Tampilkan postingan dengan label Waiting for You. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Waiting for You. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Maret 2015

Waiting for You Part 3 (end)








“Aku mohon maafkan aku...”

Gadis itu meraung pilu dengan suara memohon. Air matanya sudah meleleh sejak beberapa menit yang lalu. Tapi lelaki yang berdiri di hadapannya tampak tidak peduli. Dengan kejam lelaki itu menjambak kuat rambut gadis itu hingga ia berteriak sambil berdiri terpaksa.

“Le-lepaskan aku!” Gadis itu meronta sambil menghantamkan tinjunya ke segala arah.

“Apa kau menyesal sekarang, huh?” Lelaki itu tersenyum sinis. “Tidak bisakah kau berhenti mencurigaiku? Aku tidak suka kau membuntutiku seperti yang kaulakukan tadi.”

“A-aku hanya ingin mengetahui—“

“Rasa ingin tahumu itu menyusahkanku!”

Lelaki itu menghentak keras tubuh gadis itu hingga tubuhnya melayang ke belakang. Terdengar suara pecahan kaca saat kepalanya menghantam cermin. Pecahan cermin itu berserakan di lantai tempat gadis itu terbaring.

Tubuh gadis itu terasa kaku bahkan mungkin mati rasa. Ia terlalu terkejut untuk merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Dengan susah payah ia berusaha bangkit. Saat itulah tangannya menyentuh sesuatu yang basah dan lengket menggenang di lantai.

“Ternyata kau masih saja keras kepala!”

Lelaki itu menggeram lalu mengeluarkan sesuatu yang berkilat dari balik sakunya. Saat ia hendak menghujamkan pisau di tangannya, tiba-tiba terdengar teriakan histeris. Hingga gerakan lelaki itu terhenti seketika. Tangannya membeku di udara.

“Kalau kalian terus-terusan berteriak seperti itu, lebih baik kita menonton film yang lain saja.” Inez mendengus kesal dengan remote control televisi di tangannya.

“T-tapi ini film horor yang sedang hangat dibicarakan orang-orang, Inez.” Sofia mempertahankan pendapatnya sambil memeluk Winda. Mereka berdua duduk berhimpitan di sudut tempat tidur Inez.

“Tapi aku tidak rela menjadi tuli karena suara jeritan kalian.”

Dengan kesal, Inez menekan tombol merah dan layar televisinya menggelap begitu saja. Harusnya malam ini menjadi saat berkumpul yang menyenangkan bagi mereka bertiga. Tapi film horor yang dipilih Sofia di tempat persewaan video tadi merusak suasana hati Inez.

“Kenapa kau matikan televisimu, Inez?” Protes Sofia sambil berdecak kesal.

“Aku malas mengunjungi dokter THT karena gendang telingaku rusak,” balas Inez sengit.

Sofia memicingkan mata. “Kau pasti ketakutan menonton film itu. Mengaku saja!”

“Tidak!” Inez menyanggah dengan nada tinggi. “Bukannya kau yang sejak tadi berteriak seperti anak kecil

“Teman-teman, hentikan!” Winda menginterupsi perdebatan sia-sia ini. Inez dan Sofia memang selalu mudah terpancing untuk memperdebatkan hal tidak penting di sekitar mereka. Tapi syukurlah hubungan persahabatan ini bisa terus berlanjut sepanjang waktu.

“Sudah aku katakan, menginap bersama bukan ide yang baik.” Inez mencibir dengan tangan dilipat di depan dada. “Seharusnya kita pergi berlibur ke pantai. Apa lagi liburan sebelumnya Winda berhalangan untuk ikut.”

Mereka bertiga berkumpul dan menginap di rumah Inez. Semua itu sebenarnya untuk menghibur perasaan Winda yang masih kalut karena disakiti Dewa mantan kekasihnya.

“Sudahlah, di mana pun kita berkumpul tidak masalah bagiku.” Winda mendekap dua sahabatnya di masing-masing lengannya. “Aku bahagia memiliki sahabat seperti kalian berdua.”
***
“Kau tampak lebih baik dengan penampilan barumu, Winda,” puji Sofia dengan wajah berbinar-binar.

“Benar. Aku yakin lelaki mana pun  akan menyesal jika menyakitimu,”timpal Inez. Mereka semua sama-sama tahu bahwa lelaki mana pun yang dikatakan Inez hanya merujuk pada satu orang.

Winda hanya tersenyum bahagia mendengar pujian yang dilontarkan teman-temannya. Di hari Minggu yang cerah ini mereka bertiga pergi berbelanja pakaian, merawat diri di salon, dan mengecat kuku mereka dengan warna-warna yang cantik.

Mereka bertiga melangkah memasuki sebuah kafe yang cat dindingnya didominasi warna burgundy. Seharian berkeliling mall membuat perut para gadis itu meraung minta segera diisi. Tapi setelah selesai makan siang, mereka berencana untuk menonton film di bioskop sebagai ganti acara menonton yang gagal tadi malam.

“Aku ke toilet sebentar, ya,” pamit Winda pada teman-temannya begitu mereka mendapat tempat duduk yang juga nyaman untuk belanjaan mereka.

Winda memperhatikan pantulan bayangannya di cermin wastafel. Teman-temannya benar. Ia tampak lebih baik dengan potongan rambutnya yang baru. Semoga semua kenangan buruk dalam benaknya ikut pergi bersama ujung-ujung rambutnya yang dipangkas. Sempat tebersit keinginan untuk mewarnai rambut, tapi ia mengurungkan niat itu. Akhir-akhir ini, tersiar berita tentang pembunuh berantai yang menyerang gadis-gadis dengan rambut dicat.

Hari ulang tahun Winda yang ke dua puluh satu semakin dekat. Ia ingin menyambut hari itu dengan hati yang bersih dari beban. Walaupun ia sering merasa heran. Setiap kali ia mengingat hari ulang tahunnya, entah mengapa wajah Dewa muncul berkelebat dalam benaknya.

Winda keluar dari toilet dengan ujung bibir yang melengkungkan senyum. Saat itulah ia mendengar suara yang sangat dikenalnya.

“Aku yakin semua ini akan baik-baik saja,” lelaki itu berkata dengan nada menenangkan.

Winda yakin itu adalah suara Dewa.

“T-tapi aku takut...”

Selanjutnya terdengar suara yang lembut tapi sedikit gemetar.

Kepala Winda berputar cepat ke sumber suara. Matanya terasa panas. Winda mengerjap beberapa kali. Ia merasa tidak percaya dengan apa yang sudah dilihatnyahingga  hatinya seperti tersulut api.

Dewa sedang berdiri berjalan beriringan dengan seorang gadis. Lelaki itu masih sama seperti yang dulu, hanya pipinya jadi terlihat tirus. Dewa dan gadis itu mengenakan pakaian yang sama serupa dengan warna dinding kafe. Sehingga dilihat dari mana pun dan oleh siapa pun, mereka tampak seperti sepasang kekasih yang serasi.

“Winda?” Suara Dewa terdengar kaget saat menyadari Winda sedang berdiri mematung.

Tangan Winda terasa begitu kaku. Air mata meleleh di matanya yang memanas. Ia tidak ingin melihat hal ini. Ia benar-benar tidak ingin mengetahu apapun.

“Jadi... dugaanku selama ini... benar?” tanya Winda sambil tertawa pahit.

Dewa tergeragap tidak mampu langsung menjawab. Matanya memandang Winda dan gadis di sampingnya bergantian. “Tidak, Winda. Kau salah paham. Ini tidak seperti yang kau lihat.”

“Jujur saja jika kau memang mencintai gadis lain. Tidak perlu berbohong!” Winda sengaja memberi penekanan pada kata gadis lain. “Tidak perlu repot-repot mencari alasan untuk menjaga perasaanku! Lagi pula hubungan kita memang sudah berakhir!”

“Winda, dengarkan aku!”

Dewa melangkah maju dan menyentuh bahu Winda. Tapi dengan kasar Winda menepis tangan itu. Lalu cepat-cepat ia pergi dari hadapan Dewa sambil menangis. Dewa tidak mengejarnya. Sudah berakhir. Semua sudah benar-benar berakhir dengan begitu jelas.

Winda menyambar tasnya yang berada di atas meja tempat Inez dan Sofia menunggu. Buru-buru ia melangkah keluar dari kafe itu. Kepalanya terasa sakit. Hatinya terasa sakit.

“Winda, ada apa?”

“Kenapa kau tiba-tiba menangis?”

Inez dan Sofia mengikuti Winda sambil bertanya khawatir. Tapi ia menjawab dengan gelengan kepala. Sementara sekuat tenaga ia meredam air matanya.

Aneh. Ini terasa aneh bagi Winda. Bagaimana mungkin rasanya bisa sakit seperti ini? Bukankah ia sudah bertekad untuk melupakan Dewa? Tapi mengapa air matanya masih saja mengalir karena lelaki itu?

***

Lagu ucapan selamat ulang tahun mengalun dengan begitu meriah. Begitu lagu itu usai dinyanyikan, Winda meniup lilin yang menyala di puncak kue berlapis krim merah muda di hadapannya. Semua nyala api padam seketika dan orang di sekitarnya bertepuk tangan.

Winda tersenyum bahagia. Ia merasa beruntung, ulang tahunnya kali ini jatuh pada akhir pekan. Sehingga ia bisa berkumpul dengan sahabat dan keluarganya untuk merayakan ulang tahunnya di restoran milik kakak Inez. Mereka duduk melingkar di sebuah meja besar yang berada di tengah private room. Winda benar-benar merasa berterima kasih kepada Inez yang bersedia meminjamkan ruangan ini.

“Mama tidak menyangka kau tumbuh begitu cepat, Winda. Sebentar lagi kau lulus kuliah, bekerja, dan menikah dengan Dewa,” ujar mama Winda dengan nada haru. Tapi suasana mendadak begitu canggung. Winda memang tidak menceritakan apapun kepada kedua orang tuanya tentang kandasnya hubungannya dan lelaki itu.

“Ng kami sudah putus, Ma.” Winda menjawab dengan gumaman. Giginya saling gemeretak tidak terdengar.

“Ngomong-ngomong tentang Dewa, sepertinya lelaki itu mendapat karma.” Inez setengah berbisik di dekat Winda.

Kening Winda berkerut. “M-maksudmu?”

 “Tadi pagi aku jogging bersama Adelin kakak iparku, aku melihat Dewa sedang duduk di bangku panjang yang ada di taman. Dia terlihat bodoh dengan dua es krim meleleh di tangannya. Lalu tadi saat akan berangkat kemari, aku juga sempat melihatnya masih berkeliaran di taman itu. Seperti sedang menunggu seseorang. Itu karma karena selalu membuatmu menunggu.”

Punggung Winda menegak saat mendengar cerita Dewa. Matanya membelalak. Dewa menunggu seseorang. Siapa yang ditunggunya?

“Winda! Aku mohon beri aku kesempatan satu kali saja! Datanglah ke tempat ini di hari ulang tahunmu!”
Tiba-tiba suara Dewa berkelebat dalam benak Winda. Serta merta ia bangkit dari duduknya kemudian melangkah meninggalkan ruangan. Tidak peduli pada keluarga dan sahabat yang menatapnya dengan pandangan bingung.

Kaki Winda melangkah cepat. Matanya melirik jam tangannya. Sudah hampir pukul empat. Langit masih tampak cerah dengan awan yang mengapung tipis. Ia berlari melewati pepohonan, bangunan, dan orang-orang yang berbincang di pinggir jalan. Tapi rasanya secepat apapun ia berlari, rasanya seperti sedang berlari di tempat.

Winda tidak mengerti jalan pikirannya sendiri. Bukankah ia sudah memutuskan hubungannya dengan Dewa? Bukankah ia sudah berusaha melupakan lelaki itu? Bukankah ia sudah melihat sendiri penyebab retaknya hubungan mereka?

Tapi... entah mengapa saat mendengar Dewa menunggu seseorang, terbit sedikit harapan di hatinya. Ia berharap Dewa sedang menunggunya di sana. Dan jika tidak, itu berarti ia harus benar-benar melupakan lelaki itu selamanya.

Setelah berlari seolah tanpa pernah melihat garis finish, akhirnya Winda melangkah memasuki area taman. Ia bergegas menuju bangku panjang tempat ia biasa menunggu. Tiba-tiba Winda tertawa masam. Bangku itu kosong. Tidak ada siapapun di sana.

Winda melirik jam rusak di samping bangku itu. Jam itu menunjukkan pukul empat tepat. Sama seperti jam di tangannya. Rupanya jam itu sudah bisa menunjukkan waktu yang tepat sekarang.

Dengan napas tersengal, Winda duduk di bangku panjang itu. Ia meluruskan kakinya yang terasa pegal. Sementara hatinya menyadari bahwa Dewa sudah bertemu dengan seseorang yang ditunggunya. Dan seseorang itu bukan dirinya.

Hubungan ini sudah berakhir. Sekali lagi, Winda membisikan kata-kata itu di dalam hatinya.

Winda merasa begitu bodoh. Ia meninggalkan orang-orang yang menyayanginya di sana. Sementara ia malah mengejar sesuatu yang tidak pasti. Hatinya mencelos dan luka yang belum mengering di sana kembali terasa sakit.

Tiba-tiba Winda merasa seseorang memperhatikannya. Ia menoleh dan mendapati Dewa datang dengan dua es krim di tangannya. Sebuah senyuman terukir di bibir lelaki itu.

“Winda. Kau datang.” Dewa tertawa masam. Ia melangkah lalu duduk di samping Winda. “Tentu saja. Aku tahu kau pasti datang.”

Winda hanya terdiam menatap Dewa. Wajah lelaki itu tampak kusam karena debu dan keringat. Tapi binar kebahagiaan tidak bisa disembunyikannya. Berapa lama lelaki itu menunggu?

“Maaf aku pergi sebentar tadi. Aku membeli es krim ini untukmu.” Dewa menyodorkan salah satu es krim di tangannya dan Winda menerimanya. “Aku ingin saat kau datang, aku sudah siap dengan es krim kesukaanmu.”

“Lalu, bagaimana jika saat kau pergi membeli es krim, aku datang lalu pergi lagi karena menganggap kau tidak datang?”

Dewa tertawa kecil, lebih pada menertawakan dirinya sendiri. “Benar juga. Kenapa aku bodoh sekali?”

Winda hanya diam. Lalu selama tiga menit selanjutnya, mereka menikmati es krim tanpa suara, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Hingga tiba-tiba Winda menghela napas dalam-dalam dan mengembuskannya pelan. “Sebenarnya, apa yang kau tunggu?”

“Aku menunggumu, Winda. Aku ingin menjelaskan tentang semua kesalah pahaman di antara kita berdua.” Dewa menerawang lurus ke depan. “Tapi aku tidak tahu harus memulai dari mana. Aku terlalu sering menyakitimu.”

Winda melirik Dewa. “Kalau begitu, biarkan aku bertanya. Kau jawab saja. Bagaimana?”

Dewa mengangguk. Ia menghadapkan tubuhnya ke arah Winda. Bersiap menjawab pertanyaan pertama.

“Kau sudah... tidak mencintaiku?” tanya Winda dengan tenggorokan tercekat.

“Aku selalu mencintaimu, Winda. Dari awal hingga akhir nanti.”

Winda menganggukkan kepalanya skeptis. “Lalu kenapa kau... berselingkuh dengan gadis lain?”

 “Kau salah. Aku tidak pernah berselingkuh,” kata Dewa sambil menggelengkan kepala. “Gadis yang kau lihat itu hanyalah rekan kerjaku di kafe. Saat itu aku hendak mengantarnya pulang karena Lala anaknya, jatuh sakit. Sementara suaminya sudah meninggal.”

Winda menoleh dengan alis berkerut. Gadis itu masih muda tapi ia harus mengalami pahitnya hidup yang seperti itu. Winda merasa malu sudah mengira yang tidak-tidak kepada gadis itu. “Sampaikan rasa berdukaku untuknya...”

Tunggu Dewa bekerja di kafe itu? Jadi itu mengapa ia dan gadis itu mengenakan pakaian dengan warna senada. Pipi Winda mulai merah karena malu.

“Ya. Jika suatu hari kami bertemu kembali. Aku sudah tidak bekerja di kafe itu.”

Winda menatap Dewa tidak mengerti. “Apa maksudmu?”

“Aku bekerja sambilan di beberapa tempat sekaligus dalam dua bulan terakhir. Itulah kenapa aku sering terlambat datang. Beberapa pegawai tetap, sering memanfaatkan pekerja sambilan sepertiku untuk membantu menyelesaikan pekerjaan mereka.” Beberapa saat Dewa memandang tanah. Kemudian ia kembali mendongak dan berkata, “Tapi sekarang aku suadah berhenti dari semua pekerjaan itu.”

“K-kenapa?” Winda bertanya takut-takut. Ia takut jika ternyata dirinyalah yang menjadi penyebab Dewa kehilangan pekerjaan. Jika itu terjadi, ia tidak tahu harus ebrbuat apa untuk menebus perasaan bersalah.

“Karena aku sudah mendapatkan apa yang kuinginkan.” Dewa tersenyum kepada Winda. Tangannya merogoh sesuatu dari sakunya, kemudian menyerahkan kotak beledu itu kepada Winda.

Winda menatap bingung ke arah Dewa, tapi tangannya membuka perlahan kotak dalam genggamannya. Sebuah cincin dengan berlian kecil terpampang indah dalam kotak itu.

“A-apa ini?” tanya Winda dengan mata melebar.

“Hadiah ulang tahunmu,” ujar Dewa sambil tersenyum melihat reaksi Winda.

“Bukankah ini... mahal?” Winda terbata-bata. “Jadi karena itu kau bekerja?”

“Ya. Aku ingin memberikan sesuatu yang berharga untuk seseorang yang penting dalam hidupku.”

Dewa mengambil cincin dari kotak itu lalu menyematkan di jari manis Winda. Gadis itu mengangkat tangannya ke udara. Dan saat sinar matahari menerpa, cincin itu berkilauan dengan indah.

“Mulai sekarang aku akan meneruskan kuliah, lulus, bekerja dan... menikah denganmu.”

TAMAT

Senin, 02 Maret 2015

Waiting for You Part 2


“Kau sudah datang?” tanya Winda dengan wajah yang ceria. Matanya berbinar seperti mata kelinci. Senyumnya berpendar untuk menyembunyikan rasa lelah karena menunggu. Penampilannya menjadi sedikit berantakan. Tapi itu bukan masalah. Winda selalu tampak cantik bagi Dewa.

“Maaf, Winda. Kau sudah menunggu lama, ya?” sahut Dewa penuh penyesalan.

“Tidak apa-apa,” jawab Winda lalu tersenyum. “Aku senang kau datang.”

Dewa menatap kekasihnya itu penuh kasih sayang. Ia memperhatikan keringat membasahi kening gadisnya. Juga air yang nyaris mengering dalam botol minuman berwarna tosca bening yang selalu dibawa Winda. Ia tahu benar bahwa gadis ini menunggu lelaki brengsek seperti dirinya sejak dua jam yang lalu. Tapi gadis itu dengan baik menyimpan rasa kecewanya dan malah menyambut kedatangan Dewa dengan tersenyum.

Jauh berbeda dengan Winda yang sedang menatapnya garang saat ini.

“Kalau begitu, katakan saja jika kau menginginkan hubungan ini berakhir!”

Benak Dewa mengulang kata-kata Winda beberapa detik yang lalu. Itu berarti kesimpulan Winda kembali ke teorinya yang kedua tadi. Tapi mana mungkin ia menginginkan hal menyakitkan seperti itu. Dewa sangat ingin meluruskan kesalah pahaman ini tapi ia benar-benar harus menunggu saatnya tiba.

“Apa ada yang sedang kau inginkan sekarang, Winda?”

Kening Winda mengernyit. “Apa maksudmu?”

Biasanya, setelah merasa bersalah sudah membuat Winda menunggu lama, Dewa akan membelikan apa saja yang disukai gadis itu. Entah itu cokelat, es krim, boneka, bunga, apa saja. Ia berharap hal itu bisa memperbaiki perasaan Winda sekaligus menebus kesalahannya.

“Mungkin kita bisa pergi ke kedai es krim atau

“Oh, ayolah!” Winda berseru sambil setengah tertawa sinis. “Berapa usiamu, Dewa? Dua puluh? Tapi caramu meminta maaf benar-benar kekanakan. Aku bukan anak kecil yang selalu bisa kau sogok dengan makanan manis!”

Ekspresi Dewa seketika mengeras. Ia merasa tertohok dengan kata-kata Winda barusan. Nada bicara sinis yang benar-benar bukan khas Winda. Sama sekali tidak terpikirkan bahwa gadis itu akan semenakutkan ini saat sedang marah.

“Tapi bukankah kau menyukai es krim

“Ya, ya, ya. Aku suka es krim. Kau benar, Dewa. Sama sekali tidak salah.” Winda memotong cepat sambil mengibaskan tangannya ke udara. “Aku suka es krim. Tapi bukan berati kau bisa menyelesaikan masalah semudah itu!” Ia memberi jeda sebelum melanjutkan kata-kata sambil memicingkan mata. “Apa kau pikir waktu dan maafku semurah itu?”

Dewa cepat-cepat mengangkat wajah lalu menggelengkan kepalanya mendengar tuduhan seperti itu. “Tentu saja bukan seperti itu, Winda.”

“Lalu apa? Apa yang kau sembunyikan dariku, Dewa?” Winda menuntut. Air matanya mulai merebak.

Cepat-cepat Dewa  mengulurkan tangan pada Winda saat ia melihat air mata yang nyaris tumpah. Ia maju selangkah dengan kedua lengan yang terbuka lebar.

Tapi tanpa dinyana, Winda mengelak. Gadis itu mengangkat kedua tangannya dengan sikap defensif. "Jangan sentuh aku," desisnya.

“Aku benar-benar minta maaf, Winda,” bisik Dewa. “Aku harap kau bisa menunggu sebentar lagi.”

“Sampai kapan aku harus menunggu? Aku sudah cukup sering menunggumu! Apa itu tidak cukup, huh?” Air mata sialan itu meleleh dari sudut mata Winda. Cepat-cepat ia menghapusnya dengan punggung tangan. Lalu ia melipat tangan di depan dada, kentara sekali gadis itu sedang berusaha menunjukkan sikap tegar.

Tapi Dewa hanya terdiam. Wajah sedihnya berubah muram dalam hitungan detik. Terang-terangan menunjukkan sikap bungkamnya. Dewa benar-benar ingin rencananya berjalan seperti seharusnya.

“Baiklah.” Winda mengigit bibirnya untuk menahan air matanya agar tidak tumpah. “Aku sangat mengerti, Dewa. Jadi, jangan pernah temui aku lagi.”

Jantung Dewa seakan berhenti berdetak. Ia mencoba mengulurkan tangannya yang gemetar untuk menggapai Winda yang semakin menjauh. Tapi ia tidak bisa mencapainya. Bisa-bisa ia kehilangan Winda untuk selamanya jika terus seperti ini.

“Winda! Aku mohon beri aku kesempatan satu kali saja!” seru Dewa dari balik punggung Winda. Tapi gadis itu tetap pada langkahnya. Tidak sedetikpun berhenti atau menoleh lagi. “Datanglah ke tempat ini di hari ulang tahunmu!”

Suara Dewa terdengar dengan volume rendah di telinga Winda. Isakan yang melompat-lompat seakan menulikan telinganya. Cepat atau lambat, ia harus melupakan Dewa.

***

Winda pulang dengan air mata yang terus berderai. Beberapa pasang mata terus saja memperhatikannya dengan penasaran. Tapi ia tidak peduli. Benar-benar tidak peduli. Cara Dewa memperlakukannya benar-benar membuatnya mati rasa.

Beruntung, saat tiba di rumahnya, mobil kedua orang tua Winda tidak ada di garasi. Sepertinya sudah berangkat menghadiri pesta pernikahan dari anak salah seorang rekan kerja ayahnya. Hanya ada adik perempuannya yang tengah membaca majalah remaja bersama seorang teman di ruang tamu.

Langkah Winda berderap cepat saat ia memasuki ruang tamu. Ia ingin segera masuk dan mengurung diri di kamarnya. Tapi adiknya langsung bangkit dari duduk karena dengan mudahnya menyadari perubahan sikap Winda.

“Kak Winda, ada apa?” tanya adiknya penuh rasa khawatir. Tangannya menyentuh lembut lengan Winda.

“Oh, diamlah, Neysa.” Winda menyikut tangan adiknya dengan perasaan tidak sabar. Langkahnya tidak berhenti sedikitpun. Secepat mungkin menaiki tangga ke lantai dua.

“Della... tunggu sebentar, ya,” bisik Neysa kepada temannya. Begitu Della menganggukkan kepala, ia bergegas mengejar kakaknya.

Neysa tidak ingin membiarkan Winda tenggelam di kamarnya sendirian. Ia tahu, kakaknya itu pasti membutuhkan teman untuk bercerita. Maka, ia ingin meredakan air mata kakaknya.

“Ada apa, Kak?” tanya Neysa sambil berdiri di ambang pintu. Sedetik yang lalu, hampir pintu itu dibanting keras. Beruntung, Neysa datang tepat pada waktunya.

Tubuh Winda bergetar sesegukkan. Air matanya tumpah ruah tak bisa dibendung. Saat Neysa mendekat, ia langsung memeluk adiknya dan membasahi bahu adiknya dengan air mata.

Neysa bergeming. Ia membiarkan Winda menumpahkan segala perasaannya. Pasti selama perjalanan pulang, kakaknya itu menahan diri untuk tidak menangis seperti ini. Setelah tangisan Winda mereda, Neysa mulai bertanya.

“Apa ini... tentang Kak Dewa?”
Winda menganggukkan kepala sambil mengusap air matanya dengan tisu. “Dia... sepertinya berselingkuh.”

Kepala Neysa ditelengkan ke kiri. “Kenapa kakak berpikiran seperti itu?”

“Setiap kali kami janjian kencan, dia selalu terlambat. Tidak hanya satu atau dua menit, melainkan dua jam bahkan tiga jam. Bayangkan!” Winda bercerita di tengah isakannya. “Dia pasti bertemu dengan selingkuhannya sebelum bertemu denganku.”

“Kakak yakin dengan hal itu?” tanya Neysa dengan nada ragu. “Mungkin saja ada sesuatu yang penting yang harus diselesaikan Kak Dewa hingga harus datang terlambat.”

“Kemarin aku juga sudah bercerita kepada Inez dan Sofia mengenai ini...” Winda melempar gumpalan tisu ke keranjang sampah di kamarnya. “Awalnya mereka juga sama sepertimu. Tapi setelah dipikir lagi, kami semua sepakat dengan dugaanku.”

Neysa menghela napas panjang. Sedikit banyak ia mengenal kekasih kakaknya dalam beberapa kali saat Dewa berkunjung ke kediaman mereka. Dan selama percakapan singkat mereka itu, tampaknya Dewa bukan lelaki yang seperti itu. Tapi... entahlah... hati manusia memang sulit ditebak.

“Apa kakak sudah menanyakan langsung kepada yang bersangkutan?” tanya Neysa sambil mengusap-usap punggung Winda penuh kelembutan. “Tidak baik terlalu lama menyimpan dugaan tanpa alasan seperti itu.”

“Tentu saja aku sudah menanyakannya. Dan dia memilih tetap bungkam dari pada menceritakan alasannya. Aku semakin yakin dia berselingkuh!”

Kening Neysa berkerut. “Lalu, apa yang kakak katakan? Apa kakak meminta untuk... putus?”

Winda mengangguk, lalu menggelengkan kepala. Sejenak ia terdiam seakan ragu. Tapi sedetik kemudian ia mengangkat bahunya dengan sikap enggan. “Entahnya, Neysa. Aku hanya memintanya untuk tidak menemuiku lagi.”

“Kalau begitu, gunakan waktu itu untuk saling memeperbaiki diri. Setelah itu baru putuskan untuk bertemu dan membicarakan masalah ini hingga selesai.”

Winda cepat-cepat menggelengkan kepalanya. Air matanya sudah mulai surut sekarang. “Aku tidak mau bertemu lagi dengan Dewa. Aku lelah menunggunya di setiap waktu yang dijanjikannya.”

Apa boleh buat. Neysa hafal betul bahwa kata-kata Winda saat sedang membara karena amarah tak bisa dibantah. Secepatnya harus diberi pendingin.

“Aku dan Della berencana pergi ke kedai es krim yang baru dibuka seminggu yang lalu. Apa kakak mau ikut?”

Secercah cahaya terbit di wajah Winda. Ia menganggukkan kepalanya. Ada sedikit perasaan menyesal sudah menolak ajakan Dewa tadi. Tentu saja. Kata es krim sudah seperti mantra sihir bagi telinga Winda. Kecuali saat ia sedang marah tentunya. Perasaan gengsi jauh lebih membekukan hatinya.

“Tunggulah di bawah bersama Della. Aku akan mencuci muka sebentar.”