Rabu, 04 Maret 2015

Hilangkan Harapan


Waktu terasa bergerak sangat lambat. Detak jam dinding menggema di udara. Ketiga jarumnya berderak heran menatap ke arahmu. Sama herannya seperti aku.

Tiba-tiba air matamu menetes. Isakan demi isakan menghambur menyayat jiwa. Keningku masih berkerut tak mengerti. Sebenarnya, apa yang salah?

“Tidak bisakah kita tetap menjadi kekasih?” Kau bertanya di sela air mata yang terus berderai.

Rahangku menegang dan mengendur mendengar pertanyaanmu. Kedua alisku bertabrakan karena bingung. Sebenarnya, apa yang kurang dariku?

Aku melemparkan tatapan penuh tanda tanya kepadamu. Tapi kau membisu. Hanya air matamu yang terus saja berjatuhan. Mengertikah kau? Aku benci melihatmu menangis seperti ini. Terlebih jika aku yang menjadi penyebab air matamu tumpah.

Tapi kali ini aku benar-benar tidak mengerti. Kenapa kau menangis? Kata-kataku yang mana yang melukai hatimu?

Mataku beralih menatap cincin berlian di genggamanku. Seharusnya cincin itu melingkar di jari manismu sekarang. Seharusnya kau tersenyum menerima lamaranku. Tapi sepertinya aku salah besar. Kau menolakku mentah-mentah. Diikuti tetesan air mata yang mengalir sederas hujan. Dan aku yakin itu bukan air mata haru ataupun air mata bahagia.

“Ma, maafkan aku.” Kau meraung penuh kepiluan.

Maaf? Aku semakin tidak mengerti. Jika aku yang membuatmu menangis, kenapa justru kau yang meminta maaf?

“Kau tidak ingin menikah denganku?” Aku bertanya menuntut kepastian.

Harapanku musnah saat kepalamu menggeleng lemah.

“Tapi kenapa?” Aku merasakan tenggorokanku tercekat. “Bukankah aku sudah cukup mapan untuk membina rumah tangga denganmu?”

“Aku tahu...” Kau menghela napas berat. Seolah pertanyaanku sudah membebani hatimu. “Tapi aku tidak bisa. Benar-benar tidak bisa. Tolong mengertilah posisiku...”

Mulutku ternganga. Apa maksudnya dengan tidak bisa?

“Bukankah kita saling mencintai?”

“Ya.” Kau menganggukkan kepala. Sementara matamu terpejam seperti menahan sakit yang mendalam. “Aku memang mencintaimu... sangat mencintaimu.”

“Lantas kenapa kau menolakku?”

Kau membisu. Tidak langsung menjawab pertanyaanku. Seolah sengaja menelantarkanku dalam jeda singkat yang menyiksa. Wajahmu menunduk dalam dengan ekspresi datar tidak terbaca. Setelah satu isakan lagi meluncur dari tangismu, kau baru menjawab, “Keluargaku tidak akan setuju.”

Sekejap, tanda tanya dalam benakku patah begitu saja. Jadi masalah sederhana itu yang membuatmu menangis seperti ini? Tanpa sadar aku tertawa kecil, sedikit merasa geli dengan drama yang baru saja kita perankan.

“Itu bukan masalah besar bagiku.” Aku mencoba untuk meredakan tangisanmu. Aku mengulurkan tangan membelai lembut rambutmu yang sehalus beledu. “Aku bersedia menemui kedua orang tuamu, bahkan keluarga besarmu.”

“Bukan itu...” Kau kembali menggelengkan kepala. Rambutmu yang halus menggelitik telapak tanganku. “Maksudku... keluargaku... suami dan kedua anakku.”



Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Selasa, 03 Maret 2015

Accidentally Loving You part 1


Dua jam saja. Hanya dua jam waktu yang ia miliki sebelum ia pergi ke Amerika. Kirana masih saja ragu untuk mengatakan kepergiannya pada kekasihnya. Ya, lelaki itu tak perlu tahu. Itu adalah hal yang pantas setelah lelaki itu telah menipunya. Memanfaatkan kekayaan Kirana untuk membuat hidupnya makmur bersama perempuan lain. 

Lelaki itu tak akan pernah tau bagaimana susahnya Kirana mengumpulkan uang hingga ia menjadi miliarder muda yang sukses. Dengan segudang bisnis yang ia kembangkan di penjuru dunia membuatnya menjadi pengusaha muda yang banyak diperebutkan oleh taipan-taipan tampan yang tak kalah sukses.

Tio, lelaki itu tak pantas lagi mendampingi Kirana. Harusnya Kirana percaya apa yang dikatakan sahabatnya tentang Tio yang berniat menguras harta Kirana. Tapi cukup. Kali ini tak ada ampun lagi untuk lelaki itu. Penyelidikan selama dua bulan cukup membuktikan segalanya.

Kartu kredit dengan jumlah tak terhingga yang diberikan untuk Tio dan rekening bank yang berisi uang dari Kirana telah diblokir atas permintaan gadis itu. Tentu saja setelah Kirana menguras habis uang di dompet Tio semalam untuk membeli beberapa sepatu dengan alasan dompet Kirana yang ketinggalan. 

Kirana mengenakan kacamata hitamnya sebelum turun dari mobil sport merah yang ia kendarai. Ia melangkah menuju rumah bercat kuning kemudian menempelkan catatan di pintu depan rumah itu.

Maaf, kita akhiri saja semuanya.
Kirana.

Kirana mendesah lega setelah menempelkan catatan tersebut. Ia memutar langkahnya berjalan dengan tumitnya yang tinggi mengetuk lantai teras rumah itu dengan irama yang tenang. 

Waktunya sangat berharga. Ia tak ingin menghabiskan waktunya untuk berdebat dengan Tio. Tapi ia harus tetap menjelaskan seperti apa hubungan mereka. Tio sudah bukan lagi orang penting dalam hidupnya.

Kirana melajukan mobilnya dengan cepat menuju rumahnya. Ia harus segera berangkat ke bandara. Kali ini mungkin satu atau dua tahun ia akan tinggal di Amerika untuk bisnisnya di Los Angles.

***

Bangunan itu menjulang dengan bentuk yang menyerupai tumpukan buku. Arsitek kenalannya, Shane telah membuatnya tampak begitu berseni dan mewah. Kirana tersenyum puas menatap bangunan hotel miliknya dari balik kacamata hitamnya.

"Kirana" Panggil seseorang membuat Kirana menoleh ke asal suara.

"Shane. Bagaimana kabarmu? Ini benar-benar karya yang luar biasa." Puji Kirana begitu melihat lelaki berkemeja hitam dengan jeans lebih terang yang membalut tubuhnya. 

"Seperti yang kau lihat. Bagaimana denganmu?" 

"Tentu aku baik-baik saja. Ayo ke kafe itu. Aku akan mentraktirmu." Shane menunjuk sebuah kafe bergaya klasik di ujung jalan. Kirana pun mengiyakan dan menyamakan langkah dengan kaki jenjang Shane. 

"Kupikir kau akan datang bersama Tio." Ujar Shane sebelum memasukkan kentang goreng ke dalam mulutnya.

"Shane, dia penipu. Dia memanfaatkan uangku." Kirana mendengus kesal. "Aku sudah memutuskan lelaki itu." Kirana menambahkan.

"Lalu sampai kapan kau disini?"

"Mungkin aku akan lama disini. Aku sudah lama tidak jalan-jalan sejak aku kembali ke Indonesia. Aku jadi ingat kita sering jalan-jalan saat kita masih sekolah." Kirana tersenyum saat mengingat kenangan bersama teman lamanya itu. "Sudah sepuluh tahun kita tak bertemu, kau benar-benar berubah Shane." 

"Begitu juga denganmu Kirana. Kau jauh lebih cantik sekarang. Besok aku akan mengajakmu ke pameran patung di gedung seni. Besok adalah hari terakhir pameran itu." kata Shane setelah menyesap minumannya.

"Tentu. Kita akan bertemu di sini besok."

"Tidak, tidak. Aku akan menjemputmu." 

***

Kirana ini bukan kencan! Kirana merutuk dalam hati. Ia berdiri di depan sebuah cermin berukuran besar, mengeluarkan isi kopernya dan memilih gaun yang pantas untuk ia kenakan. Kirana akhirnya memutuskan untuk mengenakan gaun berwarna ungu tua yang terlihat cantik di kulit sawo matangnya.

Suara ponsel Kirana berdering. Shane. Kirana berdehem, mengatur suaranya agar tak terdengar gugup.

"Ya?"

"Kirana maafkan aku. Aku tak bisa pergi denganmu hari ini. Ada meeting mendadak. Aku harus pergi ke Hawai sekarang juga. Aku-"

"Aku paham." Kirana memotong kalimat Shane. "Tenang saja, aku bisa pergi sendiri." Nada kecewa terdengar dari suara Kirana. Ia telah menyiapkan penampilan terbaiknya untuk pergi bersama Shane. Tapi semuanya gagal. Kirana segera mematikan mengakhiri telpon Shane tanpa salam. 

"Aku tak percaya ini." Karina berbicara pada bayangannya di cermin. Kemudian ia meraih tasnya dan beranjak menuju lobby hotel miliknya. 

Ia tinggal di penthouse yang ia bangun di lantai puncak hotelnya. Ia memang membuat sebuah penthouse di setiap hotel miliknya untuk memudahkannya mencari tempat tinggal saat berkunjung.

***

Sebuah bangunan didominasi warna putih dan emas berdiri megah dengan pilar-pilar tinggi yang kokoh. Ini adalah gedung seni White Art. Tempat yang harusnya ia datangi bersama Shane.

Kirana menaiki anak tangga menuju ke pintu masuk yang sangat besar untuknya. Tubuh Kirana yang memang asli Indonesia, terbilang kecil dibandingkan orang-orang Amerika kebanyakan. 

"Kirana." Seorang lelaki dengan setelan jas rapi berjalan mendekati Kirana. Kirana mengernyitkan keningnya, mencoba mengingat siapa lelaki yang menyapanya itu. 

"Kau lupa padaku? Ini aku, Steve." Lelaki itu mencoba mengingatkan. 

"Ah, iya Steven Smith. Tentu saja aku mengingatmu." Seulas senyum palsu tersungging di bibir Kirana. Lelaki terakhir yang ia harapkan untuk bertemu dengannya. Lelaki yang sombong dan gemar memamerkan hartanya. Membuat Kirana muak tentu saja.

"Memang harusnya kau mengingat orang penting sepertiku Kirana. Bagaimana bisnismu di Riyadh? Kau tahu, aku membangun sebuah pusat perbelanjaan di Barcelona. Aku memang cerdas. Bisnis di kota itu membuatku meraup banyak keuntungan." Tawa bangga keluar dari mulutnya. Sementara Karina sibuk memandang sebuah pahatan patung yang begitu indah di hadapannya. 

Karina masih melanjutkan langkahnya hingga ia menghentikan langkahnya di depan sebuah pemandangan yang jauh lebih indah dari pahatan patung dewa Yunani sekalipun.

"Shane." Suara Karina terdengar gemetar. Bagaimana bisa Shane membatalkan rencana mereka padahal Shane pun hadir di tempat yang sama.

"Karina, kau tidak mendengarkanku?" Steve merasa ceritanya tak didengar oleh Karina. Tapi memang itulah yang terjadi.

"Steve. Aku tahu kekayaanmu dan kesuksesanmu memang luar biasa. Tapi bisakah kau berhenti berbicara kali ini? Aku benar-benar tak ingin mendengarkan apapun yang berhubungan dengan bisnis sekarang ini." Ujar Karina ketus tanpa mengalihkan perhatiannya dari Shane.

Lelaki itu menggenggam sebuah kamera dengan seorang gadis bergaun merah. Sebelah tangan gadis itu melilit pinggang Shane yang sibuk memotret patung di hadapannya sambil sesekali membisikkan sesuatu di telinga gadis itu hingga membuat gadis itu tertawa.

"Kirana, ayolah. Kenapa kau jadi begitu menyebalkan." Lelaki sialan ini benar-benar tidak sopan, batin Kirana. 

"Steve, aku benar-benar ingin sendiri. Dan lagi aku sudah berkali-kali dengar tentang bisnismu di Barcelona, Sudan, India dan dimanapun itu. Jadi sekarang cukup." Kilatan kemarahan terlihat di mata Kirana. Steve akhirnya meninggalkan Kirana sambil mengumpat kesal. 

Kirana tahu suatu saat nanti hal ini akan berdampak pada bisnisnya. Tapi ia tak peduli. Suasana hatinya sedang benar-benar buruk saat ini. 

Keraguan muncul di hati Kirana. Ia ingin mendatangi Shane dan menuntut penjelasan tentang mengapa ia berada disini dengan seorang gadis, sedang ia bilang ia tak bisa datang karena meeting di Hawai. Kirana cemburu -ralat, kesal- dengan keputusan sepihak Shane ketika ia telah menyiapkan penampilan terbaiknya hari ini.

Gadis itu bergelayut manja di tangan Shane. Membuat emosi Kirana semakin naik. Akhirnya Kirana akhirnya membuat sebuah keputusan bulat. Tumitnya yang tinggi beradu dengan lantai, membawanya untuk mendekati Shane. Kemarahannya tak lagi dapat terbendung ketika melihat Shane mengecup bibir gadis itu. Benar-benar tak tahu malu!

"Kau keterlaluan, Shane!"

Bersambung ke part 2

Senin, 02 Maret 2015

Waiting for You Part 2


“Kau sudah datang?” tanya Winda dengan wajah yang ceria. Matanya berbinar seperti mata kelinci. Senyumnya berpendar untuk menyembunyikan rasa lelah karena menunggu. Penampilannya menjadi sedikit berantakan. Tapi itu bukan masalah. Winda selalu tampak cantik bagi Dewa.

“Maaf, Winda. Kau sudah menunggu lama, ya?” sahut Dewa penuh penyesalan.

“Tidak apa-apa,” jawab Winda lalu tersenyum. “Aku senang kau datang.”

Dewa menatap kekasihnya itu penuh kasih sayang. Ia memperhatikan keringat membasahi kening gadisnya. Juga air yang nyaris mengering dalam botol minuman berwarna tosca bening yang selalu dibawa Winda. Ia tahu benar bahwa gadis ini menunggu lelaki brengsek seperti dirinya sejak dua jam yang lalu. Tapi gadis itu dengan baik menyimpan rasa kecewanya dan malah menyambut kedatangan Dewa dengan tersenyum.

Jauh berbeda dengan Winda yang sedang menatapnya garang saat ini.

“Kalau begitu, katakan saja jika kau menginginkan hubungan ini berakhir!”

Benak Dewa mengulang kata-kata Winda beberapa detik yang lalu. Itu berarti kesimpulan Winda kembali ke teorinya yang kedua tadi. Tapi mana mungkin ia menginginkan hal menyakitkan seperti itu. Dewa sangat ingin meluruskan kesalah pahaman ini tapi ia benar-benar harus menunggu saatnya tiba.

“Apa ada yang sedang kau inginkan sekarang, Winda?”

Kening Winda mengernyit. “Apa maksudmu?”

Biasanya, setelah merasa bersalah sudah membuat Winda menunggu lama, Dewa akan membelikan apa saja yang disukai gadis itu. Entah itu cokelat, es krim, boneka, bunga, apa saja. Ia berharap hal itu bisa memperbaiki perasaan Winda sekaligus menebus kesalahannya.

“Mungkin kita bisa pergi ke kedai es krim atau

“Oh, ayolah!” Winda berseru sambil setengah tertawa sinis. “Berapa usiamu, Dewa? Dua puluh? Tapi caramu meminta maaf benar-benar kekanakan. Aku bukan anak kecil yang selalu bisa kau sogok dengan makanan manis!”

Ekspresi Dewa seketika mengeras. Ia merasa tertohok dengan kata-kata Winda barusan. Nada bicara sinis yang benar-benar bukan khas Winda. Sama sekali tidak terpikirkan bahwa gadis itu akan semenakutkan ini saat sedang marah.

“Tapi bukankah kau menyukai es krim

“Ya, ya, ya. Aku suka es krim. Kau benar, Dewa. Sama sekali tidak salah.” Winda memotong cepat sambil mengibaskan tangannya ke udara. “Aku suka es krim. Tapi bukan berati kau bisa menyelesaikan masalah semudah itu!” Ia memberi jeda sebelum melanjutkan kata-kata sambil memicingkan mata. “Apa kau pikir waktu dan maafku semurah itu?”

Dewa cepat-cepat mengangkat wajah lalu menggelengkan kepalanya mendengar tuduhan seperti itu. “Tentu saja bukan seperti itu, Winda.”

“Lalu apa? Apa yang kau sembunyikan dariku, Dewa?” Winda menuntut. Air matanya mulai merebak.

Cepat-cepat Dewa  mengulurkan tangan pada Winda saat ia melihat air mata yang nyaris tumpah. Ia maju selangkah dengan kedua lengan yang terbuka lebar.

Tapi tanpa dinyana, Winda mengelak. Gadis itu mengangkat kedua tangannya dengan sikap defensif. "Jangan sentuh aku," desisnya.

“Aku benar-benar minta maaf, Winda,” bisik Dewa. “Aku harap kau bisa menunggu sebentar lagi.”

“Sampai kapan aku harus menunggu? Aku sudah cukup sering menunggumu! Apa itu tidak cukup, huh?” Air mata sialan itu meleleh dari sudut mata Winda. Cepat-cepat ia menghapusnya dengan punggung tangan. Lalu ia melipat tangan di depan dada, kentara sekali gadis itu sedang berusaha menunjukkan sikap tegar.

Tapi Dewa hanya terdiam. Wajah sedihnya berubah muram dalam hitungan detik. Terang-terangan menunjukkan sikap bungkamnya. Dewa benar-benar ingin rencananya berjalan seperti seharusnya.

“Baiklah.” Winda mengigit bibirnya untuk menahan air matanya agar tidak tumpah. “Aku sangat mengerti, Dewa. Jadi, jangan pernah temui aku lagi.”

Jantung Dewa seakan berhenti berdetak. Ia mencoba mengulurkan tangannya yang gemetar untuk menggapai Winda yang semakin menjauh. Tapi ia tidak bisa mencapainya. Bisa-bisa ia kehilangan Winda untuk selamanya jika terus seperti ini.

“Winda! Aku mohon beri aku kesempatan satu kali saja!” seru Dewa dari balik punggung Winda. Tapi gadis itu tetap pada langkahnya. Tidak sedetikpun berhenti atau menoleh lagi. “Datanglah ke tempat ini di hari ulang tahunmu!”

Suara Dewa terdengar dengan volume rendah di telinga Winda. Isakan yang melompat-lompat seakan menulikan telinganya. Cepat atau lambat, ia harus melupakan Dewa.

***

Winda pulang dengan air mata yang terus berderai. Beberapa pasang mata terus saja memperhatikannya dengan penasaran. Tapi ia tidak peduli. Benar-benar tidak peduli. Cara Dewa memperlakukannya benar-benar membuatnya mati rasa.

Beruntung, saat tiba di rumahnya, mobil kedua orang tua Winda tidak ada di garasi. Sepertinya sudah berangkat menghadiri pesta pernikahan dari anak salah seorang rekan kerja ayahnya. Hanya ada adik perempuannya yang tengah membaca majalah remaja bersama seorang teman di ruang tamu.

Langkah Winda berderap cepat saat ia memasuki ruang tamu. Ia ingin segera masuk dan mengurung diri di kamarnya. Tapi adiknya langsung bangkit dari duduk karena dengan mudahnya menyadari perubahan sikap Winda.

“Kak Winda, ada apa?” tanya adiknya penuh rasa khawatir. Tangannya menyentuh lembut lengan Winda.

“Oh, diamlah, Neysa.” Winda menyikut tangan adiknya dengan perasaan tidak sabar. Langkahnya tidak berhenti sedikitpun. Secepat mungkin menaiki tangga ke lantai dua.

“Della... tunggu sebentar, ya,” bisik Neysa kepada temannya. Begitu Della menganggukkan kepala, ia bergegas mengejar kakaknya.

Neysa tidak ingin membiarkan Winda tenggelam di kamarnya sendirian. Ia tahu, kakaknya itu pasti membutuhkan teman untuk bercerita. Maka, ia ingin meredakan air mata kakaknya.

“Ada apa, Kak?” tanya Neysa sambil berdiri di ambang pintu. Sedetik yang lalu, hampir pintu itu dibanting keras. Beruntung, Neysa datang tepat pada waktunya.

Tubuh Winda bergetar sesegukkan. Air matanya tumpah ruah tak bisa dibendung. Saat Neysa mendekat, ia langsung memeluk adiknya dan membasahi bahu adiknya dengan air mata.

Neysa bergeming. Ia membiarkan Winda menumpahkan segala perasaannya. Pasti selama perjalanan pulang, kakaknya itu menahan diri untuk tidak menangis seperti ini. Setelah tangisan Winda mereda, Neysa mulai bertanya.

“Apa ini... tentang Kak Dewa?”
Winda menganggukkan kepala sambil mengusap air matanya dengan tisu. “Dia... sepertinya berselingkuh.”

Kepala Neysa ditelengkan ke kiri. “Kenapa kakak berpikiran seperti itu?”

“Setiap kali kami janjian kencan, dia selalu terlambat. Tidak hanya satu atau dua menit, melainkan dua jam bahkan tiga jam. Bayangkan!” Winda bercerita di tengah isakannya. “Dia pasti bertemu dengan selingkuhannya sebelum bertemu denganku.”

“Kakak yakin dengan hal itu?” tanya Neysa dengan nada ragu. “Mungkin saja ada sesuatu yang penting yang harus diselesaikan Kak Dewa hingga harus datang terlambat.”

“Kemarin aku juga sudah bercerita kepada Inez dan Sofia mengenai ini...” Winda melempar gumpalan tisu ke keranjang sampah di kamarnya. “Awalnya mereka juga sama sepertimu. Tapi setelah dipikir lagi, kami semua sepakat dengan dugaanku.”

Neysa menghela napas panjang. Sedikit banyak ia mengenal kekasih kakaknya dalam beberapa kali saat Dewa berkunjung ke kediaman mereka. Dan selama percakapan singkat mereka itu, tampaknya Dewa bukan lelaki yang seperti itu. Tapi... entahlah... hati manusia memang sulit ditebak.

“Apa kakak sudah menanyakan langsung kepada yang bersangkutan?” tanya Neysa sambil mengusap-usap punggung Winda penuh kelembutan. “Tidak baik terlalu lama menyimpan dugaan tanpa alasan seperti itu.”

“Tentu saja aku sudah menanyakannya. Dan dia memilih tetap bungkam dari pada menceritakan alasannya. Aku semakin yakin dia berselingkuh!”

Kening Neysa berkerut. “Lalu, apa yang kakak katakan? Apa kakak meminta untuk... putus?”

Winda mengangguk, lalu menggelengkan kepala. Sejenak ia terdiam seakan ragu. Tapi sedetik kemudian ia mengangkat bahunya dengan sikap enggan. “Entahnya, Neysa. Aku hanya memintanya untuk tidak menemuiku lagi.”

“Kalau begitu, gunakan waktu itu untuk saling memeperbaiki diri. Setelah itu baru putuskan untuk bertemu dan membicarakan masalah ini hingga selesai.”

Winda cepat-cepat menggelengkan kepalanya. Air matanya sudah mulai surut sekarang. “Aku tidak mau bertemu lagi dengan Dewa. Aku lelah menunggunya di setiap waktu yang dijanjikannya.”

Apa boleh buat. Neysa hafal betul bahwa kata-kata Winda saat sedang membara karena amarah tak bisa dibantah. Secepatnya harus diberi pendingin.

“Aku dan Della berencana pergi ke kedai es krim yang baru dibuka seminggu yang lalu. Apa kakak mau ikut?”

Secercah cahaya terbit di wajah Winda. Ia menganggukkan kepalanya. Ada sedikit perasaan menyesal sudah menolak ajakan Dewa tadi. Tentu saja. Kata es krim sudah seperti mantra sihir bagi telinga Winda. Kecuali saat ia sedang marah tentunya. Perasaan gengsi jauh lebih membekukan hatinya.

“Tunggulah di bawah bersama Della. Aku akan mencuci muka sebentar.”


Minggu, 01 Maret 2015

Pangeran Impian



“Apa yang harus aku lakukan sekarang?”

Seorang gadis duduk di tepi sebuah danau yang tenang. Matanya tampak berkaca-kaca menahan perasaan yang terkekang. Hatinya kelam seperti langit malam yang tak berbintang.

“Kenapa kau tak pernah mau berubah?” Gadis itu menuntut dengan gelisah. Air matanya mulai membuat pipinya basah. Sementara yang diajaknya bicara hanya diam seakan tak bersalah.

Padahal tadi gadis itu sudah sengaja pergi mengendap-endap dari rumah. Ia tahu betul bahwa ibunya akan memberi larangan keras. Nanti saat pulang, ia harus siap mendengar seribu petuah. Tapi sekarang yang terpenting adalah menyelesaikan masalah ini hingga tuntas.

Gadis itu menghela napas panjang. Di bawah langit malam ini, ia akan melakukannya sekali lagi. Semoga saja usahanya itu berarti. Dan ia tidak akan merasa sia-sia sudah menanti. Perlahan ia mencondongkan tubuh lalu mengecup sang kekasih hati penuh rasa sayang.

Tapi balasan dari sang kekasih hati sungguh menyakitkan. Sang kekasih hati malah bergidik lalu menguak dengan suara parau.  Sedetik kemudian kekasih hati gadis itu sudah melompat ke dalam danau dengan tubuhnya yang hijau. Kini gadis itu ditinggal sendirian dalam keheningan.

Gadis itu tersenyum pahit merasa kecewa. Pipinya terus dibasahi air mata. Tubuhnya kembali terasa lemas tak berdaya. Sepertinya ia harus kembali menginap di rumah sakit karena wabah salmonela. Ibunya pasti murka atas tindakan bodoh yang dilakukannya. Sementara katak yang dicintainya tak pernah berubah menjadi pangeran impiannya. Berapa kali pun ia mengecupnya penuh cinta.




Flashfiction ini ditulis untuk mengikuti event Milad AE Publishing