Kamis, 19 Mei 2016

Purple Maple (Dua)



“HAI, Kal.”

Baru saja Kalila mendesah lega setelah terbebas dari kuliahnya siang ini. Dan sekarang telinganya sudah menangkap sapaan yang ingin dihindarinya. Seorang lelaki berdiri di depan pintu kelas yang akan ditinggalkan Kalila, seolah memang sengaja menunggunya. Atau mungkin mengadangnya.

“Oh, hai, Elliot.” Kalila balas menyapa. Seperti biasa, demi menjaga sopan-santunnya.

“Aku senang mendengarmu menyebut namaku,” ucap Elliot dan membuktikannya dengan seulas senyum bahagia di wajahnya. “Mau makan siang bersama?”

“Maaf, tapi aku sudah membawa bekalku sendiri,” tolak Kalila sehalus mungkin.

“Oh, begitukah?” Kening Elliot berkerut kecewa. “Mungkin lain kali?”

Kalila mengangguk sambil lalu. “Kalau begitu, aku pergi dulu, ya.”

Cepat-cepat Kalila memacu langkahnya menjauh. Tidak sedikit pun ia merepotkan diri untuk menoleh barang sejenak ke arah Elliot. Kakinya bergerak cepat menuju taman yang terletak di bagian belakang gedung fakultas. Beruntung, dengan mudah ia menemukan tempat duduk kosong di bawah pohon yang rindang.


Kalila langsung menghempaskan pantatnya di tengah kursi panjang yang muat diduduki tiga orang itu. Memang sengaja agar tidak ada orang asing yang duduk di sampingnya. Ia ingin menghabiskan istirahat siangnya di sini. Jadi, ia harus membuat tempat ini senyaman mungkin untuk dirinya.

Punggung Kalila mendapatkan kenyamanannya saat bersandar ke punggung kursi. Duduk tegak selama kuliah memang melelahkan. Ia memindahkan tas ke atas pangkuannya lalu mengeluarkan kotak berisi sandwich tuna sebagai pahlawan makan siangnya.
                                                
Sengaja, Kalila menghindari kantin sampai waktu yang tidak ditentukan setelah insiden kopi tempo hari. Bukan karena takut atau masih merasa malu. Melainkan ia ingin menghindari kemungkinan untuk bertemu dengan gadis loudspeaker yang mungkin saja masih menyimpan dendam padanya. Ia malas berurusan dengan orang absurd semacam itu. Karena ia sendiri juga tidak bisa menjamin bahwa di kesempatan selanjutnya gadis itu tidak akan berakhir dengan kepala botak permanen.

Kalila terkikik sendiri membayangkan imajinasi sadisnya. Bahkan ia tidak menyadari saat seseorang datang dan menghimpitnya dalam pelukan. Membuat gigitan terakhir sandwich tunanya nyaris membunuhnya seketika.

“Apa kabar, Kal?” sapa mesin pemeluk itu dengan nada ceria.

Sementara Kalila masih sibuk menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak. Konsenterasinya mengumpul perlahan bersamaan dengan suara batuknya yang terputus-putus. “E-rin? Erin?”

Tingtong! Tebakanmu tepat sekali!” seru Erin penuh keceriaan, didukung dengan penampilannya yang serba jingga hari ini. Terutama kukunya yang tampak segar seperti sekumpulan jeruk mandarin.

“Astaga, kau membuatku kaget,” keluh Kalila sambil mengubek-ubek isi tasnya, mencari botol minuman yang mungkin ada di negeri antah berantah.

“Kau sedang apa, Kal?”

Kalila hanya mengangkat buku diktat yang tadi dibacanya. Mengisyaratkan kegiatan yang dilakukannya sebelum akhirnya Erin datang dan membuatnya tersedak.

“Belajar?” Erin mengonfirmasi maksud Kalila. Tetapi entah mengapa nada bicaranya terdengar heran. “Ah, andai saja kita berada di jurusan yang sama. Pasti kita bisa belajar bertiga di taman. Seperti ini.”

Kalila yakin benar bahwa ‘kita’ yang dimaksud Erin adalah mereka berdua ditambah Valeria. Tetapi ia malah menghela napas lega karena merasa beruntung tidak berada satu jurusan dengan dua orang itu. Dan helaan napasnya semakin berat begitu teringat bahwa botol minumannya tertinggal di atas rak sepatunya.

“Omong-omong, kenapa kau mengenakan topi, Kal? Seperti buronan saja. Untung tadi aku masih bisa mengenalimu,” komentar Erin masih saja tidak menyadari kesalahannya yang nyaris mengakhiri napas Kalila. Gadis itu malah mengulurkan tangan, berniat melepas topi dari kepala Kalila.

“Jangan!” cegah Kalila cepat sambil memegangi topinya. Terlalu cepat hingga terdengar seperti sentakan yang mengejutkan Erin dan juga dirinya sendiri. Ia berdeham dan merendahkan nada bicaranya. “Maksudku, hari ini sangat terik. Jadi....”

“Oke, oke. Aku mengerti, Kal,” potong Erin sambil melebarkan senyum. “Tapi lain kali kau bisa mencoba memakai sunblock.”

Kalila mengangguk samar. Diam-diam, ia merasa lega Erin tidak merebut topinya seperti yang dilakukan Valeria tempo hari.

Pandangan Kalila berubah kecokelatan secara tiba-tiba. Ia mengerjapkan mata beberapa kali. Sebelum akhirnya menyadari ada gelas kertas yang menguarkan aroma kopi menghalangi penglihatannya.

“Ini untukmu, Kal.”

Gelas itu mendadak bersuara, membuat Kalila terkesiap dan mengangkat kepalanya. Di hadapannya, Elliot berdiri menjulang dengan senyumannya yang khas. Baru kali ini Kalila menyadari lelaki itu memiliki lesung pipit yang manis.

“Terima kasih,” ucap Kalila sambil menerima kopi itu dan menyesapnya perlahan-lahan. Kafeina cair itu mengairi tenggorakannya yang tersumbat repih-repih roti. Ia terlalu merasa lega hingga tidak risi saat Elliot duduk di sebelahnya.

Justru kehebohan klandestin Erin yang membuat Kalila bingung. Gadis itu menjawil pinggangnya hingga ia menoleh protes. Tanpa peduli pada ekspresi Kalila, Erin malah berbisik menanyakan tentang lelaki yang baru saja bergabung dengan mereka.

“Oh, iya, Elliot. Perkenalkan, ini Erin,” ucap Kalila sambil memundurkan tubuhnya hingga punggungnya benar-benar menempel maksimail ke sandaran kursi.

“Hai, Erin,” sapa Elliot sambil mengulurkan tangannya. “Maaf, aku tidak tahu kalau Kal sedang bersamamu. Jadi, aku hanya membeli kopi untuknya.”

Malu-malu, Erin menjabat tangan Elliot. Wajah gadis itu terang-terangan tersipu. Bahkan Kalila berani bersumpah ia sempat melihat Erin menggigit bibir bawahnya sepersekian detik.

“Tidak apa-apa, kok. Mungkin kita bisa minum kopi bersama lain waktu.”

Mata Kalila melirik bergantian ke kanan dan kiri. Walaupun dua pasang mata yang diliriknya itu sama-sama tidak menyadarinya. Mereka seolah saling terkunci untuk memandang satu sama lain. Hingga akhirnya saling melempar senyum dan merekatkan jabatan tangan yang merentang di hadapan Kalila.

Kalila menghitung sampai sepuluh di dalam hati. Begitu tiba di angka sepuluh, posisi ini belum juga berubah. Hati-hati, ia mencoba memasuki kabut tidak kasatmata yang menutupi sosoknya.

Hem... boleh permisi sebentar?”

Terkesiap, Erin dan Elliot langsung menarik kembali tangan masing-masing. Kabut di sekitar mereka tersapu bersih, menampilkan sosok Kalila.

“Maaf kalau aku mengganggu. Tapi aku harus pergi sekarang,” pamit Kalila sambil bangkit dari duduknya, takut kembali terpenjara oleh jabatan tangan tanpa akhir yang seolah mengurungnya dalam kandang harimau. “Silakan lanjutkan yang tadi.”
***

Keluar dari kandang harimau, masuk ke kandang buaya.

Peribahasa satu itu sepertinya sesuai untuk menggambarkan situasi saat ini. Situasi yang harus dihadapi Kalila karena kebodohannya sendiri.

Tadinya Kalila berniat pindah ke perpustakaan sambil menunggu jam kuliah yang selanjutnya. Tetapi entah karena panik atau masih terpengaruh kabut merah muda, ia malah melangkah ke arah sebaliknya. Kaki dalam chukka boots berwarna cokelat kopi itu membawanya ke tempat yang paling dihindarinya.

Tidak ada waktu untuk merutuki diri sendiri. Kalila harus bergegas memutar balik haluannya. Sebelum kandang buaya yang ditakutinya terbuka lebar.

“Hei, kau!”

Sebuah seruan menusuk punggung Kalila. Entah bagaimana, tetapi ia yakin seruan itu ditujukan untuknya. Maka, ia memilih untuk berpura-pura tidak mendengar dan meneruskan langkah kembali ke fakultasnya.

Bukannya menjadi tuli sementara, telinga Kalila malah semakin menajamkan kemampuannya. Ia bisa mendengar bunyi hak sepatu yang mengehentak-hentak di belakangnya. Bahkan bunyi gemerencing gantungan kunci yang bergoyang-goyang seiring langkah kaki pemiliknya.

Oh, sial. Pintu kandang buaya sudah terbuka.

Sebuah tepukan keras di bahunya, membuat Kalila sadar ia sudah terseret masuk ke dalam kandang buaya. Tangan yang menggenggam bahunya membalikkan tubuh Kalila dengan cepat. Dan ia tidak bisa berkutik, seperti tikus yang ekornya terjepit di perangkap.

Mata Kalila melirik ke arah tikungan di depannya. Ah, padahal tinggal beberapa langkah lagi ia tiba di fakultasnya. Kalau tahu jadinya akan seperti ini, lebih baik ia mati kaku karena menunggu Erin dan Elliot melepas jabatan tangan mereka.

Begitu berbalik, Kalila langsung menelan ludahnya yang terasa tajam. Ternyata buaya itu tidak sendiri. Mungkin ada sekitar lima buaya yang mengepungnya saat ini. Tetapi Kalila tidak sempat menghitung, karena buaya pirang palsu yang tadi menepuk bahunya itu langsung berucap sinis.

“Ternyata kau dari fakultas ekonomi,” ucap buaLory dengan nada meremehkan. “Pantas aku tidak menemukanmu di fakultasku.”

Kalila hanya membalas dengan tatapan malas. Sebelah alisnya terangkat acuh tidak acuh. Sementara bibirnya bungkam, mengabaikan kalimat itu berlalu seperti angin kosong.

“Jangan mengabaikanku, Kancil Genit.” Lory maju selangkah dan menatap langsung ke arah Kalila. Jika tidak dibantu sepatu hak tingginya, mungkin ia harus mendongak untuk menatap gadis yang disebutnya sebagai ‘kancil genit’. Para anteknya, berdiri di belakang sambil kompak melipat tangan di depan dada.

Ironis memang. Kalila masih ingat benar bagaimana dahulu ia sering mengalami situasi seperti ini. Tetapi dengan posisi berbeda. Saat itu, ia dan teman-temannya menjadi para buaya bermulut busuk. Menghardik teman sekelas yang dianggap kurang populer, mengancam orang lain untuk mengerjakan tugas, memanggil adik kelas dengan panggilan yang menusuk telinga.

Dan sekarang, karma seolah mengikat kuat kakinya. Memutar balik keadaan dan meletakkannya di posisi yang ditindas.

“Kau, kan, gadis yang sengaja menumpahkan kopi untuk mencari perhatian pacarku?” tuduh Lory tanpa basa-basi.

Kening Kalila berkerut geram. “Maaf untuk mengatakan ini, Nona Besar,” ucap Kalila sengaja menunjukkan ekspresi jijik. “Tapi aku sama sekali tidak tertarik dengan pacarmu itu.”

Tempo hari Kalila memang diam. Karena saat itu ia merasa bersalah atas apa yang dilakukannya. Tetapi hari ini ia tidak mau menerima cacian karena dituduh melakukan sesuatu yang tidak dilakukannya. Ia tidak mau terus diam dan menjadi sasaran empuk untuk selanjutnya.

Persetan dengan sopan-santun.

“Ohbenarkah? Apa itu berarti sebenarnya kau ingin menarik perhatianku?” sahut Lory tidak mau kalah, diikuti tawa mengejek dari teman-temannya.

Mata Kalila melebar gusar mendengar tuduhan lain yang ditujukan untuknya.

“Kau suka padaku?” tambah Lory sambil menunjuk dadanya sendiri, lantas melepaskan tawa melalu bibirnya yang dipoles lipstik merah darah. “Betapa cantiknya aku, hingga membuat gadis lain jatuh cinta.”

Mata Kalila semakin melebar. Bahkan ia nyaris memuntahkan sandwich tunanya melalui rongga mata. Saking loyanya mendengar anggapan yang dituduhkan kepadanya secara bertubi-tubi.

“Aku tidak seperti itu!”

“Kalau begitu, kau pasti berbohong.” Lory melontarkan tuduhan lainnya. “Mana ada gadis di dunia ini yang tidak tertarik pada Diego-ku.”

“Apa menurutmu ketertarikan itu hanya dinilai dari penampilan fisik, huh?” sahut Kalila cepat, lantas mendenguskan tawa sinis. “Pantas saja kau berdandan menor habis-habisan tapi otakmu kosong melompong.”

Kali ini, Lory terdiam tidak bisa membalas ucapan Kalila. Tetapi ekspresi gadis itu seolah mampu mengucapkan segalanya. Wajahnya merah padam entah karena marah atau malu. Yang pasti ia tidak akan terima jika kalah bicara dari orang lain. Lagipula, bukankah Lory adalah calon advokat hebat di masa depan? Bagaimanapun ia tidak boleh kalah begitu saja.

Kehabisan kata-kata, Lory bergerak cepat merenggut topi dari kepala Kalila dan membantingnya ke atas trotoar. Ia menginjak topi berwarna khaki itu dengan sepatu hak tingginya. Sepasang mata berlapis lensa kontak ungu gelap itu memancarkan aura meremehkan.

Mata Kalila langsung berselimut kabut amarah. Sontak ia mendorong bahu Lory hingga gadis itu terhuyung ke belakang. Beruntung, antek-anteknya sigap menahan tubuh gadis loudspeaker itu agar tidak jatuh terjengkang. Setelah memungut topinya, Kalila segera pergi dari situ sebelum darahnya benar-benar mendidih.

Kalila berjalan cepat dengan langkah-langkah lebar. Kepalanya tertunduk memandang debu jejak sepatu yang tercetak di topinya. Tidak peduli lagi ke mana kaki ini akan membawanya. Entah ke kandang dubuk atau pun serigala, ia benar-benar tidak peduli.

Tiba-tiba saja Kalila bertabrakan langsung dengan dinding yang keras. Ia mengaduh dengan panik. Tetapi tiba-tiba saja dinding itu bergerak dan membuatnya sadar bahwa itu bukanlah dinding. Sekarang dinding itu bahkan mencekal kedua bahunya dan mulai bersuara.

“Hati-hati, Lil Princess.”

Kalila langsung mendongak dan bersitatapan dengan sepasang mata dingin yang menatapnya lembut selama beberapa detik. Tetapi kemudian tatapan itu berubah bingung. Sama bingungnya dengan apa yang diperdebatkan benaknya saat ini.

“Sepertinya akhir-akhir ini kau sering sekali menabrakku, ya, Lil Princess.”

Kalila menelan ludahnya yang terasa menyakitkan. Jauh lebih menyakitkan daripada tersedak sandwich tuna. Tenggorakannya tercekat. Sementara tidak satu pun kata bisa terucap dari bibirnya yang bergetar.

Hanya ada satu orang yang memanggilnya seperti itu. Panggilan norak yang disukainya. Setidaknya untuk beberapa tahun silam. Tetapi sekarang, mendengar panggilan itu seperti mendengar bunyi sangkakala pertanda dirinya akan terseret ke neraka.

“Sudah kuduga, kau pasti tidak merindukanku,” ucap lelaki itu dengan raut wajah yang dibuat kecewa. “Apa benar semudah itu melupakanku?”

Oh, tidak. Setiap kalimat yang diucapkan dengan suara yang rendah dan maskulin itu membuat pintu neraka berderak terbuka menyambutnya. Kalila harus bergegas menyelamatkan diri. Ke kandang anaconda sekalipun!
***

‘APA kau benar-benar menginginkannya, Lil Princess?’

‘Ssst... jangan memanggilku seperti itu di sini,’ bisik Kalila tanpa menggerakkan bibirnya. Matanya mendelik penuh peringatan. Panggilan itu sangat norak. Tetapi Kalila menyukainya. Hanya saja ia tidak ingin yang lain mendengarnya. ‘Dan ya tentu saja aku menginginkannya.’

Diego merapatkan jaket kedodorannya yang menenggelamkan tubuh kurusnya. Bukan hanya karena malam ini sangat dingin. Tetapi juga karena tebing terjal yang akan didakinya beberapa menit lagi. Tebing itu memang tidak terlalu tinggi. Hanya saja bebatuan tajam yang menghiasinya membuat Diego bergidik ngeri. Bebatuan itu akan langsung menghadiahkan luka jika kau terjatuh karena salah melangkah.

Di tepi tebing itu, berdiri kokoh sebatang pohon maple. Daun-daun berwarna ungu gelap tumbuh rimbun di setiap rantingnya. Daun itulah yang diinginkan Kalila sebagai bukti cinta Diego kepadanya.

‘Tapi... apa itu tidak berbahaya?’

Kalila tidak langsung menjawab. Gadis itu malah meraih tangan Diego. Ia menggenggam tangan lelaki lima belas tahun itu sambil mengerjapkan matanya dengan manja. Bibirnya mengerucut bersiap membujuk. Jurus andalan Kalila yang selalu berguna untuk mendapatkan apa pun yang diinginkannya.

‘Kumohon, Diego. Lakukan ini demi aku,’ ucap Kalila dengan nada penuh rayuan.

Di bawah cahaya yang temaram, Diego menatap sepasang mata cokelat itu. Detik berikutnya, ia sudah menghela napas tanda mengalah.

Apa boleh buat. Kalau sudah begini, tidak ada pilihan lain selain melakukannya. ‘Baiklah.’ Sepasang mata Diego berkilat penuh tekad. ‘Aku akan melakukannya.’

Kalila tidak bisa menyembunyikan senyum bahagianya. ‘Terima kasih, My Hero Diego.’

Sebenarnya, tidak ada yang perlu dibuktikan Diego kepada Kalila. Mereka berdua saling mencintai satu sama lain. Dan mereka sama-sama mengetahui itu.

Diego adalah lelaki yang baik dan cerdas. Kalila tidak pernah peduli pada tulang pipi dan lutut Diego yang menonjol. Atau tingginya yang tidak lebih dari pelipis Kalila. Juga pipinya yang dihiasi jerawat dan gaya rambutnya yang ketinggalan zaman. Waktu yang mereka lalui selalu terasa menyenangkan. Dan itu lebih dari cukup bagi Kalila.

Justru sekumpulan orang-orang sombongyang menyebut diri mereka temanitu yang menuntut pembuktian. Sebagai kalangan populer di sekolah, mereka menganggap Diego sangat tidak pantas bersanding dengan Kalila. Kecuali, kalau Diego berani menunjukkan bahwa ia bukanlah lelaki pengecut.

Itulah mengapa Kalila tidak pernah mengakui hubungannya dengan Diego. Bukan karena malu. Tetapi ia tahu pasti bahwa orang-orang itu akan ikut campur seperti saat ini.

Pertemuan pertama mereka terjadi di perpustakaan. Saat itu, Diego dan Kalila bersinggungan untuk mengambil buku yang sama. Mendapati ada orang lain yang memiliki minat serupa, mereka langsung tenggelam dalam obrolan yang seakan tiada akhir. Jauh berbeda dengan lingkungan populernya yang hanya membahas tas bermerk keluaran terbaru atau pun rencana penindasan terhadap kalangan kurang populer.

Kalila merasa menemukan dunianya. Dan perlahan ia mulai menjauh dari lingkungan populernya. Ia lebih memilih menghabiskan jam istirahat bersama Diego di perpustakaan alih-alih ikut bergosip ria di kantin.

Awalnya, semua berjalan lancar tanpa masalah. Kalila juga sama sekali tidak merasa kehilangan. Ia sendiri juga bingung mengapa ia bisa dengan mudah masuk ke dalam golongan populer. Entah karena fisiknya yang menarik, otaknya yang cemerlang, atau bahkan hanya karena ia adalah putri dari keluarga kaya raya.

Sayangnya, tidak lama kemudian beberapa temannya ada yang curiga. Hingga memutuskan untuk membuntuti Kalila ke perpustakaan. Sejak saat itu, rahasianya dan Diego terbongkar.

‘Tunggulah bersama yang lainnya,’ ucap Diego membuyarkan lamunan Kalila. Lelaki itu melepaskan syalnya, lalu melilitkannya ke leher Kalila. ‘Aku akan mengambil maple ungu itu untukmu.’

Kalila mengangguk kecil, masih tersipu dengan aroma Diego yang menguar dari syal rajut yang melingkari lehernya. Ia berbalik lalu berlari kecil ke arah teman-teman populernya.

‘Jadi, si pengecut itu akan melakukannya?’ tanya Sharon dengan nada mencemooh.

‘Tentu saja,’ balas Kalila tidak terima. Ia tidak suka mendengar orang-orang ini saat membicarakan Diego. Tetapi ia mencoba bersabar untuk terakhir kali. ‘Lihat, dia sudah mulai mendaki.’

Dengan gesit, Diego menjadikan bebatuan di permukaan tebing sebagai pijakan. Tanpa kesulitan yang berarti, ia sudah berdiri di tepi tebing diikuti sorakan Kalila dan teman-temannya. Sekarang yang perlu dilakukan Diego hanyalah memanjat pohon dan memetik satu helai daun maple ungu itu. Setelah itu, semua ini akan berakhir. Ia bisa bebas mengakui hubungannya dengan Diego, tanpa perlu takut dikucilkan ataupun dijadikan sasaran penindasan.

‘Tapi, kalau dia gagal, kau harus pacaran denganku, ya,’ ucap Rubensalah satu lelaki di sana, sambil merangkul bahu Kalila.

‘Dalam mimpimu!’ tolak Kalila sambil menepis lengan Ruben.
***

Kalila tidak tahu ia mimpi apa tadi malam. Tetapi yang jelas, lelaki yang duduk di hadapannya ini seolah datang dari mimpi buruknya yang terdalam. Sosok yang menghantui hari-harinya yang muram.

Tubuh lelaki itu tegap dan berisi. Saat berdiri berhadapan, Kalila harus mendongakkan kepala untuk bisa menatap wajahnya. Otot-otot liat terlihat menyembul di balik polo shirt hitam yang melekat pas di tubuhnya. Rambut lelaki itu jatuh tepat ke atas lengkungan alisnya yang memberi kesan angkuh. Sepasang matanya tampak dingin sekaligus mampu menatap dengan penuh kelembutan.

Lelaki itu menyesap perlahan kopinya. Matanya tidak sedikit pun lepas dari Kalila. Sementara tangannya bergerak mengembalikan cangkir porselen itu ke atas tatakan. Sekilas, ia menjilat bibir penuhnya, menghapus sisa kopi yang tertinggal di sana.

Oh, Tuhan. Seharusnya lelaki ini lebih pantas menjadi pangeran dalam mimpi indahnya.

Kalila masih tidak bisa memercayai ini. Atau, tidak ingin, lebih tepatnya. Ia menundukkan kepalanya karena merasa tidak nyaman. Sekujur tubuhnya seperti membeku. Dalam hati, ia sungguh-sungguh berharap bahwa ini semua hanyalah mimpi di siang bolong. Dan begitu ia mengangkat kepalanya, ia akan terbangun di kamar indekosnya.

“Jadi, apa kabarmu, Lil Princess?”

Kepala Kalila terangkat. Dan matanya langsung membuang pandangan ke arah lain, tidak sanggup bersitatap dengan mata yang sehitam langit malam. Ia merapatkan coat panjang yang dikenakannya saat menyadari bahwa harapannya tidak menjadi nyata. Mereka berdua masih duduk berhadapan di dalam kafe bernuansa warna-warni.

“Berhenti memanggilku seperti itu,” balas Kalila sambil menyeruput mango smoothie pesanannya.

Ck. Kalila merutuk dalam hati, menyesali sikap ketusnya. Itu bukan kata-kata yang pantas untuk diucapkan. Seharusnya ia meminta maaf kepada Diego atas apa yang terjadi di masa lalu. Tetapi ia kelewat gugup hingga bibirnya tidak bisa dikendalikan dengan benar.

“Lho? Kenapa?” tanya Diego bingung. “Aku tidak keberatan kau memanggilku ‘My Hero Diego’.”

Pipi Kalila sontak bersemu merah. Ia sangat mengingat panggilan norak itu. Panggilan istimewa  di antara mereka berdua.

“Kita sudah tidak pacaran lagi.”

Ah, bodohnya. Memang belum ada kesepakatan resmi tentang hubungan mereka setelah malam itu. Tetapi Kalila sangat menyesali kata-katanya yang seolah tidak berperasaan. Duh, kapan sih mulutnya berhenti membuat kacau?

Tetapi lelaki itu malah menarik bibirnya membentuk senyuman. “Aku tidak keberatan kalau kita pacaran lagi.”

Rabu, 18 Mei 2016

RabuRabuChallenge - Love at The First Flight


“Tidakkah kau pikir pembicaraan orang-orang begitu membosankan?”

“Aku bahkan tak mendengar seorangpun berbicara, Cecile.” Ujar Amelie cuek sambil sekali lagi memasukkan sepotong pizza ke dalam mulutnya.

Aku mengembuskan napas beratku, jenuh dengan kelebihan yang membuatku muak. Aku, Cecile Bouvier, seorang gadis yang berasal dari sebuah tempat yang amat sangat jauh. Salah satu kepulauan di Samudra Pasifik, yang berjarak sekitar 321,5 kilometer dari Pulau Clipperton.

Sekitar enam tahun yang lalu, aku kehilangan keluargaku karena sebuah kecelakaan kapal, kemudian salah satu tim sukarelawan menampungku di rumahnya, di Marseille, pesisir tenggara Perancis dan mengangkatku sebagai seorang anak. Dan setahun kemudian ayah angkatku berhasil membuatku menjadi seorang pramugari di usia dua puluh tahun.

“Aku mendengar mereka membicarakanmu, Amelie.” Aku mengerang jengkel karena Amelie bahkan tak peduli jika masyarakat menghujatnya. Skandalnya dengan aktor nomor satu Perancis, Aldrick Roux telah menyurutkan karirnya dalam satu tahun terakhir sebagai model ternama.

“Pasti dengan kalimat yang sama, Amelie Benoit, mengganggu rumah tangga Aldrick Roux. Sudahlah Cecile, aku benar-benar tak peduli. Kurasa kau perlu membeli penutup telinga.”

Penutup telinga? Bahkan aku sudah membeli penutup telinga paling mahal sedunia. Entah ini sebuah anugerah atau musibah, sebuah kemampuan untuk mendengar pembicaraan orang, bahkan hingga dalam radius 100 kilometer. Terkadang percakapan membosankan itu justru terdengar saat pikiranku kosong, sehingga membuatku terjebak dalam suasana hati yang buruk, seperti siang ini.

“Terserah kau saja.” Ujarku tak peduli. Amelie, sahabat dekatku sejak aku menginjakkan kaki di Paris. Gadis pemuja cinta meski di tempat yang salah.

“Kapan kau akan kembali terbang, Cecile?” Tanya Amelie mencoba menemukan topik baru. Ini adalah pertanyaan yang membuatku jemu. Sepanjang kepulanganku dari penerbangan terakhir, setiap saat semua orang bertanya kapan aku akan kembali. Terlebih ini adalah hari terakhir liburku sebelum besok aku harus kembali melebarkan bibirku untuk menyambut penumpang.

“Besok pagi. Ah… nerakaku akan dimulai.” Perkerjaanku sebagai pramugari yang telah kutekuni selama enam tahun ini, cukup memberikan banyak pengalaman. Terlebih mengenai hal kesabaran.

“Bersemangatlah, siapa tahu kau akan mendapatkan jodohmu di sana.” Goda Amelie. Yang benar saja. Jika memang begitu, aku bertekad setelah menikah aku hanya ingin menjadi ibu rumah tangga dan mengurus anak-anakku kelak.
***

Seragam berwarna kelam terlihat kontras membalut tubuhku. Sekali lagi aku memerhatikan dandananku di depan cermin sebelum bersiap untuk menyapa penumpang. Alice yang tengah berdiri di sampingku sibuk memoles bibirnya dengan warna merah yang sedikt gelap. Aku memerhatikan cermin, pikiranku kembali tertuju pada orang tua angkatku dan itu membuatku sedikit menyesal karena tidak menemui mereka di Marseille saat mendapatkan libur.

“Aku tidak akan pergi ke Marseille. Jadi jangan pernah menyuruhku kesana!” Kata-kata yang mengandung Marseille tampaknya membuat telingaku peka, bahkan aku tak melihat seorangpun di sepanjang lorong pesawat kecuali Corine, rekan kerjaku yang telah siap menyambut kedatangan penumpang. Aku menutup kedua telingaku, berusaha tidak mencuri dengar pembicaraan orang lain yang entah berada di mana.

“Ada apa, Cecile? Kau baik-baik saja?” Tanya Alice yang tampaknya memerhatikanku. Aku hanya melempar senyum pada gadis itu, kemudian turut bergabung dengan Corine.

Sejauh ini semua tampak baik-baik saja, sebelum seorang lelaki yang wajahnya sangat aku kenali menyapaku kembali siang ini. Aku mendesah putus asa, namun buru-buru mengenakan topeng tersenyum milikku untuk bersikap hormat padanya.

“Cecile, apa kau masih tidak ingin memberikannya padaku?” Tanya lelaki itu setelah menerima air mineral yang dipesannya.

“Silahkan menikmati perjalanan anda.” Ujarku tanpa mengindahkan pertanyaannya. Kemudian aku melangkah untuk memberikan pesanan lain.

Saat aku kembali lelaki itu meraih pergelangan tanganku, “Apa kau akan membuatku menghabiskan uang untuk pesawat hanya demi meminta nomor ponselmu?” 

“Saya kira anda memiliki urusan lain ketika anda memutuskan untuk membeli tiket pesawat.”

“Ya, urusanku ada denganmu, Cecile. Kau pikir sudah berapa banyak uang yang kukeluarkan hanya untuk ini?”

Hanya untuk bertemu denganku dan meminta nomor ponselku? Yang benar saja. Mana ada orang yang akan rela melakukan hal bodoh semacam itu?

“Kesabaranku sudah hampir habis, Cecile. Jika kau tak memberikannya, aku benar-benar akan membuat onar lagi di sini.”

Untuk ancamannya, kupikir lelaki ini pantas disebut gila. Dua minggu yang lalu dia telah membuktikan ancaman yang sebelumnya pernah dilontarkannya. Namun itu tidak membuatku gentar untuk menyerahkan nomor ponselku pada lelaki ambisius tersebut. Aku bahkan tak mampu membayangkan seberapa kaya dan luang waktunya hanya untuk menuruti ambisinya itu. Kurasa dalam tiga bulan terakhir aku terlalu sering melihat wajah lelaki itu. Wajahnya yang tampan khas lelaki Spanyol.

“Silahkan menikmati perjalanan anda.” Lagi-lagi hanya itu yang bisa kuucapkan. Lelaki ini membuatku takut dan membuat tekadku semakin bulat untuk segera meninggalkan pekerjaan ini.
“Bagaimana dia tahu, namaku?” Aku menggerutu, menatap cermin yang memantulkan wajah lelahku.

“Aku yang memberitahunya. Dia memaksaku untuk memberi tahu namamu.” Ujar Veronica yang berdiri dibelakangku.

Aku mendesah putus asa. Tak beberapa lama, aku mendengar sebuah keributan tak jauh dari tempatku berdiri. Membuatku harus segera bertindak untuk menghentikan keributan tersebut.

“Silahkan anda kembali ke tempat duduk.” Ujar Corine menenangkan.

“Tidak, di mana Cecile? Aku harus bicara dengannya.”

“Apa yang ingin anda bicarakan dengan saya?” Lagi-lagi lelaki itu memang membuktikan ucapannya. Dapat kulihat mata para penumpang tengah sibuk memerhatikan keributan yang dibuat oleh lelaki berambut pirang gelap yang kini telah berdiri di hadapanku.

“Aku Jose. Cecile, aku benar-benar ingin mengenalmu. Tidak bisakah kau memberiku kesempatan?”

Tak ada pilihan lain. Sebelum terjadi keributan lebih besar, aku harus mengakhiri semuanya. Dan justru itulah awal segalanya. Awal yang membuat hidupku berubah.
***

Aku mengaduk-aduk gelas berisi jus stroberi itu hingga dentingan es batu yang menyentuh gelas lagi-lagi membuat Jose mendengus. Entah dikatakan apa hubungan kami ini. Kami dekat, tapi aku tidak merasa kami sedang berada di suatu hubungan spesial. Aku menyeruput kembali jus stroberi itu hingga membasahi tenggorokanku yang terasa kering.

“Sampai kapan kau akan bertingkah seperti ini? Apa kau tak akan membiarkanku menemui orang tuamu?” Tanya Jose yang tengah menyangga kepalanya dengan jemari-jemari panjangnya.

“Untuk apa Jose? Aku bahkan tak tahu akan mengenalkanmu sebagai apa.”

“Cecile…” Aku dapat mendengar suara Jose yang penuh penekanan disertai amarah. “Kau tahu akan mengenalkanku sebagai apa.”

Apa yang dia harapkan? Bahkan Jose tak pernah sekalipun mengatakan dia mencintaiku. Meski terdengar kekanakan, bagaimanapun juga aku ingin sebuah kejelasan hubungan kami. Aku mencintainya tapi aku tak pernah tahu bagaimana perasaannya padaku, kecuali sikapnya yang seolah menunjukkan bahwa aku adalah orang spesial baginya. Bagiku itu tak cukup.

“Aku bahkan tak pernah mendengar bagaimana perasaanmu padaku.” Ini sudah tujuh bulan sejak kejadian terakhir kali di pesawat tempo hari. Dan hingga detik ini Jose membuat perasaanku terasa mengambang.

“Kau tahu. Apakah sikapku padamu selama ini masih kurang meyakinkanmu?” Ujar Jose datar. Selalu seperti ini saat aku memancingnya untuk mengatakan perasaannya. Aku mendesah, merasakan ada suatu lubang besar yang menganga dalam hatiku. Lelaki itu sangat susah ditebak.

“Jose.” Suara seorang lelaki merebut perhatian kami. Ia mengenakan setelan rapi kemudian berjalan menghampiri kami.

“Ah, Alain kemarilah.” Jose melambaikan tangannya untuk bergabung di meja kami.

“Bagaimana kabarmu?” Tanya lelaki yang kemudian mengalihkan pandangannya padaku. “Ya Tuhan kau mirip sekali dengan Estelle.” Ujar lelaki itu membelalakkan matanya. Aku mengalihkan pandanganku pada Jose, namun raut wajahnya tak berubah sedikitpun.

“Dia Cecile.” Kata Jose singkat. Tidakkah dia memperkenalkanku sebegai orang spesial atau apa? Ini sedikit menyakiti hatiku.

Ponsel Jose berdering, membuatnya berpamitan untuk sedikit menjauh dari meja kami.

“Apa kau memiliki hubungan dengan Estelle?” Tanya Alain yang masih mengamati wajahku.

Aku menggeleng. “Tidak. Siapa itu jika aku boleh tahu?”

Alain mendesah, rautnya tampak sedikit kecewa. “Dia mantan istri Jose.”

Seketika aku merasa tenggorokanku tercekat. Mantan istri? Aku bahkan tak tahu bahwa Jose pernah menikah sebelumnya. Apakah ini yang membuat Jose mati-matian mendekatiku? Karena aku mirip mantan istrinya?

Sesaat kemudian Jose kembali. Mata coklatnya berusaha mencari tahu apa yang terjadi setelah menyadari mataku yang mulai berkaca-kaca.

“Aku permisi Jose, Alain. Aku masih punya urusan.” Ujarku dengan nada setenang mungkin meski aku sadar aku tak setenang itu. Tanpa menunggu persetujuan Jose, aku meraih tas dan segera melangkah meninggalkan mereka.”

“Apa yang kau katakan pada Cecile?” Terdengar suara geram Jose di telingaku. Di saat seperti ini, aku bersyukur memiliki ketajaman pendengaran yang tak masuk akal ini.

“Dia bertanya mengenai Estelle, jadi aku mengatakan bahwa Estelle adalah mantan istrimu.” Kata Alain jujur. “Jose,” Suara itu membuatku berhenti untuk kembali mendengar percakapan mereka. “Pergilah ke Marseille. Ibu bilang kau tak pernah mengunjungi Estelle.”

Deg. Marseille menjadi kata yang sensitif terlebih ditambah dengan nama itu. Apakah Jose akan mengunjunginya? Apakah dia akan kembali bersama mantan istrinya? Memikirkannya membuat hatiku sakit. Sesegera mungkin aku melangkah sambil menutup kedua telingaku. Menyedihkan.
***

Dua hari ini aku mengabaikan Jose. Di saat seperti ini aku merindukan pekerjaan lamaku sebagai pramugari. Aku sudah melepaskan seragam itu sejak lima bulan yang lalu atas permintaan Jose. Dan lagi aku memang sudah lama ingin berhenti dari pekerjaan itu.

Seseorang membunyikan bel rumahku, membuatku beranjak untuk membukanya. Aku tahu pasti siapa yang datang. Aku tak pernah memiliki tamu kecuali Amelie dan lelaki itu, Jose.

“Cecile, ada apa denganmu?” Tanya Jose begitu melihatku berdiri di hadapannya. “Aku merindukanmu.”

Aku hanya menimpalinya dengan senyum tanpa berniat menjawab sepatah katapun. Dan aku rasa lelaki itu telah merasakan aura gelap di sekelilingku.

“Cecile, aku akan ke Marseille.” Ujar Jose yang seketika membuatku terasa tercekik.

Aku tersenyum getir, menatapnya dengan pandangan hampa. “Untuk menemui mantan istrimu? Silahkan saja.”

“Ikutlah denganku.”

“Tidak Jose. Aku tak akan mengganggu kalian.” Ucapku sinis. Aku melangkah mundur meraih daun pintu untuk menutupnya, namun Jose menghalangi.

“Kujemput kau besok pagi. Bersiaplah.”
***

Entah apa yang terjadi denganku. Aku mengikuti Jose begitu saja. Aku terbang ke Marseille. Diluar dugaan, Jose justru menemui orang tua angkatku untuk meminta izin untuk menikahiku meski tak pernah sekalipun ia mengatakan bahwa ia mencintaiku. Kemudian ia membawaku ke sebuah makam.

Estelle, akhirnya ku ketahui bahwa wanita itu telah tiada karena kanker otak dua tahun silam. Di satu sisi itu membuatku lega. Namun di sisi lain hal itu membuatku takut karena Estelle akan tetap ada membayangi kami.

Aku menatap awan putih yang bergerombol, membuat pesawat yang kutumpangi sedikit bergetar. Aku membayangkan apa jadinya hubungan kami nanti dengan bayang-bayang Estelle. Kemudian, tangan hangat Jose menggenggam jemariku yang terasa dingin.

“Kau tidak mirip dengan Estelle.” Nama itu keluar dari mulutnya, sontak membuatku mengalihkan pandangan padanya. “Estelle yang mirip denganmu.”

Pernyataan Jose membuatku mengernyit heran. Apa maksudnya?

“Pertama kali aku melihatmu sebagai pramugari lima tahun yang lalu, pertama kalinya aku terbang ke luar negeri. Kemudian aku jatuh cinta padamu.” Kata Jose yang kemudian mengecup tanganku yang digenggamnya.

“Lalu?”

“Lalu aku mencoba peruntungan untuk menaiki pesawat beberapa kali, namun aku tidak melihatmu lagi. Kemudian aku melihat Estelle. Sempat kupikir dia adalah dirimu, ternyata bukan. Lalu kami dekat dan menikah meski aku tahu dia sedang sakit.”

Dia menghentikan ceritanya sejenak. Kemudian menatapku lekat-lekat. Benarkah yang ia katakan? Ia bertemu denganku lebih dulu?

“Aku kembali mencarimu, aku mencari tahu melalui maskapai tempatmu bekerja. Namun mereka enggan memberi tahu dengan alasan privasi. Tak ada cara lain kecuali mencoba peruntunganku lagi untuk bertemu denganmu di pesawat.”

Aku tersenyum mendengar ceritanya. Takjub bahwa aku mampu membuat seseorang menginginkanku hingga seperti itu. Aku menyandarkan kepalaku pada pundaknya, memeluk sebelah tangannya yang terbalut kemeja hitam.

“Cecile, aku mencintaimu.”

Pada akhirnya, dua kata yang kunantikan keluar dari mulutnya. Ia mengecup keningku, mengusap rambutku dengan penuh kasih sayang. Tak ada hal yang lebih membahagiakan dari ini sepanjang hidupku. Aku juga mencintaimu, Jose.
Tamat

RabuRabuChallenge - KumulonimBus


Pertama kali aku tergugah dalam setiap kata yang kauucap. Aku sama sekali tidak menyangka, kata-kata seindah itu bisa meluncur dari bibirmu yang biasanya hanya dihiasi candaan yang mengundang tawa. Kau mengucapkan itu dengan wajah yang tersenyum lembut padaku. Tanpa beban. Tanpa binar jail seperti biasanya.

Entah mengapa, tiba-tiba kau seperti seseorang yang baru saja kukenal tujuh menit yang lalu. Bukannya tujuh tahun yang lalu.

Senyuman di wajahmu dengan mudah menular padaku. Selalu saja begitu. Tidak pernah kau bahagia untuk dirimu sendiri. Bagaimanapun kau selalu berbagi tawa dengan orang sekitarmu.

Bagiku, kau seperti matahari bercahaya abadi. Kehangatan sinarmu tetap memancar, sekali pun dari balik gumpalan tebal kumulonimbus.
***

Napasku terengah-engah di antara gemeletap langkah kakiku di atas aspal. Ujung rok kotak-kotak yang kukenakan mengayun bersama angin. Keringat dingin mulai bercucuran di keningku. Mataku melirik cepat pada jarum penunjuk waktu yang melingkar di pergelangan tanganku.

Sial. Tinggal tujuh puluh lima detik lagi tersisa agar aku bisa tiba di halte tepat waktu. Jika tidak, aku harus menunggu bus selanjutnya dan bisa dipastikan aku akan terlambat datang ke sekolah.

‘Flo!’ teriak suaramu yang sudah sangat kukenal. Kau berdiri santai di halte yang kutuju. Tanganmu terangkat dan melambai ke arahku. Senyum di wajahmu, membuatku lebih semangat memacu gerak kakiku yang sudah terasa lemas.

‘Ini rekor baru. Kau datang sepuluh detik lebih cepat sebelum bus datang,’ ujarmu sambil menyimpan kedua tangan ke dalam saku celana kotak-kotakmu. Sementara aku masih membungkuk terbatuk-batuk sambil berusaha mengatur napas yang terputus-putus. Hingga tidak sanggup menentukan kata-katamu sebagai pujian atau sindiran.

Kau menarik kuat tanganku, membawaku ke dalam bus yang akan mengantar kita ke sekolah. Benar-benar tidak peduli denganku yang masih kesulitan bernapas seperti ikan yang baru saja bertamasya ke daratan. Tetapi kuakui, berkatmu kita bisa mendapat tempat duduk dan tidak perlu berdiri berdesak-desakan.

Aku menempelkan kepala dan punggungku ke sandaran kursi bus, sambil bernapas lewat mulut. Seharusnya itu menjadi pemandangan yang mengerikan. Tetapi saat itu kau malah terbahak melihat ekspresi pucatku.

‘Minggu ini saja kau sudah sepuluh kali nyaris ditinggalkan bus sekolah.’

Aku langsung mendelik dan menatapmu dari balik bulu mataku. ‘Satu minggu itu hanya terdiri dari tujuh hari. Bagaimana bisa aku terlambat sepuluh kali?’

‘Itu sudah diakumulasikan dengan rekor-rekormu yang sebelumnya,’ sahutmu lantas tertawa renyah. Suara tawamu selalu menjadi melodi yang kusukai. ‘Ada game baru lagi?’

Kepalaku mengangguk, membenarkan tebakanmu. Kau benar-benar mengenalku dengan baik.

‘Tapi, kan, tidak perlu begadang menyelesaikan game dalam sekali duduk.’ Kau menambahkan sambil mencubit ujung hidungku. Aku memang protes saat itu. Tapi sekarang aku rindu. ‘Aku bisa menemanimu bermain setiap pulang sekolah.’

‘Itu sulit.’ Aku menggelengkan kepala. ‘Kau tahu, kan, aku mudah penasaran.’

Lagi-lagi kau tertawa. Mengingat itu membuatku tersenyum. ‘Kau ini benar-benar lucu, Flo. Pasti menyenangkan jika mempunyai pacar sepertimu.’

Aku tersenyum miring menanggapi candaanmu. ‘Kau juga pasti bisa menjadi pacar yang perhatian.’

‘Jadi, mulai hari ini kita berpacaran?’ Kau bertanya bersamaan dengan deru bus yang muali melaju meninggalkan halte.

‘Boleh. Aku juga sudah bosan tiga tahun bersahabat denganmu,’ sahutku sambil meninju ringan lenganmu.

‘Aku juga berpikir begitu.’

‘Tapi... bagaimana jika nanti kita bosan berpacaran?’ tanyaku dengan kening mengernyit dalam.

‘Itu mudah. Kita kembali lagi saja menjadi sahabat.’

Aku mengangguk-angguk mengerti. Perubahan tiga tahun status hubungan kita benar-benar sederhana. Tanpa buket bunga, tanpa cokelat berpita. Bahkan jauh lebih sederhana daripada rumus matematika. Ah, omong-omong tentang matematika....

‘Apa sebagai pacar kau akan dengan senang hati memberi contekan ujian padaku?’ tanyaku sambil mengerjap-ngerjapkan mata. Berusaha memikatmu dengan kepakan bulu mataku yang jauh dari kata lentik.

‘Tidak.’ Kepalamu menggeleng tegas, mengundang bibirku mengerucut tajam.

‘Kenapa?’ sahutku semanja mungkin. Berharap kau akan berubah pikiran. ‘Sebagai gantinya, aku akan berteriak menyemangati dari pinggir lapangan di setiap pertandingan sepak bolamu.’

‘Tidak, tidak,’ timpalmu cepat sambil bergidik seolah merinding membayangkan kata-kataku. ‘Jangan lakukan hal memalukan seperti itu, Flo.’

‘Kalau begitu, aku akan melakukan itu jika kau tidak memberiku contekan,’ ancamku tidak mau kalah.

‘Kita bisa belajar bersama. Itu jauh lebih mudah,’ balasmu lantas tersenyum simpul. ‘Aku akan menjadi pacar yang baik untukmu.’

‘Kau membuatnya jadi sulit.’ Aku melipat tangan di depan dada, mengalihkan pandangan ke luar jendela bus yang menampilkan deretan pohon yang bergerak cepat.

‘Akan kubuat semenyenangkan saat kau menyelesaikan game.’

‘Benarkah?’ Aku kembali menoleh antusias. Mataku berkilat-kilat senang.

‘Serahkan padaku,’ jawabmu angkuh sambil menepuk dadamu penuh kebanggaan. Seolah kau baru saja mencetak gol ke gawang lawan.

Aku tertawa melihat tingkahmu yang kemudian mengundangmu ikut tergelak. Gema sahut-sahutan tawa itu perlahan memudar dalam benakku, seiring langkahku yang terhenti di hadapan sebuah pintu. Mataku memandang nanar pada pintu bercat putih itu. Sekuat tenaga, aku berusaha mengurai seulas senyum. Sambil mempererat genggamanku pada buket bunga yang kubawa, tanganku terangkat dan mengetuk pintu dengan buku jari.
***

“Ppoppo, kau datang lagi hari ini?” sapamu ceria begitu aku memasuki ruangan bercat putih itu.

“Tentu saja. Aku akan datang terus hingga kau bosan,” sahutku lantas terkekeh. Aku langsung berjalan menuju meja kecil di samping tempat tidurmu, mengganti bunga yang mulai mengering di dalam vas, dengan sebuket bunga Anemone ungu yang baru kubawa.

“Kenapa kau tidak pergi jalan-jalan? Cari pacar sana!”

Bibirku mencebik tidak suka. Ini sudah berulang kali kaukatakan sejak hari pertama kau dirawat dalam bangunan ini. Bangunan yang menjauhkanmu dari duniamu. Dari sepak bola yang kaucintai sepenuh hati. Sementara kau sendiri yang berusaha menjauhkanku darimu.

“Buat apa? Aku sudah punya pacar.”

“Aku sudah bosan jadi pacarmu.”

“Benarkah?” tanyaku skeptis. Aku melipat tangan di depan dada, menyiapkan pion untuk mengalahkanmu secara telak. “Sekali pun aku akan mengabulkan permintaanmu?”

Kau mengangguk. “Sekali pun kau akan mengabulkan permintaan—benarkah itu, Ppoppo?” Matamu langsung terbelalak tidak percaya.

Aku mengangkat tas yang kubawa, meletakkannya di sampingmu yang duduk di tempat tidur. Sebagai bukti dari ucapanku.

Penuh semangat, kau membuka dan mengeluarkan isi tas itu. Setumpuk pakaian sesuai keinginanmu. Tidak banyak yang bisa kulakukan untukmu, jadi aku melakukan apa yang kubisa. Walaupun aku mungkin akan menyesalinya suatu hari nanti.

“Aku bosan melihatmu terus merengek seperti bayi,” ucapku sambil mengerucutkan bibir. Walaupun kau tidak peduli, dan terus saja melebarkan senyuman. “Jadi, apa boleh buat.”
***

“Bagaimana jika orangtuamu kembali dan kau tidak ada di sana?” tanyaku takut.

Perasaan ragu tiba-tiba menyergapku justru ketika kita sudah berada di dalam bus yang akan membawa kita ke tempat yang kauinginkan.

“Tidak apa. Orangtuaku baru akan kembali nanti malam,” jawabmu santai. Benar-benar santai seperti ketika kita menyusup keluar dari rumah sakit tadi. Kau berjalan biasa saja tanpa membuat orang lain curiga. Benar-benar membuat kita seperti pasangan yang baru saja menjenguk teman yang sakit.

“Apa kau tidak... takut?” Keningku mengernyit. Dalam hati aku berdoa kau akan mengurungkan niatmu di detik-detik terakhir.

Tetapi harapanku menguap begitu saja saat melihatmu menggelengkan kepala. Detik berikutnya, bus sudah bergerak meninggalkan perhentiannya.

“Untuk apa takut pada sesuatu yang belum terjadi, Ppo?”

“Tapi...” Aku berujar ragu, lantas membasahi bibirku yang terasa kering. Mataku tidak bisa menolak untuk melirik ke arah dada kiri tempat jantungmu berada.

“Lupakan.” Kau berbisik dalam rambutku, lalu mendaratkan kecupan seringan bulu di puncak kepalaku. “Dan jadilah pacar yang menyenangkan.”
***

Angin berembus lembut, membawa aroma garam yang khas. Rambutku berkibar seperti selembar bendera hitam yang menutupi sebagian wajahku. Kita berdiri bersisian seolah menantang pemandangan serba biru yang terbentang di depan. Sementara kaki telanjang kita sudah tenggelam dalam pasir pantai yang hangat.

“Sudah lama aku ingin mengajakmu kemari.” Kau bergumam sambil memasukkan kedua tanganmu ke saku celana jeans. “Pantai ini sangat cantik. Dulu kakek sering membawaku kemari saat liburan.”

“Terima kasih, chouchou,” seruku senang sambil meraih dan memeluk lehermu.

Tidak seperti biasanya, kau tidak melancarkan aksi protes saat aku memanggilmu ‘chouchou’. Kau hanya terdiam seolah tenggelam dalam pikiranmu sendiri. Meninggalkan aku yang bingung tetapi tidak berani bertanya. Takut merusak suasana. Maka, aku hanya bisa menempelkan pipi ke dadamu, mendengarkan debar jantungmu yang membuatku merasa lebih hidup.

“Terima kasih, ya, Ppo, untuk semuanya.” Akhirnya kau kembali bersuara. Walaupun entah karena desau angin pantai yang melankolis atau telingaku yang kelewat sensitif, tetapi nada bicaramu sarat akan kesedihan. “Terima kasih sudah menjadi sahabat dan pacar terbaik untukku selama ini.”

Asal kau tahu saja, aku mencebik kesal mendengar kata-katamu. Benar-benar kesal. “Jangan mengatakan hal menyedihkan seperti itu.”

“Bagian mananya yang menyedihkan dari sebuah ungkapan terima kasih?”

“Tapi kau mengatakan itu seolah-olah kau akan... pergi,” ucapku perlahan hampir seperti bisikan. Karena aku begitu takut membayangkan kau tidak lagi ada di sisiku.

Tetapi kau malah terkekeh tanpa beban, seolah kata-kataku hanyalah gurauan untuk menghibur penonton. “Aku tidak akan pergi ke mana-mana.”

Aku mendongak sebentar. Sengaja ingin memandang wajahmu yang semakin pucat dari hari ke hari. Walaupun senyum hangatmu tidak pernah memudar. Setebal apa pun kumulonimbus yang menaungimu beberapa bulan terakhir.

“Tidak ada yang berhak menentukan hidup dan mati manusia, Ppo. Banyak yang hidup pantas mati, dan yang mati pantas hidup. Kematian itu pasti untuk semua makhluk hidup,” katamu sambil memelukku lebih dekat padamu. Sementara aku hanya terdiam mendengarkan. Karena inilah pertama kalinya aku tergugah mendengar setiap kata yang kauucap. Seolah kau adalah seseorang yang baru saja kukenal tujuh menit yang lalu. Bukannya tujuh tahun yang lalu.

“Walaupun setiap kehidupan selalu berakhir dengan kematian, bukan berarti kita hanya bisa pasrah dan diam menunggu saat itu tiba. Kita berhak meraih kebahagiaan bersama orang yang kita sayangi. Bersikap baik dan mencetak prestasi, agar kita tidak akan semudah itu dilupakan,” lanjutmu lantas kembali mengecup puncak kepalaku. Kali ini, lebih lama dari sebelumnya. Aku bersyukur sudah keramas sebelum berangkat menjengukmu tadi.

“Dan aku memilih untuk bahagia bersamamu.” Aku diam-diam tersenyum di dadamu mendengar itu. Sementara kau memberi jeda yang membuatku berdebar-debar tidak keruan. Merasakan firasat kau akan menyampaikan sesuatu yang penting. “Mereka sudah menemukan pendonor jantung untukku. Dan aku sudah menyetujui untuk melakukan operasi.”

Sontak aku melepaskan pelukan kita begitu saja. Lantas melompat senang ke udara. “Benarkah?”

“Tolong tenang sedikit, Ppoppo. Atau aku akan menciummu.”

Aku mendengarmu berbisik mengancam. Tetapi tidak semudah itu aku menurutimu. Perasaan senang di dalam dadaku sedang membuncah dan mungkin akan membuatku meledak. Bagaimana tidak, setelah berkali-kali menolak, akhirnya kau akan menjalani operasi demi kesembuhanmu.

Lompatanku baru terhenti begitu kau menarik lenganku dan membuktikan ancamanmu. Bibir pucatmu mengecup lembut bibirku, mengakibatkan semburat merah di kedua pipi. Alih-alih kembali melompat senang, aku hanya bisa tertunduk malu. Walaupun jantungku melompat-lompat liar di dalam sana.

Aku akan selalu mengingatnya. Itu ciuman pertamaku. Ciuman pertama kita.
***

‘Aku masih penasaran, sebenarnya apa sih arti ‘ppoppo’ yang sering kauucapkan?’ tanyaku kala itu, beberapa menit sebelum kau pindah ke ruang operasi.

‘Kau sendiri belum membongkar rahasia arti kata ‘chouchou’,’ sahutmu tidak mau mengalah.

Seulas senyum usil berkedut di bibirku. ‘Itu panggilan sayang dalam bahasa Perancis. Kalau tidak salah, ‘chou’ berarti ‘kubis’.’

‘Kubis?’ ulangmu dengan kedua alis terangkat. ‘Selama ini kau memanggilku ‘kubiskubis’?’

‘Memang kenapa?’ Aku mengangkat dagu dengan angkuh. ‘Aku yakin arti ‘ppoppo’ juga tidak lebih romantis dari itu.’

‘Kata ‘ppoppo’, berasal dari bahasa Korea yang artinya....’ jelasmu perlahan lalu memberi jeda. Jemarimu terulur dan meraih daguku menghadap kepadamu. Apa kau tahu saat itu aku menahan napasku? Entah mengapa aku membayangkan kau akan menciumku. Dan napasku nyaris berhenti saat kau melakukan apa yang kupikirkan. Lalu tersenyum dan berbisik, ‘Aku mencintaimu, Ppo.’

Seulas senyum memaksa hadir di tengah rahangku yang gemetar. Air mata berderai di pipiku, membuatku seperti orang sinting yang tersenyum sambil menangis bersamaan. Dan harusnya kau sadar diri. Semua senyum dan air mataku bersumber dari satu orang yaitu dirimu.

Apa kau ingat, saat itu adalah pertama kalinya kau berkata bahwa kau mencintaiku? Entah sebagai sahabat atau sebagai pacar, aku tidak peduli. Selama itu adalah dirimu.

Maaf karena aku bersikap pengecut. Dan menghilangkan kesempatan bagimu untuk mendengar balasan dariku secara langsung.

“Aku mencintaimu, Chou,” bisikku lirih. Perlahan aku mengecup batu granit yang terukirkan namamu.



TAMAT