Jumat, 07 Agustus 2015

Red Lie - Chapter 14



“Aku mencintaimu…”              

Kalimat singkat yang membuat Trisia mempertimbangkan kepergiannya. Itu juga yang ia rasakan pada Leo. Cinta. Bahkan tanpa ia sadari, Leo telah merajai hatinya, membuat Tomi akhirnya tersingkir dari hatinya.

Setelah perjuangan yang cukup panjang, beriringan dengan ketakutan beserta kegelisahan yang terus melawan teguhnya pendirian. Segalanya menjadi teramat berarti setelah mempertimbangkan kenyataan yang terjadi, yang mampu membuatnya terpukul. Tanpa ragu lagi ia memutuskan untuk mengikuti Leo ke Belanda, meski ia harus meninggalkan surat pengunduran diri di meja bosnya.

Trisia telah mengencangkan sabuk pengaman dan untuk pertama kalinya ia menginjakan kakinya di dalam pesawat. Sebelumnya, ketika terdengar suara berdengung di langit, Trisia akan menengadahkan kepala, memicingkan matanya untuk melawan cahaya matahari. Lalu sebuah bongkahan besi yang terlihat sangat kecil akan melintasi kepalanya. Senyum samar menghiasi wajahnya ketika mengingat hal itu, membuat lelaki di sampingnya terus memerhatikan perubahan raut wajah gadis di sampingnya.

“Kau takut, sayang?” Leo menggenggam tangan Trisia, memandangnya dengan penuh perhatian. Tak bisa dipungkiri oleh Trisia, pesona Leo memang akan selalu menaklukkannya.

Trisia menggeleng, “Tidak, aku hanya mengingat sesuatu.” Trisia memandang lekat-lekat mata tajam Leo, kemudian pandangannya turun menuju bibirnya. Bibir yang manis…

Buru-buru Trisia mengembalikan arah pandangannya saat Leo berkata, “Apa kau teringat dengan apa yang dikatakan kakakku?”

Tidak. Trisia sama sekali tak memikirkan hal itu, namun Leo membuatnya kembali teringat sehingga mau tidak mau Trisia memang harus memikirkannya kembali. Memikirkan tentang kemungkinan itu. Trisia menggigit bagian dalam bibirnya, sekelebat adegan yang cukup buruk mengganggu pikirannya…

“Cuti? Berapa lama?” Tanya Harry sambil membuka berkas-berkas yang baru saja diantar oleh Trisia.

“Sekitar dua minggu, pak.”

“Untuk apa?”

“Saya ada keperluan, pak.”

“Oh… sudah jadi orang sibuk ternyata.” Sindir Harry. Pintu Harry kemudian terbuka tanpa diketuk terlebih dahulu membuat perhatian Harry dan Trisia tertuju pada orang yang muncul setelah pintu terbuka.

“Kupikir kau sedang tidak ada tamu.” Leo basa-basi kemudian mendekat dan duduk di samping Trisia yang tengah berdiri. “Api situasinya sedang tegang?” Tanya Leo mencoba mencairkan suasana, memandang Harry dan Trisia bergantian.

“Tidak, saya hanya…”

“Siapa suruh kau bicara?” Sergah Harry ketus. “Dia meminta cuti. Padahal pegawai yang masih bekerja kurang dari enam bulan dilarang mengajukan cuti,” jelasnya pada adiknya.

 “Dia ada urusan. Izinkan dia cuti.”

“Mengapa kau memintaku mengizinkannya? Kau lupa dia bekerja untukku?” Gerutu Harry. Hening. Tiba-tiba Harry menyadari sesuatu, “apa dia akan pergi denganmu?”

“Tidak.”

“Ya.” Jawab Trisia dan Leo bersamaan. Mendengar Jawaban Leo, Trisia memandang lelaki yang tampak tenang tanpa mencoba menyembunyikan kebohongan dari kakaknya yang mengerikan itu.

“Kau dan Trisia?” Harry meyakinkan. Kemudian Leo membalas dengan sebuah anggukan mantap.

Brak!
Harry memukul mejanya dengan keras. “Kau pikir apa yang kau lakukan?” Wajahnya merah karena amarah. Ia memandang Leo dan Trisia bergantian.

“Kau,” Harry menunjuk wajah Trisia, seolah telunjuknya adalah sebilah pisau yang siap mencabik-cabik wajah gadis itu. “Kau sama saja dengan ibumu. Penggoda! Dasar anak haram!”

“Kak, jaga bicaramu!” Leo menyela sementara Trisia hanya mampu membelalakkan matanya.

“A—apa maksud anda dengan…” Trisia menjeda kalimatnya, “…anak haram?”

“Kau adalah…”

“Kak, cukup!” Leo menyela, namun tampaknya Harry tak berniat menggubrisnya.

“Kau adalah anak ayahku dan selingkuhannya.” Harry menegaskan setiap kata dengan jelas, membuat Trisia terperangah mendengarnya.

“Tidak.” Gumam Trisia parau.

“Itu kenyataannya. Kau adalah anak haram.

“Tapi ini belum terbukti. Bukankah sudah kukatakan jaga mulutmu!” Leo mencoba menghibur Trisia dengan menyalahkan kakaknya.

“Dan sikapmu jelas kaudapatkan dari ibumu yang pelacur itu, nona.”

“Trisia. Apa yang kau pikirkan?” Suara itu seolah membawa jiwa Trisia kembali.

“Ah, tidak. Aku hanya berpikir tentang kita.”

“Semuanya pasti baik-baik saja.” Leo menggenggam tangan Trisia yang terasa begitu dingin.
***

“Selamat datang di Bandara Schipol, Amsterdam.” Suara pilot dari ruang kendali terdengar nyaring, disambut oleh seulas senyum di bibir Trisia. Setelah perjalanan yang menempuh sekitar empat belas jam tanpa henti, akhirnya  Trisia akan melihat indahnya Belanda, tanah kelahiran ibunya yang selama ini hanya mampu ia saksikan lewat siaran di televisi.

Trisia menoleh pada lelaki di sampingnya yang tengah tertidur pulas. Wajahnya tampak polos seperti anak kecil yang membuat Trisia ingin melindunginya. Gadis itu tersenyum kemudian mengecup pipi Leo hingga lelaki itu berjingkat, memandang Trisia dengan matanya yang masih memerah.

“Kita sudah sampai.” Ujar Trisia bersemangat.

“Aku tertidur cukup lama ya?”

“Kurasa begitu.”

Trisia menengadahkan kepalanya, menyaksikan bangunan tinggi bertuliskan “Schipol” yang amat besar yang dikelilingi oleh kaca-kaca yang memantulkan pemandangan di belakang Trisia. Bandara Schipol memiliki penampakan yang cukup indah. Berbeda dengan bandara yang pernah Trisia lihat sebelumnya.

Leo memerhatikan wajah Trisia, mata Trisia terpejam dan mengambil napas dalam-dalam untuk memenuhi paru-parunya. Leo meraih ponselnya, kemudian memotret wajah cantik Trisia tanpa sepengetahuannya.

“Buka matamu.” kata Leo dengan nada lembut.

Trisia membuka mata, mengarahkan pandangan matanya pada lelaki tampan yang sekali lagi mengambil fotonya. “Apa yang kau lakukan?”

“Aku hanya ingin mengabadikan dirimu, sebelum…” Leo menghentikan kalimatnya, berusaha menelan ludahnya yang terasa pahit.

“Sebelum kenyataan bahwa kita sedarah akan terbukti?” Trisia tersenyum kecut seolah mampu membaca pikiran Leo.

“Tidak, maksudku sebelum kau menyadari bahwa aku memotretmu. Spontan hasilnya lebih bagus, bukan?” Leo membantah meski memang hal itulah yang ada dalam pikirannya. Ia sadar hal itu akan membuat gadis di hadapannya bersedih.

Trisia melangkah, kemudian melingkarkan lengannya pada leher Leo, memeluk lelaki itu dengan erat. “Aku tahu bukan itu yang ingin kaukatakan. Hal yang samalah yang tengah mengganggu pikiran kita.”

Leo membalas pelukan Trisia, “Maafkan aku telah membawamu pada situasi yang lebih rumit.”
***

Sebuah hotel bergaya klasik menjulang di hadapan mereka. Pemandangan De Dam atau Dam Square yang pernah ia saksikan di televisi kini ada di depan matanya. Dengan segera ia putuskan, ia harus menyempatkan diri untuk memberi makan merpati disana.

Langkah Trisia mengikuti Leo menuju meja resepsionis. Matanya berkeliling ke penjuru ruangan yang sangat besar itu. Kemudian dari arah belakang, seseorang menabraknya hingga Trisia nyaris terjatuh. Beruntung Leo sempat memegangi lengan gadis itu.

Seorang pria tinggi besar mengucapkan kalimat aneh—mungkin bahasa Belanda. Nada suara pria itu seolah menanyakan sesuatu pada Trisia, namun Leo dan Trisia hanya saling bertatapan karena tak mengerti dengan bahasa pria tersebut. Buru-buru Leo menanyakan maksud pria itu dengan Bahasa Inggris.

“Kupikir nona ini orang Belanda. Maaf, aku tak sengaja. Apa dia baik-baik saja?” Tanya pria itu pada Leo dalam Bahasa Inggris yang segera diterjemahkan Leo pada Trisia.

“Dia baik-baik saja. Terima kasih.” Kata Leo menerjemahkan kalimat Trisia. Lalu Leo mengangguk sejenak sebagai tanda untuk berpamitan pada pria itu dan ia menarik tangan Trisia. Sementara mereka berjalan menjauh, pria itu masih berdiri di tempatnya, memerhatikan pasangan tersebut.
***

“Lantai tiga puluh?” Tanya Trisia ketika Leo menekan angka tiga puluh di lift. “Mengapa kau tidak memilih di lantai bawah?”

“Ini milik pamanku, dan beliau memiliki penthouse khusus keluarga di lantai paling atas.”

“Jadi hotel ini tiga puluh lantai?”

“Begitulah. Sekarang beliau membangun sebuah hotel lagi di Istanbul.”

“Wah… Keluarga kalian benar-benar luar biasa.”

“Itu karena kakekku telah mewariskan modal dan bakat pengusaha yang hebat.” Leo menjelaskan hingga lift telah terbuka di lantai tiga puluh. Mereka melangkah beriringan menuju ujung koridor dan Leo membuka pintunya.

“Beristirahatlah, ini kamarmu,” ujar Leo menunjuk sebuah kamar di dalam penthouse. “besok pagi kita memulai pencarian ibumu.”

“Lalu kau tidur dimana?”

Leo menunjuk sofa di belakangnya dengan ibu jarinya. “Disana.”

“Kenapa kau tidak masuk saja? Ranjang itu cukup besar untuk berdua.”

“Baiklah sayang,” Leo mengecup kening gadis yang kini menjadi miliknya. “Aku masih ada urusan sebentar. Begitu selesai, aku akan menyusul. Selamat tidur.”
***

Leo menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa, kemudian mengangkat kedua kakinya ke atas meja. Ia membuka kaleng minuman yang telah disediakan di lemari pendingin. Kemudian sesekali menyentuhkan kaleng dingin itu pada dahinya. Ia memejamkan matanya, mengistirahatkan sejenak matanya hingga sesuatu seolah menempa kursi di sampingnya.

“Apa yang kau pikirkan?” Tanya Trisia yang tiba-tiba duduk di samping Leo.

“Tidak ada, aku hanya tertidur. Kenapa kau disini?”

Trisia menyandarkan kepalanya di pundak Leo. “Apa pendapatmu jika kita memang benar-benar saudara?”

Hening. Leo tak tahu harus bagaimana menjawab pertanyaan Trisia. Yang jelas ia sama sekali tak ingin mendapati kenyataan bahwa mereka adalah saudara. Pikirannya begitu kacau, belum lagi Harry mengiriminya beberapa pesan singkat yang menyudutkannya. Ia tak begitu paham mengapa kakaknya begitu dendam pada Trisia meski bukan ia yang membuat ibu mereka meninggal.

“Entahlah. Atau kita kawin lari?” Canda Leo dengan cekikikan seperti yang sering dilakukannya selama ini. Tapi sejujurnya, ini bukan lelucon melainkan isi hati lelaki itu. Ia tak bisa memikirkan apapun selain kawin lari.

“Tapi apa kau tahu, jika kita tetap menikah, mungkin keturunan kita akan cacat?” Trisia menghela napasnya. Itu yang pernah didengarnya dari temannya.

“Kita bukan saudara.” Ujar Leo lugas.

“Mengapa kau begitu yakin?”

“Karena aku ingin menikah denganmu dan kita akan hidup bahagia bersama anak-anak kita.” Leo memberikan senyum lebutnya diikuti sebuah ciuman di puncak rambut Trisia. “Tidurlah.”

Kamis, 06 Agustus 2015

Orange Sunset (Sepuluh)




CAHAYA matahari senja perlahan memudar, berganti dengan langit malam yang bertaburan bintang-bintang. Bulan mulai menghinggapi malam dengan kilaunya yang serupa mutiara. Suara jangkrik yang merdu terdengar bersahutan dengan bisingnya kendaraan dari kejauhan.

Masih mengenakan seragam putih-kelabu mereka, Jihan dan Rangga duduk berdampingan di kursi teras rumah Jihan. Biasanya, mereka akan menikmati senja sambil duduk di kafe kesukaan mereka, membicarakan banyak hal seperti materi ujian pekan depan mau pun sekadar gosip terkini di sekolah. Tetapi hari ini mereka memilih untuk menghemat uang demi bisa membeli tiket film kesukaan mereka berdua.

Tiba-tiba saja Jihan menghela napas berat. ‘Kenapa, ya, orang-orang berciuman?’ tanyanya, lebih seperti gumaman untuk dirinya sendiri. Tetapi tanpa dinyanya, kata-katanya berhasil merebut perhatian Rangga dari konsol permainan portable yang digenggam lelaki itu.

Rangga mem-pause permainannya, mengangkat wajah, dan mengernyit menatap Jihan. Ia ingin mencoba menjawab pertanyaan tidak biasa yang dilontarkan gadis itu. Hanya saja ia sendiri merasa ragu dengan jawabannya. Jadi, ia menjawab dengan hati-hati, ‘hem... mungkin karena mereka saling mencintai...?’

Mata Jihan membulat antusias. Ia menggerakkan kursinya sedikit menghadap Rangga. ‘Itu berarti... aku hanya boleh berciuman dengan seseorang yang kucintai?’

‘‘Tentu saja,” sahut Rangga sedikit terdengar kesal. Raut wajahnya seolah mengatakan bahwa semua orang tahu hal itu. ‘Kau tidak boleh berciuman dengan sembarang orang. Hanya boleh dengan seseorang yang benar-benar istimewa. Misalnya, suamimu nanti.’

Jihan menganggut-anggutkan kepalanya. Ia terdiam, mencoba memahami dengan baik kata-kata Rangga. Sementara lelaki itu kembali menyibukkan diri dengan permainannya.

‘Kira-kira... di antara kita berdua, siapa yang akan lebih dulu menikah, ya?’ Jihan kembali bergumam. ‘Dan mengalami bagaimana itu berciuman....’

‘Entahlah.’ Rangga menggidikkan bahu tanpa kembali melepas permainannya. Saat itu perasaan mereka masih murni sebagai sahabat, tanpa perasaan jatuh cinta yang rumit. ‘Yang penting, kita harus menjaganya untuk seseorang yang mencintai dan kita cintai.’

Jihan membiarkan dagu dan hidungnya berkerut. Diam-diam, ia menanamkan kalimat itu baik-baik dalam benaknya. Ia harus menjaga ciumannya hanya untuk seseorang yang mencintai dan dicintainya.
***

Bibir Rangga terasa lembut menempel di bibir Jihan. Lelaki itu tampak begitu hati-hati dan berusaha untuk memperlakukan Jihan selembut mungkin. Hingga tidak ada kesempatan bagi Jihan untuk menolak.

Tidak ada yang bisa dipikirkan Jihan. Ia merasa otaknya sudah tercerabut paksa dari dalam rongga kepalanya. Tubuhnya terasa begitu lemas seperti tidak bertulang. Jadi, ia memilih untuk memejamkan matanya perlahan, merasakan euforia yang berdentam-dentam di rongga dada kirinya.

Tetapi begitu matanya terpejam sempurna, wajah Silvia yang sedang tersenyum tulus muncul di balik kelopak matanya.

Dan seketika itu juga, Jihan menyentak dirinya dan mendorong tubuh Rangga. Ia beringsut hingga ujung sofa terjauh dari Rangga. “Aku tidak bisa, Rangga.”

“Kenapa?” Wajah lelaki itu berkerut masam. “Apa karena Silvia?”

Jihan terdiam. Ia merasa tidak perlu menjawab pertanyaan yang sudah jelas jawabannya. Gadis itu hanya tertunduk mendekap kedua tangannya. Sekujur jemarinya terasa menegang dan gemetar.

“Jihan....” Rangga mencoba mendekat. Tetapi ia mengurungkan niatnya begitu melihat sikap defensif yang ditunjukkan Jihan. “Maaf karena aku melakukannya.”

Jihan mengigit bibirnya, berusaha menahan air matanya yang mendesak di pelupuk mata. Tidak ada satu kata pun yang mampu diucapkan bibirnya yang kelu. Pipinya memerah sementara jantungnya berdebar kencang karena perasaannya yang campur aduk. Malu, bingung, dan menyesal saling bertumpuk di dalam hatinya.

“Aku juga minta maaf.” Akhirnya Jihan mampu mengucapkan sesuatu walaupun dengan suara tercekat. “Tidak seharusnya kita melakukan hal seperti itu....”

“Lihat aku, Jihan.” Rangga memberanikan diri untuk mendekat dan meraih dagu Jihan. Rasa perih merayap di hatinya ketika melihat sepasang mata gadis itu berkaca-kaca. “Jangan berpikiran buruk tentang ini. Aku sama sekali tidak bermaksud untuk melecehkanmu atau

“Sebaiknya kau pergi,” tukas Jihan dengan suara serak. Ia membebaskan dagunya dari jemari Rangga, lalu memalingkan wajahnya untuk menghindari tatapan lelaki itu.

“Baiklah.” Rangga berusaha menyunggingkan senyuman penuh pengertian. Lelaki itu lantas bangkit dari duduknya dan melangkah ke arah pintu. Sekuat tenaga menghalau dirinya untuk berbalik dan merengkuh Jihan ke dalam pelukannya. Ia sangat mengerti bahwa gadis itu membutuhkan waktu untuk sendiri.

Begitu terdengar suara pintu tertutup, air mata Jihan tumpah tanpa bisa dicegah.
***

Jihan termenung sambil menatap langit-langit kamarnya. Bulir-bulir air matanya tampak mengering, meninggalkan jejak sungai penyesalan di wajahnya. Entah sudah berapa lama ia membiarkan tubuhnya berbaring seperti itu. Hingga akhirnya cahaya jingga yang samar menyusup melalui jendela yang tertutup tirai.

Senja.

Suasana itu selalu mampu menarik perhatian Jihan. Ia bangkit dan menarik tirainya sedikit terbuka. Membiarkan sinar lembayung itu memasuki kamarnya dengan lebih leluasa. Ah, langit yang dipenuhi kerinduan.

Dengan sedih, Jihan menyentuh bibirnya. Masih terasa sentuhan bibir Rangga di sana. Ia menghela napas panjang. Ciuman yang dijaganya untuk satu orang yang istimewa. Jihan tahu ia mencintai Rangga. Dan ia yakin Rangga juga begitu. Selama beberapa detik, ia merasa bahagia. Tetapi detik berikutnya, hanya perasaan menyesal yang melingkupi hatinya.

Jihan mencintaimasih mencintai Rangga hingga saat ini. Tidak ada gunanya menyangkal kenyataan itu. Tetapi ia harus benar-benar membuang perasaannya. Jika tidak, itu berarti ia akan melukai perasaan Silvia. Ia akan menjadi pengkhianat untuk sahabatnya. Walaupun itu berarti ia harus membohongi dirinya sendiri.

Oh, tidak. Apa yang dipikirkannya tadi? Demi Tuhan. Sahabatnya sedang terbaring sakit. Sementara ia malah... melakukan hal yang sama sekali tidak pantas. Bahkan dengan lelaki yang tidak memiliki ikatan apa pun dengannya.

Air mata Jihan kembali tergelincir di pipinya. Ia menutup wajahnya dengan telapak tangan. Tetapi isakannya terdengar jelas. Apa yang harus dikatakannya saat ia bertemu langsung dengan Silvia?
***

“Jihan... Jihan... Jihan...!”

Jihan lantas tersentak ketika merasakan lengannya diguncang samar. “Oh, maaf. Apa kau mengatakan sesuatu?”

Silvia tidak menjawab. Gadis itu malah menyilangkan tangannya di dada, terang-terangan tampak kesal. Ia memberikan pandangan menyelisik yang membuat Jihan merasa tidak nyaman.

“Apa lagi yang mengganggu pikiranmu, Gadis Muda?” tanya Silvia penuh sindiran. “Kau membuatku merasa sedang bicara dengan batu.”


Kepala Jihan tertunduk. Ia merasa seperti anak kecil yang baru saja terpergok menghabiskan semua kue di kulkas. Bibirnya berbisik lirih mengucapkan maaf. Entah meminta maaf karena sudah mengabaikan Silvia, atau karena pengkhianatan yang dilakukannya.

“Kau pasti tidak mendengarkan kata-kataku tadi, kan?” Nada bicara Silvia masih terdengar tajam.

“Memang apa yang kaukatakan?” Jihan balas bertanya.

Silvia berdecak kesal. “Lebih tepatnya, tadi aku bertanya padamu. Apakah kau jadi pergi makan siang dengan Julian?”

“Sepertinya tidak.” Jihan menggeleng. “Tadi dia mengirim pesan singkat untuk membatalkan janji makan siang. Dia tidak bisa meninggalkan dapurnya. Restoran terlalu ramai siang ini, katanya.”

“Bagus kalau begitu, kau ikut makan siang saja denganku,” ujar Silvia sambil menarik lengan Jihan, mengajak gadis itu untuk bangkit dari duduknya. “Rangga mengajakku makan siang bersama. Dia bilang ingin memastikan bahwa aku akan makan dengan benar,” Silvia menambahkan lantas terkekeh penuh kebahagiaan.

Oh, tidak.

“A-aku tidak bisa, Silvia. Lebih baik aku makan sendiri saja.”

“Kenapa?” Tawa Silvia lenyap, menjelma ekspresi kecewa pada lawan bicaranya.

Jihan menggaruk kepalanya, mencari alasan yang sesuai. “Aku hanya tidak ingin mengganggu acara kalian berdua.”

Apalagi setelah apa yang terjadi tempo hari. Jihan sama sekali tidak memiliki keberanian untuk bertemu dengan lelaki itu. Ditambah ada Silvia di tempat yang sama dengan mereka. Itu pasti akan menjadi sebuah kesalahan besar.

“Oh, ayolah. Jangan bersikap seperti remaja yang takut diabaikan seperti obat nyamuk.”

Jihan menempelkan punggungnya ke sandaran kursi. Ia mendongak dan menatap Silvia lekat-lekat penuh permohonan. Tetapi ia lupa seperti apa sifat keras kepala sahabatnya itu.

“Cepat pilih. ‘Ya’ atau ‘ikut’?”

Alis Jihan terangkat. Itu jelas bukan pilihan. Ia memilih tetap bergeming, berusaha mempertahankan diri agar tidak goyah oleh rajukan Silvia. Padalah perasaan bimbang tergambar jelas di mata Jihan. Seharusnya Silvia mengerti dan berhenti memaksakan kehendaknya. Tetapi bukan Silvia namanya jika tidak bisa membuat orang lain patuh. Setengah hati, Jihan menganggukkan kepalanya.

Senyum kemenangan terukir di bibir Silvia. “Kalau begitu kita berangkat sekarang sebelum kau menghabiskan jam makan siangmu dengan melamun.”
***

“Jadi ini kedai nasi goreng yang sering kau bicarakan itu?” bisik Jihan di dekat telinga Silvia ketika mereka memasuki sebuah kedai yang tampak dipadati oleh para pekerja kantoran siang ini.

Silvia mengangguk dan menoleh sedikit kepada Jihan yang berdiri di belakangnya. “Menu nasi gorengnya sangat lezat dan bervariasi. Kau lihat sendiri berapa banyak perut lapar yang datang ke sini,” ucap Silvia sambil memandang berkeliling pada suasana kedai yang diwarnai obrolan samar dan denting alat makan yang beradu.

Saat ini mereka berdiri berbaris di dekat pintu masuk kedai. Rangga yang berdiri paling depan sedang berbicara dengan pramusaji yang kemudian mengantar mereka ke tempat duduk di tengah ruangan.

Silvia tentu saja memilih untuk duduk berdampingan dengan Rangga. Jihan duduk di seberang meja, berhadapan langsung dengan Silvia. Sejak tadi gadis itu berusaha untuk tidak bertemu pandang dengan Rangga. Ia tidak yakin dengan kemampuan matanya menyembunyikan perasaan.

Pramusaji meletakkan dua buku menu ke atas meja. Jihan menyambar cepat satu buku menu agar matanya tidak menganggur. Dalam sekejap, ia sudah tenggelam dalam deretan foto nasi goreng yang tertera di buku menu. Air liurnya nyaris menetes. Sepertinya benar kata Silvia, nasi goreng di sini pasti sangat lezat.

“Aku pesan nasi goreng hitam,” kata Rangga sambil mengulurkan tangan menyebrangi meja dan mengetuk sebuah gambar nasi goreng pada menu di hadapan Jihan.

Jihan tersentak. Ia tidak menyangka lelaki itu menunjuk menunya, bukannya menu pada Silvia yang seharusnya mereka bagi berdua. Takut-takut, Jihan mengikuti gerakan tangan yang kini ditarik kembali oleh pemiliknya. Apa lelaki ini sengaja ingin menarik perhatiannya?

Tetapi ketika Jihan mendongak untuk menatap sekilas ke arah Rangga, lelaki itu tampak tidak menggubrisnya. Ia sibuk bersikap ramah kepada pramusaji yang menanyakan pesanan mereka. Sebenarnya, apa maksudnya?

“Kalau begitu, aku juga sama,” ujar Silvia sambil tetap menunduk untuk memerhatikan gambar nasi goreng berwarna hitam karena tinta cumi-cumi, dengan potongan udang dan cumi-cumi berbentuk cincin. Kemudian ia masih menyibukkan diri membolak-balik lembaran menu sambil bertanya, “kau ingin pesan apa, Jihan?”

“A-aku juga sama.” Tergeragap, Jihan kembali menunduk tidak fokus pada menu di hadapannya.

“Tiga nasi goreng seafood hitam,” gumam pramusaji sambil mencatat. “Minumannya?”

Orange juice,” kata Rangga. Lagi-lagi tanpa melihat menu yang berderet, seolah ia sudah menghafal menu apa saja yang ada di kedai ini.

“Aku juga.” Silvia tersenyum lebar sambil menutup buku menunya.

“Aku“ Mata Jihan bergerak cepat di antara deretan daftar minuman. “Espresso macchiato.”

Pramusaji itu membacakan ulang pesanan lalu mengambil kembali menu yang tadi dibawanya. Tetapi langkahnya tertunda ketika Rangga menginterupsi gerakannya.

“Tolong salah satu nasi gorengnya tanpa bawang goreng, ya.”

“Baik.” Pramusaji itu mengangguk dan memberi tanda pada catatannya.

“Kau tidak suka bawang goreng?” tanya Silvia ingin tahu begitu pramusaji itu berlalu. Sepertinya, ketika mereka makan berdua di sini tempo hari, Rangga tidak pernah protes tentang hal ini.

“Bukan aku. Tapi Jihan,” jawab Rangga sambil menggidikkan dagunya ke arah Jihan.

Sontak Jihan langsung salah tingkah diperlakukan seperti itu. Ia sendiri bahkan tidak terpikirkan tentang bawang gorengsi perusak rasa pada hidangan makan siangnya kali ini. Mengapa lelaki itu harus menunjukkan perhatiannya di hadapan Silvia seperti ini? Apalagi setelah itu Silvia langsung melirik sekilas ke arahnya, membuat Jihan merasa rikuh.

“Wah, ingatanmu kuat sekali.” Ucapan Silvia itu terdengar sepert sindiran tajam bagi Jihan.

“Mana mungkin aku lupa,” sahut Rangga lantas terkekeh perlahan. “Pernah suatu ketika kami makan bersama teman sekelas, dia heboh melihat taburan bawang goreng di atas nasi gorengnya.”

Bibir Silvia membulat lantas ikut terkekeh. Sementara Jihan tampak tersipu rikuh menyadari kejadian memalukan itu terlintas kembali dalam ingatannya. Dasar Rangga sialan! Ia hanya bisa mengumpat dalam hati. Sama sekali tidak ada keinginan untuk membalas perkataan lelaki di hadapannya.

“Omong-omong, Jihan. Apa kau akan datang acara reuni bulan depan?”

“Reuni?” Alis Jihan terangkat, sedikit bingung dengan perubahan topik yang begitu tiba-tiba. Lagi pula, bagaimana bisa lelaki ini bersikap seolah tidak terjadi apa-apa di antara mereka berdua?

“Ya. Reuni SMA kita. Apa kau belum menerima undangannya?”

“Ha?”

“Oh. Benar juga. Pasti teman-teman kita tidak memiliki alamat tempat tinggalmu yang sekarang.” Kepala Rangga mengangguk-angguk ketika menyadari hal itu. “Atau mungkin hanya aku yang tahu kalau kau kembali ke kota ini.”

Jihan terdiam, sama sekali tidak bermaksud menanggapi kata-kata Rangga.

“Reuni itu... apakah aku boleh ikut?” Dengan hati-hati, Silvia mencoba memasuki topik yang sedang berlangsung di hadapannya. “Aku tidak memiliki teman SMA yang tinggal di sini.”

Sejak berusia lima belas tahun, Silvia memang tinggal bersama nenek dari pihak ibunya di London. Jadi, ia mengenyam pendidikan menengah hingga kuliahnya di kota yang memiliki bianglala raksasa itu.

“Kau yakin tidak akan merasa bosan di sana?” Rangga berusaha menghalau keinginan Silvia. “Kau, kan, bukan alumni sekolah itu.”

“Tidak masalah. Aku yakin akan banyak teman-teman kalian yang datang bersama suami atau istri mereka. Jadi..., aku bisa datang sebagai pasanganmu.” Silvia tersenyum menunjukkan deretan giginya yang putih.

 “Ide bagus,” sahut Jihan kemudian, mendukung usulan Silvia.

Silvia mengerling terima kasih ke arah Jihan. Sedikit banyak, tujuan ia sebenarnya adalah ingin mengenal Rangga melalui teman-teman SMA lelaki itu. Karena selama ini, informasi yang didapatnya dari Jihan tidak pernah memuaskan hasrat ingin tahunya.

Rangga melirik protes ke arah Jihan, tetapi gadis itu mencoba tidak mengacuhkannya. Yang benar saja! Apa gadis ini sama sekali tidak memiliki keinginan untuk datang bersamanya ke reuni itu?

“Tapi kau tidak mengenal teman-teman SMA-ku,” ujar Rangga dengan nada ragu. “Apa kau tidak takut nanti akan merasa... hem... canggung?”

“Siapa bilang aku tidak mengenal teman SMA-mu?” sanggah Silvia dengan nada riang. “Aku mengenal Jihan.”

Rangga mengikuti tatapan Silvia yang kini terarah ke arah Jihan. Dan gadis itu membalas kata-kata  Silvia dengan tertawa. Tentu saja tawa yang tidak ditujukan untuk dirinya. Semakin lama suara tawa itu semakin terasa jauh, hingga hanya menyisakan gaung di sudut benaknya.

Tidak pernah Rangga mengira bahwa sebuah ciuman seolah mampu merentangkan jarak ribuan kilometer di antara mereka.

***

Jihan mengurai tawa sekilas menanggapi kata-kata Silvia. Memang benar gadis itu mengenal dirinya sebagai alumni dari SMA itu. Hanya saja, ia sendiri tidak berniat datang ke acara reuniatau apapun itu yang berpotensi membangkitkan kenangan di antara dirinya dan Rangga.

Seorang pramusaji berjalan melewati meja mereka dengan langkah kikuk. Jihan tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengalihkan perhatiannya dari perdebatan kecil di hadapannya. Ia bertopang dagu di atas meja, sambil membiarkan kepalanya bergerak mengikuti pramusaji yang tadi lewat.

Pramusaji itu tampak kurang percaya diri. Mungkin pegawai baru, duga Jihan. Tangannya tampak gemetar memegang nampan. Senyumannya kaku dan tidak terlatih. Ketika ia mengantarkan pesanan ke sebuah meja di dekat jendela, pramusaji itu berusaha menyapa seramah mungkin walaupun kerutan gugup mencuat di setiap sudut wajahnya.

Entah mengapa, Jihan merasa pramusaji itu lebih mirip aktris amatir di atas panggung teater. Sekuat tenaga ia harus merahasiakan perasaan yang sesungguhnya dan menampilkan peran yang diingkan orang-orang. Ah, entah mengapa itu terdengar seperti dirinya sendiri.

Jihan mendengar helaan napas Rangga yang menginterupsi lamunannya.

“Baiklah kalau begitu. Asalkan Jihan tidak keberatan kita datang bertiga,” ujar Rangga mengakhiri perdebatannya dengan Silvia. Terdengar nada memohon dari kalimat terakhir yang diucapkan lelaki itu. Entah memohon untuk apa.

Kepala Jihan berputar cepat mendengar namanya disebut.

“Berempat,” ralat Silvia begitu perhatian Jihan kembali kepadanya. “Kita ajak juga Julian. Sebagai pasangan Jihan.”

Baru saja Jihan membuka bibirnya ingin menyatakan penolakan dan sanggahan atas usulan Silvia. Tetapi apa pun yang hendak dikatakan Jihan, urung terucap karena saat itu sang pramusaji kikuk datang ke meja mereka mengantarkan tiga porsi nasi goreng beraroma sedap yang membuat gemuruh di lambung Jihan bersorak gembira.



Selasa, 28 Juli 2015

Red Lie - Chapter 13


“Apa yang kau lakukan dengan asistenku?”

Suara itu terdengar berat di telinga Leo. Suara parau yang mendesis melalui gigi yang terkatup. Ciri khas emosi yang tertahan yang selalu ditunjukkan oleh kakaknya yang cenderung menahan perasaannya.

“Aku ingin bicara dengannya,” ujar Leo tanpa memandang kakaknya yang bersandar pada kusen pintu. Lelaki itu sibuk mengamati adiknya yang tangannya masih terhubung dengan tangan asistennya.

“Dimana sopan santunmu? Dia bekerja untukku. Kenapa kau membawanya tanpa meminta izin padaku?”

Leo berbalik untuk memandang pemilik suara yang semakin terdengar sinis. “Pak Harry, saya mohon izin untuk berbicara dengan Trisia.” Leo merendahkan suaranya, menahan amarah yang mulai bergejolak dalam hatinya.

“Tidak bisa. Ini masih jam kerja.” Harry melangkah menuju meja Liana yang terletak tak jauh dari tempatnya bersandar, kemudian mengambil sebendel kertas di atas meja Liana. “Trisia, aku ingin kau mengopi ini,” Harry mengangkat kertas itu di udara untuk menunjukkannya pada Trisia, “tiga kali dan tolong kaubelikan sebuah klip kertas berukuran besar.”

“Baik pak.” Trisia segera menarik tangannya dari genggaman Leo.

Kekecewaan terlihat jelas pada wajah Leo, “Aku akan mengantarmu.”

“Tidak,” sergah Harry. “Kau masuklah, aku ingin bicara denganmu.” Tanpa mendengar jawaban Leo, Harry memasuki ruangannya dan membiarkan pintu ruangannya terbuka untuk Leo.

Dalam hati, Leo menggerutu. Ini benar-benar bukan saat yang tepat. Sejak kejadian semalam Trisia sangat berbeda, Trisia mulai mengabaikannya. Ia harus memastikan apakah kejadian itu yang membuat gadis itu terganggu.

“Apa yang ingin kaubicarakan?” Tanya Leo begitu memasuki ruangan Harry dan menutup pintu di belakangnya.

“Ada urusan apa kau dengan asistenku?” Harry merentangkan tangan dan menopangkan sikunya di meja.

“Kau hanya bosnya, kau tidak perlu tahu segala urusan asistenmu.” Leo memandangi kakaknya dan suaranya terdengar jengkel.

“Kusarankan jangan terlalu dekat dengan gadis itu,” ujar Harry dengan suara datar. “sebelum kau menyesal nantinya. Kau tidak tahu siapa dia.”

“Kenapa?”

“Aku tidak menyukainya,” jawab Harry. “Dia bukan gadis baik-baik.”

Tidak,” kata Leo. “Aku tak mengerti mengapa kau mempekerjakannya jika kau tak menyukainya. Tetapi apa yang kau maksud dengan bukan gadis baik-baik, kurasa itu bukanlah Trisia.”

Harry menghela napas, “Aku hanya berusaha memperingatkan padamu sebelumnya. Kau tak akan menyukai kenyataan siapa dia sebenarnya jika kau tahu bahwa dia mungkin adalah…”

“Anak dari wanita selingkuhan ayah?” Leo memotong kalimat Harry.

Harry membelalakkan matanya seolah bola matanya nyaris keluar. “Kau tahu? Sejak kapan kau tahu tentang itu?” Harry bergerak gelisah. Ia pikir rahasia yang ia simpan dari Leo selama ini masih tersimpan rapat.

“Tentu, aku membaca buku harian ibu. Ibu tidak meninggal karena penyakit. Ibu menulis rencana bunuh dirinya dalam buku harian itu.”

“Tetapi tetap saja Calista penyebab utamanya.”

“Tapi bukankah kita sedang membicarakan Trisia, kak?”

“Dia adalah anak dari wanita itu.”

“Lalu kenapa? Trisia bukanlah pelakunya.” Leo semakin geram. Terkadang ia bingung dengan jalan pikiran kakaknya yang selalu jauh dari cara pikirnya. “Sekarang coba kaupikir, saat itu dia sama seperti kita, dia hanya anak kecil yang tak tahu apa-apa.”

“Lalu apa kau berniat mendekatinya?” Nada sinis itu kembali terdengar oleh Leo dari mulut kakaknya. “Apa kau tahu bahwa gadis itu mungkin adalah adikmu? Buah dari perselingkuhan ayah dengan wanita itu?”

Pernyataan Harry seolah menggodam kepala Leo. Ia sama sekali tak memikirkan hal itu sebelumnya. Apakah ia telah mencium adiknya semalam? Apakah selama ini ia tengah jatuh cinta pada adiknya sendiri? Leo bertanya-tanya.

Harry tersenyum tanggung, menyadari perubahan pada raut wajah adiknya. “Kutebak kau tak memikirkan itu sebelumnya.”

Leo bergeming, tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ia tak tahu bagaimana memastikan kebenaran itu sementara ia tak mungkin bertanya pada ayahnya yang telah terkubur di dalam tanah. Kecuali ia bisa menemukan Calista.

“Ingatlah Leo, buah jatuh tak akan jauh dari pohonnya. Aku yakin Trisia pun bukanlah gadis baik-baik, sama seperti ibunya yang bukanlah seorang wanita terhormat.”

“Lalu kaupikir ayah siapa yang melakukan hal tidak terhormat dengan wanita itu?” Leo berusaha mengendalikan diri. Leo meninggalkan ruangan kakaknya dengan emosi yang hampir meluap. Ia tak akan membiarkan kata-kata kakaknya itu semakin mengganggu pikirannya.
***

Sejak kapan Leo mengetahui semua itu? Sangat disayangkan bahwa rahasia yang ia simpan untuk melindungi adiknya justru terbuka di luar sepengetahuannya. Keras kepala yang memang berkembang pesat di kepala adiknya itu memang terkadang membuat Harry geram. Namun sesuatu yang ia sadari, raut kecewa Leo seolah mengatakan bahwa ia memiliki perasaan lebih untuk gadis itu. Bagaimanapun Harry tak akan membiarkan itu terjadi. Meski pada akhirnya gadis itu terbukti memang adiknya, ia tak akan pernah mengakuinya. Tidak, selama darah Calista mengalir dalam tubuh gadis itu.

Harry menyentuh beberapa angka pada layar ponselnya yang kemudian menghubungkannya pada seseorang di suatu tempat.

“Apakah ada perkembangan?” Tanya Harry begitu telpon tersambung.

“Belum. Aku masih kesulitan mencari dimana duplikat akta lahir gadis itu. Tak ada yang tahu dimana akta gadis itu dibuat.”  

“Jika dalam seminggu kau belum menemukannya, pergilah ke Belanda dan cari wanita itu.”
***

Dengan langkah terburu-buru Trisia kembali menuju lift untuk kembali ke lantai lima. Ia lupa membawa uang untuk membeli klip kertas yang diperintahkan Harry. Ini semua karena insiden yang membuatnya seperti berada dalam adegan sinetron yang diputar di layar kaca.

Begitu pintu lift terbuka di lantai lima, Trisia melompat keluar. Langkah terburu-burunya membuat sepatunya beradu dengan lantai dan menimbulkan suara berisik di tengah ruangan tenang lantai lima.

“Trisia.” Leo yang hampir memasuki ruangannya segera memutar langkahnya untuk kembali mendekati Trisia.

Tanpa perlu menoleh, gadis itu telah mengenali siapa sang pemilik suara. Orang yang sangat ingin ia temui dan ia hindari dalam waktu bersamaan. Trisia mempercepat langkahnya agar segera sampai di ruangannya.

“Tunggu Tris.” Leo menarik tangan Trisia sebelum Trisia sempat membuka pintu kaca yang ada dihadapannya.

“Ada apa lagi? Aku tak ingin pak Harry melihat kita disini.” Trisia merendahkan suaranya, menekankan setiap kata dalam kalimatnya.

“Aku tak peduli.” Dengan segala keegoisannya, Leo menarik tangan Trisia, membawanya menuju ruangan yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.

“Apa yang ingin kau bicarakan?” Tanya Trisia begitu Leo menutup pintu di belakangnya. Untuk kedua kalinya Trisia menginjakkan kakinya di ruangan Leo.

“Kenapa kau menjauhiku?” Leo memegang erat kedua lengan Trisia dan menatap mata gadis itu dalam-dalam. Namun Trisia mengarahkan pandangannya ke arah lain, tak ingin membalas tatapan Leo. “Trisia, lihat aku. Apa kau menjauhiku karena kejadian semalam?”

Tidak!
Ingin rasanya Trisia meneriakkan kata itu di depan Leo, namun suaranya seolah menghilang begitu saja. Ditatapnya lelaki dihadapannya dengan mata yang berkaca-kaca. Lelaki itu tampak lelah, wajahnya pucat dengan rambutnya yang berantakan.

“Sampai kapan kau akan seperti ini? Jika ini karena aku menciummu dan kau menghindariku, kumohon maafkan aku.” Suara Leo terdengar serak.

“Bukan… aku…”

“Jangan membuatku kacau.” Leo mendekat, menyandarkan kepalanya di pundak Trisia. Seolah terdengat aliran listrik, jantung Trisia berdetak kencang. Bahkan mungkin saja Leo akan mendengarnya dalam ruangan sehening ini. Trisia mengangkat tangannya perlahan. Ragu. Meski dalam hatinya ia ingin memeluk lelaki itu. Namun Trisia mengurungkan niatnya begitu mendengar ponsel yang berasal dari meja kerja Leo berbunyi.

“Kau tidak mengangkatnya?” Tanya Trisia. Leo hanya menggelengkan kepalanya di bahu Trisia.

“Aku benar-benar lelah.” Leo bergumam. Pembicaraannya dengan kakaknya tadi rupanya masih berdampak pada pikirannya. Apa yang harus ia lakukan jika gadis ini adalah adiknya? Mampukah ia menghapuskan perasaannya untuk Trisia? Perasaan yang terlanjur dalam ia tanamkan dalam hatinya.


“Trisia,” Leo mengangkat kepalanya, menyentuh salah satu sisi wajah Trisia. “Aku mencintaimu.” Kemudian Leo mendekat, menghapus jarak di antara mereka, mendekatkan wajahnya untuk menyentuh bibir Trisia dengan bibirnya.