Tampilkan postingan dengan label Accidentally Loving You. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Accidentally Loving You. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Maret 2015

Accidentally Loving You part 3 End


Suara parau itu membuatku berjingkat. Sesegera mungkin aku melepaskan diri dari lelaki di hadapanku. Jantungku berdebar kencang seolah bersiap untuk membuat sebuah ledakan di kepalaku.

"Will—"

Suara itu begitu tegas dan mantap. Rahangnya mengeras. Matanya berkilat marah, memancarkan aura kejam yang siap mencabik-cabik kami kapan saja. Tentu saja itu membuatku gugup. Seumur hidup aku tak pernah melihatnya semarah ini.

"Apa yang kau lakukan dengannya?" Nadanya begitu mengancam. Langkah sepatunya beradu dengan lantai, mendekat ke arah kami. Kemudian dengan kasar ia melempar bunga di tangannya tepat ke wajah Will. Will bergeming, menatap Shane dengan tajam.

"Aku mencintainya." Will berkata dengan tegas, membuat Shane mengerang penuh kemarahan. Kemudian Shane menatapku. Menatapku lekat-lekat, seolah hendak menerkamku.

"Apa kau masih mengingatku, Kirana?" Tanya Shane tenang, ah— ini bukan pertanyaan, ini sindiran. Aku menggigit bibirku keras-keras. Entah kenapa aku berharap gigitanku dapat mengeluarkan darah dari bibirku.

"Jangan bercanda Shane. Te— tentu saja aku mengingatmu." Aku gugup. Dan saat itu juga aku merasa aku telah mengeluarkan jawaban yang salah.

"Lalu apa yang kau lakukan dengan mr. William Wright disini?" Shane menegaskan nama Will. Bagus. Aku memang sudah mengeluarkan jawaban yang salah. Dan aku yakin sebentar lagi adalah saatnya eksekusi untukku.

"Maafkam aku Shane, semua terjadi begitu saja. Aku— aku tak bermaksud mengkhianatimu. Tapi—"

"Tapi apa Kirana?" Shane memotong ucapanku dengan kasar. "Dan kau Will, bagaimana bisa kau bermain-main dengan kekasih adikmu sendiri, hah?" Shane mengepalkan tangannya kuat-kuat, mencoba menahan darahnya yang telah mendidih. Wajah tampannya begitu mengerikam kali ini. Membuatku hampir tak mengenalinya.

"Shane, aku tak tahu jika gadis ini yang kau maksud. Jika saja aku tahu sebelumnya, mungkin aku tak akan mendekatinya."

"Kau keterlaluan Will!" Shane melepaskan sebuah pukulan ke wajah Will, kemudian disusul dengan pukulan yang bertubi-tubi. Dengan segala kekuatan yang kumiliki aku mencoba untuk melerai mereka, namun sayang kekuatanku tak cukup mampu untuk menandingi Shane yang tengah mengamuk.

"Shane, maafkan kami. Kumohon jangan seperti ini." Aku memeluk Shane dan terus memohon pada Shane untuk memaafkan kami. Aku tahu, Shane tak akan memaafkanku, tapi aku tak bisa membiarkan Will begitu saja.

Lelaki itu perlahan mundur dari hadapan Will, membuatku semakin erat memeluknya. Aku benar-benar tak tahu apa yang harus ku lakukan. Aku tahu persis ini adalah kesalahanku. Tangannya menyentuh tanganku, kemudian perlahan melepaskan pelukanku dari tubuhnya. Oh Tuhan, aku yakin sesuatu yang buruk akan terjadi.

"Apakah kau akan menangisiku seperti ini ketika aku berada di posisi Will?" Aku mengerutkan kening menatap wajah merah Shane. Lelaki itu terus menatapku lekat-lekat. Ada yang berbeda dari wajah lelaki itu. Matanya yang memerah mulai berkaca-kaca.

Tangannya perlahan menyentuh pipiku, mengusap air mata yang mengalir membasahi wajahku. Kemudian ia memelukku dengan erat. Punggungnya bergetar. Dan saat itu aku tahu dengan pasti bahwa Shane menangis. Aku pun melingkarkan tanganku untuk memeluknya.

"Aku selalu tahu bahwa kau tak pernah mencintaiku, Kirana." Bisik Shane di telingaku. Kemudian ia mengusap air matanya dan mencoba menghilangkan rasa sedih dari wajahnya. Lelaki itu kemudian menyerahkan sebuah kotak berwarna biru gelap kepadaku.

"Apa ini?" Tanyaku saat Shane berusaha meletakkan kotak itu dalam genggamanku.

"Aku tak pernah berhenti berharap untuk menginginkanmu menjadi istriku. Namun, kurasa aku mengerti apa yang kau rasakan padaku. Mungkin ini akan menjadi hadiah perpisahan kita. Semoga kau bahagia Kirana. Selamat tinggal."

Itu kalimat terakhir yang ia ucapkan sebelum ia melangkah meninggalkanku dan Will. Perasaan bersalah bergelayut dalam hatiku. Aku tahu lelaki itu begitu tulus padaku. namun hingga detik ini, aku tak mampu untuk membalas perasaannya padaku.

Aku membuka kotak yang diberikan Shane padaku. Sebuah cincin dengan mata berwarna biru yang begitu cantik. Air mata kembali membasahi wajahku, kemudian sepasang lengan yang kuat merengkuhku ke dalam pelukannya.

"Apa kau mencintainya?" Will yang sejak tadi terdiam melontarkan sebuah pertanyaan padaku. Aku terdiam sesaat, mencari tahu bagaimana sebenarnya perasaanku.

"Entahlah Will, kurasa aku hanya menyukainya."

"Kirana, aku benar-benar tak tahu bahwa kau adalah gadis yang selalu ia ceritakan padaku. Jika saja aku tahu, aku tak akan menghancurkan hubungan kalian." Will mendesah. Ya, ini salahku. Aku tahu mereka adalah Wright bersaudara. Namun perasaanku pada Shane tak sebesar perasaanku pada Will. Dan ya, aku mencintai Will.

"Maafkan aku Will. Sebenarnya aku sudah menyadari bahwa kalian bersaudara sejak seminggu yang lalu. Tapi aku merahasiakannya karena aku benar-benar tak ingin kehilanganmu." Air mata kembali mengalir membasahi wajahku. Aku tahu apa yang kulakukan memang keterlaluan. Aku mengorbankan perasaan orang lain demi menjaga perasaanku.

Will menengadahkan kepalaku dengan kedua tangannya kemudian mengusap air mata di wajahku. Perlahan ia mendekatkan bibirnya, kemudian mengecup bibirku.

"Kirana, menikahlah denganku." Ujar Will mantap. Akupun mengangguk dan mengembangkan senyum di wajahku. Air mata kembali membasahi wajahku, tapi kali ini, itu adalah air mata kebahagiaan.

Tamat

Selasa, 10 Maret 2015

Accidentally Loving You part 2


"Shane?" Gadis itu mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Shane. Kirana mengepalkan tangannya untuk menahan kemarahan yang siap meledak kapanpun. Sekali lagi, bukan karena cemburu. Kirana hanya tak terima karena Shane membohonginya.

Shane menatap Kirana sambil mengerutkan keningnya. "Tunggu dulu kau ini-" Shane sengaja memberikan jeda pada kalimatnya.

Kirana membelalakkan matanya, menutup mulutnya yang menganga dengan kedua tangannya. "Maafkan aku." Kirana berbalik, mempercepat langkahnya untuk menjauh dari Shane.

Tidak, ini tidak mungkin. Dasar bodoh kau Kirana! Kirana merutuk menyesali kebodohannya. Sialan! Dia bukan Shane. Lelaki itu bukan Shane. Wajah Kirana merah padam menahan malu. 

Sementara lelaki itu sibuk memotret gadis mungil yang salah mengenalinya. 

"Kau mengenalnya?" Tanya gadis disamping lelaki yang Kirana kenal sebagai Shane.

"Tidak Pamela, aku tak pernah bertemu gadis itu sebelumnya." Lelaki itu terus mengambil foto gadis yang tengah berjalan terburu-buru sambil sesekali menoleh pada lelaki itu. "Kita akan bertemu lagi manis." gumam lelaki itu.

***

Sepulang dari Hawai, Shane segera berkunjung ke penthouse Kirana untuk kembali meminta maaf secara langsung. Tawa terpingkal keluar dari mulut lelaki itu saat Kirana menceritakan kejadian memalukan yang dialaminya dua hari yang lalu.

"Lalu bagaimana bisa kau salah mengenaliku sebagai orang lain?"

"Entahlah Shane. Saat iku aku begitu kesal padamu. Kau membatalkan rencana pada detik terakhir dan aku melihatmu bersama seorang.. gadis." Kirana mengurangi volume suaranya saat mengucapkan kata terakhir dalam kalimatnya.

Shane mengernyitkan dahi memandang gadis yang sudah lama disukainya itu. "Kau cemburu?" 

Kirana membelalakkan matanya. Semburat kemerahan tampak di wajahnya. "Bicara apa kau ini? Aku hanya kesal."

"Kesal karena kau melihatku bersama seorang gadis?" Goda Shane membuat Kirana salah tingkah.

"Tentu..ah maksudku..tentu saja aku kesal karena kau membatalkan janji. Coba kau pikir bagaimana rasanya ketika kau bilang harus ke Hawai dan ternyata aku melihatmu bersama seorang gadis di tempat yang sama. Aku kesal hanya karena kupikir kau berbohong. Bukan karena kau bersama gadis itu." Kirana seolah mengatakan kalimat sepanjang itu dalam satu tarikan nafas. Kemudian diraihnya segelas minuman yang ia letakkan di meja.

"Benar kau tidak cemburu?" Shane meyakinkan.

"Sudahlah Shane, kita ini teman. Kau pun tak mungkin punya perasaan lebih terhadapku." Kirana menyunggingkan senyum si bibirnya, membuat lesung pipinya terlihat jelas. 

"Lalu bagaimana jika aku punya perasaan lebih untukmu?" Ucapan Shane membuat wajah Kirana semakin memerah.

"Sudahlah-" bunyi ponsel Kirana menghentikan ucapan gadis itu. 

"Ada apa?" Tanya Kirana pada seseorang diseberang sana. "Baiklah. Besok segera serahkan berkasnya padaku sebelum jam makan siang." Kirana meletakkan ponselnya di sampingnya kemudian kembali menyesap minumannya.

"Jadi bagaimana?" Shane berusaha memecah keheningan diantara mereka.

"Ada perusahaan di Riyadh yang ingin bekerja sama dengan hotelku dan-"

"Bukan itu." Shane memotong kalimat Kirana. "Bagaimana jika aku memiliki perasaan lebih kepadamu?"

Hening. Tak ada sepatah katapun yang mampu keluar dari mulut Kirana. 

"Shane bercandamu tidak lucu." 

"Kirana, aku mencintaimu." Ujar Shane menatap mata Kirana dalam-dalam, membuat Kirana salah tingkah. 

Mungkin aku juga mencintaimu, adalah kalimat yang tak mampu ia ucapkan saat ini. Dulu Shane adalah pangeran pujaan Kirana dan mungkin hingga saat ini pun akan tetap sama.

"Aku-" Ucapan Kirana lagi-lagi terpotong. Kali ini karena ponsel Shane yang berbunyi. 

"Baik Will. Sebelum makan malam aku akan kesana." Ujar Shane pada seseorang yang ia panggil Will. 

"Maafkan aku Kirana. Kakakku menelpon." Shane memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. "Lalu tidak bisakah kau memberikan kesempatan untukku?" 

Kirana terdiam beberapa saat. Matanya nyalang menatap lantai berwarna abu-abu. Seperti perasaannya sekarang.

"Kirana?" Shane kembali membawa Kirana ke daratan. Membuyarkan lamunan gadis itu. Matanya menuntut sebuah jawaban dari Kirana. 

"Kurasa tak ada salahnya memberikan kesempatan untukmu, Shane."

***

Ia melihat gadis itu duduk di kursi di samping jendela kaca yang begitu besar, menikmati secangkir kopi dan sandwich untuk sarapan paginya. Dialah gadis yang mampu membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Ditatapnya lekat-lekat gadis yang ekspresi wajahnya berubah-ubah itu setiap menatap ponselnya. Tak lupa lelaki itu mengangkat kameranya untuk mengabadikan setiap ekspresi yang dibuat oleh gadis itu.

Gadis itu menyangga dagunya, pandangan matanya lurus pada lelaki yang tengah menghadapakan lensa kamera ke arahnya. Perlahan lelaki itu menurunkan kameranya dan menatap langsung gadis bergaun merah yang ada beberapa meter di depannya. 

Gadis itu menaikkan alisnya seolah bertanya apa-kau-lihat-lihat? Kemudian lelaki itu mengurai senyum penuh arti bagai seorang maling yang tertangkap basah sedang mencuri. Dengan penuh wibawa ia berjalan mendekat ke arah gadis itu.

"Ada yang bisa kubantu?" Tanya gadis itu. Tanpa menjawab lelaki itu menarik kursi kosong di hadapannya.

"Kirana, aku Wright. William Wright. Atau kau bisa memanggilku Will." Ujar Will penuh percaya diri. Gadis itu masih memandang lelaki di hadapannya dengan heran. Lelaki yang ia sangka sebagai Shane saat di pameran.

"Kau tahu namaku?"

"Tentu. Miliarder muda dengan bisnis yang luar biasa. Mana mungkin aku tak mengenalmu. Menunggu seseorang?" 

"Tidak. Aku hanya sering menghabiskan waktu di tempat ini. Em-- untuk yang waktu itu, aku benar-benar minta maaf padamu." Wajah Kirana bersemu merah ketika mengingat kembali kejadian tempo hari.

"Sudahlah. Lupakan saja. Sebuah keberuntungan aku bisa bertemu denganmu saat itu." ujar Will sambil mengedipkan sebelah matanya pada Kirana. 

Sejak saat itu hampir setiap makan siang Will akan mendatangi kafe tersebut hanya untuk menemui Kirana, bertukar nomor ponsel, saling mengirim pesan hingga keakraban di antara mereka pun semakin terjalin. Dan satu hal yang Kirana sadari, Will adalah orang yang sangat menyenangkan.

***

Pagi yang cerah. Langkah lelaki itu begitu tegas dan mantap. Pandangan matanya lurus menatap daun pintu berwarna biru tua yang masih bermeter-meter di hadapannya. Senyumnya terurai menghiasi wajah tampannya. Sebuket mawar merah segar yang cantik mengisi tangan kanannya. Derap langkahnya terdengar tenang. Suara ketukan sepatu yang beradu dengan lantai menciptakan irama yang konstan.

Tak lama lagi lelaki itu akan mencapai pintu tersebut. Dalam lima langkah, lelaki itu telah berdiri di depan pintu yang begitu lebar. Di balik pintu itu ada gadis yang ia cintai dan ia ingin mengejutkan gadis itu dengan kedatangannya. Perlahan dibukanya pintu tersebut.

Lelaki itu mematung menatap pemandangan di hadapannya. Pemandangan yang mampu membuat jantungnya berdegup kencang. Senyumnya perlahan memudar berganti dengan dahinya yang berkerut. Mencoba meyakini apa yang dilihatnya.

Tangan gadis itu tengah melingkar pada leher lelaki di hadapannya. Lelaki itu melingkarkan kedua tangannya di pinggul gadis iru seraya mencium bibirnya dengan ciuman lembut dan dalam. Gadis itu memejamkan matanya seolah menikmati ciuman lelaki yang ada di pelukannya.

Pemandangan yang begitu luar biasa. Luar biasa mencabik-cabik hati lelaki itu. Hatinya bimbang, tangannya gemetar sambil menggenggam gagang pintu hingga buku jarinya memutih. Ingin rasanya ia berteriak untuk menghentikan mereka berdua. Namun suaranya seolah mengkhianatinya. Hingga dengan segenap kekuatan, lelaki itu mengeluarkan suaranya yang terdengar gemetar.

"Kirana"

Bersambung ke part 3

Selasa, 03 Maret 2015

Accidentally Loving You part 1


Dua jam saja. Hanya dua jam waktu yang ia miliki sebelum ia pergi ke Amerika. Kirana masih saja ragu untuk mengatakan kepergiannya pada kekasihnya. Ya, lelaki itu tak perlu tahu. Itu adalah hal yang pantas setelah lelaki itu telah menipunya. Memanfaatkan kekayaan Kirana untuk membuat hidupnya makmur bersama perempuan lain. 

Lelaki itu tak akan pernah tau bagaimana susahnya Kirana mengumpulkan uang hingga ia menjadi miliarder muda yang sukses. Dengan segudang bisnis yang ia kembangkan di penjuru dunia membuatnya menjadi pengusaha muda yang banyak diperebutkan oleh taipan-taipan tampan yang tak kalah sukses.

Tio, lelaki itu tak pantas lagi mendampingi Kirana. Harusnya Kirana percaya apa yang dikatakan sahabatnya tentang Tio yang berniat menguras harta Kirana. Tapi cukup. Kali ini tak ada ampun lagi untuk lelaki itu. Penyelidikan selama dua bulan cukup membuktikan segalanya.

Kartu kredit dengan jumlah tak terhingga yang diberikan untuk Tio dan rekening bank yang berisi uang dari Kirana telah diblokir atas permintaan gadis itu. Tentu saja setelah Kirana menguras habis uang di dompet Tio semalam untuk membeli beberapa sepatu dengan alasan dompet Kirana yang ketinggalan. 

Kirana mengenakan kacamata hitamnya sebelum turun dari mobil sport merah yang ia kendarai. Ia melangkah menuju rumah bercat kuning kemudian menempelkan catatan di pintu depan rumah itu.

Maaf, kita akhiri saja semuanya.
Kirana.

Kirana mendesah lega setelah menempelkan catatan tersebut. Ia memutar langkahnya berjalan dengan tumitnya yang tinggi mengetuk lantai teras rumah itu dengan irama yang tenang. 

Waktunya sangat berharga. Ia tak ingin menghabiskan waktunya untuk berdebat dengan Tio. Tapi ia harus tetap menjelaskan seperti apa hubungan mereka. Tio sudah bukan lagi orang penting dalam hidupnya.

Kirana melajukan mobilnya dengan cepat menuju rumahnya. Ia harus segera berangkat ke bandara. Kali ini mungkin satu atau dua tahun ia akan tinggal di Amerika untuk bisnisnya di Los Angles.

***

Bangunan itu menjulang dengan bentuk yang menyerupai tumpukan buku. Arsitek kenalannya, Shane telah membuatnya tampak begitu berseni dan mewah. Kirana tersenyum puas menatap bangunan hotel miliknya dari balik kacamata hitamnya.

"Kirana" Panggil seseorang membuat Kirana menoleh ke asal suara.

"Shane. Bagaimana kabarmu? Ini benar-benar karya yang luar biasa." Puji Kirana begitu melihat lelaki berkemeja hitam dengan jeans lebih terang yang membalut tubuhnya. 

"Seperti yang kau lihat. Bagaimana denganmu?" 

"Tentu aku baik-baik saja. Ayo ke kafe itu. Aku akan mentraktirmu." Shane menunjuk sebuah kafe bergaya klasik di ujung jalan. Kirana pun mengiyakan dan menyamakan langkah dengan kaki jenjang Shane. 

"Kupikir kau akan datang bersama Tio." Ujar Shane sebelum memasukkan kentang goreng ke dalam mulutnya.

"Shane, dia penipu. Dia memanfaatkan uangku." Kirana mendengus kesal. "Aku sudah memutuskan lelaki itu." Kirana menambahkan.

"Lalu sampai kapan kau disini?"

"Mungkin aku akan lama disini. Aku sudah lama tidak jalan-jalan sejak aku kembali ke Indonesia. Aku jadi ingat kita sering jalan-jalan saat kita masih sekolah." Kirana tersenyum saat mengingat kenangan bersama teman lamanya itu. "Sudah sepuluh tahun kita tak bertemu, kau benar-benar berubah Shane." 

"Begitu juga denganmu Kirana. Kau jauh lebih cantik sekarang. Besok aku akan mengajakmu ke pameran patung di gedung seni. Besok adalah hari terakhir pameran itu." kata Shane setelah menyesap minumannya.

"Tentu. Kita akan bertemu di sini besok."

"Tidak, tidak. Aku akan menjemputmu." 

***

Kirana ini bukan kencan! Kirana merutuk dalam hati. Ia berdiri di depan sebuah cermin berukuran besar, mengeluarkan isi kopernya dan memilih gaun yang pantas untuk ia kenakan. Kirana akhirnya memutuskan untuk mengenakan gaun berwarna ungu tua yang terlihat cantik di kulit sawo matangnya.

Suara ponsel Kirana berdering. Shane. Kirana berdehem, mengatur suaranya agar tak terdengar gugup.

"Ya?"

"Kirana maafkan aku. Aku tak bisa pergi denganmu hari ini. Ada meeting mendadak. Aku harus pergi ke Hawai sekarang juga. Aku-"

"Aku paham." Kirana memotong kalimat Shane. "Tenang saja, aku bisa pergi sendiri." Nada kecewa terdengar dari suara Kirana. Ia telah menyiapkan penampilan terbaiknya untuk pergi bersama Shane. Tapi semuanya gagal. Kirana segera mematikan mengakhiri telpon Shane tanpa salam. 

"Aku tak percaya ini." Karina berbicara pada bayangannya di cermin. Kemudian ia meraih tasnya dan beranjak menuju lobby hotel miliknya. 

Ia tinggal di penthouse yang ia bangun di lantai puncak hotelnya. Ia memang membuat sebuah penthouse di setiap hotel miliknya untuk memudahkannya mencari tempat tinggal saat berkunjung.

***

Sebuah bangunan didominasi warna putih dan emas berdiri megah dengan pilar-pilar tinggi yang kokoh. Ini adalah gedung seni White Art. Tempat yang harusnya ia datangi bersama Shane.

Kirana menaiki anak tangga menuju ke pintu masuk yang sangat besar untuknya. Tubuh Kirana yang memang asli Indonesia, terbilang kecil dibandingkan orang-orang Amerika kebanyakan. 

"Kirana." Seorang lelaki dengan setelan jas rapi berjalan mendekati Kirana. Kirana mengernyitkan keningnya, mencoba mengingat siapa lelaki yang menyapanya itu. 

"Kau lupa padaku? Ini aku, Steve." Lelaki itu mencoba mengingatkan. 

"Ah, iya Steven Smith. Tentu saja aku mengingatmu." Seulas senyum palsu tersungging di bibir Kirana. Lelaki terakhir yang ia harapkan untuk bertemu dengannya. Lelaki yang sombong dan gemar memamerkan hartanya. Membuat Kirana muak tentu saja.

"Memang harusnya kau mengingat orang penting sepertiku Kirana. Bagaimana bisnismu di Riyadh? Kau tahu, aku membangun sebuah pusat perbelanjaan di Barcelona. Aku memang cerdas. Bisnis di kota itu membuatku meraup banyak keuntungan." Tawa bangga keluar dari mulutnya. Sementara Karina sibuk memandang sebuah pahatan patung yang begitu indah di hadapannya. 

Karina masih melanjutkan langkahnya hingga ia menghentikan langkahnya di depan sebuah pemandangan yang jauh lebih indah dari pahatan patung dewa Yunani sekalipun.

"Shane." Suara Karina terdengar gemetar. Bagaimana bisa Shane membatalkan rencana mereka padahal Shane pun hadir di tempat yang sama.

"Karina, kau tidak mendengarkanku?" Steve merasa ceritanya tak didengar oleh Karina. Tapi memang itulah yang terjadi.

"Steve. Aku tahu kekayaanmu dan kesuksesanmu memang luar biasa. Tapi bisakah kau berhenti berbicara kali ini? Aku benar-benar tak ingin mendengarkan apapun yang berhubungan dengan bisnis sekarang ini." Ujar Karina ketus tanpa mengalihkan perhatiannya dari Shane.

Lelaki itu menggenggam sebuah kamera dengan seorang gadis bergaun merah. Sebelah tangan gadis itu melilit pinggang Shane yang sibuk memotret patung di hadapannya sambil sesekali membisikkan sesuatu di telinga gadis itu hingga membuat gadis itu tertawa.

"Kirana, ayolah. Kenapa kau jadi begitu menyebalkan." Lelaki sialan ini benar-benar tidak sopan, batin Kirana. 

"Steve, aku benar-benar ingin sendiri. Dan lagi aku sudah berkali-kali dengar tentang bisnismu di Barcelona, Sudan, India dan dimanapun itu. Jadi sekarang cukup." Kilatan kemarahan terlihat di mata Kirana. Steve akhirnya meninggalkan Kirana sambil mengumpat kesal. 

Kirana tahu suatu saat nanti hal ini akan berdampak pada bisnisnya. Tapi ia tak peduli. Suasana hatinya sedang benar-benar buruk saat ini. 

Keraguan muncul di hati Kirana. Ia ingin mendatangi Shane dan menuntut penjelasan tentang mengapa ia berada disini dengan seorang gadis, sedang ia bilang ia tak bisa datang karena meeting di Hawai. Kirana cemburu -ralat, kesal- dengan keputusan sepihak Shane ketika ia telah menyiapkan penampilan terbaiknya hari ini.

Gadis itu bergelayut manja di tangan Shane. Membuat emosi Kirana semakin naik. Akhirnya Kirana akhirnya membuat sebuah keputusan bulat. Tumitnya yang tinggi beradu dengan lantai, membawanya untuk mendekati Shane. Kemarahannya tak lagi dapat terbendung ketika melihat Shane mengecup bibir gadis itu. Benar-benar tak tahu malu!

"Kau keterlaluan, Shane!"

Bersambung ke part 2