Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Juni 2016

RabuRabuChallenge - Whiter Than White

Keluarga, haruskah yang dinamakan keluarga adalah orang yang memiliki darah yang sama? Jika aku bisa memilih, aku akan memilih untuk dilahirkan di tengah-tengah keluarga yang damai, bukan ditengah kekacauan ini. Aku tak akan mengelak jika aku dianggap turut andil dalam kekacauan ini. Aku cukup tahu diri dengan tidak menganggap diriku sebagai satu-satunya malaikat dalam keluargaku.

Kurasa siapapun akan keberatan jika dihadapkan pada ayah yang tukang judi, ibu yang menjadi simpanan beberapa pejabat tinggi negara, adik laki-laki yang menjadi buronan lantaran aksi perampokan bank negara beberapa minggu yang lalu.

Apa yang bisa kubanggakan saat orang lain menanyakan status sosial dan pekerjaan orang tuaku? Apakah aku harus mengatakan bahwa ayahku investor sebuah perusahaan dengan saham yang bercecer dimana-mana? Atau ibuku yang merupakan istri pejabat negara? Tidak, bahkan ketika aku memuliakan pekerjaan mereka, tak akan ada sedikitpun perhatian mereka. Keegoisan dalam keluargaku bagaikan sebuah pembatas tak kasat mata yang menjadikan kami bagai orang lain yang terikat dalam seutas tali yang disebut keluarga.

Aku menggesekkan kakiku pada tanah, menuliskan huruf acak untuk mengisi waktu. Sepuluh menit telah berlalu sejak aku memutuskan duduk di bangku bercat putih itu. Seseorang yang kutunggu tak juga muncul batang hidungnya. Aku masih memerhatikan sepatu biru tua milikku yang masih bergerak gelisah. Kemudian sepasang sepatu berwarna merah berhenti tepat di hadapanku.

Mataku bergerak naik memerhatikan pemilik sepatu tersebut dengan efek slow motion yang mendramatisir. Rambut merahnya menjuntai panjang hingga ke pinggangnya. Tampak kontras dengan terusan putih yang dikenakannya.

“Maaf, aku terlambat, Angga.” Ujar gadis itu dengan senyum menawan di wajahnya. Ini adalah hal kedua yang kusukai darinya setelah kecantikannya. Linda, anak direktur utama perusahaan asuransi terbesar se-Asia. Pencapaian yang luar biasa ditengah keharmonisan keluarga seperti yang aku impikan selama ini.

“Tidak apa-apa, Linda. Kau tampak cantik dengan pakaian putih itu.” Aku tersenyum menatap matanya yang berbinar.

Apa yang bisa kudefinisikan dari warna putih selain murni, bersih atau suci? Jika putih adalah keluarga Linda, maka hitam adalah keluargaku. Entah kapan aku bisa hidup damai dalam kesucian dan kemurnian dari sebuah keluarga.

Aku menggamit jemari Linda, melangkah sejajar menuju suatu tempat yang telah kami sepakati. Merasakan deruan angin yang membawa ombak menghantam karang. Kami duduk di sebuah tebing membiarkan cipratan-cipratan air laut membasahi tubuh kami.

“Aku tak pernah merasa sedamai ini.” Ujar Linda sambil memejamkan matanya.

“Aku senang kau menikmatinya.” Aku mengeratkan genggamanku pada jemari Linda.

Pakaian kami semakin basah, hingga aku memutuskan untuk membawa Linda menjauh. Namun sayang, keadaan yang tidak menguntungkan membuat Linda terpeleset hingga terjatuh.

“Linda!!” Teriakku saat gadis itu terjun bebas dan menghantam karang di bawah sana. Seketika pakaian Linda berubah warna semerah darah. Aku mengusap wajahku gelisah lalu berlari untuk mencari pertolongan.
***

Linda, gadis itu telah pergi. Tetapi, tak ada alasan yang membuatku terpuruk dalam kesedihan selama berbulan-bulan. Aku menyesap secangkir kopi, kemudian seorang gadis menarik kursi dan duduk di hadapanku.

“Apa kau sudah lama menunggu?” Tanya gadis itu sambil meletakkan tasnya di atas meja.

“Tidak, Risty. Kau akan mengajakku kemana hari ini?”

“Aku ingin membeli pakaian. Ayahku memberi ini kemarin.” Kata gadis itu sambil menunjukkan sebuah kartu kredit unlimited. Tak heran, ayahnya yang merupakan konglomerat begitu mencintai anak semata wayangnya.

“Beruntung sekali hidupmu.” Ujarku sambil tersenyum senang.

Kami memilih sebuah mall untuk menjadi tujuan Risty berbelanja. Sudah tiga jam kami berputar-putar dengan delapan kantong belanja yang memenuhi kedua tanganku.

“Aku lelah, Risty.” Ujarku yang semakin mirip pembantu daripada seorang pacar.

“Tunggu, Angga. Ini yang terakhir. Bagus, tidak?” Tanya Risty sambil menunjukkan sebuah kemeja tanpa lengan berwarna putih.

Aku mengangguk, “Bagus. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat besok sore. Pakailah kemeja itu.”
***

Sore ini, Risty terlebih dulu menungguku. Sebuah kemeja putih dipadukan dengan celana bermotif bunga menambah kesan modisnya. Aku menggandengnya menuju tempat favoritku, tak jauh dari tempat kami bertemu.

Aku berdiri di atas tebing, menyaksikan Risty yang berdiri membelakangiku dan berpose layaknya patung Christo Redentor.

“Aku sangat beruntung bisa menyaksikan ini.” Kata gadis itu dengan suara riang.

“Kau dipenuhi keberuntungan, sayang.” Balasku yang kemudian menyentuh pundaknya.

Namun entah mengapa gadis itu justru terjun bebas ke bawah sana, hingga suara teriakannya terhenti tepat saat darah memancar di sekitar tubuhnya.

“Risty!!” Teriakku saat menyadari tubuh gadis itu telah tergeletak di bawah sana. Aku berbalik, untuk mencari pertolongan, namun seseorang berdiri menghalangi langkahku.

“Minggir, aku harus mencari pertolongan.” Ujarku berusaha menghindari tatapan menyelidik seorang gadis di hadapanku.

“Untuk apa? Bukankah kau sengaja melakukannya?” Tanya gadis itu.

“Sengaja? Untuk apa? Jangan berbicara yang tidak-tidak.”

“Aku sudah mengamatimu sejak setahun yang lalu. Kau membawa empat gadis berbeda dengan akhir seperti ini.”

Aku tercengang menatap gadis itu, “Aku tak mengerti, apa maksudmu?”

“Aku tahu semuanya. Aku anak penjaga tempat ini. Dan sejak kau membawa teman ketigamu, aku menjadi yakin betul bahwa kau adalah orang yang sama yang mendorong gadis-gadis itu. Tapi aku masih tak mengerti dengan tujuanmu.”

Aku menggertakkan gigi menahan amarah yang hampir menguasai diriku. Aku tak menyangka bahwa tindakanku seceroboh ini. Aku yakin betul tak seorangpun ada di tebing saat aku mendorong mereka.

“Aku benci melihat mereka bahagia.” Ujarku dengan suara berat. “Mereka hanya anak manja, aku benci melihat mereka.”

“Lantas mengapa kau mendekati mereka?”

“Aku hanya ingin melampiaskan apa yang kurasakan selama ini. Harus mengandalkan diri sendiri untuk bertahan hidup. Bahkan, kelaparan meski ada makanan di depan mataku. Kau tahu kenapa? Karena keluargaku dipenuhi amarah dan keegoisan. Yang menjadi milik mereka tak akan pernah menjadi milikku. Aku menyesal harus dilahirkan dalam kekacauan itu. Dan aku benci melihat gadis-gadis sombong itu begitu mudahnya mendapatkan apa yang mereka mau dari keluarga mereka!”

“Kau hanya iri. Tapi tidak seharusnya kau melakukan semua itu.” Ujar gadis itu yang lagi-lagi menyulut emosiku.

“Kau tidak akan mengerti!” Hardikku seraya mencengkeram kerah kemeja ungu miliknya. “Jangan ikut campur dengan urusanku atau kau akan berakhir sama dengan mereka.” Aku menyeret gadis itu ke ujung tebing, bersiap mendorongnya agar jiwanya tenang menemani Risty di bawah sana.

“Silahkan jika kau mau melakukannya, Angga.”

Mataku terbelalak menatap gadis yang balik menajamkan pandangannya padaku. Mengapa ia mengetahui namaku? Aku tak pernah merasa pernah mengenal gadis ini sebelumnya. Aku melonggarkan cengkeramanku, mencoba menggali ingatan tentang gadis di hadapanku.

“Siapa kau?” Tanyaku penasaran.

“Apa kau tak mengingatku?” Kata gadis itu sambil mengernyitkan dahinya. Aku menatap wajahnya yang berkulit pucat dan rambut pirang gelapnya yang melambai-lambai diterpa angin.

Aku hanya menggeleng. Ingatan payahku tak cukup mampu menunjukkan siapa gadis itu.

“Aku mengerti apa yang kau rasakan.” Ujar gadis itu lagi. “Aku juga sama buruknya denganmu.”

“Tidak. Kau tidak tahu apapun.”

“Keluargaku hancur setelah ayahku sakit parah dan meninggal, kemudian ibuku meninggalkanku dan adikku karena hidup kami yang tak lagi sama. Lalu aku...” mata gadis itu tampak berkaca-kaca saat memberikan jeda pada ceritanya, “Aku meninggalkan adikku di sebuah stasiun saat ia masih sangat kecil. Menanggalkan segala tanggung jawabku dan menghilang. Hingga penjaga daerah tebing ini mengangkatku sebagai anak.”

Tiba-tiba secercah ingatan mulai menyentuh ingatanku. Beberapa tahun yang lalu, aku duduk di pinggiran tebing. Lalu kulihat seorang gadis kecil menangis sambil memeluk lututnya. Gadis bergaun merah yang menerawang jauh, menatap matahari senja yang nyaris ditelan lautan.

Dia berkata bahwa dia telah melakukan dosa besar, dia telah membuang adiknya, satu-satunya keluarga yang bisa diharapkannya. Saat itu, aku mengaitkan jari kelingkingku dengan miliknya. Aku berjanji untuk membantunya mencari adik kecilnya. Aku ingat, saat itu aku juga berjanji padanya untuk menjadi keluarganya. Namun aku melupakan janjiku dan meninggalkan gadis itu sendiri.

“Rossa...”

“Aku senang kau mengingatku, kak.”

Gadis itu tersenyum lebar, kemudian memelukku dengan erat hingga membuatku nyaris terjatuh. Sejenak, hatiku luluh karena gadis kecil, satu-satunya orang yang menganggapku keluarga itu kini telah tumbuh menjadi gadis jelita yang masih setia dengan janjinya.

“Jangan lakukan itu lagi, aku akan tetap menjadi keluargamu. Mari kita mulai segalanya dari awal. Mengubah segalanya menjadi yang terbaik dari yang terbaik. Kita akan lalui semua ini bersama-sama, kak.”

Kurasa racun di otak dan hatiku terlalu pekat, bahkan seorang malaikat semurni Rossa, tak akan mampu mengubah diriku yang terlanjur penuh dosa ini. Aku menarik bibirku, memandangi gadis di hadapanku yang mulai berurai air mata. Mungkin aku bisa mencobanya.
***

Langit senja memancarkan semburat kemerahan, menjadi latar pemandangan seorang gadis bergaun hitam dengan rambut pirang gelap alami yang tergerai indah. Gaun panjangnya berkibar diterpa angin, menampakkan kaki telanjangnya yang menapak di atas tebing yang biasa kusinggahi. Aku mematri langkahku, memerhatikan sosok yang mulai membuatku bimbang.

“Apa yang kau lakukan disitu? Kemarilah, kak.” Suara lembut gadis itu membelai telingaku, menyadarkan lamunan hampa yang sedari tadi mengganggu aktivitasku.

“Kau sendiri?” Aku mulai melangkah, menyejajarkan diriku di sampingnya. Gadis itu tumbuh dengan baik. Bahkan tingginya sudah nyaris melampaui bagian bawah telingaku.

“Aku hanya mengamati senja. Bukankah senja terlihat romantis?”

“Kurasa begitu. Kenapa kau memakai pakaian seperti itu? Anginnya sangat kencang.” Aku melepaskan jaket berwarna putih yang kukenakan, kemudian memakaikannya pada Rossa untuk menutup pundak telanjangnya.

“Kurasa kau sedang memikirkan sesuatu. Apa kau tidak ingin membaginya denganku?” Tanya gadis itu dengan tatapan menyelidik.

“Aku sudah tak bisa membersihkan jiwaku yang telah pekat dengan kebencian. Tangan ini bahkan telah menghilangkan banyak nyawa. Aku merasa tak pantas lagi untuk menginjakkan kakiku di bumi.”

Aku merasa sangat berputus asa. Rossa telah mengajariku banyak hal selama beberapa hari terakhir, dan itu membuatku menyadari bahwa aku adalah manusia terburuk yang pernah menghirup udara di bumi. Aku bahkan merasa tak seorangpun yang akan mampu menarikku dari lubang hitam yang terus mengisap tubuhku.

“Apa yang kau katakan?”

“Mungkin aku tak bisa lagi menepati janjiku padamu. Teruslah berjuang untuk menemukan adikmu. Maafkan aku, Rossa.”

Aku memeluknya, merasakan kehangatan tubuhnya yang juga menghangatkan hatiku, mencairkan air mataku yang telah lama membeku. Aku bahkan tak mampu mengucapkan apa yang ingin kuucapkan. Lidahku terasa kelu meski untuk mengucapkan sepatah kata.

Menurut semua orang, aku adalah bagian terburuk dari yang paling buruk. Tetapi dia mengajariku bahwa yang terburuk justru mampu memberikan yang terbaik bahkan lebih dari yang paling baik. Aku melangkah mundur, menjauhkan tubuhku sebelum keteguhanku runtuh. Mengurai senyum terakhirku untuknya. Untuk malaikat kecilku.


TAMAT

RabuRabuChallenge - After Blackout

Ada rindu dan juga ketakutan di mata lelaki itu. Ia merindu gadis yang sosoknya selalu bisa dilihatnya. Walau hanya secara sepihak. Tetapi ia juga takut jika tiba-tiba saja gadis itu akan meninggalkannya. Ia takut jika mata gadis itu akan tertutup selamanya. Dan menenggelamkannya dalam kubangan hitam kesedihan.

Seperti dongeng yang selalu dituturkan gadis itu saat mereka masih kecil.

‘Sang putri terbangun dari tidur panjangnya setelah mendapat ciuman cinta sejati dari sang pangeran. Dan akhirnya, mereka hidup bahagia selamanya.’

Sederet kalimat itu mengalir deras dalam benak lelaki itu. Lengkap dengan suara cempreng khas gadis kecil. Kemudian ia mengalihkan pandangan menatap nanar pada gadis yang terbaring tidak berdaya di hadapannya. Gadis itu adalah gadis yang sama dengan gadis kecil yang sering membacakan dongeng kepadanya saat mereka masih anak-anak.

Dan mirisnya, keadaan gadis itu saat ini mirip seperti tokoh putri dalam dongeng favoritnya.

Sudah sebelas bulan. Dan selama itu pula Giselle tertidur di atas tempat tidur rumah sakit dengan berbagai alat yang terpasang pada tubuhnya. Tubuhnya tergeletak tidak berdaya dengan kulit yang pucat. Sering kali lelaki itu berharap bisa menggantikannya menanggung semua rasa sakit itu.

Sanak saudaranya, teman-teman, dan juga rekan-rekan sesama model sering datang untuk menjenguk. Mereka semua mendoakan kesembuhan Giselle. Berita tentang musibah yang menimpa Giselle dan orang tuanya memang sudah diketahui banyak orang. Itu juga yang membuat Gabriel—kakak Giselle, langsung terbang pulang meninggalkan kuliahnya di Indonesia.

Bahkan wartawan dari beberapa media cetak pernah datang demi meliput perkembangan kesehatan Giselle. Gadis itu memang cukup dikenal sebagai model perempuan yang berprestasi. Tetapi Gabriel  selalu menolak kedatangan para pemburu berita itu.

“Giselle,” lelaki itu berbisik memanggil gadisnya. Entah mengapa, walaupun ia bisa melihat sendiri bahwa kedua mata itu masih terpejam, tetapi ia yakin bahwa gadis itu masih di sini. Ia merasa yakin Giselle berada di dekatnya.

Dan lelaki itu berharap gadisnya bisa mengerti betapa ia menginginkannya untuk kembali. Ia rela melakukan apa pun untuk membuat gadis itu kembali terbangun.

Apa pun. Termasuk mengecup bibirnya seperti pangeran yang memberikan ciuman cinta sejati untuk membangunkan sang putri dari kutukan.

Sayangnya, cara itu benar-benar hanya ada di dalam dongeng. Logika sudah berkali-kali memberi peringatan sebelum lelaki itu melakukan tindakan konyol yang terlintas liar dalam benaknya. Tetapi perasaannya terus saja memberi dukungan bahwa tidak ada salahnya mencoba.

Lalu sekarang apa? Giselle belum juga terbangun. Dan ia sendiri sudah menjadi lelaki berengsek karena mencium seorang gadis yang sedang tidak berdaya.
***

Sebuah ketukan ringan di bahu lelaki itu, membuatnya terjaga seketika. Entah sejak kapan ia sudah terlelap berbantal lengan di tepi tempat tidur Giselle. Ia mendongak dan mendapati Gabriel berdiri di sampingnya. Sepasang mata lelaki itu tampak lelah dan sendu menatap keadaan adik gadisnya.

“Beristirahatlah sejenak, Giberto. Biar aku yang menjaga Giselle.”

Gilberto mengangguk patuh. Ia bangkit dan membiarkan Gabriel menduduki tempatnya. Ia menatap sekilas ke arah Giselle sebelum bergerak menuju kamar mandi.

Berkali-kali, Gilberto membasuh wajahnya dengan air yang mengucur dari keran wastafel. Titik-titik air tertinggal di sudut-sudut wajahnya. Bergelayut di antara bakal janggutnya yang semakin lama tidak mengenal pisau cukur.

Perasaan bersalah menamparnya berulang kali saat mengingat kembali apa yang sudah dilakukannya tadi. Ia merasa bersalah pada Gabriel. Orang yang sudah memercayakan Giselle padanya.

Dan terutama lebih buruknya lagi. Ia merasa bersalah pada Giselle. Bagaimana mungkin ia tega bertindak tidak senonoh pada gadis yang dicintainya itu.

Gilberto menundukkan kepalanya dalam-dalam, sebagai bentuk penyesalan atas perbuatanya. Kemudian ia kembali memanjatkan doa agar gadis itu kembali membuka matanya. Kembali sehat dan ceria seperti yang dikenalnya selama ini. Kembali kepada semua orang yang menunggunya. Kembali kepada Gilberto untuk mendengarkan pernyataan cintanya.

Ya. Gilberto telah jatuh cinta pada teman masa kecilnya. Tetapi ia sendiri tidak tahu sejak kapan perasaan di dalam hatinya ini berubah menjadi cinta. Mereka terlalu sering bersama sehingga ia tidak bisa dengan cepat mengenali perubahan reaksi hatiku terhadap kehadiran gadis itu.

Tetapi jika ciumannnya bahkan tidak bisa membangunkan Giselle, apakah itu berarti bahwa gadis itu bukanlah cinta sejatinya?

Jantung Gilberto seakan dihujam ribuan anak panah ketika memikirkan kemungkinan itu. Tetapi jika memang itu benar, ia rela. Ia tidak akan menghalangi Giselle untuk menemukan cinta sejatinya. Mungkin ia akan merasa cukup dengan mengungkapkan perasaan terpendamnya pada Giselle. Ia sudah tidak lagi peduli pada dirinya sendiri. Ia hanya ingin gadis itu kembali.
***

Gabriel sudah pergi beberapa saat yang lalu, mengembalikan kursi di samping tempat tidur Giselle kepada Gilberto. Lelaki itu selalu menenggelamkan diri dengan pekerjaannya. Mengurus banyak hal yang ditinggalkan orang tuanya. Mencari pelipur lara di antara kesibukannya. Seolah semua itu mampu menyembuhkan duka di hatinya.

Gilberto mengulurkan tangannya dan membelai ringan pipi Giselle yang semakin tampak pucat. Seperti bulan yang kehilangan cahaya dan membiarkan bumi menghitam dalam kegelapan abadi.

Seperti dunia Gilerto saat ini.

Seperti dunia Gilerto tanpa senyuman Giselle.

Seperti dunia Gilerto tanpa dongeng yang harus didengarnya berulang kali.

“Kumohon, jangan tinggalkan aku....” Gilberto meraih dan mengecup punggung tangan  Giselle penuh harap. Bahkan ia tidak lagi mampu menghalau air matanya. “Aku mencintaimu, Giselle. Kumohon kembalilah....”

Tiba-tiba saja Gilberto merasakan jemari Giselle bergerak lemah dalam genggamannya. Sontak ia berdiri dari duduknya untuk memastikan bahwa ini bukan bagian dari khayalannya. Benar saja. Mata gadis itu terbuka walaupun tampak redup.

“Giselle,” panggil Gilberto dengan harapan yang masih bergayut berat. Ia memberanikan diri walaupun ada kemungkinan bahwa suaranya sendiri akan berkhianat dan membuatnya sadar jika saja ini hanyalah mimpi.

Tetapi gadis itu seolah mengerti keraguan Gilberto. Maka, ia menjawab dengan mengerjapkan matanya perlahan. Dan memaksa lelaki itu untuk menerima bahwa ini adalah kenyataan.

Ada rindu dan juga ketakutan di mata lelaki itu. Ia sangat merindukan gadis yang terbaring sambil menatapnya tanpa ekspresi yang kuat. Tetapi ia juga merasa takut jika apa yang dilihatnya saat ini hanyalah bagian dari ilusi yang muncul karena ia terlalu berharap. Tetapi kemudian gadis itu mengulas senyum tipis, seolah ingin meyakinkan lelaki yang ternganga menatapnya. Senyuman itu nyatanya mulai melukiskan warna-warna ceria di atas tumpahan cat hitam dalam kanvas hidup Gilberto.

Gemetar, tangan Gilberto menekan tombol di samping tempat tidur.

“Dokter, dia sudah sadar! Dia sudah sadar!” seru lelaki itu sarat akan rasa haru sekaligus senang.

Begitu para pengabdi medis berpakaian serba putih itu memasuki ruangan, ia bergerak keluar untuk memberi ruang bagi pekerjaan mereka. Kakinya mondar-mandir di koridor yang dipenuhi aroma disinfektan. Sementara tangannya menggenggam ponsel yang ditempelkan di telinga, menunggu panggilannya tersambung.

“Halo?”

Sesaat, lelaki itu seperti kehilangan suaranya. Tetapi beberapa detik kemudian, ia sudah bisa berkata cepat tanpa terkendali. Walaupun ia terus mengulang kalimat serupa.

“Dia sudah sadar! Gabriel, dia sudah sadar! Giselle sudah sadar!” ucapnya dengan suara garau, merasakan kabut hitam berangsur hilang diembus cahaya yang berpendar menjelma warna pelangi. Menghapus ketidaksadaran yang direnggut kegelapan.



TAMAT

Rabu, 18 Mei 2016

RabuRabuChallenge - Love at The First Flight


“Tidakkah kau pikir pembicaraan orang-orang begitu membosankan?”

“Aku bahkan tak mendengar seorangpun berbicara, Cecile.” Ujar Amelie cuek sambil sekali lagi memasukkan sepotong pizza ke dalam mulutnya.

Aku mengembuskan napas beratku, jenuh dengan kelebihan yang membuatku muak. Aku, Cecile Bouvier, seorang gadis yang berasal dari sebuah tempat yang amat sangat jauh. Salah satu kepulauan di Samudra Pasifik, yang berjarak sekitar 321,5 kilometer dari Pulau Clipperton.

Sekitar enam tahun yang lalu, aku kehilangan keluargaku karena sebuah kecelakaan kapal, kemudian salah satu tim sukarelawan menampungku di rumahnya, di Marseille, pesisir tenggara Perancis dan mengangkatku sebagai seorang anak. Dan setahun kemudian ayah angkatku berhasil membuatku menjadi seorang pramugari di usia dua puluh tahun.

“Aku mendengar mereka membicarakanmu, Amelie.” Aku mengerang jengkel karena Amelie bahkan tak peduli jika masyarakat menghujatnya. Skandalnya dengan aktor nomor satu Perancis, Aldrick Roux telah menyurutkan karirnya dalam satu tahun terakhir sebagai model ternama.

“Pasti dengan kalimat yang sama, Amelie Benoit, mengganggu rumah tangga Aldrick Roux. Sudahlah Cecile, aku benar-benar tak peduli. Kurasa kau perlu membeli penutup telinga.”

Penutup telinga? Bahkan aku sudah membeli penutup telinga paling mahal sedunia. Entah ini sebuah anugerah atau musibah, sebuah kemampuan untuk mendengar pembicaraan orang, bahkan hingga dalam radius 100 kilometer. Terkadang percakapan membosankan itu justru terdengar saat pikiranku kosong, sehingga membuatku terjebak dalam suasana hati yang buruk, seperti siang ini.

“Terserah kau saja.” Ujarku tak peduli. Amelie, sahabat dekatku sejak aku menginjakkan kaki di Paris. Gadis pemuja cinta meski di tempat yang salah.

“Kapan kau akan kembali terbang, Cecile?” Tanya Amelie mencoba menemukan topik baru. Ini adalah pertanyaan yang membuatku jemu. Sepanjang kepulanganku dari penerbangan terakhir, setiap saat semua orang bertanya kapan aku akan kembali. Terlebih ini adalah hari terakhir liburku sebelum besok aku harus kembali melebarkan bibirku untuk menyambut penumpang.

“Besok pagi. Ah… nerakaku akan dimulai.” Perkerjaanku sebagai pramugari yang telah kutekuni selama enam tahun ini, cukup memberikan banyak pengalaman. Terlebih mengenai hal kesabaran.

“Bersemangatlah, siapa tahu kau akan mendapatkan jodohmu di sana.” Goda Amelie. Yang benar saja. Jika memang begitu, aku bertekad setelah menikah aku hanya ingin menjadi ibu rumah tangga dan mengurus anak-anakku kelak.
***

Seragam berwarna kelam terlihat kontras membalut tubuhku. Sekali lagi aku memerhatikan dandananku di depan cermin sebelum bersiap untuk menyapa penumpang. Alice yang tengah berdiri di sampingku sibuk memoles bibirnya dengan warna merah yang sedikt gelap. Aku memerhatikan cermin, pikiranku kembali tertuju pada orang tua angkatku dan itu membuatku sedikit menyesal karena tidak menemui mereka di Marseille saat mendapatkan libur.

“Aku tidak akan pergi ke Marseille. Jadi jangan pernah menyuruhku kesana!” Kata-kata yang mengandung Marseille tampaknya membuat telingaku peka, bahkan aku tak melihat seorangpun di sepanjang lorong pesawat kecuali Corine, rekan kerjaku yang telah siap menyambut kedatangan penumpang. Aku menutup kedua telingaku, berusaha tidak mencuri dengar pembicaraan orang lain yang entah berada di mana.

“Ada apa, Cecile? Kau baik-baik saja?” Tanya Alice yang tampaknya memerhatikanku. Aku hanya melempar senyum pada gadis itu, kemudian turut bergabung dengan Corine.

Sejauh ini semua tampak baik-baik saja, sebelum seorang lelaki yang wajahnya sangat aku kenali menyapaku kembali siang ini. Aku mendesah putus asa, namun buru-buru mengenakan topeng tersenyum milikku untuk bersikap hormat padanya.

“Cecile, apa kau masih tidak ingin memberikannya padaku?” Tanya lelaki itu setelah menerima air mineral yang dipesannya.

“Silahkan menikmati perjalanan anda.” Ujarku tanpa mengindahkan pertanyaannya. Kemudian aku melangkah untuk memberikan pesanan lain.

Saat aku kembali lelaki itu meraih pergelangan tanganku, “Apa kau akan membuatku menghabiskan uang untuk pesawat hanya demi meminta nomor ponselmu?” 

“Saya kira anda memiliki urusan lain ketika anda memutuskan untuk membeli tiket pesawat.”

“Ya, urusanku ada denganmu, Cecile. Kau pikir sudah berapa banyak uang yang kukeluarkan hanya untuk ini?”

Hanya untuk bertemu denganku dan meminta nomor ponselku? Yang benar saja. Mana ada orang yang akan rela melakukan hal bodoh semacam itu?

“Kesabaranku sudah hampir habis, Cecile. Jika kau tak memberikannya, aku benar-benar akan membuat onar lagi di sini.”

Untuk ancamannya, kupikir lelaki ini pantas disebut gila. Dua minggu yang lalu dia telah membuktikan ancaman yang sebelumnya pernah dilontarkannya. Namun itu tidak membuatku gentar untuk menyerahkan nomor ponselku pada lelaki ambisius tersebut. Aku bahkan tak mampu membayangkan seberapa kaya dan luang waktunya hanya untuk menuruti ambisinya itu. Kurasa dalam tiga bulan terakhir aku terlalu sering melihat wajah lelaki itu. Wajahnya yang tampan khas lelaki Spanyol.

“Silahkan menikmati perjalanan anda.” Lagi-lagi hanya itu yang bisa kuucapkan. Lelaki ini membuatku takut dan membuat tekadku semakin bulat untuk segera meninggalkan pekerjaan ini.
“Bagaimana dia tahu, namaku?” Aku menggerutu, menatap cermin yang memantulkan wajah lelahku.

“Aku yang memberitahunya. Dia memaksaku untuk memberi tahu namamu.” Ujar Veronica yang berdiri dibelakangku.

Aku mendesah putus asa. Tak beberapa lama, aku mendengar sebuah keributan tak jauh dari tempatku berdiri. Membuatku harus segera bertindak untuk menghentikan keributan tersebut.

“Silahkan anda kembali ke tempat duduk.” Ujar Corine menenangkan.

“Tidak, di mana Cecile? Aku harus bicara dengannya.”

“Apa yang ingin anda bicarakan dengan saya?” Lagi-lagi lelaki itu memang membuktikan ucapannya. Dapat kulihat mata para penumpang tengah sibuk memerhatikan keributan yang dibuat oleh lelaki berambut pirang gelap yang kini telah berdiri di hadapanku.

“Aku Jose. Cecile, aku benar-benar ingin mengenalmu. Tidak bisakah kau memberiku kesempatan?”

Tak ada pilihan lain. Sebelum terjadi keributan lebih besar, aku harus mengakhiri semuanya. Dan justru itulah awal segalanya. Awal yang membuat hidupku berubah.
***

Aku mengaduk-aduk gelas berisi jus stroberi itu hingga dentingan es batu yang menyentuh gelas lagi-lagi membuat Jose mendengus. Entah dikatakan apa hubungan kami ini. Kami dekat, tapi aku tidak merasa kami sedang berada di suatu hubungan spesial. Aku menyeruput kembali jus stroberi itu hingga membasahi tenggorokanku yang terasa kering.

“Sampai kapan kau akan bertingkah seperti ini? Apa kau tak akan membiarkanku menemui orang tuamu?” Tanya Jose yang tengah menyangga kepalanya dengan jemari-jemari panjangnya.

“Untuk apa Jose? Aku bahkan tak tahu akan mengenalkanmu sebagai apa.”

“Cecile…” Aku dapat mendengar suara Jose yang penuh penekanan disertai amarah. “Kau tahu akan mengenalkanku sebagai apa.”

Apa yang dia harapkan? Bahkan Jose tak pernah sekalipun mengatakan dia mencintaiku. Meski terdengar kekanakan, bagaimanapun juga aku ingin sebuah kejelasan hubungan kami. Aku mencintainya tapi aku tak pernah tahu bagaimana perasaannya padaku, kecuali sikapnya yang seolah menunjukkan bahwa aku adalah orang spesial baginya. Bagiku itu tak cukup.

“Aku bahkan tak pernah mendengar bagaimana perasaanmu padaku.” Ini sudah tujuh bulan sejak kejadian terakhir kali di pesawat tempo hari. Dan hingga detik ini Jose membuat perasaanku terasa mengambang.

“Kau tahu. Apakah sikapku padamu selama ini masih kurang meyakinkanmu?” Ujar Jose datar. Selalu seperti ini saat aku memancingnya untuk mengatakan perasaannya. Aku mendesah, merasakan ada suatu lubang besar yang menganga dalam hatiku. Lelaki itu sangat susah ditebak.

“Jose.” Suara seorang lelaki merebut perhatian kami. Ia mengenakan setelan rapi kemudian berjalan menghampiri kami.

“Ah, Alain kemarilah.” Jose melambaikan tangannya untuk bergabung di meja kami.

“Bagaimana kabarmu?” Tanya lelaki yang kemudian mengalihkan pandangannya padaku. “Ya Tuhan kau mirip sekali dengan Estelle.” Ujar lelaki itu membelalakkan matanya. Aku mengalihkan pandanganku pada Jose, namun raut wajahnya tak berubah sedikitpun.

“Dia Cecile.” Kata Jose singkat. Tidakkah dia memperkenalkanku sebegai orang spesial atau apa? Ini sedikit menyakiti hatiku.

Ponsel Jose berdering, membuatnya berpamitan untuk sedikit menjauh dari meja kami.

“Apa kau memiliki hubungan dengan Estelle?” Tanya Alain yang masih mengamati wajahku.

Aku menggeleng. “Tidak. Siapa itu jika aku boleh tahu?”

Alain mendesah, rautnya tampak sedikit kecewa. “Dia mantan istri Jose.”

Seketika aku merasa tenggorokanku tercekat. Mantan istri? Aku bahkan tak tahu bahwa Jose pernah menikah sebelumnya. Apakah ini yang membuat Jose mati-matian mendekatiku? Karena aku mirip mantan istrinya?

Sesaat kemudian Jose kembali. Mata coklatnya berusaha mencari tahu apa yang terjadi setelah menyadari mataku yang mulai berkaca-kaca.

“Aku permisi Jose, Alain. Aku masih punya urusan.” Ujarku dengan nada setenang mungkin meski aku sadar aku tak setenang itu. Tanpa menunggu persetujuan Jose, aku meraih tas dan segera melangkah meninggalkan mereka.”

“Apa yang kau katakan pada Cecile?” Terdengar suara geram Jose di telingaku. Di saat seperti ini, aku bersyukur memiliki ketajaman pendengaran yang tak masuk akal ini.

“Dia bertanya mengenai Estelle, jadi aku mengatakan bahwa Estelle adalah mantan istrimu.” Kata Alain jujur. “Jose,” Suara itu membuatku berhenti untuk kembali mendengar percakapan mereka. “Pergilah ke Marseille. Ibu bilang kau tak pernah mengunjungi Estelle.”

Deg. Marseille menjadi kata yang sensitif terlebih ditambah dengan nama itu. Apakah Jose akan mengunjunginya? Apakah dia akan kembali bersama mantan istrinya? Memikirkannya membuat hatiku sakit. Sesegera mungkin aku melangkah sambil menutup kedua telingaku. Menyedihkan.
***

Dua hari ini aku mengabaikan Jose. Di saat seperti ini aku merindukan pekerjaan lamaku sebagai pramugari. Aku sudah melepaskan seragam itu sejak lima bulan yang lalu atas permintaan Jose. Dan lagi aku memang sudah lama ingin berhenti dari pekerjaan itu.

Seseorang membunyikan bel rumahku, membuatku beranjak untuk membukanya. Aku tahu pasti siapa yang datang. Aku tak pernah memiliki tamu kecuali Amelie dan lelaki itu, Jose.

“Cecile, ada apa denganmu?” Tanya Jose begitu melihatku berdiri di hadapannya. “Aku merindukanmu.”

Aku hanya menimpalinya dengan senyum tanpa berniat menjawab sepatah katapun. Dan aku rasa lelaki itu telah merasakan aura gelap di sekelilingku.

“Cecile, aku akan ke Marseille.” Ujar Jose yang seketika membuatku terasa tercekik.

Aku tersenyum getir, menatapnya dengan pandangan hampa. “Untuk menemui mantan istrimu? Silahkan saja.”

“Ikutlah denganku.”

“Tidak Jose. Aku tak akan mengganggu kalian.” Ucapku sinis. Aku melangkah mundur meraih daun pintu untuk menutupnya, namun Jose menghalangi.

“Kujemput kau besok pagi. Bersiaplah.”
***

Entah apa yang terjadi denganku. Aku mengikuti Jose begitu saja. Aku terbang ke Marseille. Diluar dugaan, Jose justru menemui orang tua angkatku untuk meminta izin untuk menikahiku meski tak pernah sekalipun ia mengatakan bahwa ia mencintaiku. Kemudian ia membawaku ke sebuah makam.

Estelle, akhirnya ku ketahui bahwa wanita itu telah tiada karena kanker otak dua tahun silam. Di satu sisi itu membuatku lega. Namun di sisi lain hal itu membuatku takut karena Estelle akan tetap ada membayangi kami.

Aku menatap awan putih yang bergerombol, membuat pesawat yang kutumpangi sedikit bergetar. Aku membayangkan apa jadinya hubungan kami nanti dengan bayang-bayang Estelle. Kemudian, tangan hangat Jose menggenggam jemariku yang terasa dingin.

“Kau tidak mirip dengan Estelle.” Nama itu keluar dari mulutnya, sontak membuatku mengalihkan pandangan padanya. “Estelle yang mirip denganmu.”

Pernyataan Jose membuatku mengernyit heran. Apa maksudnya?

“Pertama kali aku melihatmu sebagai pramugari lima tahun yang lalu, pertama kalinya aku terbang ke luar negeri. Kemudian aku jatuh cinta padamu.” Kata Jose yang kemudian mengecup tanganku yang digenggamnya.

“Lalu?”

“Lalu aku mencoba peruntungan untuk menaiki pesawat beberapa kali, namun aku tidak melihatmu lagi. Kemudian aku melihat Estelle. Sempat kupikir dia adalah dirimu, ternyata bukan. Lalu kami dekat dan menikah meski aku tahu dia sedang sakit.”

Dia menghentikan ceritanya sejenak. Kemudian menatapku lekat-lekat. Benarkah yang ia katakan? Ia bertemu denganku lebih dulu?

“Aku kembali mencarimu, aku mencari tahu melalui maskapai tempatmu bekerja. Namun mereka enggan memberi tahu dengan alasan privasi. Tak ada cara lain kecuali mencoba peruntunganku lagi untuk bertemu denganmu di pesawat.”

Aku tersenyum mendengar ceritanya. Takjub bahwa aku mampu membuat seseorang menginginkanku hingga seperti itu. Aku menyandarkan kepalaku pada pundaknya, memeluk sebelah tangannya yang terbalut kemeja hitam.

“Cecile, aku mencintaimu.”

Pada akhirnya, dua kata yang kunantikan keluar dari mulutnya. Ia mengecup keningku, mengusap rambutku dengan penuh kasih sayang. Tak ada hal yang lebih membahagiakan dari ini sepanjang hidupku. Aku juga mencintaimu, Jose.
Tamat

RabuRabuChallenge - KumulonimBus


Pertama kali aku tergugah dalam setiap kata yang kauucap. Aku sama sekali tidak menyangka, kata-kata seindah itu bisa meluncur dari bibirmu yang biasanya hanya dihiasi candaan yang mengundang tawa. Kau mengucapkan itu dengan wajah yang tersenyum lembut padaku. Tanpa beban. Tanpa binar jail seperti biasanya.

Entah mengapa, tiba-tiba kau seperti seseorang yang baru saja kukenal tujuh menit yang lalu. Bukannya tujuh tahun yang lalu.

Senyuman di wajahmu dengan mudah menular padaku. Selalu saja begitu. Tidak pernah kau bahagia untuk dirimu sendiri. Bagaimanapun kau selalu berbagi tawa dengan orang sekitarmu.

Bagiku, kau seperti matahari bercahaya abadi. Kehangatan sinarmu tetap memancar, sekali pun dari balik gumpalan tebal kumulonimbus.
***

Napasku terengah-engah di antara gemeletap langkah kakiku di atas aspal. Ujung rok kotak-kotak yang kukenakan mengayun bersama angin. Keringat dingin mulai bercucuran di keningku. Mataku melirik cepat pada jarum penunjuk waktu yang melingkar di pergelangan tanganku.

Sial. Tinggal tujuh puluh lima detik lagi tersisa agar aku bisa tiba di halte tepat waktu. Jika tidak, aku harus menunggu bus selanjutnya dan bisa dipastikan aku akan terlambat datang ke sekolah.

‘Flo!’ teriak suaramu yang sudah sangat kukenal. Kau berdiri santai di halte yang kutuju. Tanganmu terangkat dan melambai ke arahku. Senyum di wajahmu, membuatku lebih semangat memacu gerak kakiku yang sudah terasa lemas.

‘Ini rekor baru. Kau datang sepuluh detik lebih cepat sebelum bus datang,’ ujarmu sambil menyimpan kedua tangan ke dalam saku celana kotak-kotakmu. Sementara aku masih membungkuk terbatuk-batuk sambil berusaha mengatur napas yang terputus-putus. Hingga tidak sanggup menentukan kata-katamu sebagai pujian atau sindiran.

Kau menarik kuat tanganku, membawaku ke dalam bus yang akan mengantar kita ke sekolah. Benar-benar tidak peduli denganku yang masih kesulitan bernapas seperti ikan yang baru saja bertamasya ke daratan. Tetapi kuakui, berkatmu kita bisa mendapat tempat duduk dan tidak perlu berdiri berdesak-desakan.

Aku menempelkan kepala dan punggungku ke sandaran kursi bus, sambil bernapas lewat mulut. Seharusnya itu menjadi pemandangan yang mengerikan. Tetapi saat itu kau malah terbahak melihat ekspresi pucatku.

‘Minggu ini saja kau sudah sepuluh kali nyaris ditinggalkan bus sekolah.’

Aku langsung mendelik dan menatapmu dari balik bulu mataku. ‘Satu minggu itu hanya terdiri dari tujuh hari. Bagaimana bisa aku terlambat sepuluh kali?’

‘Itu sudah diakumulasikan dengan rekor-rekormu yang sebelumnya,’ sahutmu lantas tertawa renyah. Suara tawamu selalu menjadi melodi yang kusukai. ‘Ada game baru lagi?’

Kepalaku mengangguk, membenarkan tebakanmu. Kau benar-benar mengenalku dengan baik.

‘Tapi, kan, tidak perlu begadang menyelesaikan game dalam sekali duduk.’ Kau menambahkan sambil mencubit ujung hidungku. Aku memang protes saat itu. Tapi sekarang aku rindu. ‘Aku bisa menemanimu bermain setiap pulang sekolah.’

‘Itu sulit.’ Aku menggelengkan kepala. ‘Kau tahu, kan, aku mudah penasaran.’

Lagi-lagi kau tertawa. Mengingat itu membuatku tersenyum. ‘Kau ini benar-benar lucu, Flo. Pasti menyenangkan jika mempunyai pacar sepertimu.’

Aku tersenyum miring menanggapi candaanmu. ‘Kau juga pasti bisa menjadi pacar yang perhatian.’

‘Jadi, mulai hari ini kita berpacaran?’ Kau bertanya bersamaan dengan deru bus yang muali melaju meninggalkan halte.

‘Boleh. Aku juga sudah bosan tiga tahun bersahabat denganmu,’ sahutku sambil meninju ringan lenganmu.

‘Aku juga berpikir begitu.’

‘Tapi... bagaimana jika nanti kita bosan berpacaran?’ tanyaku dengan kening mengernyit dalam.

‘Itu mudah. Kita kembali lagi saja menjadi sahabat.’

Aku mengangguk-angguk mengerti. Perubahan tiga tahun status hubungan kita benar-benar sederhana. Tanpa buket bunga, tanpa cokelat berpita. Bahkan jauh lebih sederhana daripada rumus matematika. Ah, omong-omong tentang matematika....

‘Apa sebagai pacar kau akan dengan senang hati memberi contekan ujian padaku?’ tanyaku sambil mengerjap-ngerjapkan mata. Berusaha memikatmu dengan kepakan bulu mataku yang jauh dari kata lentik.

‘Tidak.’ Kepalamu menggeleng tegas, mengundang bibirku mengerucut tajam.

‘Kenapa?’ sahutku semanja mungkin. Berharap kau akan berubah pikiran. ‘Sebagai gantinya, aku akan berteriak menyemangati dari pinggir lapangan di setiap pertandingan sepak bolamu.’

‘Tidak, tidak,’ timpalmu cepat sambil bergidik seolah merinding membayangkan kata-kataku. ‘Jangan lakukan hal memalukan seperti itu, Flo.’

‘Kalau begitu, aku akan melakukan itu jika kau tidak memberiku contekan,’ ancamku tidak mau kalah.

‘Kita bisa belajar bersama. Itu jauh lebih mudah,’ balasmu lantas tersenyum simpul. ‘Aku akan menjadi pacar yang baik untukmu.’

‘Kau membuatnya jadi sulit.’ Aku melipat tangan di depan dada, mengalihkan pandangan ke luar jendela bus yang menampilkan deretan pohon yang bergerak cepat.

‘Akan kubuat semenyenangkan saat kau menyelesaikan game.’

‘Benarkah?’ Aku kembali menoleh antusias. Mataku berkilat-kilat senang.

‘Serahkan padaku,’ jawabmu angkuh sambil menepuk dadamu penuh kebanggaan. Seolah kau baru saja mencetak gol ke gawang lawan.

Aku tertawa melihat tingkahmu yang kemudian mengundangmu ikut tergelak. Gema sahut-sahutan tawa itu perlahan memudar dalam benakku, seiring langkahku yang terhenti di hadapan sebuah pintu. Mataku memandang nanar pada pintu bercat putih itu. Sekuat tenaga, aku berusaha mengurai seulas senyum. Sambil mempererat genggamanku pada buket bunga yang kubawa, tanganku terangkat dan mengetuk pintu dengan buku jari.
***

“Ppoppo, kau datang lagi hari ini?” sapamu ceria begitu aku memasuki ruangan bercat putih itu.

“Tentu saja. Aku akan datang terus hingga kau bosan,” sahutku lantas terkekeh. Aku langsung berjalan menuju meja kecil di samping tempat tidurmu, mengganti bunga yang mulai mengering di dalam vas, dengan sebuket bunga Anemone ungu yang baru kubawa.

“Kenapa kau tidak pergi jalan-jalan? Cari pacar sana!”

Bibirku mencebik tidak suka. Ini sudah berulang kali kaukatakan sejak hari pertama kau dirawat dalam bangunan ini. Bangunan yang menjauhkanmu dari duniamu. Dari sepak bola yang kaucintai sepenuh hati. Sementara kau sendiri yang berusaha menjauhkanku darimu.

“Buat apa? Aku sudah punya pacar.”

“Aku sudah bosan jadi pacarmu.”

“Benarkah?” tanyaku skeptis. Aku melipat tangan di depan dada, menyiapkan pion untuk mengalahkanmu secara telak. “Sekali pun aku akan mengabulkan permintaanmu?”

Kau mengangguk. “Sekali pun kau akan mengabulkan permintaan—benarkah itu, Ppoppo?” Matamu langsung terbelalak tidak percaya.

Aku mengangkat tas yang kubawa, meletakkannya di sampingmu yang duduk di tempat tidur. Sebagai bukti dari ucapanku.

Penuh semangat, kau membuka dan mengeluarkan isi tas itu. Setumpuk pakaian sesuai keinginanmu. Tidak banyak yang bisa kulakukan untukmu, jadi aku melakukan apa yang kubisa. Walaupun aku mungkin akan menyesalinya suatu hari nanti.

“Aku bosan melihatmu terus merengek seperti bayi,” ucapku sambil mengerucutkan bibir. Walaupun kau tidak peduli, dan terus saja melebarkan senyuman. “Jadi, apa boleh buat.”
***

“Bagaimana jika orangtuamu kembali dan kau tidak ada di sana?” tanyaku takut.

Perasaan ragu tiba-tiba menyergapku justru ketika kita sudah berada di dalam bus yang akan membawa kita ke tempat yang kauinginkan.

“Tidak apa. Orangtuaku baru akan kembali nanti malam,” jawabmu santai. Benar-benar santai seperti ketika kita menyusup keluar dari rumah sakit tadi. Kau berjalan biasa saja tanpa membuat orang lain curiga. Benar-benar membuat kita seperti pasangan yang baru saja menjenguk teman yang sakit.

“Apa kau tidak... takut?” Keningku mengernyit. Dalam hati aku berdoa kau akan mengurungkan niatmu di detik-detik terakhir.

Tetapi harapanku menguap begitu saja saat melihatmu menggelengkan kepala. Detik berikutnya, bus sudah bergerak meninggalkan perhentiannya.

“Untuk apa takut pada sesuatu yang belum terjadi, Ppo?”

“Tapi...” Aku berujar ragu, lantas membasahi bibirku yang terasa kering. Mataku tidak bisa menolak untuk melirik ke arah dada kiri tempat jantungmu berada.

“Lupakan.” Kau berbisik dalam rambutku, lalu mendaratkan kecupan seringan bulu di puncak kepalaku. “Dan jadilah pacar yang menyenangkan.”
***

Angin berembus lembut, membawa aroma garam yang khas. Rambutku berkibar seperti selembar bendera hitam yang menutupi sebagian wajahku. Kita berdiri bersisian seolah menantang pemandangan serba biru yang terbentang di depan. Sementara kaki telanjang kita sudah tenggelam dalam pasir pantai yang hangat.

“Sudah lama aku ingin mengajakmu kemari.” Kau bergumam sambil memasukkan kedua tanganmu ke saku celana jeans. “Pantai ini sangat cantik. Dulu kakek sering membawaku kemari saat liburan.”

“Terima kasih, chouchou,” seruku senang sambil meraih dan memeluk lehermu.

Tidak seperti biasanya, kau tidak melancarkan aksi protes saat aku memanggilmu ‘chouchou’. Kau hanya terdiam seolah tenggelam dalam pikiranmu sendiri. Meninggalkan aku yang bingung tetapi tidak berani bertanya. Takut merusak suasana. Maka, aku hanya bisa menempelkan pipi ke dadamu, mendengarkan debar jantungmu yang membuatku merasa lebih hidup.

“Terima kasih, ya, Ppo, untuk semuanya.” Akhirnya kau kembali bersuara. Walaupun entah karena desau angin pantai yang melankolis atau telingaku yang kelewat sensitif, tetapi nada bicaramu sarat akan kesedihan. “Terima kasih sudah menjadi sahabat dan pacar terbaik untukku selama ini.”

Asal kau tahu saja, aku mencebik kesal mendengar kata-katamu. Benar-benar kesal. “Jangan mengatakan hal menyedihkan seperti itu.”

“Bagian mananya yang menyedihkan dari sebuah ungkapan terima kasih?”

“Tapi kau mengatakan itu seolah-olah kau akan... pergi,” ucapku perlahan hampir seperti bisikan. Karena aku begitu takut membayangkan kau tidak lagi ada di sisiku.

Tetapi kau malah terkekeh tanpa beban, seolah kata-kataku hanyalah gurauan untuk menghibur penonton. “Aku tidak akan pergi ke mana-mana.”

Aku mendongak sebentar. Sengaja ingin memandang wajahmu yang semakin pucat dari hari ke hari. Walaupun senyum hangatmu tidak pernah memudar. Setebal apa pun kumulonimbus yang menaungimu beberapa bulan terakhir.

“Tidak ada yang berhak menentukan hidup dan mati manusia, Ppo. Banyak yang hidup pantas mati, dan yang mati pantas hidup. Kematian itu pasti untuk semua makhluk hidup,” katamu sambil memelukku lebih dekat padamu. Sementara aku hanya terdiam mendengarkan. Karena inilah pertama kalinya aku tergugah mendengar setiap kata yang kauucap. Seolah kau adalah seseorang yang baru saja kukenal tujuh menit yang lalu. Bukannya tujuh tahun yang lalu.

“Walaupun setiap kehidupan selalu berakhir dengan kematian, bukan berarti kita hanya bisa pasrah dan diam menunggu saat itu tiba. Kita berhak meraih kebahagiaan bersama orang yang kita sayangi. Bersikap baik dan mencetak prestasi, agar kita tidak akan semudah itu dilupakan,” lanjutmu lantas kembali mengecup puncak kepalaku. Kali ini, lebih lama dari sebelumnya. Aku bersyukur sudah keramas sebelum berangkat menjengukmu tadi.

“Dan aku memilih untuk bahagia bersamamu.” Aku diam-diam tersenyum di dadamu mendengar itu. Sementara kau memberi jeda yang membuatku berdebar-debar tidak keruan. Merasakan firasat kau akan menyampaikan sesuatu yang penting. “Mereka sudah menemukan pendonor jantung untukku. Dan aku sudah menyetujui untuk melakukan operasi.”

Sontak aku melepaskan pelukan kita begitu saja. Lantas melompat senang ke udara. “Benarkah?”

“Tolong tenang sedikit, Ppoppo. Atau aku akan menciummu.”

Aku mendengarmu berbisik mengancam. Tetapi tidak semudah itu aku menurutimu. Perasaan senang di dalam dadaku sedang membuncah dan mungkin akan membuatku meledak. Bagaimana tidak, setelah berkali-kali menolak, akhirnya kau akan menjalani operasi demi kesembuhanmu.

Lompatanku baru terhenti begitu kau menarik lenganku dan membuktikan ancamanmu. Bibir pucatmu mengecup lembut bibirku, mengakibatkan semburat merah di kedua pipi. Alih-alih kembali melompat senang, aku hanya bisa tertunduk malu. Walaupun jantungku melompat-lompat liar di dalam sana.

Aku akan selalu mengingatnya. Itu ciuman pertamaku. Ciuman pertama kita.
***

‘Aku masih penasaran, sebenarnya apa sih arti ‘ppoppo’ yang sering kauucapkan?’ tanyaku kala itu, beberapa menit sebelum kau pindah ke ruang operasi.

‘Kau sendiri belum membongkar rahasia arti kata ‘chouchou’,’ sahutmu tidak mau mengalah.

Seulas senyum usil berkedut di bibirku. ‘Itu panggilan sayang dalam bahasa Perancis. Kalau tidak salah, ‘chou’ berarti ‘kubis’.’

‘Kubis?’ ulangmu dengan kedua alis terangkat. ‘Selama ini kau memanggilku ‘kubiskubis’?’

‘Memang kenapa?’ Aku mengangkat dagu dengan angkuh. ‘Aku yakin arti ‘ppoppo’ juga tidak lebih romantis dari itu.’

‘Kata ‘ppoppo’, berasal dari bahasa Korea yang artinya....’ jelasmu perlahan lalu memberi jeda. Jemarimu terulur dan meraih daguku menghadap kepadamu. Apa kau tahu saat itu aku menahan napasku? Entah mengapa aku membayangkan kau akan menciumku. Dan napasku nyaris berhenti saat kau melakukan apa yang kupikirkan. Lalu tersenyum dan berbisik, ‘Aku mencintaimu, Ppo.’

Seulas senyum memaksa hadir di tengah rahangku yang gemetar. Air mata berderai di pipiku, membuatku seperti orang sinting yang tersenyum sambil menangis bersamaan. Dan harusnya kau sadar diri. Semua senyum dan air mataku bersumber dari satu orang yaitu dirimu.

Apa kau ingat, saat itu adalah pertama kalinya kau berkata bahwa kau mencintaiku? Entah sebagai sahabat atau sebagai pacar, aku tidak peduli. Selama itu adalah dirimu.

Maaf karena aku bersikap pengecut. Dan menghilangkan kesempatan bagimu untuk mendengar balasan dariku secara langsung.

“Aku mencintaimu, Chou,” bisikku lirih. Perlahan aku mengecup batu granit yang terukirkan namamu.



TAMAT