Selasa, 12 Juli 2016

Green Eyed - Chapter 8


Pagi ini, Elena bangun lebih pagi dari biasanya. Setelah mandi, ia mengintip Nico yang masih tertidur di sofa. Mengingat seorang gadis—ralat, dua orang gadis menyebutnya dengan panggilan ‘sayang’ membuatnya geram. Elena kembali ke kamar, memilih pakaian apa yang akan ia kenakan untuk ke kantor Nico. Oh, Elena bahkan tidak tahu apa nama dan di  mana letak kantornya.

Sebuah terusan berwarna peach tanpa lengan yang akan dipadukan dengan sebuah blazer sempat menarik perhatian Elena. Tapi tidak, itu terlalu pendek. Kembali ia mencari-cari pakaian yang tepat dan nyaman untuk digunakan. Elena mendesah frustasi melihat sekian banyak pakaian di lemari yang sama sekali tidak menarik perhatian. Akhirnya dengan putus asa ia meraih sebuah blue jeans yang dipadukan dengan kemeja putih berkerah China.

Elena membubuhkan bedak tipis dan lipstik yang terkesan natural, kemudian mengikat rambutnya seperti ekor kuda. Elena mengernyit saat ada suara gaduh yang tiba-tiba senyap. Ia segera berlari ke luar kamar untuk memastikan apa yang terjadi.

“Nico!” Teriak Elena saat melihat lelaki itu mengendap-endap untuk keluar dari rumah. Ia melihat punggung Nico menegak, kemudian perlahan Nico berbalik untuk melihat Elena.

“Kau mau kabur?” Hardik Elena yang membuat Evan terkikik melihatnya.

“Tidak Elena, aku hanya mau pulang untuk berganti pakaian. Nanti aku akan menjemputmu lagi.” Ujar Nico santai.

“Tidak. Kau tunggu sebentar, aku akan mengambil tasku.” Tatapan mengancam Elena membuat Nico meneguk ludahnya. “Kak, awasi dia. Awas jika dia sampai kabur.” Elena memperingatkan Evan, kemudian kembali ke kamarnya.

 “Sialan! Matilah aku.” Gumam Nico yang mendapat perhatian dari Evan.

“Ada apa sebenarnya?” Tanya Evan penasaran. Jarang-jarang ia melihat si tuan besar itu bernyali ciut seperti ini.

“Kemarin Sherly menelpon secara ‘tidak sopan’.” Nico menegaskan suaranya pada dua kata terakhir, “dan Elena akan membuat perhitungan.” Lanjut Nico yang ditanggapi kekehan geli oleh calon kakak iparnya itu.

“Ayo, aku sudah siap.” Teriak Elena dengan sepatu hitam bertumit tingginya yang beradu dengan lantai.

“Selamat berjuang, bro.” Evan menepuk pundak Nico untuk memberinya semangat. Ia tahu betul bagaimana sifat posesif adiknya.
***

Elena POV
Untuk pertama kalinya aku menginjakkan kakiku di sebuah perusahaan yang sangat besar ini. D’Royale Inc. Aku pernah lewat di depan perusahaan itu beberapa kali, tapi aku tak terlalu memerhatikannya. Bangunan megah dengan eksterior yang indah, membuatku berdecak kagum saat memerhatikannya dengan saksama. Ditambah lagi bos tampan yang berjalan di sampingku, membuatku bangga bisa berjalan bersamanya.

Sesaat aku memerhatikan Nico yang biasanya bergaya kasual tiba-tiba tampak maskulin dalam balutan jas mahal dan sepatu mengkilatnya. Pantas saja sekretaris itu berlaku genit padanya. Aku memerhatikan sekeliling perusahaan tersebut. Karyawan tampak meluangkan waktunya untuk memandangi kami yang berjalan beriringan.

Ha, lihat, aku adalah pasangan bos kalian! Gumamku bangga dalam hati.

Lift sampai di lantai tujuh, aku mengedarkan pandanganku untuk mencari sekretaris genit itu.

“Dimana perempuan itu?” Tanyaku mendesak.

“Siapa maksudmu?” Jawab Nico berpura-pura hingga aku menghadiahkan tatapan jawab-aku-sekarang padanya. “Oke, oke… ikuti aku.” Aku menghentikan langkahku. Membuat Nico juga berhenti beberapa langkah di depanku. 

“Kita jaga jarak. Kau masuklah duluan.” Ya, ini strategi. Aku ingin melihat seperti apa perempuan itu bersikap jika ia tak melihatku bersama dengan Nico. Nico mengangguk, kemudian berjalan dengan tegang. Sebentar lagi akan kuberi pelajaran pada perempuan itu!

“Selamat pagi pak Nico.” Suara genit gadis itu menusuk telingaku. “Lama aku tidak melihatmu.” Gadis itu menyangga dagunya dengan sebelah tangannya. Oke, darahku sudah mulai mendidih, dan jika gadis itu berani macam-macam, aku akan menghajarnya. Bisa kulihat Nico mencari-cariku, namun aku bersembunyi di suatu tempat yang tak terjangkau olehnya.

“Ayo, sebentar lagi pertemuannya, aku akan menyiapkan semuanya.” Gadis itu mulai mengikuti Nico menuju ke ruangannya. Sialan! Aku menghentakkan langkahku, ingin segera membuka pintu yang baru saja ditutup oleh gadis genit itu. Aku tidak rela Nico berada satu ruangan dengannya.

Aku membuka pintu dengan kasar, melihat sebelah tangan Nico yang digenggam oleh gadis itu. Aku tak akan menyalahkan Nico untuk ini, posisinya lebih menguntungkan jika gadis itu yang merayunya. Dan aku yakin Nico tak akan macam-macam karena ia tahu aku bersamanya.

“Apa yang kau lakukan dengan suamiku?”

Apa? Suami kubilang? Ah biar saja, Nico juga pernah melakukannya padaku saat kejadian pemerasan tempo hari. Gadis itu mengernyit, menatap Nico dengan penuh tanya.

“Tidak mungkin.” Gadis itu menggeleng pelan. Dan gelengannya semakin membuat darahku mendidih.

“Kau… kubilang lepaskan tanganmu darinya!” Aku menyentak tangan gadis itu, dan mendorongnya untuk menjauh dari Nico.

“Elena…” Aku mendengar Nico menyebut namaku dan entah mengapa bagiku itu seperti pembelaan untuk sekretaris genitnya itu. Aku berbalik dan menatap tajam Nico, lelaki itu hanya mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.

Ini belum selesai!
***
Nico POV
Aku duduk di kursi kebesaranku, aku memeriksa berkas-berkas yang sudah bertumpuk di meja sambil sesekali menatap Elena yang berkacak pinggang mengintimidasi Sherly. Mereka berdua sama-sama berkepala batu dan tak satupun mau mengalah.

“Dasar genit, penggoda suami orang!” Hardik Elena menimpali kalimat pedas Sherly.

“Oh ya? Aku bahkan tidak yakin kalian menikah. Nico tak pernah berkata apapun padaku.” Sherly berbicara dengan nada sarkastis sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

Plak! Sebuah tamparan mendarat di wajah Sherly, membuatku terkesiap. Elena menarik kerah kemeja Sherly dan mengacungkan telunjuknya tepat di wajah gadis itu. Aku ragu harus melerai mereka atau membiarkan urusan para gadis itu berlanjut.

“Kau…”

“Jaga bicaramu, Sherly. Kau tidak pantas berbicara seperti itu pada istri atasanmu.” Akhirnya  aku memilih bicara dari pada muncul korban pembunuhan di kantorku. Kemudian esok harinya, ‘Sekretaris D’Royale Inc ditemukan tewas di ruangan bosnya’ akan menjadi headline di setiap surat kabar. Oke, dan kini aku percaya, Elena tak pernah main-main dengan kata-katanya, termasuk menjadikanku sebagai makanan anjing liar.

“Nah, kau dengar itu?” Ujar Elena dengan senyum kemenangan yang dihadiahi pelototan oleh Sherly. “Sekarang sudah jelas bukan? Dan kau, jaga sikapmu.”

Kulihat wajah Sherly berubah, mungkin campuran malu dan marah. Kemudian ia meninggalkan kami begitu saja. Sungguh aku ingin meminta maaf pada gadis itu. Aku memang selalu menghindarinya karena ia begitu agresif dan itu sangat menggangguku. Namun setidaknya dengan kejadian ini, gadis itu akan memahami posisinya. Entah apa yang dipikirkan ayahku dengan tetap mempekerjakan gadis ini, tentu saja kecuali karena fakta bahwa dia cantik.

“Apa dia memang seperti itu padamu?”

“Begitulah. Dan terima kasih kau sudah mengakui dirimu sebagai istriku di depannya. Aku akan secepatnya mengabulkan semua itu.” Aku mengecup pipinya, menghadirkan semburat kemerahan di wajah cantiknya.

“Baiklah istriku, aku harus menghadiri pertemuan dulu. Tunggu di sini.”
***
Elena POV
Sebentar lagi aku akan mati kebosanan di sini. Tak ada hal berarti yang bisa kulakukan. Aku beranjak meninggalkan kantor Nico setelah mengirimkan pesan padanya bahwa aku akan pulang. Aku berjalan malas, menyilangkan kakiku mengikuti garis lantai. Semua mata tertuju padaku, namun aku tak peduli. Mungkin si sekretaris genit itu sudah menyebarkan gosip ke seluruh perusahaan.

Aku memilih taksi meski Nico memintaku untuk membawa mobilnya. Agendaku panjang. Aku harus menjemput Nico jika aku menggunakan mobilnya dan aku tidak mau acaraku terganggu. Aku ingin belanja, ke salon, membeli novel, lalu… ke rumah sakit.

Rumah sakit.

Entah mengapa aku penasaran dengan keadaan gadis itu. Bagaimanapun juga aku takut kalau-kalau gadis itu bernasib sama dengan seseorang yang kutabrak beberapa waktu yang lalu. Mungkin aku ingin sedikit bertanggung jawab pada gadis itu sebagai bentuk tanggung jawabku pada orang yang meninggal karenaku.

Taksi membawaku ke sebuah rumah sakit yang kudatangi kemarin. Aku melangkah menuju resepsionis, menanyakan tentang sedikit informasi yang kuketahui tentang gadis itu. Kemudian resepsionis menyebutkan ruangannya. 

Jasmine 208.

Aku mengintip sedikit pada kaca di sisi pintu yang memang difungsikan untuk itu. Tak ada seorangpun yang ada di ruangannya. Aku memberanikan diri untuk masuk. Aku mengintip nama pasien yang tertulis pada ranjang, Trisia Arissandy. Gadis itu tampak kurus, wajah tirusnya begitu pucat. Perban melingkar pada tangan kirinya. Selebihnya, semua tampak baik-baik saja.

“Trisia, maafkan kami.” Gumamku pada gadis itu. Aku tahu ia tak mendengarku, dan aku berharap dia memang tak mendengarku. Aku terus memandangi wajahnya, rasa bersalah kembali bergelayut di hatiku. Aku tengah merapikan selimut yang menutupi tubuhnya ketika seseorang berdehem di belakangku.

“Ada yang bisa kubantu?” Suara maskulin itu membuatku menegang. Aku memutar tubuhku, kemudian mataku bertemu dengan seorang lelaki yang mengenakan kemeja merah hati yang memandangku dengan penuh pertanyaan.

“Maaf, aku hanya ingin menjenguknya.” Aku mengamati ekspresinya yang datar dan aku menelan ludahku dengan susah payah. “Maafkan kami atas kejadian kemarin. Em… bagaimana kondisinya?”

“Seperti yang kau lihat.” Kata lelaki itu santai, kemudian berjalan melewati ranjang dan berdiri di sisi lain. “Hanya retak di tangan kirinya dan luka pada bagian belakang kepalanya. Sekarang dia tertidur karena obat.”

Aku bisa melihatnya. Dan syukurlah gadis itu tidak separah yang kukira mengingat bagaimana darah bercucuran di tempat kejadian kemarin. Tapi tunggu… kepala bagian belakang? Apakah itu tidak berdampak pada ingatannya? Semacam hilang ingatan seperti di drama seri picisan setiap sore yang selalu tidak sengaja kutonton.

“Apakah itu tidak mempengaruhi ingatannya? Em… maksudku, seperti di drama-drama, kecelakaan yang melibatkan kepala akan mempengaruhi… ingatannya.” Ucapku ragu. Lelaki itu hanya menaikan sebelah alisnya, membuatnya terlihat… tampan. Oh, tidak, apa aku baru saja terpesona pada lelaki selain Nico? Dia akan membunuhku nanti!

“Kuharap itu terjadi padanya. Tapi sayangnya tidak.” Kata lelaki itu yang membuatku memelototkan mataku secara berlebihan untuknya. Apa-apaan ini? Dia ingin gadis itu melupakannya?

“Kenapa dia… em… mengapa kau berharap seperti itu? Bukankah kau… mencintainya? Ah, maksudku kalian tampak seperti pasangan. Maaf jika aku salah.” Oh, Elena, apa kau sedang mengusik pribadi mereka sekarang?

“Kau melihat bahwa aku mencintainya?”

Tentu saja. Orang buta juga bisa melihatnya! “Begitulah, terkadang orang lain cukup mampu melihatnya dari caramu menatapnya.”

“Mungkin begitu, tapi dia adalah kekasih adikku.” Aku mendadak menghentikan napasku saat lelaki itu tersenyum kecut menatap gadis yang tengah terbaring itu. Elena bodoh! “Adikku mengalami kecelakaan beberapa minggu yang lalu, dan dia tewas. Itu berdampak pada kondisi psikologis Trisia. Saat aku lengah, dia akan mencoba melakukan aksi bunuh diri seperti kemarin. Untuk itu aku tidak menyalahkan kalian, dan aku minta maaf.”

Kecelakaan beberapa hari yang lalu? Meninggal? Tiba-tiba firasat buruk menghantuiku.

“Dimana terjadinya kecelakaan itu?” Aku penasaran. Bahkan rasa penasaranku seolah lebih besar dari alam semesta.

“Sunshine Mall.”

Deg. Dua kata tersebut seolah mampu membuatku mati berdiri. Bagaimana tidak? Aku tak yakin ada kecelakaan lainnya di situ selama aku sedang dalam misi ‘kabur’. Dan benarkah aku yang menjadi penyebab utama rusaknya kebahagiaan mereka?

“Kenapa? Kau baik-baik saja?” Tanya lelaki itu membuyarkan lamunanku.

“Aku baik-baik saja.” Jawabku mencoba tenang. “Baiklah, kurasa aku harus pergi. Aku masih ada urusan.” Pamitku yang ditanggapi dengan senyuman oleh lelaki itu.

Lututku terasa lemas begitu aku keluar dari ruangan itu. Aku berjalan tertatih dan bertumpu pada dinding. Aku merasa seseorang telah menggodam kepalaku. Mengapa aku harus menemui gadis itu?
***
Nico POV
Berulang kali aku mencoba menghubunginya. Tetapi ponselnya selalu berada di luar jangkauan. Entah kemana perginya gadis itu. Aku sempat menghubungi Evan untuk menanyakan keberadaan adiknya, tapi ia pun tak tahu dimana adiknya. Aku mengusap kepalaku kesal.

Pertemuan yang cukup panjang itu membuatku lelah, ditambah lagi dengan sekretaris cerewet yang berulang kali menanyakan pertanyaan yang sama padaku, disusul dengan hilangnya Elena. Baiklah, ini memang baru tiga jam sejak terakhir kali aku bertemu Elena. Ini mungkin berlebihan, tapi aku merasa ada sesuatu yang mengganjal hatiku.

Aku memutuskan untuk mencari Elena. Tepat saat aku hendak meraih gagang pintu, pintu itu terbuka dengan kasar sehingga mengenai tubuhku. Sial! Saat aku hendak menegur tersangka yang menyakitiku,  seseorang itu justru melingkarkan tangannya di leherku, memelukku dengan erat.

“Elena…”

“Nick, aku sudah menghancurkan hidupnya.” Ujar Elena di tengah tangis sesegukannya. Aku mengernyit tak mengerti. Kemudian aku membimbingnya menuju sofa dan mendengarkan ceritanya. Siapa sangka kebetulan tak masuk akal ini akan menghampiri kami? Mimpi buruk itu seolah kembali lagi menghantui Elena. Membuat luka lamanya kembali terbuka.

Bersambung...

Senin, 11 Juli 2016

Purple Maple (Delapan)


ERIN menyesap Angel Face dalam gelas kristalnya. Matanya tersenyum memandang orang-orang yang semakin asyik menari bersama kebahagiaan hatinya. Tas kecil yang ada di pangkuannya bergetar samar. Ia meletakkan gelasnya ke atas meja bar demi mengeluarkan ponsel dari tasnya. Senyumnya semakin melebar tatkala menyadari kabar baik telah datang. Lebih cepat dari dugaannya.


Kening Erin mengernyit sekilas saat jemarinya bergerak pada layar ponsel. Dan pergelangan kakinya nyaris patah karena ia melompat begitu saja dari atas kursi bar yang tinggi. Matanya melebar setelah membaca pesan yang diterima ponselnya. Ia melangkahkan kakinya melewati orang-orang yang masih tenggelam dalam euforia.

Erin, maaf. Aku pulang dulu. Semoga malammu menyenangkan.

Dan kedua bola matanya nyaris menggelinding keluar ke tengah lantai dansa. Ia mendapati Jonathan Adam tengah duduk meriung di salah satu sofa. Sementara gadis-gadis berpakaian minim dengan tidak tahu malu menempel erat padanya seperti lintah. His, dasar bajingan! Hidung Erin mengernyit jijik.

Tidak ingin menyiksa kedua matanya lebih lama lagi, Erin bergegas menuju tempat Lory dan yang lainnya berkumpul. Seperti dugaannya, ia langsung disambut dengan sangat manis.

“Apa-apaan ini?” Kedua mata Lory yang berlapis kontak lensa biru terang tampak tidak repot-repot menyembunyikan amarahnya. Tidak peduli pada beberapa pasangan yang tampak tidak bisa menahan gairah mereka. “Kenapa kau datang sendiri? Di mana Kancil itu?”

Erin menghela napas panjang. Ia menyandarkan punggungnya pada dinding koridor yang mengarah pada toilet. Suaranya berbisik perlahan di udara. “Dia sudah pulang.”

“Diaapa?”

“Dia sudah pulang,” ulang Erin sedikit lebih keras. Ia tahu Lory kesal. Tetapi ia juga sama kesalnya. Bagaimanapun, gadis itu memang seperti duplikat jiwanya yang sempurna.

“Bukankah dia tadi datang bersamamu?”

Erin mengangguk membenarkan. “Mungkin dia pulang naik taksi.”

“Kenapa kau membiarkannya?”

“Aku sudah menuntunnya agar menuju kemari. Tapi dia malah kabur pulang,” ucap Erin mengangkat bahu.

Lory mengangkat kedua tangannya lalu menghempaskannya dengan tidak percaya. Sharon dan Jenna saling melempar pandangan karena tergemap. “Seharusnya kau bawa dia ke sini dengan tanganmu sendiri,” saran Lory tanpa ada gunanya.

“Itu tidak semudah mengucapkannya.”

“Sudah, hentikan. Lebih baik kita nikmati dulu acara malam ini,” lerai Jenna sambil mengambil posisi di antara Lory dan Erin yang sepertinya hendak memulai peperangan. “Baru kemudian memikirkan cara lainnya.”
***

“Apa kau gila?!”

“Aku tidak gila. Aku hanya lapar, Lil Princess,” ucap Diego sambil menjauhkan telinganya dari kontaminasi suara Kalila. “Ini satu-satunya restoran yang buka 24 jam. Nasi goreng cumi-cuminya benar-benar terkenal.”

Kalila memandang bangunan yang disebut Diego sebagai restoran itu. Melalui dinding kaca, tampak jelas bahwa tempat itu masih dipadati pengunjung yang kelaparan. Tempat itu sama sekali berbeda dengan kesan restoran yang selama ini terpatri di benak Kalila. Tidak ada table manner, semua orang makan sambil bergurau dengan temannya. Tidak ada pramusaji berdasi kupu-kupu, yang ada hanya pramusaji bercelemek yang sibuk mengantar pesanan ke meja pelanggan.

Kening Kalila mengernyit samar saat ia membayangkan dirinya berada di tengah-tengah keriuhan itu. Sepertinya itu tidak akan menjadi masalah. Tetapi sedetik kemudian ia sudah menggeleng kuat saat imanennya kembali menguasai.

“Aku juga lapar, tapi aku masih waras,” ujar Kalila galak. “Mana mungkin aku masuk ke sana dengan pakaian seperti ini?”

Diego menelusuri keseluruhan penampilan Kalila dengan bantuan cahaya dari restoran dan lampu jalan. Detik berikutnya, seulas senyum jail terbit di bibir lelaki itu. “Kau benar. Gaunmu terlalu pendek. Aku lebih senang jika kau tampil seksi hanya di depanku.”

“Sudah kubilang, jangan mengucapkan itu seolah kita akan melakukan hal tidak senonoh!” Lagi-lagi, telapak tangan Kalila sudah melayang ke bahu Diego. “Kau saja yang masuk sana! Setidaknya pakaianmu lebih normal.”

Diego tergelak mendengar nada perintah meluncur dari bibir Kalila. Rasanya seperti kembali ke masa lalu. Gelak Diego lenyap begitu saja tanpa penurunan nada. Kemudian ia menundukkan wajahnya sedikit dan berucap dengan suara dalam, “Baik, Yang Mulia.”
***

Saat Diego kembali, Kalila sudah mengambil alih kursi kemudi. Tanpa berniat memulai perdebatan yang akan menyaingi gemuruh perut mereka, Diego duduk di samping Kalila dengan dua kotak makanan dan sebotol besar orange squash di pangkuannya.

Orange squash? Sungguh?” komentar Kalila terheran-heran. “Memang tidak ada wine atau wiski begitu? Berapa sih umurmu, Diego?”

Diego menggedikkan bahu. “Aku tidak mau mengambil risiko seorang gadis mabuk dan memaksa untuk menciumku lagi.”

Mulut Kalila ternganga tidak bisa memuntahkan kata-kata. Dengan bantuan penerangan dari luar, Diego bisa melihat rona kemerahan menjalari wajah Kalila.

“Omong-omong kenapa jas mahalku pindah ke situ?” tanya Diego sambil menunjuk jasnya yang terbeber di atas pangkuan Kalila.

“Supaya kau tidak melihat lutut dan pahaku selagi aku menyetir,” jawab Kalila sambil memundurkan mobil meninggalkan area parkir.

“Hei, hei! Pelan-pelan, Lil Princess,” seru Diego panik saat ia merasakan mobilnya berguncang kuat. Sepertinya gadis ini selalu menyediakan semacam shock therapy sebelum membawa mobil lepas landas. “Asal tahu saja, cicilan mobilku belum lunas.”

Kalila tertawa kecil sambil menjalankan mobil dengan tenang. Ia senang mendengar suara panik Diego daripada komentar usilnya. Lelaki itu lebih banyak mengucapkan hal menyebalkan daripada yang dahulu.

“Memang kau akan membawaku ke mana?” tanya Diego saat mobil terus bergerak menuju selatan dan sedikit menanjak di daerah perbukitan, meninggalkan kepadatan gedung di belakang mereka.

Tetapi Kalila memilih bungkam. Lampu mobil yang berpapasan dengan mereka membantunya melihat seulas seringai penuh rahasia di bibir merah stroberi milik gadis itu.

Dengan rona ketakutan palsu di wajahnya, Diego memeluk dirinya sendiri. “Berjanjilah kau tidak akan melakukan hal tidak senonoh padaku, Lil Princess.”
***

“Oh, iya. Terus seperti itu,” desah Diego dengan kedua mata terpejam. “Sedikit ke bawah, ya, di situhei, kenapa berhenti?”

Diego membuka mata dan langsung mendapati Kalila yang mencebik kesal padanya. Saat ini mereka sedang duduk berdua di atas atap mobil yang diparkir di bahu jalan yang tidak diaspal. Rerumputan tumbuh liar di sekitar. Milyaran bintang menghiasi langit malam yang memayungi mereka. Penerangan yang menyelamatkan adalah lampu-lampu jalan yang menjulang seperti leher jerapah.

“Aku membawamu ke tempat seindah ini dan kau menyuruhku menggarukkan punggungmu?!” omel Kalila sambil melepas sepatunya.

 “Aku tidak bisa meraih bagian itu dengan tanganku sendiri,” bela Diego pada ketidakmampuannya.

“Kalau begitu, garuk pakai ini,” saran Kalila sambil menyodorkan sepatu hak tingginya.

Alis Diego berkerut bingung. “Tapi, kan, sepatumu... kotor.”

“Tadi kau bilang, bagian belakang gaunku terkena tumpahan wine? Kalau begitu, sana kotori juga bagian belakang kemeja putihmu itu.”

Diego menggeleng tegas. “Tidak bisa. Lelaki sepertiku harus selalu tampil menawan sepanjang waktu. Bagaimana kalau ada perempuan cantik yang lewat?”

Kalila tersenyum miring terang-terangan mencemooh. “Perempuan yang lewat di tempat seperti ini paling juga Sadako atau Kuntilanak.”

“Benarkah? Seperti yang di belakangmu itu?”

Kalila memekik tertahan dan menubruk Diego, mencari perlindungan. Lelaki itu jatuh telentang di atas atap mobil. Sementara sebagian tubuh Kalila tengkurap di atas dada lelaki itu. Seperti mendapatkan kenyamanannya, Diego malah menarik lengan untuk menjadi bantalnya. Sementara seulas senyum terbit di wajahnya yang menghadap langit malam penuh bintang.

“Sudah kubilang, Lil Princess, jangan melakukan hal tidak senonoh pada lelaki polos sepertiku.”

Sebaris kalimat itu membantu Kalila menyadarkan imanen yang sempat terbius aroma tubuh Diego. Aroma ringan yang menenangkan pikiran Kalila setelah menghadapi malam yang panjang. Tetapi semua itu sudah berakhir begitu ia mengangkat wajah dan memeriksa sekitarnya, dan langsung sadar sudah tertipu.

“Sial!” umpat Kalila sambil kembali pada posisi duduknya. “Kau membuatku kaget.”

Diego terkekeh melihat Kalila yang salah tingkah. Ia ikut kembali duduk. Kali ini botol orange squash dan kotak makanan membatasi mereka berdua. “Tidak apa-apa, Lil Princess. Kau boleh memelukku kapan saja.”

Kalila hanya mendecakkan lidah lalu bergumam tanpa membuka lebar bibirnya. “Dalam mimpimu!”

Diego memilih untuk berhenti bergurau karena perutnya kembali meraung sedih. “Jadi, kau pilih Nasi Goreng Rendang atau Nasi Goreng Cumi-cumi?” tawar Diego sambil membuka tutup kotak dan mendorong hidangan itu ke hadapan Kalila.

Susah payah, Kalila menelan air liurnya agar tidak menetes. Kedua nasi goreng itu menguarkan aroma bumbu yang begitu seksi dan menggoda. Tetapi ia bisa mati kelaparan jika terlalu lama mengambil keputusan.

“Aku yang ini saja,” ujar Kalila sambil mengambil nasi goreng kecokelatan bertahtakan tiga potong daging sapi berlumur bumbu rendang yang tampak meresap hingga celah terkecil. Sementara ia mengangsurkan nasi goreng berwarna hitam yang sepertinya berasal dari tinta cumi-cumi. Sebuah cumi-cumi utuh berbumbu bakar diletakkan di atas nasi yang membukit itu.

Kalila menyuapkan sesendok penuh nasi goreng ke dalam mulutnya. Rasa yang menyentuh indra pengecapnya seketika membuat kedua matanya melebar. Ia mengangkat wajah dan menatap Diego. “Astaga. Benar katamu, ini benar-benar enak.”

Diego terkekeh bangga mendengar Kalila terlalu banyak mengucapkan kata ‘benar’. “Iya, kan? Apa kubilang.  Kau mencicip yang ini?”

Kalila menganggukkan kepala tanpa berpikir. Detik berikutnya, tangan gadis itu yang menggenggam sendok sudah terulur dan mencuri sesuap dari Diego. Mata Kalila kembali melebar dengan ibu jari yang terangkat penuh haru. Seolah ia sangat bersyukur sudah hidup di dunia dan bisa mencecapi rasa selezat ini.

Sekitar tiga menit berselang dan mereka makan tanpa suara, sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga kemudian Diego menyuarakan pertanyaan yang menjejali otaknya. “Kau sering datang kemari?”

Kalila mengangguk. “Ya. Beberapa kali,” jawab Kalila singkat. Ia sengaja menyembunyikan fakta bahwa sering terpikirkan untuk melemparkan diri dari salah satu bukit. Demi menghilangkan perasaan bersalah yang terus menggelayuti punggungnya. “Kudengar, pemandangan senja di sini sangat cantik. Walaupun belum banyak yang mengetahuinya.”

“Mau melihatnya bersamaku kapan-kapan?” tawar Diego begitu ia menelan sesuap terakhir nasi gorengnya.

Kalila tertawa kecil dan mengangkat bahu sebelum menjawab, “Boleh saja.”

Diego tersenyum puas lalu menyeka sudut bibirnya menggunakan tisu. Ia meneguk orange squash langsung dari botolnya. “Aku juga akan mengajakmu pergi makan malam yang lebih baik dari ini. Maksudku, kita benar-benar duduk di dalam restoran bukan di atas atap mobilku,” katanya lantas terkekeh.

Kalila ikut terkekeh lalu melipat lututnya di depan dada. Kepalanya menengadah ke arah langit. “Seperti ini saja sudah cukup untukku.”

“Benarkah?” tanya Diego sangsi sambil memosisikan diri duduk di samping Kalila.

“Ya.” Kalila mengangguk. Telunjuknya terangkat ke arah langit. “Restoran bintang lima pun tidak bisa mengalahkan atap bertabur bintang seperti ini.”

“Kau benar.” Diego menganggutkan kepalanya. “Tapi sebaiknya aku mengantarmu pulang sekarang. Sudah saatnya Tuan Putri kembali ke istana.”

Kalila mendesah kecewa saat melihat jam tangannya. Lelaki itu benar. Entah sejak kapan waktu bergerak secepat ini. Sudah hampir pukul setengah tiga dini hari.

Diego melompat turun dari atas mobil, diikuti Kalila yang duduk menggantung kaki hingga tumitnya menempel pada kaca jendela mobil. Ia mengutip kemasan santapan mereka tadi, botol orange squash yang isinya tinggal setengah, jas milik Diego, dan sepatu hak tingginya. Ia memberikan barang-barang itu pada Diego yang langsung memindahkannya ke jok belakang mobil. Lalu Diego meraih pinggang Kalila dan membantu gadis itu turun.

Setelah membukakan pintu untuk Kalila, Diego memutar dan duduk di balik kemudi. Ia tidak akan mempertaruhkan nyawa demi membiarkan gadis itu menyetir di tempat seperti ini. Bisa-bisa mobilnya melompat dan berakhir di jurang yang menganga di bawah sana.
***

Tanpa menyalakan lampu kamarnya, Kalila membuka pintu lemari yang sepertinya lupa dikunci karena Erin sudah datang menjemput tadi. Ia menarik sesuatu dari dalam lemarinya seolah sudah sangat menghafal di mana benda itu tergantung.

Kalila menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidurnya. Kedua matanya terpejam, lalu ia menghela napas panjang, berusaha untuk rileks. Tetapi walaupun ia memejamkan mata, senyum simpul masih bergelayut di wajahnya. Setiap kali wajah Diego muncul dalam benaknya.

Banyak yang berubah dari lelaki itu. Selain penampilan fisiknya yang dibentuk pubertas, perangai lelaki itu semakin menyenangkan. Tidak lagi sekaku dahulu, walaupun sikap usilnya masih saja sulit dihadapi. Entah apa yang sudah dialami lelaki itu selama mereka terpisah.

Tetapi itu sama sekali bukan masalah bagi Kalila. Bisa bertemu kembali dengan Diego dan mendapati lelaki itu ternyata tidak menyimpan dendam padanya, membuat Kalila sangat bahagia. Belum lagi dengan ajakan makan malam yang akan segera terwujud dalam waktu dekat.

Kalila seolah merasakan angin hangat kembali berembus, mengalahkan angin musim gugur yang selama ini membekukan hatinya. Hingga menyisakan pohon maple yang meranggas pilu  untuk tempatnya bernaung. Tetapi kini senyum mengembang di wajah Kalila. Sementara kantuk semakin merayap mengambil alih tubuhnya yang lelah.

Beberapa detik kemudian, Kalila sudah terlelap dengan syal rajutan berwarna ungu pupus melingkar di lehernya.
***

Akhirnya, gadis itu tidur juga.

Diam-diam ia mengembuskan napas lega di bawah kolong tempat tidur yang sempit. Sekali lagi, ia menggoyahkan bagian tepi tempat tidur hanya untuk memastikan gadis itu benar-benar terlelap. Setelah yakin bahwa keadaan sudah aman, ia merayap keluar dan mengendap menuju pintu.

Ini benar-benar di luar perkiraannya. Padahal biasanya gadis itu tidak pernah pulang lebih dari pukul sepuluh malam. Tadi ia sempat mengira gadis itu sedang pulang ke rumah orangtuanya di luar kota atau semacamnya, sehingga ia bisa leluasa menjelajah isi kamar gadis itu untuk lebih mengenalnya.

Sekarang tidak ada jalan lain selain mundur. Atau ia akan kehilangan kepercayaan dari gadis itu. Dan yang terburuk ia akan dipenjara karena sudah masuk tanpa izin. Ia bergidik membayangkan hal seburuk itu terjadi padanya. Lain kali ia harus lebih berhati-hati.

Sebelum keluar, ia berhenti sejenak di samping tempat tidur. Dibantu cahaya lampu koridor yang menyusup melalui ventilasi di atas pintu, ia memandang gadis itu. Dengan gaun putih membungkus tubuhnya, gadis itu terlihat seperti bidadari. Begitu tenang dan jelita.

Secara impulsif, ia menarik selimut untuk gadis itu. Kemudian dengan tanpa suara, ia memutar kunci lalu keluar mengendap-endap seolah kakinya hanya seberat kapas.


Kamis, 07 Juli 2016

Purple Maple (Tujuh)


SEMUA orang mengenakan pakaian serba putih. Kalila berkali-kali memicingkan matanya. Lampu kelap-kelip yang berputar dari langit-langit memantul sempurna di atas warna putih di sekelilingnya. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali ia datang ke tempat seperti ini.

Acara ini bertajuk ‘Angels of Heaven’ dengan dress code baju putih. Bahkan Kalila bisa melihat beberapa orang tampak sangat menghayati acara. Setidaknya, mata Kalila sudah menangkap tiga orang gadis yang mengenakan sepasang sayap burung buatan berwarna putih di punggung mereka.


Musik menghentak di penjuru ruangan dengan penerangan minim itu. Semua orang bergerak di tengah lantai dansa. Tenggelam dalam alunan nada-nada yang menggoda. Sementara Kalila masih bertahan di tepi ruangan bersama Erin yang memutuskan tidak ikut turun jika tidak bersama Kalila.

“Kau benar-benar cantik, Kal,” puji Erin sekali lagi di dekat telinga Kalila. Walau merasa iri, tetapi Erin tidak bisa menyangkal kenyataan itu. Kalila benar-benar tampak sempurna dalam balutan gaun berpotongan sabrina yang menggantung hingga bagian atas lututnya. Ditambah bando yang melingkari kepalanya berhiaskan tiga helai bulu burung merpati. “Kau seperti bidadari turun dari kahyangan. Sedangkan aku tampak seperti kuntilanak bangkit dari kubur.”

Erin masih bertanya-tanya kenapa kecantikkan seperti itu harus disembunyikan di balik bayang-bayang topi. Seolah itu adalah aib memalukan. Entah mengapa ia tiba-tiba ia teringat pada Valeria. Tapi sepertinya bukan pilihan yang bijak untuk membahas gadis itu sekarang. Lagi pula Kalila juga tidak memancing tema untuk membahas Valeria.

Kalila mengernyit mendengar gurauan Erin yang seolah merasa tidak percaya diri. Padahal kata-katanya itu sama sekali tidak benar. Gadis itu cantik dengan gaun berpotongan halter yang menampilkan bahu dan lehernya. “Kau juga cantik, kok.”

Erin tersenyum lalu melirik jam tangannya yang didominasi warna putih. Detik berikutnya, tanpa peringatan ia sudah menarik Kalila bergabung di lantai dansa.

“Aku rasa aku tidak bisa,” ucap Kalila nyaris berteriak di tengah musik. Tetapi Erin langsung menarik tangannya ketika ia hendak pergi.

Erin bergerak luwes selaras dengan irama sambil mendekat pada Kalila. “Gerakkan saja tangan dan kakimu mengikuti musik.”

Sejujurnya, ini bukan pertama kalinya untuk Kalila. Ia sudah sering datang ke pesta seperti ini. Tentu saja dengan bantuan seorang di kelompoknya sehingga mereka bisa masuk walaupun belum cukup umur. Tetapi itu sudah berlalu. Ia sudah berjanji menghindari acara semacam ini. Ah, andai saja tadi ia tidak langsung menyetujui ajakan Erin tanpa interogasi yang detail.

Semua ini gara-gara Diego!

Tetapi sudah tidak ada celah untuk mundur. Lelaki itu juga yang menyarankannya untuk menikmati waktu dengan teman perempuannya. Dan itu adalah Erin. Mungkin ia juga harus membuka hati untuk dirinya sendiri. Kapan terakhir kali ia melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri tanpa terikat rasa bersalah? Mungkin ini adalah saat yang tepat. Lagi pula acara ini hanya dipenuhi para gadis, jadi sepertinya tidak akan ada masalah.

Kalila memejamkan mata sejenak sebelum kemudian ia mendapati dirinya tengah mengangkat lengan seperti yang lainnya. Ia memundurkan kepala dan bergerak seirama alunan musik yang cepat dan merayu.
***

Erin terpukau sejenak menatap Kalila. Ia tidak menyangka gadis itu bisa berdansa selincah itu. Kalila benar-benar tahu cara bergerak. Gadis itu mengerti cara menebarkan pesona. Dan Erin menganggumi itu.

Diam-diam Erin bersyukur Elliot tidak melihat semua ini. Jika tidak, mungkin lelaki itu juga akan terpesona dan benar-benar berpaling darinya. Ia menelan salivanya yang terasa pahit saat membayangkan hal itu.

“Senang rasanya melihatmu akhirnya bisa rileks,” kata Erin di dekat telinga Kalila.

Kalila ikut memajukan kepalanya dan membalas, “Terima kasih sudah mengajakku.”

“Sebentar lagi pintu akan dibuka untuk para lelaki,” lanjut Erin. Wajah gadis itu dihiasi humor ringan. “Lebih baik kita tetap bersembunyi seperti ini. Atau kabur ke toilet jika ada yang menganggu.”

“Jadi, ini bukan acara khusus perempu—“

Kata-kata Kalila terpotong saat seseorang membentur punggungnya. Hingga ia terdorong maju ke arah Erin. Erin sempat menghardik sekilas pada pelaku di belakang Kalila. Tetapi orang itu langsung menghambur dalam kerumunan.

“Biarkan saja,” cegah Kalila saat melihat Erin seperti hendak melompat mencari pelakunya. “Aku tidak apa-apa. Lebih baik kita bersenang-senang.”

“Tapi gaunmu jadi kotor,” ucap Erin sambil berdecak kesal dari balik punggung Kalila. “Tunggu di sini, ya. Aku mau ke loker penitipan.”

“Hei, Erin!” seru Kalila. Tetapi seolah tidak mendengar atau memang sengaja tidak peduli, Erin terus berjalan menjauh.

Ck. Kalila merasa kesal karena Erin meninggalkannya begitu saja. Seperti inikah yang disebut ‘teman’? Sementara sekeliling Kalila semakin disesaki dengan orang-orang yang menari penuh kebebasan. Mereka semua mengimpit dan membuatnya terempas tanpa pertahanan. Hingga tiba-tiba saja ia merasa tubuhnya tertarik ke belakang.

Sebelum menyadari apa yang terjadi, Kalila sudah merasakan lengan seseorang melingkar di pinggangnya. Aroma alkohol samar-samar tercium saat orang itu mengendus lekukan antara leher dan bahu Kalila.

“Kau harus membayar kerugianku, Elena,” bisik lelaki itu yang langsung mengundang ekspresi jijik di wajah Kalila.

Walaupun kaget, tetapi Kalila bergerak cepat membebaskan diri. Ia berbalik dan bertatapan langsung dengan seorang lelaki yang menatapnya bingung sekaligus penuh minat.
***

Jonathan Adam menyesap wiskinya lalu mengernyit samar merasakan minuman itu seperti menyengat rongga mulutnya. Lelaki itu duduk di bar kecil yang ada di luar ruangan tempat berlangsungnya acara. Ia dan beberapa lelaki lainnya harus bersabar menunggu untuk dipersilakan masuk dan bertemu sekumpulan bidadari di dalam sana.

Lelaki itu benar-benar membutuhkan pesta ini. Bagaimanapun ia harus segera melupakan ekspresi jijik gadis yang menolak sentuhannya. Gadis yang sudah menghacurkan perabotannya hanya karena memergokinya sedang bersama gadis lain. Seharusnya gadis itu maklum atau malah bangga memiliki kekasih seperti dirinya. Sempurna dan dipuja para perempuan.

Mengapa pula gadis itu harus bersikap berlebihan? Bahkan menatap lelaki setampan dirinya seolah ia adalah seekor siput yang menjijikan. Bahkan sekarang gadis itu menghilang ditelan  bumi. Gadis itu harus membayar semua kerugian yang dialaminya. Gadis bernama Elena itu. Mengingat nama itu membuat ia sedikit membanting gelasnya ke atas meja bar.

Saat itulah tampak tiga orang gadis berpakaian serba putih menghampirinya. Salah seorang dari mereka langsung menarik perhatiannya. Gadis dengan rambut dicat pirang.

“Jonathan Adam.” Gadis itu menyebut namanya. Padahal ia sama sekali tidak merasa kenal dengan mereka. Tetapi itu wajar saja terjadi untuk lelaki sepertinya.

Hello, Angels,” sapa Jonathan dengan senyum penuh rayuan. “Kenapa kalian tidak berada di dalam bersama bidadari lainnya?”

“Apa kau bersama  pasanganmu malam ini?”

“Tentu saja. Dia sudah ada di dalam. Kalian bisa menemaniku di acara lainnya.”

“Sayang sekali kalau begitu,” ucap Lory dengan ekspresi kecewa. “Padahal ada seorang gadis yang ingin sekali menemanimu.”

Kening Jonathan berkerut sangsi. “Siapa?”

“Untuk itu... dia memintamu untuk menemuinya di dalam.”

Jonathan tersenyum miring. “Kenapa tidak dia saja yang mendatangiku?”

“Entahlah,” ujar Jenna yang berdiri di samping Lory. Tubuhnya yang kurus tampak pas dalam gaun bermodel kemben dengan rok yang mekar seperti mahkota bunga yang diletakkan terbalik. “Mungkin karena dia tipikal gadis yang suka jual mahal.”

Sorry, Angels.” Jonathan menggelengkan kepala. “Tapi aku tidak tertarik.”

“Kenapa? Kau merasa tidak mampu menaklukan gadis ini?” Kali ini Lory kembali bersuara. Dagunya terangkat dengan angkuh. Membuat harga diri Jonathan sedikit terusik.

“Yang benar saja!” bantah Jonathan cepat lantas terkekeh sinis. “Memang siapa gadis ini?”

“Kalau tidak salah namanya... Elena,” tambah Sharon. Ia beruntung karena mengetahui informasi penting itu dari seorang temannya. “Rambutnya pendek di atas bahu.”

Mendengar nama itu seketika membakar semangat Jonathan. Tunggu—bukankah rambut Elena panjang? Atau gadis itu sengaja memotong rambutnya sebagai bentuk penyesalan?

“Di mana dia?” tanya Jonathan lantas meneguk habis wiskinya.

“Mudah saja mengenalinya di sana. Gadis itu mengenakan gaun bernoda wine di punggungnya.” Lory menyebutkan ciri-ciri yang dimaksud.

Begitu pintu dibuka untuk para lelaki, Jonathan berjalan dengan langkah membara ke dalam ruangan acara. Benar saja. Dengan mudah ia menemukan gadis yang dimaksud.

Gadis itu berjalan sedikit sempoyongan berusaha menembus kerumunan. Tumpahan wine meninggalkan motif di bagian punggung gaunnya. Tanpa menunggu lama, Jonathan langsung bergerak. Ia menarik gadis itu dalam pelukannya diikuti bisikan sensual.

Tetapi apa yang didapatnya malah sebuah penolakkan kasar. Gadis itu menepis tangannya lalu bergerak menghadap padanya. Tanpa rasa takut, gadis itu menatapnya tajam dengan sepasang mata cokelat. Saat itulah Jonathan baru menyadari bahwa itu bukan gadis yang dicarinya.

“Hei, kau bukan Elena! Dasar penipu!” seru Jonathan dengan kening mengernyit. Tetapi ia tetap mendekat pada gadis yang baru saja terlepas dari dekapannya. Ia melangkah tegap seolah bangga dengan tubuh atletis di balik kaus putih polosnya. “Tapi tidak masalah. Kau juga cantik.”

“Menjauh dariku!”

Bukannya gentar, Jonathan malah bersikap ramah dengan mengulurkan tangannya. Seulas senyum hadir di wajahnya. Jenis senyum yang sanggup membuat para gadis meleleh bahagia.

“Namaku Jonathan Adam. Kau bisa memanggilku ‘Sweetheart’.”

Tetapi tidak dengan gadis di hadapannya. Gadis itu malah membeku di tempat. Sementara tangannya menampik tangan Jonathan yang terulur padanya. “Dalam mimpimu!” teriak gadis itu sambil langsung berbalik hendak menjauh.

Tanpa membuang waktu atas harga dirinya yang terinjak, Jonathan bergerak cepat menarik rambut gadis itu. Detik berikutnya, tengkuk gadis itu sudah berada dalam cengkeramannya.

“Bersikaplah yang manis, Sweetheart,” bisik Jonathan dengan geram. Terlihat jelas rahang lelaki itu yang terkatup karena tersinggung. “Aku mulai muak dengan kegilaan kalian akhir-akhir ini. Bersikaplah seperti perempuan. Memohonlah untuk cintaku.”

Baru saja gadis itu berniat melawan, saat tiba-tiba seseorang membentak di dekat telinga Jonathan. Bahkan orang itu menarik paksa cengkeramannya.

“Lepaskan dia!”
***

Kalila menghela napas lega saat tengkuknya terbebas dari cengkeraman lelaki itu. Ia menoleh pada Jonathan yang terlihat kesal. Seseorang sudah menginterupsi sikap kasar lelaki itu sekaligus menyelamatkan Kalila. Tidak seperti keramaian di sekitarnya yang bersikap acuh tidak acuh. Padahal semua itu terjadi di depan mata mereka. Entah tidak ingin ikut campur atau memang terlalu menikmati acara.

“Hei, hei. Tidak perlu cemburu,” ucap Jonathan lemah lembut seolah sedang menenangkan singa yang mengamuk.

“Kau menyakitinya, keparat!”

“Tidak pantas seorang gadis berkata seperti itu.” Jonathan masih melanjutkan sandiwara yang membuat telinga Kalila muak. “Kau mau menunggu antrean, Sweetheart? Aku tidak bisa mencium tiga orang gadis sekaligus malam ini. Hanya satu orang yang akan mendapat kecupanku saat Angel’s Kiss tengah malam nanti.”

Tanpa peduli pada omong kosong yang terus meluncur dari bibir lelaki itu, Kalila lantas bergerak menyela di antara seteru itu. “Ayo kita pergi, Erin!” ujar Kalila sambil menarik tangan penyelamatnya.

Sayangnya, Jonathan bergerak cepat menangkap tangan Kalila. Ia menarik gadis itu hingga berhadapan dengannya. “Urusan kita belum selesai, Sweetheart.”

Erin bergerak maju dan menyentak paksa cekalan tangan Jonathan. Dengan pandangan garang yang masih terkunci pada lelaki di hadapannya, ia mendesis bernada perintah, “Pergi, Kal!”

Tetapi Kalila bergeming. Ia tidak ingin meninggalkan Erin menghadapi lelaki seperti ini sendirian.

“Pergi ke toilet, nanti aku akan menyusul,” bisik Erin begitu menyadari sikap keras kepala Kalila. Ia mendukung kata-katanya dengan mendorong punggung Kalila menjauh. Cepat-cepat ia mengadang Jonathan yang hendak maju mengejar Kalila.

“Kenapa kau menyakitinya?” tanya Erin tajam.

“Bukan urusanmu! Minggir!”

“Kau seharusnya merayunya, bajingan!” balas Erin sengit. “Apa kau sudah kehilangan kemampuanmu memikat perempuan?”

Mata Jonathan melebar terluka. Harga dirinya benar-benar tercoreng malam ini. Berani-beraninya mereka—para jalang ini—meremehkan dirinya. “Tutup mulutmu, Jalang!” 

“Lihat? Kau bahkan tidak bisa memperlakukanku dengan baik.”

Seperti dihujani sebaskom es batu, Jonathan seolah tersadar. Benar. Bukan seperti ini seharusnya. Para gadis selalu berlutut padanya karena sikap manisnya. Kacau! Semua kacau! Ini pasti gara-gara Elena si perempuan sial.

“Sekarang dekati dia,” ujar Erin sambil melipat tangan di depan dada. “Dan bersikaplah seperti seorang gentleman.”

Jonathan tersenyum miring. Alisnya terangkat dengan antusias. “Aku memang akan melakukannya.”

Erin tersenyum memandang Jonathan yang berjalan mengikuti arah kepergian Kalila. Selesai sudah tugasnya malam ini. Kaki Erin melangkah pongah ke arah bar. Ia duduk menyilangkan kaki di kursi tinggi berlapis kulit imitasi berwarna hitam. Sepertinya perayaan kecil dirasa perlu bagi pencapaiannya.

Angel Face,” ucapnya pada bartender sambil mengacungkan jari telunjuknya.

Seharusnya setelah malam ini, Kalila merasa jera karena berusaha menjauhkan Elliot darinya. Jika tidak berakhir dalam jeratan Jonathan Adam, maka ia akan berakhir di tangan Lory dan teman-temannya yang sudah menunggu di toilet. Yang mana saja tidak menjadi masalah bagi Erin.

Erin mengangguk ringan saat bartender menghadirkan minuman ke hadapannya. Ia mengulas senyum tipis sebelum menyesap campuran gin, apricot, dan calvados dalam gelasnya. Gadis itu menghela napas sambil membayangkan Elliot ada di sampingnya.
***

Kalila berjalan cepat menyeruak di antara kerumunan. Saat menengok ke belakang, ia melihat Erin masih berdebat dengan lelaki itu. Ia tidak bisa melihat wajah Erin karena gadis itu memunggunginya. Tetapi ia bisa melihat jelas ekspresi lelaki itu mengeras di bawah cahaya temaram. Entah apa yang sudah dikatakan Erin.

Pandangan Kalila kembali ke depan. Ia harus memerhatikan langkahnya. Sebaiknya ia menunggu Erin di toilet seperti yang diminta gadis itu. Lagipula lelaki yang tadi tidak akan mengejar mereka ke dalam toilet wanita.

Sekali lagi, Kalila menoleh ke belakang begitu ia berhasil keluar dari kerumunan. Tetapi apa yang dilihatnya bukanlah Erin melainkan lelaki itu mengikutinya. Kalila berjalan lebih cepat melewati deretan sofa hitam yang sudah dipenuhi senda gurau. Beberapa pasangan bahkan seperti tidak bisa menahan gairah dan mulai berciuman.

Sepatu hak tinggi yang dikenakan Kalila menganggu langkahnya. Pergelangan kakinya terasa nyeri setelah kakinya salah melangkah. Ia bergerak terpincang-pincang sambil berusaha menemukan arah yang benar. Ah, di saat seperti ini ia benar-benar merindukan chukka boots-nya.

Hingga akhirnya, Kalila menabrak seseorang. Ia mengangkat kepala dan bernapas lega di tengah aroma alkohol yang menguar di udara. Wajah itu begitu menenangkan di tengah kegelapan yang disela lampu warna-warni.

Sementara Jonathan seperti mendapat kesempatan begitu melihat Kalila berhenti berjalan. Tanpa menunggu, ia langsung menarik lengan gadis itu ke arahnya. Kali ini, ia tidak akan membiarkan gadis itu bersikap jual mahal. Padahal gadis itu sendiri yang meminta untuk bertemu dengannya. Bahkan menggunakan nama Elena untuk memancingnya.

Lagi-lagi gangguan datang. Jonathan berdecak kesal saat seseorang menarik paksa gadis itu hingga menjauh dari hadapannya. Bahkan orang itu bersikap sok pahlawan dengan memosisikan gadis itu di belakang punggungnya.

“Hei, cari pelacurmu sendiri, Jagoan!” umpat Jonathan sambil maju menantang. “Dia milikku!”

Dalam gerakan cepat, orang itu malah menangkap lengan Jonathan dan memuntirnya ke belakang.

Terkesiap dengan perlawanan yang tidak diduganya, Jonathan mencoba mencari cara lain. “Aku tidak suka memakai kekerasan seperti ini, Kawan. Tapi gadis itu yang memintaku menemuinya tapi dia malah bersikap sok jual mahal.”

“Itu tidak benar!” sanggah Kalila. Apa lelaki ini benar-benar mabuk hingga bisa mengarang cerita seperti itu?

“Jangan menipuku, Jalang!” umpat Jonathan lagi. Kali ini ia berusaha meronta mencoba meraih Kalila. Tetapi yang didapatnya untuk itu malah lebih buruk. Cengkeraman di tangannya malah semakin kuat hingga membuatnya mengaduh.

“Dengar, dia bukan pelacur dan bukan perempuan jalang,” bisik orang itu tepat di telinga Jonathan. Nadanya sarat akan ancaman yang tidak main-main. “Begitu kulepaskan tanganmu, enyahlah dari hadapanku.”

Orang itu melepaskan Jonathan seperti janjinya. Dan dengan bijaksana Jonathan memilih menjauh sebelum ada orang lain yang akan mempermalukannya malam ini. Ia berjalan dengan umpatan yang masih melompat dari bibirnya.

Kalila menghela napas lega. Ia sama sekali tidak menyangka akan mengalami semua ini. Mungkin benar tempat seperti ini sudah tidak cocok untuknya. Kali ini ia berjanji tidak akan pernah datang ke acara serupa. Siapa pun yang mengundangnya.

Tiba-tiba seseorang menyampirkan jas berwarna putih di bahu Kalila, membuyarkan lamunannya. Potongan jas itu tampak maskulin. Jauh berbeda dengan jas putih para dokter. Dan jas itu juga masih mengandung kehangatan tubuh pemiliknya.

“Kau baik-baik saja, Lil Princess?” tanya orang itu khawatir.

Kalila menggeleng. “Terima kasih.”
***

Cahaya berpijar dari lampu-lampu gedung yang menjulang tinggi. Seolah ingin menyaingi gemerlap bintang di langit. Volume kendaraan yang memenuhi jalan belum juga surut padahal sudah hampir tengah malam. Tampaknya semua orang benar-benar ingin menghabiskan malam ini seolah tidak ada hari esok.

“Apa tidak apa-apa kita pergi tanpa berpamitan pada temanmu?” tanya Diego tanpa mengalihkan pandangan dari jalan di depannya.

“Tidak apa-apa,” jawab Kalila lantas memasukkan ponselnya ke dalam tas pestanya. “Aku sudah mengirim SMS padanya.”

Bibir Diego menarik seringai yang tidak bisa disembunyikannya. “Apa itu berarti kita akan menghabiskan malam ini berdua saja?” tanyanya dengan nada dibuat sensual.

Mata Kalila memelotot lebar. Ia melayangkan pukulan ke bahu Diego. “Jangan mengucapkan sesuatu seolah kita akan melakukan hal tidak senonoh!”

Alih-alih mengaduh atau memohon ampun, lelaki itu malah tergelak. “Hei, masa seperti itu sikapmu pada pahlawan penolongmu?”

Bibir Kalila mencebik mendengar pertanyaan retorik itu. Ia menyilangkan tangan di depan dada dan melempar pandangan ke luar jendela mobil. Sementara suara tawa Diego berangsur mereda dan lenyap dari udara.

“Omong-omong, kenapa tadi kau lari?” tanya Diego berusaha mengganti topik pembicaraan sebelum gondok Kalila berubah sebesar semangka.

“Apa maksudmu?”

“Kalila yang kukenal pasti akan menghadapi orang seperti itu.” Diego melirik sekilas pada Kalila yang tersenyum tipis. “Bukan lari menghindar seperti tadi.”

Kalila tertawa kecil seperti menertawakan diri sendiri. “Jika meladeni orang sinting seperti itu, bisa- bisa aku ikut sinting. Jadi, lebih baik aku menghindari konflik berkepanjangan.”

Mata Diego melebar takjub. Tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Dan Kalila merasa tidak nyaman ditatap seperti itu. Seolah ia baru saja mengakui kebenaran bahwa ia adalah alien dari planet lain.

“Kau sendiri kenapa tiba-tiba muncul di sana? Apa kau... sengaja mengikutiku?” dakwa Kalila sambil memicingkan mata penuh kecurigaan.

“Yang benar saja!” elak Diego lantas terbahak. “Aku pergi ke acara itu bersama teman-teman kuliahku.”

Alis Kalila terangkat sangsi. “Kalau kau memang sudah ada janji, kenapa tadi siang kau mengajakku makan malam?”

“Kau tahu, aku rela membatalkan janji yang lain demi kau,” ujar Diego lantas tersenyum. “Walaupun sialnya, lagi-lagi aku ditabrak oleh gadis yang sama.”

“Salahmu sendiri kenapa selalu muncul di saat seperti itu.”

“Padahal aku lebih berharap mendapat Angel’s Kiss darimu,” gurau Diego dengan senyum usil.

“Dalam mimpimu!”

“Aku baru bisa bermimpi saat aku sedang tidur.” Diego masih melanjutkan candanya sambil menginjak pedal rem saat lampu lalu lintas berubah merah. “Kau mau menemaniku?”

“Ayolah!” Kalila mendorong ringan bahu Diego penuh kekesalan. “Harusnya kau membantuku menikmati malam yang sudah buruk ini.”

“Memang malam seperti apa yang ingin kau nikmati bersamaku?” tanya Diego dengan seringai yang merahasiakan ribuan makna.