sa, saki?!” Forst nyaris memekik dengan suara tinggi. “Sejak kapan kau ada di situ?”

Saki menghela napas geli. “Belum lama... mungkin sekitar tujuh jam yang lalu.”

“B-benarkah?” Ekspresi wajah Forst berubah tidak nyaman. Tapi sedetik kemudian ia menyadari bahwa Saki sedang berbohong. “Tidak mungkin! Kau pasti bercanda!”

Alih-alih bertanya atau meminta maaf, Saki malah terbahak tanpa sungkan di hadapan Forst. “Salahmu sendiri melamun hingga tidak mendengar aku datang. Sebenarnya ada apa, Forst?”

“Aku ingin meminta bantuanmu, Saki....” Forst mengutarakan maksudnya dengan suara perlahan agar tidak didengar orang lain.

Saki menelengkan kepalanya ke satu sisi. Keningnya mengernyit. “Bantuan apa?”

Kepala Forst celingukkan ke kanan dan ke kir. Begitu memastikan tidak ada orang yang mungkin mendengar mereka, ia berbisik, “Untuk itu bisakah kita mencari tempat yang lebih sepi?”

Saki tertegun. Tapi sebelum sempat ia bertanya lebih jauh, Forst sudah menggenggam tangannya dan menariknya menjauh dari tempat itu. Dengan langkah terseok-seok ia mengikuti langkah lebar Forst.

 Ternyata Forst mengajak Saki keluar dari area kerajaan. Dan mereka semakin dekat dengan hutan yang mengelilingi istana tersebut. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Saki segera menanyakan apa maksud dari sikap aneh Forst malam ini.

“Saki, aku mohon padamu untuk mengajariku untuk... terbang,” ujar Forst lantas tersipu.

“Apa?”

“Aku ingin kau mengajariku terbang.”

Saki tersenyum masam. “Itu... tidak mungkin, Forst.”

“Tunggu....” Forst mengangkat telapak tangannya di udara. Lalu ia menempelkan benda berbentuk tabung itu ke punggungnya. Sedetik kemudian, sepasang sayap peri melompat keluar dari benda itu. “Lihat? Aku punya sayap dan tolong ajari aku terbang.”

Mata Saki terbelalak takjub. Mulutnya menganga kagum. Ia bergerak ke belakang punggung Forst dan memperhatikan saksama sayap buatan itu. “Ini sangat hebat, Forst! Dari mana kau mendapatkan benda seperti ini?”

Pipi Forst merona saat wajah Karen terbayang di benaknya. “Dari seorang... te-teman.”

Saki kembali berdecak kagum. “Temanmu benar-benar hebat, Forst. Apa manusia memang suka membuat hal seperti ini?”

“Ya. Manusia suka membuat benda-benda yang praktis yang akan memudahkan kehidupannya. Biasanya, benda-benda tersebut terinspirasi dari alam.”

“Lalu... apakah kau benar-benar bisa terbang dengan benda ini?”

“Seharusnya bisa. Walaupun hanya untuk beberapa menit.” Forst menggedikkan bahunya. “Itulah mengapa aku memintamu untuk mengajariku terbang. Supaya aku tahu benda ini berhasil atau tidak.”

“Tapi....” Saki kembali tersenyum masam seperti sebelumnya. “Itu tidak mungkin, Forst.”

“Kenapa?”

“Karena aku sendiri tidak bisa terbang,” jawab Saki. Raut wajah yang biasanya ceria kini tampak memunculkan raut getir.

Forst tercengang. Ia memilih diam dan menunggu Saki melanjutkan ceritanya.

“Aku memiliki sepasang sayap yang cacat, Forst.” Wajah Saki tertunduk rikuh. Seolah ia sedang mengakui bahwa ia adalah seorang pencuri. Sepasang sayapnya terkulai lemah. “Bagi keluarga dan rasku, itu adalah sesuatu yang memalukan sehingga aku dikucilkan. Itulah kenapa aku memilih menjadi seorang pembangkang dan kabur ke hutan terlarang.”

“Oh, maafkan aku.... Aku sama sekali tidak tahu.” Ekspresi Forst tampak tidak nyaman. Ia takut menyinggung perasaan Saki. Karena ia sendiri memahami bagaimana rasanya diperlakukan seperti itu.

“Tidak apa, Forst.” Saki kembali dengan senyuman menawannya. “Aku malah lebih bahagia sekarang. Bisa berkumpul dengan keluarga yang sesungguhnya. Denganmu, Diff, Dash, Selva dan teman-teman yang lainnya. Walaupun aku tidak pernah ikut bertarung dan memilih menjaga barisan belakang untuk merawat teman yang terluka.”

Forst masih terdiam dan bingung untuk berkata-kata.

“Jangan berwajah seperti itu, Forst!” seru Saki dengan ceria. Ia menepuk hangat bahu lelaki itu. “Walaupun aku tidak bisa terbang, tapi aku cukup memahami beberapa teknik dasarnya. Bagaimana, muridku?”

Saki terkekeh perlahan saat menyebut kata ‘muridku’. Seolah tidak ada kesedihan yang sebelumnya bergelayut di wajah gadis itu. Mau tak mau, Forst jadi ikut terkekeh tanpa dipaksa.

“Berbaliklah, Forst.” Saki memberi perintah. Begitu Forst memunggunginya, ia mengulurkan kedua tangannya.

Forst bisa merasakan Saki menyentuh bahunya lalu bergerak perlahan dan berhenti di dekat pangkal sayapnya.

“Mulailah dengan menggerakkan tulang dan otot di bagian itu,” ucap Saki. Walaupun sebenarnya ia merasa sedikit ragu Forst bisa melakukannya. Sementara ia sendiri hanya membaca itu dari buku berulang lagi tanpa sekalipun berhasil melakukannya.

Forst memusatkan konsentrasinya pada bagian yang disentuh Saki. Matanya terpejam sambil membayangkan dirinya terbang tinggi dan menghancurkan Zestorian. Tidak lama kemudian, otot bahunya mulai berkedut perlahan.  

“Bagus, Forst. Pertahankan. Terus gerakan otot dan tulangmu,” ujar Saki dari balik punggung Forst.

Awalnya kedua sayap buatan itu bergerak kaku layaknya mesin yang baru dinyalakan. Tapi sedetik kemudian, perlahan gerakannya mulai tersinkronisasi dan semua sayapnya mulai bergerak seirama.

Mata Saki terbelalak takjub. Manusia benar-benar makhluk yang hebat. “Sedikit lagi. Gerakkan lebih kuat.”

Seperti bisa mendengar perintah, sayap itu mulai bergetar hingga udara di sekitarnya mendengung.

“Hebat, Forst! Kau berhasil!” Saki bersorak riang. “Tapi menurutku, lebih baik kau jangan terbang dulu. Lebih baik kita meminta teman-teman yang lain untuk mengawasi karena aku tidak bisa menolongmu jika terjadi apa-apa saat kau

Kata-kata Saki terhenti diikuti suara teriakan karena terkejut. Ia menutup mata dan melindungi wajahnya dengan kedua lengannya saat angin kencang menerpa sekitarnya. Dan begitu membuka mata, ia melihat Forst melesat meninggalkan tanah. Entah karena suara Saki tertutup bunyi dengungan sayap Forst atau karena lelaki itu memang kelewat senang, hingga ia tidak mendengarkan peringatan Saki.

“Forst? Forst?!” Saki memekik panik saat melihat tubuh Forst berputar-putar tidak tentu arah di langit malam. Inilah yang ia takutkan! Jika Forst belum bisa mengendalikan sayapnya, maka hal seperti ini yang akan terjadi. Sementara ia sendiri tidak bisa terbang untuk menarik lelaki itu turun.

“Saki! Bagaimana cara... mengendalikan kecepatan... terbang?” Forst berteriak. Suaranya menggema di langit malam. Tubuhnya terus bergerak-gerak tanpa kendali. Sehingga ia tampak seperti balon penuh udara yang dilepaskan begitu saja.

“Coba bayangkan dirimu adalah peri! Atau coba rentangkan tanganmu!” Saki menempelkan kedua tangannya di samping pipinya untuk menggunakannya sebagai pengeras suara. Ia meneriakkan segala sesuatu yang mungkin bisa membantu Forst mengendalikan kemampuan terbangnya.

Benar saja. Setelah bergerak tanpa kendali selama lima menit, Forst akhirnya bisa mengendalikan sayapnya dan ia mulai meluncur perlahan di udara. Ia melesat di atas hutan. Daun-daun tampak hitam di bawah sana. Ia merasa ini begitu menyenangkan. Jika bisa kembali ke dunia manusia, ia harus berterima kasih kepada Profesor dan tentu saja kepada Karen.

Forst terbang rendah untuk menyapa Saki. Gadis itu tersenyum seolah merasakan kebahagiaan Forsy. Tapi saat baru saja ia kembali meninggi, tiba-tiba saja gerakan Forst terhenti. Sedetik kemudian ia menyadari bahwa sayapnya sudah hilang dari punggungnya.

Gawat! Forst berteriak kencang saat merasakan tubuhnya terjun bebas ke tanah. Lalu diikuti suara gesekan daun dan patahan ranting, lelaki itu mendarat di atas tanah dengan suara berdebam.

“Forst, kau baik-baik saja?” Saki berlari kecil menghampiri Forst dengan wajah khawatir.

Forst mengusap pantatnya yang terasa panas. “Aku baik-baik saja, Saki. Terima kasih.” Entah mengapa Forst merasa bersyukur ia sedang bersama Saki saat ini. Jika bersama Selva, gadis itu pasti menertawakannya habisa-habisan.

Tunggu mengapa ia tiba-tiba memikirkan gadis itu?

“Saki, apa kau tahu kenapa Selva sering menangis diam-diam?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Forst. Saki sedang membantunya untuk berdiri kembali,

“Selva....” gumam Saki. “Dia berasal dari ras Prasion yang ahli pedang dan menempa pedang. Tapi Selva sama sekali tidak pernah bisa membuat pedang yang bagus. Ia hanya bisa membuat busur dan anak panah yang kuat. Kedua orang tuanya mengurungnya di rumah karena menganggapnya sebagai aib. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi diam-diam ke hutan terlarang.”

Forst tertegun. Lalu wajahnya berubah masam saat teringat kata-kata sindiriannya kepada Selva. Pantas saja gadis itu selalu saja diletakkan sebagai pelajar pedang, sementara peri ras Prasion yang lain menjadi pengajar pedang. Tiba-tiba Forst merasa bersalah sudah berpikiran buruk terhadap Selva.

“Semua memiliki ceritanya masing-masing, Forst.”

***

Perperangan hari ini terasa lebih berat dari sebelumnya. Selain karena jumlah prajurit yang terus berkurang, serangan dari Zestorian sendiri semakin membabi buta. Mereka menyerang lebih pagi dari biasanya. Sesuatu semacam bola-bola api ditembakan ke hutan bagian barat dan meratakan daerah itu dengan tanah.

Forst menjauh sejenak dengan napas terengah. Ia memasangkan tabung sayapnya ke punggung. Kali ini, ia akan menyerang monster itu tepat di bagian wajah. Begitu sayapnya merentang, Forst melesat ke udara. Ia menghunuskan pedangnya tepat ke mata menyala monster itu.

Seketika monster itu meraung kesakitan lalu menggelepar. Merasa tidak puas, Forst melesat dan menyerang monster lainnya. Saat melihat hal itu, teman-temannya yang lain juga ikut membantu Forst menyerang. Forst mendesah lega saat serangan itu sudah berhenti. Bahkan karena terlalu senang, ia melupakan fakta bahwa sayapnya memiliki waktu terbatas. Hingga ia merasakan tubuhnya kembali meluncur bebas ke tanah.

Beberapa sentimeter sebelum tubuhnya menyentuh tanah, Forst memejamkan matanya. Tapi lama ia menunggu, tapi tidak ada hantaman kuat di sekitarnya. Ia malah merasa kembali melayang di udara sebentar lalu mendarat aman di atas tanah.

Saat perlahan membuka mata, ia mendapati Selva ada di dekatnya.

“Selva?” Forst berseru tidak percaya. “Terima kasih atas bantu

Teriakan serentak menginterupsi kata-kata Forst. Saat ia menolehkan kepalanya, pemandangan yang mengerikan terpampang di hadapannya. Bayang-bayang hitam di antara pepohonan itu meraung keras. Monster itu bangkit lagi! Dan yang lebih buruknya, tiba-tiba saja monster itu menyiramkan cairan berwarna kelabu ke arah bangsa Viridian.

Dalam sekejap, beberapa prajurit tewasa seketika dan banyak yang terluka. Dengan cepat Forst menyiramkan cairan perisainya ke udara. Sebuah perisai bersinar keunguan dan menghalau cairan itu. Pohon-pohon yang terkena cairan itu juga tumbang seketika.

“Cepat mundur! Kembali ke istana!” Forst berteriak lantang. Sehingga semua prajurit bahu membahu kembali ke istana. Para peri membawa beberapa yang terluka dengan cara terbang, sementara yang lainnya memapah temannya yang terluka.

Tiba-tiba Forst merasa perisainya semakin melebar dan kuat. Saat ia menoleh ke kanan, ia melihat Selva sedang merapal mantra dan membentuk perisai di udara. Mirip seperti milik Forst, hanya sedikit lebih kecil. Tentu saja karena itu bukan keahliannya.

Selva tersenyum. “Saki yang mengajarkanku mantra ini.”

Forst mengangguk mantap. Matanya menyiratkan rasa terima kasih. Ia harus bisa melindungi negeri ini. Demi Diff dan Dash. Demi Givka. Demi Selva dan Saki. Demi teman-temannya. Demi Karen. Dan demi dirinya sendiri.

Begitu mendapat jarak yang cukup, Forst dan Selva melepas perisai mereka secara bersamaan. Dan dengan sigap, Selva mengangkat tubuh Forst ke udara. Mereka terbang kembali ke istana untuk mengobati luka dan mengembalikan tenaga mereka.

Baru saja Forst keluar dari ruang perawatan istana, tiba-tiba ia mendengar nada mencemooh dari mulut Lacano. “Aku mengakui kemampuan bertarung amatirmu. Tapi aku tidak akan pernah mengakuimu sebagai pahlawan.”

“Apa maksudmu?” tanya Forst bingung. Satu alisnya terangkat.

“Sikap sok heroikmu yang melindungi bangsa Viridian dengan mempertaruhkan nyawa.” Lacano melipat tangan di depan dada dengan sikap arogan. “Bagaimanapun kau adalah manusia.”

“Lalu kenapa jika aku manusia?

“Manusia adalah musuh.” Mata cokelat Lacano tampak membara. “Aku tidak bisa mempercayaimu sepenuhnya.”

“Katakan saja apa masalahmu!” sahut Forst cepat. “Dan kita segera menyelesaikan ini sekarang juga. Bagaimana kita bisa bekerja sama mengalahkan Zestorian jika tidak bisa saling mempercayai?”

Lacano mendengus sebal. “Jangan merasa tinggi hati seperti itu... seperti manusia saja.”

Telinga Forst berkedut marah. Entah mengapa Lacano selalu mengucapkan kata ‘manusia’ dengan nada bicara seperti sedang melihat sesuatu yang menjijikan. Seperti apa sebenarnya manusia di mata lelaki ini?

Tanpa mereka sadari, banyak pasang mata sedang menonton perdebatan antara dua pemuda ini. Bahkan berita itu sepertinya sudah tersiar sampai ke telinga Givka. Benar saja. Beberapa detik kemudian, terdengar derap langkah Givka mendekat ke arah Forst dan Lacano. Gadis itu berteriak khawatir atas  perdebatan sengit yang terjadi di antara kedua temannya. Bahkan kehadiran Givka pun tidak mampu meredam bara di antara mereka berdua.

Hingga tiba-tiba Lacano mengucapkan hal yang mengejutkan.

 “Kau adalah bagian dari Zestorian.”

Apa maksudnya?

Mata Forst terbelalak tidak percaya. Heran. Bingung. Sekuat tenaga ia berusaha mencerna kata-kata yang baru saja didengarnya. Bukankah Givka pernah mengatakan bahwa Viridian memerlukan bantuan dari manusia? Tapi sekarang Lacano mengatakan bahwa Forst adalah bagian dari Zestorian.

Apa maksudnya? Kepala Forst berputar cepat ke arah Givka. Gadis itu tampak gemetar dengan bola mata yang bergerak gelisah.

“Apa kau bisa memberi penjelasan, Tuan Putri?” tanya Forst.

Givka bergumam perlahan. Kepalanya menunduk lemah lalu mengangguk dengan enggan. “Zestorian dalam bahasa kami berarti... manusia.”






 Kisah pertemuan pertama Forst dan Selva bisa dibaca dalam Waldeinsamkeit. ^^