Tampilkan postingan dengan label Red Lie. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Red Lie. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 April 2016

Red Lie - Epilog


Sudah nyaris enam tahun berlalu. Hari-hari Trisia terasa begitu sulit setelah kepergian Leo. Namun Harry masih setia mendampinginya. Sepanjang hari kondisi Trisia semakin buruk, bahkan mungkin nyaris gila. Hari-hari setelah kepergian Leo, ia hanya menghabiskan waktunya untuk melamun, menatap makam Leo dengan pandangan kosong, kemudian beberapa kali gadis itu nyaris bunuh diri.

“Apa yang kau lakukan?” Teriak Harry dengan sigap menarik tangan Trisia. Kaki kanan gadis itu sudah berada di luar jendela kamarnya yang ada di lantai tujuh. Nyaris saja. Seandainya saat itu Harry tak menerobos masuk ke flat Trisia, mungkin ia akan benar-benar terlambat dan kehilangan segalanya.

Trisia masih saja terdiam, wajahnya semakin tirus dan lingkaran hitam di bawah matanya terlihat begitu nyata. Trisia kembali terisak dan Harry menuntunnya ke sofa yang ada di samping jendela. Memeluk gadis itu dengan hati yang begitu hancur.

‘Mengapa bukan aku saja?’ Pikiran Harry menyesalinya. Jika ia yang mengalami kecelakaan hari itu, ia tak akan kehilangan adiknya dan tak akan melihat gadis yang dicintainya tampak begitu frustasi.

“Harry, ayo.” Ujar seorang gadis menepuk pundak Harry yang tengah melamun.

“Tentu sayang, apa kau yakin?” Tanya Harry setelah mengecup kening gadisnya. Gadis itu tersenyum menyandarkan kepalanya pada dada bidang Harry. Kemudian mengangguk pelan.
***

Leo… Lelaki yang akan selalu ada di hatinya. Bahkan setelah sekian lama kepergiannya. Trisia duduk di samping nisan yang terukir nama Leo. Air matanya kembali lolos dari pelupuk matanya. Lelaki yang dulu begitu dicintainya. Bahkan setelah hari-harinya yang begitu sulit hingga mereka harus ke Belanda untuk mencari kebenaran. Tetapi seharusnya setelah hari itu mereka akan berbahagia. Menjalani hubungan yang normal hingga akhirnya menikah. Namun kenyataan sungguh tak seindah bayangan.

“Kau baik-baik saja?” Tanya lelaki yang masih berdiri di sampingnya.

“Maafkan aku.”

Lelaki itu mendekat, kemudian meraih jemari Trisia, menggenggamnya untuk memberi kekuatan pada gadis itu. Trisia menyadari tak seharusnya ia menunjukkan kesedihannya tepat di depan suaminya.

“Aku memahami perasaanmu. Kurasa kita bisa menundanya.”

“Tidak, aku akan mengatakannya. Leo harus tahu.” Trisia tersenyum pada lelaki di sampingnya.

“Berhentilah menangisi kepergianku sayang, pandanglah dia yang selalu ada untukmu, yang selalu menjagamu hingga detik ini. Aku tak akan pernah bisa tenang jika kau menyiksa dirimu seperti ini.”

“Leo, bawalah aku bersamamu. Aku tak ingin hidup lagi.” Trisia menangis tersedu di pelukan lelaki yang begitu ia rindukan itu.

“Pandanglah kedepan, lanjutkan hidupmu. Buatlah sebuah keluarga. Aku akan hadir kembali dalam hidupmu suatu saat nanti.”

“Sayang… Apa kau benar-benar baik-baik saja? Jangan terlalu lelah.” Lelaki itu menyadarkan lamunan singkat Trisia tentang mimpi yang selalu ia ingat. Dan Trisia kembali mengembangkan senyumnya. Mereka menatap nisan tersebut dan sebuah senyuman menghiasi wajah mereka berdua.

“Leo, kami akan sangat bahagia jika kau berada di tengah-tengah keluarga kami. Sesuai keinginanmu, aku telah melanjutkan hidupku dan aku menambatkan hatiku pada lelaki yang begitu mencintaiku. Pun denganku, aku begitu mencintainya. Harry benar-benar telah menjagaku dan ia mampu merubah hidupku.”

“Kuharap kau menepati janjimu, Leo. Akan segera kutunggu kehadiranmu.” Ujar Harry. Ia menarik bibirnya, tersenyum lebar hingga menyentuh matanya. Ia menyentuh perut Trisia yang masih rata, kemudian ingatannya kembali pada saat-saat yang membahagiakan untuknya.

“Menikahlah denganku Tris.” Ujar Harry di sela makan malamnya bersama Trisia. Gadis itu tampak begitu cantik dibalut gaun berwarna merah.

“Apa kau yakin? Apa kau tidak takut jika aku akan terus memilirkan Leo?” Jantung Trisia terasa berdebar dengan kencang. Bagaimanapun juga lelaki yang telah setia mendampinginya selama lima tahun terakhir telah mampu meluluhkan hati Trisia.

“Aku tak peduli. Suatu hari nanti aku yakin hatimu akan terbuka untukku, Tris.”

“Dan aku telah membuka pintu hatiku untukmu, Harry.” Senyum itu mengembang sempurna di wajah Trisia. Senyum yang tak pernah sekalipun Harry lihat semenjak kepergian Leo.
***

“Harry!!! Harry!! Cepat kemari, kurasa ketubannya sudah pecah.”

“Oh Tuhan.” Harry segera melompat dari ranjangnya untuk menuju asal suara teriakan Trisia di kamar mandi. "Apa yang harus kulakukan?" Harry mondar-mandir tanpa melakukan sesuatu yang berarti. 

"Harry!! perutku." Teriakan Trisia seolah menyadarkan kepanikan Harry.

“Trisia, tahan sayang. Kita ke dokter sekarang.” Harry mengangkat tubuh istrinya yang terasa semakin berat, kemudian bergegas menuju ke rumah sakit. Seharusnya prediksi dokter minggu depan Trisia akan melahirkan, namun perkiraan tersebut meleset.

Trisia menggenggam tangan Harry dengan erat, berteriak sekeras-kerasnya hingga Harry merasa sebentar lagi telinganya akan tuli. Namun beberapa menit kemudian, suara tangisan bayi pecah ditengah suasana tegang di ruang persalinan.

“Selamat tuan, nyonya, bayi laki-laki yang sehat.” Ujar seorang suster yang menggendong bayinya mendekat pada Trisia.

“Lihatlah, dia begitu mirip denganmu, Harry. Akan kita namakan siapa jagoan kita ini?”

“Leo. Leo Ferdinan.”

SELESAI

Rabu, 23 Maret 2016

Red Lie - Chapter 16


Pepohonan berjajar rapi di sepanjang jalan, begitu rindang memayungi jalan setapak yang dilalui Trisia. Langkah kecilnya yang berirama, berasal dari ketukan sepatu hak tinggi berwarna abu-abu yang dikenakannya. Mendung bergelayut manja, seolah dalam hitungan detik ia akan melepas bebannya yang terasa begitu berat.

Trisia mempercepat langkahnya berharap titik-titik air tidak akan menetes sebelum ia sampai di tempat tujuannya. Tapi tidak, rupanya Tuhan tak menghendaki untuk menunggu langkah Trisia sampai pada tujuannya.

“Ah… sial!” Teriak Trisia sambil berlari kecil dan berusaha menjaga keseimbangan tubuhnya agar tak terjatuh. Ia menutupi kepalanya dengan tas kecil yang sejak tadi berada di tangannya. Baru beberapa langkah, kemudian Trisia berhenti dan berjongkok untuk melepaskan pengait sepatunya. Ia melepaskan sepatunya agar ia dapat berlari dengan lebih cepat.

Hujan yang semula mengguyurnya mendadak berhenti. Dalam hati gadis itu bersyukur, kemudian menatap langit yang seolah mempermainkannya. Trisia mengerutkan dahinya, sebuah payung berwarna merah tua ada di atasnya. Trisia segera berdiri dan menatap seseorang yang tengah berusaha memayunginya.

“Harry…” Wajah yang tak asing bagi Trisia. Wajah itu membuat Trisia kesal, tak peduli hujan mengguyurnya, Trisia berlari untuk menjauh dari lelaki itu.

“Trisia, tunggu.” Harry menyusul di belakang Trisia, berusaha menyamakan langkah dengan gadis itu. Tanpa menghiraukan lelaki yang terus bergumam di samping Trisia, gadis itu semakin mempercepat langkahnya.

“Trisia,” akhirnya lelaki itu berhasil membuat Trisia berhenti. “Aku ingin bicara denganmu.”

“Rasanya tak ada yang perlu kita bicarakan.” Ujar Trisia tak acuh.

“Ada.” Suara Harry tegas dan dalam. “Aku ingin meminta maaf padamu.” Nada suara itu semakin menurun. “Sejak kalian tiba dari Belanda, Leo sama sekali enggan berbicara padaku.”

“Wow… bukankah itu kabar gembira, Pak Harry yang terhormat?” Sindir Trisia seraya melangkah meninggalkan Harry tanpa mendengar jawaban lelaki itu.

“Tris…” Kalimat Harry terpotong.

“Apa bagusnya kau bicara pada anak haram sepertiku?” Senyum sinis tersungging dari bibir merah Trisia. “Sudahlah, aku masih ada urusan penting, permisi.”

Senyum di bibir Trisia tersungging, lega setelah keberanian untuk melawan lelaki itu akhirnya muncul. Mungkin menjalin hubungan dengan adik lelaki itu yang membuat keberaniannya muncul. Senyumnya semakin lebar, langkahnya semakin cepat, gadis itu memilih untuk berteduh di sebuah pinggiran toko yang tak jauh di hadapannya.

Hujan turun semakin deras sesaat setelah ia menginjakkan kakinya pada sebuah ubin putih yang mulai basah. Ia memeluk tasnya yang mungil di depan dadanya, bersandar pada dinding kusam yang ditempeli poster-poster lawas. Teringat kejadian beberapa hari yang lalu ketika ia bertemu ibunya, seluruh pertanyaan yang memenuhi kepalanya terjawab sudah. Pikirannya kembali pada saat-saat dimana percakapan penting yang hampir membuatnya gila itu terjadi.

“Ini tak boleh terjadi.” Ujar sang ibu menentang.

“Kenapa?”

“Karena...” Kalimat Calista terhenti, seolah tengah memikirkan sesuatu. “Aku tak tahu harus mulai dari mana…” Calista menghela nafas besar. Suasana kembali hening.

“Ibu, apakah aku dan Leo memang bersaudara?” Tanya Trisia langsung. Mata Calista terbelalak, kemudian mengerutkan dahinya.

“Darimana kau bisa berpikiran seperti itu?”

“Aku menemukan sebuah fotomu…” Gumam Leo lemah. “…dan ayah.”

“Itu tidak benar. Ayahmu adalah sahabat lamaku. Dialah yang selalu membantuku dalam kondisi terburukku sekalipun. Mungkin ibumu tidak tahu tentang hal ini. Aku melarang ayahmu memberitahu keberadaanku karena ibumu adalah orang yang sangat pencemburu.”

“Ibuku sudah meninggal…”

“Ya, aku tahu. Ayahmu melampiaskan amarahnya padaku. Dia bilang ingin memutuskan persahabatan kami. Ia juga bersumpah tak akan membiarkan keturunannya memiliki hubungan denganku.”

“Apa karena itu ibu melarang kami?” Tanya Trisia.

“Begitulah. Mengapa kau berpikir bahwa kau dan Leo adalah saudara? Bagaimana mungkin? Bahkan ayahmu tahu tentang hubungan kami, kami selalu pergi bersama saat ingin bertemu.” Calista mengusap pundak Trisia. “Aku hanya menghargai keinginan Haryo.”

“Hei.” Ujar seseorang membuyarkan lamunan Trisia.

Mata Trisia terbelalak melihat lelaki di hadapanya. “Ada apa lagi?”

“Aku tahu kau bukanlah adikku.” Ujar lelaki itu melemah.

“Lalu kenapa kau menghinaku seperti itu jika kau tahu kebenarannya?”

“Hanya saja saat itu aku bimbang. Awalnya aku memang marah padamu. Awalnya aku sama sekali tidak tahu kebenarannya. Lambat laun aku mencoba untuk mengetahui kebenaran yang membuat ibuku bunuh diri dan aku menemukan fakta bahwa kau bukanlah adikku. Dan rasa marah itu berubah menjadi…” Harry menghentikan kalimatnya sejenak sambil menghela napas besarnya. “…ketertarikan.” Lanjutnya mantap.

“Apa maksudmu?” Trisia penasaran.

“Aku tertarik padamu. Tetapi saat aku mulai berusaha memperbaiki buruknya sikapku padamu, aku menemukan fakta lain bahwa Leo mendekatimu.”

Trisia terdiam, menunggu kelanjutan cerita Harry. Ia sama sekali tak menyangka bahwa hal seperti itu akan terjadi dalam hidupnya. Rasa kesalnya untuk Harry masih belum juga surut barang seujung kuku sekalipun. Ia mengingat penghinaan-penghinaan yang pernah ia terima dari lelaki kaya di hadapannya itu. Ia ingin membalas untuk menghina lelaki itu saat ini juga. Namun raut menyesal lelaki itu membuatnya luluh.

“Ya, kau tahu aku mencintai adikmu.” Ujar Trisia pelan sementara derasnya hujan semakin memekakkan telinga.

“Aku meminta maaf padamu, Tris.” Harry meraih pergelangan tangan Trisia, menggenggamnya dengan erat. “Aku juga ingin mengatakannya pada Leo, tetapi ia sama sekali tak memedulikanku.”

Trisia mengangguk, “Aku mengerti, aku akan memberinya pengertian.”
***

Dia adalah gadis yang sama dengan gadis yang lelaki itu temui beberapa waktu yang lalu. Gadis yang didekatinya dengan tujuan yang lain. Namun segalanya berubah saat kesalah pahaman itu terkuak. Penyesalan membanjiri perasaannnya dan kini penyesalan itu akan terus membayanginya. Ia hanya gadis polos yang tak bersalah sedikitpun. Ia gadis yang dimanfaatkan untuk balas dendam atas kesalahan yang sama sekali tak dilakukannya.

Lelaki itu menghela nafas besar, seolah hal itu akan meringankan perasaannya. Tapi tidak. Itu sama sekali tidak membantu. Sementara adiknya masih saja berdiam diri. Ia hanya keluar kamar seperlunya, tanpa menghiraukan kehadiran kakaknya.

“Leo…” Harry membuka pintu kamar adiknya yang sedikit terbuka. Adiknya sama sekali tak mengarahkan pandangannya pada sesosok lelaki gagah yang tengah berdiri dan memegang gagang pintu. Leo masih memandang laptop miliknya sambil mengetik sesuatu.

“Leo, aku ingin bicara padamu.” Harry melangkah, mendekati adiknya yang tengah sibuk pada hal di hadapannya. “Sampai kapan kau akan mendiamkanku? Aku tahu selama ini aku salah.”

“Maaf, aku sedang sibuk. Bisakah kau keluar dari kamarku?” Kata Leo sinis tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptopnya.

Harry terdiam. Ia memahami kemarahan Leo. Ingatannya memutar kembali pada beberapa kejadian masa lalu tepat ketika ia menghina Trisia di hadapan semua orang. Harry memutar langkahnya, keluar dari kamar itu dan menutup kembali pintu di belakangnya. Harry kembali melangkah menuju kamarnya. Kemudian pintu berdebam dengan keras di belakang Harry, menerbangkan debu-debu halus disekitarnya.

Ia melonggarkan dasinya, kemudian menjatuhkan diri pada ranjang berukuran besar miliknya. Tangannya memijit pelan pangkal hidungnya, sementara pandangannya menatap lurus pada langi-langit kamarnya yang berwarna putih. Matanya menerawang jauh kejadian beberapa waktu lalu, saat Harry mulai menyadari bahwa perasaannya pada Trisia telah berubah. Setiap malam ia hanya berpikir bagaimana bisa ia jatuh cinta pada anak dari seorang wanita yang telah menghancurkan keluarganya, hingga ia memutuskan untuk mencari tahu kebenarannya.

“Kebenarannya, wanita itu hanyalah sahabat ayahmu.”

Kalimat itu terngiang-ngiang di telinga Harry, di satu sisi hal itu membuatnya sangat merasa bersalah, namun di sisi lain ia lega, karena perasaannya pada Trisia bukanlah semacam cinta terlarang. Namun seketika hatinya hancur mengetahui kenyataan lain bahwa gadis pujaannya itu ternyata telah menjalin hubungan dengan adiknya sendiri. Kemarahannya justru semakin menjadi. Alih-alih cemburu, ia justru semakin menyakiti hati gadis itu.

Kali ini tak akan ada kesempatan kedua untuknya. Dan itu pantas. Ia pantas menerimanya setelah segala kesalahan yang telah ia lakukan pada gadis itu. Setelah menghela napas besar yang membuatnya sesak, sebuah keputusan akan segera diambilnya. Tak ada pilihan lain selain merelakannya. Ia harus menebus kesalahannya dengan membahagiakan adik yang disayanginya bersama gadis yang dicintainya.
***

Kini ia tahu segalanya. Kebenaran yang di satu sisi membuatnya teramat bahagia, namun di sisi lain begitu membuatnya marah. Ya, ia teramat marah pada kakak yang disayanginya. Lelaki itu telah menghina gadis yang dicintainya. Bahkan sangat ia ingat kekerasan yang dilakukan kakaknya pada Trisia. Leo menutup laptopnya yang sedari tadi ditatapnya dengan pandangan kosong. Ponsel di sampingnya berbunyi, sebuah pesan dari Trisia sedikit mengurangi amarahnya.

Sayang, bisakah kau tidak lagi menghukum kakakmu? Dia terlihat sangat frustasi.

Tidak! Batin Leo. Trisia sama sekali tak membantu meredakan amarahnya. Pesan dari gadisnya justru seolah menyiram bensin pada api yang menyala. Dengan geram, Leo melempar ponselnya hingga membentur dinding.

Leo memacu langkahnya untuk segera keluar dari rumahnya. Sudah beberapa hari ini ia benar-benar butuh pelepasan untuk kemarahannya.

“Leo, tunggu.” Harry menahan tangan Leo agar adiknya mau mendengarkannya. Hening, tak ada jawaban dari Leo. Bahkan lelaki itu enggan menoleh ke belakang untuk sekedar menatap wajah kakaknya.

“Leo, aku ingin bicara denganmu.”

“Katakan dengan cepat.” Ujar Leo ketus.

“Aku ingin minta maaf padamu. Aku memang bersalah padamu dan pada… Trisia. Ini hanya kesalah pahaman. Kau tak akan tahu bagaimana rasanya melihat ibu yang bersimbah darah di hadapanmu. Ketakutan itu sungguh tak bisa kuhilangkan hingga detik ini. Kemudian aku ingin membalas segalanya, dan Trisia…”

“Ya. Dan Trisialah korban kesalah pahamanmu. Apa kau tak tahu betapa menderitanya dia? Dengan perlakuanmu, dengan kata-katamu. Dan kau hampir menghancurkan kami karena keegoisanmu.”

“Maaf, aku…” Belum sempat Harry menyelesaikan kata-katanya, Leo menyentak tangannya hingga terlepas dari genggaman Harry. Ia sungguh tak tahan lagi. Ia harus segera pergi atau kepalanya akan benar-benar meledak.
***

Tidak ada balasan dari kekasihnya. Trisia membolak balik ponselnya dengan cemas. Ini sudah hampir tiga jam, bahkan telpon Trisia pun tak tersambung, tidak seperti biasanya. Apa yang terjadi? Batin Trisia. Beberapa kali ia ingin menghubungi Harry, namun keinginaan itu ia pendam.

Ini sudah hampir malam, tak juga ada kabar dari Leo hingga membuatnya benar-benar cemas. Akhirnya ia memutuskan untuk segera menghubungi Harry. Tepat sebelum ia menelpon Harry, sebuah panggilan dari Harry terpampang di layar ponselnya.

“Harry… Apa kau…”

“Tris, Leo kecelakaan…” Harry memotong kalimat Trisia. Trisia menutup mulutnya yang terbuka dengan sebelah tangannya. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Jantungnya seolah hendak keluar melalui tenggorokannya. Ia ingin bertanya ada dimana Leo sekarang, namun suaranya mendadak hilang.

“Dia ada di rumah sakit, dia… kritis.” Kata terakhir diucapkan Harry dengan nada lemah. Ponsel Trisia lolos dari tangannya, Trisia segera berjingkat pergi tanpa mengganti pakaian rumah yang dikenakannya. Pikirannya benar-benar kacau. Sudah beberapa hari ini Leo menjadi pemarah. Namun siapa sangka akhirnya akan menjadi seperti ini.
***
Ia melihat gadis itu berlarian dengan rambutnya tergerai berantakan. Celana pendek dengan kaos yang sedikit longgar membungkus tubuh rampingnya dan sandal rumah pink berbentuk babi masih melekat di kakinya. Ia pergi tanpa mengganti pakaiannya.

“Harry, di mana Leo?” Tanya Trisia disela napasnya yang terengah. Air matanya tak berhenti mengalir.

“Dia… di ruang ICU, dokter sedang memeriksanya.” Ujar Harry dengan suaranya yang bergetar. Air matanya tak lagi mampu dipendam oleh lelaki itu hingga lolos membasahi wajahnya. Namun buru-buru ia mengelapnya kemudian bergegas menarik Trisia menuju ruang di mana Leo berada.

Mereka sampai tepat setelah dokter keluar dari ruangan tersebut.

“Bagaimana dengan Leo?” Tanya Harry pada dokter yang rambutnya sudah mulai beruban.

“Kritis, kami tak bisa menjamin apapun.”

“Apa yang kau katakan? Sembuhkan adikku atau aku akan menghabisimu, sialan!” Ancam Harry emosi sambil menggenggam krah baju dokter tersebut.

“Harry sudahlah.” Trisia mencoba menenangkannya. “Bisakah kami menjenguknya?”

“Hanya satu orang dan hanya lima menit.”

Trisia memandang Harry untuk meminta persetujuan, Harry melangkah menjauh dari pintu sebagai kode agar Trisia masuk.

Air mata Trisia tak mampu terbendung lagi saat menatap wajah kekasihnya yang nyaris tak mampu dikenali. Alat bantu pernapasan masih terpasang pada tubuh lelaki itu. Ia meraih tangan Leo yang terasa dingin. Trisia mendekat dan mencium kening Leo dan air matanya menetes membasahi kelopak mata lelaki itu. Seketika monitor di samping Trisia menunjukkan flat line yang membuat kepala Trisia seolah dijatuhi godam.

“Dokter tolong…” Teriak Trisia yang kemudian disusul oleh dokter dan beberapa perawat termasuk Harry.

“Selamatkan dia.” Pinta Trisia panik, kemudian suster memintanya keluar. Harry memeluk Trisia dengan erat, mencoba menenangkan gadis yang tengah histeris tersebut.

“Bagaimana ini Harry? Aku tak ingin berpisah dengan Leo.”

“Leo pasti selamat Tris, kita harus tetap berdoa.”

Tak lama kemudian, dokter keluar dengan wajah kecewa yang seketika membuat jantung Trisia seolah berhenti berdetak untuk sejenak. Dokter menggeleng membuat Trisia seketika limbung.
***

“Leo…” Ujar Trisia sambil membuka matanya. Sesaat kemudian Trisia menangis histeris menyadari kenyataan bahwa Leo telah pergi. Harry segera masuk ke dalam ruangan tempat Trisia terbaring.

“Trisia, sudah Tris…” Harry memeluk gadis itu kembali menenangkannya. Hatinya terasa sakit karena kepergian adiknya dan melihat betapa hancurnya hati Trisia, gadis yang dicintainya. Ia tak tahu lagi apa yang harus di lakukan. Tak ada lagi pilihan untuk Trisia dan Harry kecuali merelakan segalanya. Dan memulai kehidupan mereka masing-masing.

Selasa, 08 September 2015

Red Lie - Chapter 15


Sayup-sayup terdengar suara kicauan burung yang bertengger pada pagar balkon kamar. Trisia memicingkan matanya, mencoba menyesuaikan pengelihatannya dengan cahaya matahari yang menerobos sela-sela tirai tebal berwarna hijau yang menutup kaca besar yang terletak tak jauh dari ranjang. Trisia menguap, merentangkan kedua tangannya untuk merenggangkan tulang-tulangnya, seluruh tubuhnya terasa sangat pegal.

“Aduh…” Suara parau seorang lelaki membuat mata Trisia terbelalak lebar dan segera menarik tangannya kembali. Leo. Ia benar-benar lupa bahwa lelaki itu berada di sampingnya sejak semalam. Trisia memiringkan tubuhnya, menahan kepala dengan sikunya yang bertumpu pada bantal. Ia memandang lekat-lekat lelaki di sampingnya yang masih teertidur pulas. Bulu matanya begitu lentik membuat Trisia memainkan jari telunjuknya pada bulu mata Leo.

“Hentikan. Apa yang kau lakukan?” Gumam Leo dengan matanya yang masih terpejam.

Trisia mendekatkan wajahnya dan mengecup pipi Leo, “Selamat pagi, pak Leo.” Goda Trisia, membuat Leo tersenyum dan menarik Trisia dalam pelukannya.

“Apa kau pikir kita sedang berada di kantor, bu Trisia?” Leo mengeratkan pelukannya. “Selamat pagi juga sayang.”

“Ah, sudahlah. Ayo bangun. Kita sedang di Belanda sekarang.”

“Lalu?”

“Tentu saja aku ingin jalan-jalan, Leo. Ini Belanda, tempat ibuku di besarkan.” Nada suara Trisia merendah. “Sudahlah, aku mau mandi. Kau harus bangun sebelum aku keluar dari kamar mandi.
***

Pagi ini begitu berbeda. Tak ada rasa bahagia yang melebihi perasaan bahagianya pagi ini—menatap gadis yang dicintaina saat ia terbangun. Senymnya tak berhenti berkembang ketika arah matanya terus mengikuti gadis yang sedang bersenandung riang hinga ia menghilang dibalik pintu kamar mandi. Entah mengapa perasaannya begitu baik namun ketakutan segera menyelimuti hatinya. Apa yang harus ia lakukan ketika kenyataan tak berpihak pada kisah cinta mereka?

Suara ponsel yang begitu nyaring membuyarkan lamunan Leo. Getarannya yang begitu kuat membuat ponsel di atas nakas itu hampir terjatuh dan membuat Leo harus bangun untuk menyelamatkan ponsel tersebut. Harry? Rasa ingin tahu Leo membuatnya penasaran. Sejenak Leo melirik pintu kamar mandi kemudian membuka isi pesan tersebut.

Bagaimana bulan madumu nona manis?  Apa menurutmu adikku juga semanis aku? Jangan lupa siapa dirimu. Kau dan keluargamu adalah biang keladi atas hancurnya keluargaku! Aku tak akan tinggal diam dan aku akan membuat hidupmu sengsara, jauh lebih dari ini!

Leo mendesah. Ia tak mungkin membiarkan Trisia membaca pesan itu, sehingga Leo memilih untuk menghapus pesan tersebut.

“Leo, aku sudah hampir selesai. Cepat bangun.” Teriak Trisia dari dalam kamar mandi.

“Iya sayang, aku sudah bangun.”
***

“Wow… aku benar-benar menginjakkan kakiku di Belanda.” Kata Trisia setelah menghirup udara sejuk Belanda. “Leo, berapa kali kau ke Belanda sebelumnya?”

“Aku ke Belanda?” Leo mengulangi pertanyaan Trisia. “Tak banyak, mungkin hanya tujuh atau delapan kali.

“Wow… fantastis.” Trisia bergumam dengan semangat. “Kau sungguh beruntung.”

“Begitulah. Pertama kali aku ke Belanda bersama ayah dan kakakku. Beberapa bulan setelah ibu meninggal.”

“Lalu?”

“Selebihnya masalah bisnis dan jalan-jalan bersama temanku.” Senyum khas Leo menghiasi wajahnya yang tampak segar pagi ini.

“Sungguh beruntung gadis itu.” Seulas senyum masam tersungging di bibir Trisia, kecemburuan melanda hatinya, namun Trisia berusaha untuk memendamnya.

“Gadis yang mana?”

“Yang pergi kemari bersamamu.” Kali ini Trisia tak mampu lagi menahan kecemburuannya. Menyadari hal itu, tawa Leo kian meledak.

“Bicara apa kau ini. Aku kesini bersama Adam. Kau masih mengingatnya?”

“Ah ya, tentu saja aku ingat. Dia laki-laki yang baik.”

“Begitulah. Dia memang orang yang baik. Sudahlah, apa kau akan terus menggenggam itu?” Tanya Leo menunjuk makanan untuk diberikan pada burung-burung yang beterbangan di depan mereka. “Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.”

“Tentu saja, aku akan memberikan ini dulu.”

Trisia melemparkan semua makanan burung yang ada di tangannya dan segerombolan burung pun menghampiri makanan tersebut. Bahkan ada yang sampai menabrak kepala Trisia, membuatnya berjerit kaget diikuti tawa lepas yang tak pernah ia tunjukkan pada siapapun sebelumnya.

Leo merasa begitu bahagia melihat raut wajah gadis itu yang tampak riang, bahkan tawanya yang begitu lepas membuatnya semakin terkagum-kagum pada gadis yang dicintainya itu. Namun kekhawatiran itu tetap saja muncul. Kekhawatiran akan kenyataan yang mungkin saja akan menghancurkan hatinya.

“Ah… maaf pak, aku tak sengaja.” Kata Leo dalam bahasa Inggris  ketika tak sengaja menabrak seseorang di belakangnya ketika ia berbalik.

“Tidak masalah.” Ujar seseorang itu dengan ramah. “Kau berasal dari mana?” Tanya seorang pria tinggi besar dengan rambutnya yang sebagian besar telah memutih.

“Aku dari Indonesia pak.” Percakapan mereka pun berlanjut dengan bahasa Inggris yang cukup fasih dari keduanya.

“Gadis itu pacarmu?”

Leo mengikuti pandangan mata pria itu. “Ya. Dia adalah gadis yang luar biasa.”

“Aku bisa melihatnya. Dia sangat cantik, nak,  jagalah dia baik-baik.” Pria tersebut menepuk pundak Leo sambil tertawa. Kemudian melangkah perlahan meninggalkan Leo.

“Siapa dia?” Tanya Trisia yang telah berdiri di hadapan Leo dan sempat melihat mereka berdua bercakap-cakap.

“Entahlah. Tadi aku tak sengaja menabraknya, kemudian kami berbicara sebentar.”

“Baiklah. Kau bilang ingin mengajakku ke suatu tempat?”

“Tentu saja. Kita akan berkeliling Belanda hingga malam. Apa kau siap nona?” Leo menengadahkan tangannya di hadapan Trisia.

“Tentu aku siap selama bersamamu, tuan.”
***

Tengah malam di tengah lelapnya tidur Trisia, ia merasakan ranjang yang bergerak-gerak sejak beberapa saat yang lalu. Trisia yang tadinya membelakangi Leo pun memutar tubuhnya menghadap lelaki yang tertidur di sampingnya. Lelaki itu menaikkan sebelah alisnya ketika Trisia menguap. Kemudian tangannya menyentuh dahi Trisia dan mengusap puncak rambut gadis itu. Leo terlihat gelisah.

“Trisia,” Tangan kanan Leo memainkan rambut Trisia yang tergerai menutupi wajah gadisnya. “Apa kau yakin akan melanjutkan semua ini?”

“Apa maksudmu, Leo?”

“Tentang ibumu.” Suara Leo terdengar ragu.

“Tentu saja. Kita harus menemuinya.”

“Tapi..” dia menggigit bibirnya, “apa yang membuatmu yakin untuk tetap melakukannya?”

“Lalu apa yang membuatmu takut untuk melakukannya?” Trisia balik bertanya. Rasa tak nyaman terlihat jelas pada wajah lelaki di hadapannya.

“Aku hanya khawatir akan mendapat kenyataan bahwa…”

“Kita adalah saudara kandung?”

Mereka terdiam, perasaan yang sama pun dirasakan pula oleh Trisia. Namun bagaimanapun juga ia harus mengetahui kenyataan itu meski berujung menyakitkan sekalipun. Sebelum semuanya semakin jauh.

“Jadi, apa akan kita lakukan besok pagi?” Leo mengangguk ragu menjawab pertanyaan gadisnya. “Semua akan baik-baik saja Leo,” katanya sambil menyelimuti Leo. “Tidurlah.”

Setelah itu mereka tertidur, lalu terjaga dalam waktu yang terasa hanya sepuluh menit bagi mereka berdua saat ponsel Leo berbunyi. Kepala Trisia terasa berdenyut sementara Leo berbicara dengan seseorang di telepon.

“Aku akan segera menemuinya. Terima kasih atas informasimu.” Kata Leo dalam bahasa Inggrisnya yang fasih kemudian memutus sambungan teleponnya.

“Siapa?”

“Mr. James. Dia telah berbicara pada ibumu dan memberitahukan kedatangan kita.”

“Baiklah aku kan mandi, kita berangkat sepuluh menit lagi.”

“Tidak Tris, jangan terburu-buru, kita akan bertemu ibumu satu jam lagi. Bersiap-siaplah.”
***
Uitstekend merupakan sebuah jalan dari pemukiman yang terletak di tepi sebuah kanal raksasa yang ramai dipadati penduduk yang menghabiskan hari libur mereka untuk berjalan-jalan di sisi kanal. Seorang gadis kecil dengan gaun pink yang tengah membawa keranjang bunga menarik pakaian Leo sambil mengatakan sesuatu dalam bahasa Belanda. Leo dan Trisia saling bertukar pandang dan mengerutkan dahi karena tidah memahami apa yang dikatakan gadis kecil tersebut.

“Maaf, kami tak mengerti bahasamu adik kecil.” Leo berjongkok untuk menyejajarkan tingginya dengan gadis itu. Gadis itu menyipitkan matanya dan menarik bibirnya, tersenyum sopan pada Leo.

“Maaf tuan. Ketika aku melihat nona itu,” arah matanya menunjuk Trisia, “Kupikir salah satu dari kalian akan mengerti bahasa kami.” Ujar gadis itu berbahasa Inggris sebisanya.

“Tidak, kami dari Indonesia.”

“Apakah tuan tidak ingin membeli bungaku untuk pacarmu yang cantik itu?” Gadis itu menyodorkan sebuket tulip merah segar pada Leo.

“Berapa harganya?”

“Harganya dua belas euro, tuan.”

“Baiklah adik kecil, aku akan membelinya.”

“Terima kasih tuan. Tulip merah berarti cinta yang abadi. Semoga kalian bahagia.” Kata gadis itu sambil melambaikan tangan pada Leo dan Trisia.

“Kau dengar Leo, cinta yang abadi. Semuanya pasti baik-baik saja.” Trisia menenangkan Leo yang merasa gugup sejak menerima telepon dari Mr. James tadi pagi. “Seperti kata gadis itu, cinta kita akan abadi.” Tambahnya.

“Begitulah, atau kemungkinan lainnya kita adalah saudara kandung dan cinta kita akan tetap abadi meski kita tak akan bersatu.” Nafas besar mengakhiri kalimat yang begitu menyesakkan dada Leo. Trisia menghentikan langkahnya.

“Kita tidak akan pernah tahu kenyataannya sebelum kita bertemu dengan ibu, Leo.” Trisia merasakan tangan Leo begitu dingin ketika ia menggenggamnya. “Jangan membuatku takut.” Ia menambahkan dengan lembut.

“Maafkan aku. Ayo kita cari tempat ibumu.”

Sebuah toko roti bernama Lekker yang terletak di ujung Uitstekend Street adalah toko roti yang didirikan oleh Calista delapan tahun yang lalu. Wanita itu memiliki dua orang anak hasil hubungannya dengan suami keduanya. Larry dan Carien yang masih berusia sekitar tujuh belas dan lima belas tahun.

Papan penanda berwarna cokelat yang dikelilingi dengan hiasan tali besar dengan tulisan Lekker semakin terlihat jelas di depan mereka berdua. Langkah Trisia semakin terasa berat, begitupun dengan Leo. Dengan jemari yang saling bertautan, mereka saling menguatkan, berharap semua memang akan baik-baik saja.

“Selamat datang.” Kata seorang gadis dengan rambut pirang yang berada di balik meja kasir. Menyadari bahwa tamunya adalah orang asing, gadis itu segera menggunakan bahasa Inggris. “Ada yang bisa kami bantu?”

“Tentu, kami mencari nyonya Calista.”

“Ada perlu apa dengan ibuku?” Tanya gadis itu ramah. Raut wajahnya berubah saat menatap Trisia. “Aku akan memanggilnya untuk kalian. Tunggu sebentar.” Kata gadis itu cepat tanpa mendengar jawaban mereka.

Seorang pramusaji berpotongan pendek mengantarkan dua cangkir teh dan dua potong kue ke meja Leo dan Trisia. Kemudian ia mengatakan sebuah kalimat yang sama sekali tak bisa dipahami oleh mereka berdua. Akhirnya mereka hanya mampu membalas kalimat pramusaji tersebut dengan sebuah senyuman.

“Ada apa kalian mencariku?” Tanya seorang wanita yang berdiri di belakang Trisia.

Wanita itu masih cantik. Sama sekali tidak berubah dengan wajahnya pada foto yang terakhir dilihat oleh Leo bersama ayahnya. Trisia segera berbalik untuk menatap pemilik suara itu. Tangannya segera menutupi mulutnya yang ternganga lebar.

“Apa ada yang bisa saya bantu?” Tanya wanita itu sekali lagi ketika tidak mendapatkan jawaban dari kedua tamunya.

“Saya Leo Ferdian, dari Indonesia.” Leo memperkenalkan diri. “Dan ini Trisia. Trisia Arissandy.”

“Trisia? Trisia Arissandi?” Tanya wanita itu begitu mendengar nama Trisia. Keterkejutan pun tak mampu ia sembunyikan dari raut wajahnya. Mata hijaunya berkaca-kaca dan segera ia memeluk gadis di hadapannya yang tak mampu meneteskan air mata barang setetes.

“Trisia anakku. Trisia anakku.” Kata wanita itu dengan bahasa Indonesia yang fasih. “Maafkan aku, nak.” Tangis wanita itu meledak, membuat para pelanggan memusatkan perhatian mereka pada pemilik toko dan gadis asing yang ada di pelukan Calista.

Setelah Calista tenang, ia mengajak Leo dan Trisia menuju rumah Calista yang terletak di lantai dua toko roti tersebut. Gadis yang berada di balik meja kasir masih memandangi mereka dengan heran dan bertanya-tanya mengapa ibunya bersikap berlebihan ketika melihat gadis itu. Ia pun segera menekan beberapa angka untuk menyambungkan pada ayahnya.
***

“Ini sudah sangat lama, nak.” Kata Calista yang wajahnya masih memerah sehabis menangis.

“Begitulah bu.” Meski Calista adalah ibunya, Trisia masih merasa canggung saat berbicara dengan wanita itu.

“Kau sudah besar sekarang. Kau tumbuh menjadi gadis yang cantik.”

“Ya ibu, tentu saja dengan hidup yang cukup sulit setelah kau meninggalkanku dan kakakku membuangku.” Rasa marah masih menggelayut di hati Trisia. Bagaimana tidak, ia seolah menjadi gadis yang tak diinginkan, bahkan oleh keluarganya sendiri.

“Rosa membuangmu? Keterlaluan sekali.”

“Apa bedanya denganmu, ibu?” Kalimat yang mampu menutup mulut Calista sekaligus menjadi tamparan keras untuknya.

“Ya, kau benar. Maafkan aku, nak. Berapa sekarang usiamu?”

“Lihatlah bahkan usia anakmu pun kau tak bisa mengingatnya bukan. Aku menginjak usia ke dua puluh dua tahun.”

“Aku memang salah, tolong maafkan aku, Trisia.” Calista memainkan jarinya untuk menghilangkan perasaan gugupnya. “Ah, Kenapa kau tak memperkenalkan Leo padaku? Apa lelaki tampan ini pacarmu, sayang?” Calista berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Ya, bu. Dia adalah pacarku.”

“Sudah kuduga. Kalian begitu serasi.”

“Dia adalah anak dari Haryo Ferdian. Apa ibu mengingat lelaki itu?”

Keterkejutan sekali lagi hinggap di wajah wanita itu. Rupanya nama lelaki itu cukup berkesan di hati Calista. “Tidak. Ini tidak boleh terjadi, nak.”

“Kenapa ibu?” Rasa panik pun mulai menghampiri Leo dan Trisia.

“Karena…”

BERSAMBUNG…

Jumat, 07 Agustus 2015

Red Lie - Chapter 14



“Aku mencintaimu…”              

Kalimat singkat yang membuat Trisia mempertimbangkan kepergiannya. Itu juga yang ia rasakan pada Leo. Cinta. Bahkan tanpa ia sadari, Leo telah merajai hatinya, membuat Tomi akhirnya tersingkir dari hatinya.

Setelah perjuangan yang cukup panjang, beriringan dengan ketakutan beserta kegelisahan yang terus melawan teguhnya pendirian. Segalanya menjadi teramat berarti setelah mempertimbangkan kenyataan yang terjadi, yang mampu membuatnya terpukul. Tanpa ragu lagi ia memutuskan untuk mengikuti Leo ke Belanda, meski ia harus meninggalkan surat pengunduran diri di meja bosnya.

Trisia telah mengencangkan sabuk pengaman dan untuk pertama kalinya ia menginjakan kakinya di dalam pesawat. Sebelumnya, ketika terdengar suara berdengung di langit, Trisia akan menengadahkan kepala, memicingkan matanya untuk melawan cahaya matahari. Lalu sebuah bongkahan besi yang terlihat sangat kecil akan melintasi kepalanya. Senyum samar menghiasi wajahnya ketika mengingat hal itu, membuat lelaki di sampingnya terus memerhatikan perubahan raut wajah gadis di sampingnya.

“Kau takut, sayang?” Leo menggenggam tangan Trisia, memandangnya dengan penuh perhatian. Tak bisa dipungkiri oleh Trisia, pesona Leo memang akan selalu menaklukkannya.

Trisia menggeleng, “Tidak, aku hanya mengingat sesuatu.” Trisia memandang lekat-lekat mata tajam Leo, kemudian pandangannya turun menuju bibirnya. Bibir yang manis…

Buru-buru Trisia mengembalikan arah pandangannya saat Leo berkata, “Apa kau teringat dengan apa yang dikatakan kakakku?”

Tidak. Trisia sama sekali tak memikirkan hal itu, namun Leo membuatnya kembali teringat sehingga mau tidak mau Trisia memang harus memikirkannya kembali. Memikirkan tentang kemungkinan itu. Trisia menggigit bagian dalam bibirnya, sekelebat adegan yang cukup buruk mengganggu pikirannya…

“Cuti? Berapa lama?” Tanya Harry sambil membuka berkas-berkas yang baru saja diantar oleh Trisia.

“Sekitar dua minggu, pak.”

“Untuk apa?”

“Saya ada keperluan, pak.”

“Oh… sudah jadi orang sibuk ternyata.” Sindir Harry. Pintu Harry kemudian terbuka tanpa diketuk terlebih dahulu membuat perhatian Harry dan Trisia tertuju pada orang yang muncul setelah pintu terbuka.

“Kupikir kau sedang tidak ada tamu.” Leo basa-basi kemudian mendekat dan duduk di samping Trisia yang tengah berdiri. “Api situasinya sedang tegang?” Tanya Leo mencoba mencairkan suasana, memandang Harry dan Trisia bergantian.

“Tidak, saya hanya…”

“Siapa suruh kau bicara?” Sergah Harry ketus. “Dia meminta cuti. Padahal pegawai yang masih bekerja kurang dari enam bulan dilarang mengajukan cuti,” jelasnya pada adiknya.

 “Dia ada urusan. Izinkan dia cuti.”

“Mengapa kau memintaku mengizinkannya? Kau lupa dia bekerja untukku?” Gerutu Harry. Hening. Tiba-tiba Harry menyadari sesuatu, “apa dia akan pergi denganmu?”

“Tidak.”

“Ya.” Jawab Trisia dan Leo bersamaan. Mendengar Jawaban Leo, Trisia memandang lelaki yang tampak tenang tanpa mencoba menyembunyikan kebohongan dari kakaknya yang mengerikan itu.

“Kau dan Trisia?” Harry meyakinkan. Kemudian Leo membalas dengan sebuah anggukan mantap.

Brak!
Harry memukul mejanya dengan keras. “Kau pikir apa yang kau lakukan?” Wajahnya merah karena amarah. Ia memandang Leo dan Trisia bergantian.

“Kau,” Harry menunjuk wajah Trisia, seolah telunjuknya adalah sebilah pisau yang siap mencabik-cabik wajah gadis itu. “Kau sama saja dengan ibumu. Penggoda! Dasar anak haram!”

“Kak, jaga bicaramu!” Leo menyela sementara Trisia hanya mampu membelalakkan matanya.

“A—apa maksud anda dengan…” Trisia menjeda kalimatnya, “…anak haram?”

“Kau adalah…”

“Kak, cukup!” Leo menyela, namun tampaknya Harry tak berniat menggubrisnya.

“Kau adalah anak ayahku dan selingkuhannya.” Harry menegaskan setiap kata dengan jelas, membuat Trisia terperangah mendengarnya.

“Tidak.” Gumam Trisia parau.

“Itu kenyataannya. Kau adalah anak haram.

“Tapi ini belum terbukti. Bukankah sudah kukatakan jaga mulutmu!” Leo mencoba menghibur Trisia dengan menyalahkan kakaknya.

“Dan sikapmu jelas kaudapatkan dari ibumu yang pelacur itu, nona.”

“Trisia. Apa yang kau pikirkan?” Suara itu seolah membawa jiwa Trisia kembali.

“Ah, tidak. Aku hanya berpikir tentang kita.”

“Semuanya pasti baik-baik saja.” Leo menggenggam tangan Trisia yang terasa begitu dingin.
***

“Selamat datang di Bandara Schipol, Amsterdam.” Suara pilot dari ruang kendali terdengar nyaring, disambut oleh seulas senyum di bibir Trisia. Setelah perjalanan yang menempuh sekitar empat belas jam tanpa henti, akhirnya  Trisia akan melihat indahnya Belanda, tanah kelahiran ibunya yang selama ini hanya mampu ia saksikan lewat siaran di televisi.

Trisia menoleh pada lelaki di sampingnya yang tengah tertidur pulas. Wajahnya tampak polos seperti anak kecil yang membuat Trisia ingin melindunginya. Gadis itu tersenyum kemudian mengecup pipi Leo hingga lelaki itu berjingkat, memandang Trisia dengan matanya yang masih memerah.

“Kita sudah sampai.” Ujar Trisia bersemangat.

“Aku tertidur cukup lama ya?”

“Kurasa begitu.”

Trisia menengadahkan kepalanya, menyaksikan bangunan tinggi bertuliskan “Schipol” yang amat besar yang dikelilingi oleh kaca-kaca yang memantulkan pemandangan di belakang Trisia. Bandara Schipol memiliki penampakan yang cukup indah. Berbeda dengan bandara yang pernah Trisia lihat sebelumnya.

Leo memerhatikan wajah Trisia, mata Trisia terpejam dan mengambil napas dalam-dalam untuk memenuhi paru-parunya. Leo meraih ponselnya, kemudian memotret wajah cantik Trisia tanpa sepengetahuannya.

“Buka matamu.” kata Leo dengan nada lembut.

Trisia membuka mata, mengarahkan pandangan matanya pada lelaki tampan yang sekali lagi mengambil fotonya. “Apa yang kau lakukan?”

“Aku hanya ingin mengabadikan dirimu, sebelum…” Leo menghentikan kalimatnya, berusaha menelan ludahnya yang terasa pahit.

“Sebelum kenyataan bahwa kita sedarah akan terbukti?” Trisia tersenyum kecut seolah mampu membaca pikiran Leo.

“Tidak, maksudku sebelum kau menyadari bahwa aku memotretmu. Spontan hasilnya lebih bagus, bukan?” Leo membantah meski memang hal itulah yang ada dalam pikirannya. Ia sadar hal itu akan membuat gadis di hadapannya bersedih.

Trisia melangkah, kemudian melingkarkan lengannya pada leher Leo, memeluk lelaki itu dengan erat. “Aku tahu bukan itu yang ingin kaukatakan. Hal yang samalah yang tengah mengganggu pikiran kita.”

Leo membalas pelukan Trisia, “Maafkan aku telah membawamu pada situasi yang lebih rumit.”
***

Sebuah hotel bergaya klasik menjulang di hadapan mereka. Pemandangan De Dam atau Dam Square yang pernah ia saksikan di televisi kini ada di depan matanya. Dengan segera ia putuskan, ia harus menyempatkan diri untuk memberi makan merpati disana.

Langkah Trisia mengikuti Leo menuju meja resepsionis. Matanya berkeliling ke penjuru ruangan yang sangat besar itu. Kemudian dari arah belakang, seseorang menabraknya hingga Trisia nyaris terjatuh. Beruntung Leo sempat memegangi lengan gadis itu.

Seorang pria tinggi besar mengucapkan kalimat aneh—mungkin bahasa Belanda. Nada suara pria itu seolah menanyakan sesuatu pada Trisia, namun Leo dan Trisia hanya saling bertatapan karena tak mengerti dengan bahasa pria tersebut. Buru-buru Leo menanyakan maksud pria itu dengan Bahasa Inggris.

“Kupikir nona ini orang Belanda. Maaf, aku tak sengaja. Apa dia baik-baik saja?” Tanya pria itu pada Leo dalam Bahasa Inggris yang segera diterjemahkan Leo pada Trisia.

“Dia baik-baik saja. Terima kasih.” Kata Leo menerjemahkan kalimat Trisia. Lalu Leo mengangguk sejenak sebagai tanda untuk berpamitan pada pria itu dan ia menarik tangan Trisia. Sementara mereka berjalan menjauh, pria itu masih berdiri di tempatnya, memerhatikan pasangan tersebut.
***

“Lantai tiga puluh?” Tanya Trisia ketika Leo menekan angka tiga puluh di lift. “Mengapa kau tidak memilih di lantai bawah?”

“Ini milik pamanku, dan beliau memiliki penthouse khusus keluarga di lantai paling atas.”

“Jadi hotel ini tiga puluh lantai?”

“Begitulah. Sekarang beliau membangun sebuah hotel lagi di Istanbul.”

“Wah… Keluarga kalian benar-benar luar biasa.”

“Itu karena kakekku telah mewariskan modal dan bakat pengusaha yang hebat.” Leo menjelaskan hingga lift telah terbuka di lantai tiga puluh. Mereka melangkah beriringan menuju ujung koridor dan Leo membuka pintunya.

“Beristirahatlah, ini kamarmu,” ujar Leo menunjuk sebuah kamar di dalam penthouse. “besok pagi kita memulai pencarian ibumu.”

“Lalu kau tidur dimana?”

Leo menunjuk sofa di belakangnya dengan ibu jarinya. “Disana.”

“Kenapa kau tidak masuk saja? Ranjang itu cukup besar untuk berdua.”

“Baiklah sayang,” Leo mengecup kening gadis yang kini menjadi miliknya. “Aku masih ada urusan sebentar. Begitu selesai, aku akan menyusul. Selamat tidur.”
***

Leo menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa, kemudian mengangkat kedua kakinya ke atas meja. Ia membuka kaleng minuman yang telah disediakan di lemari pendingin. Kemudian sesekali menyentuhkan kaleng dingin itu pada dahinya. Ia memejamkan matanya, mengistirahatkan sejenak matanya hingga sesuatu seolah menempa kursi di sampingnya.

“Apa yang kau pikirkan?” Tanya Trisia yang tiba-tiba duduk di samping Leo.

“Tidak ada, aku hanya tertidur. Kenapa kau disini?”

Trisia menyandarkan kepalanya di pundak Leo. “Apa pendapatmu jika kita memang benar-benar saudara?”

Hening. Leo tak tahu harus bagaimana menjawab pertanyaan Trisia. Yang jelas ia sama sekali tak ingin mendapati kenyataan bahwa mereka adalah saudara. Pikirannya begitu kacau, belum lagi Harry mengiriminya beberapa pesan singkat yang menyudutkannya. Ia tak begitu paham mengapa kakaknya begitu dendam pada Trisia meski bukan ia yang membuat ibu mereka meninggal.

“Entahlah. Atau kita kawin lari?” Canda Leo dengan cekikikan seperti yang sering dilakukannya selama ini. Tapi sejujurnya, ini bukan lelucon melainkan isi hati lelaki itu. Ia tak bisa memikirkan apapun selain kawin lari.

“Tapi apa kau tahu, jika kita tetap menikah, mungkin keturunan kita akan cacat?” Trisia menghela napasnya. Itu yang pernah didengarnya dari temannya.

“Kita bukan saudara.” Ujar Leo lugas.

“Mengapa kau begitu yakin?”

“Karena aku ingin menikah denganmu dan kita akan hidup bahagia bersama anak-anak kita.” Leo memberikan senyum lebutnya diikuti sebuah ciuman di puncak rambut Trisia. “Tidurlah.”