Jumat, 17 Maret 2017

Green Eyed - Chapter 11


ELENA POV
Aku tak akan mampu menerima keyataan bahwa Evan meninggalkanku. Aku terduduk lemas menatap dokter yang sedang berusaha mendapatkan Evan kembali. Aku merasa seperti berada dalam mimpi, suara riuh di sekitar tempatku berdiri pun tak mampu ku dengar,  seolah tuli dan bisu di saat yang bersamaan.

“… Lena… Elena…” Suara Nico perlahan merebut perhatianku. “Apa kau baik-baik saja?”

Aku menatap Nico, berusaha mendapatkan kesadaranku sepenuhnya. “Apakah kakak akan baik-baik saja?”

“Tentu, kami sudah mendapatkannya kembali, Elena. Kau tidak perlu khawatir.” Sahut Andre yang tiba-tiba berdiri di sampingku. Wajah lelaki itu tampak letih dengan dahinya yang berkeringat.  “Tapi tenang saja, kau tak perlu berterima kasih padaku. Aku adalah dokter terbaik di rumah sakit ini, kau bisa percaya padaku.”

Mau tak mau aku pun menyunggingkan sedikit senyumku pada dokter yang sangat percaya diri ini. “Tentu saja aku akan mempercayaimu.”

“Bagus. Emm... Elena, aku ingin mengajakmu makan malam, malam ini. Apa kau keberatan?” Ujar Andre sambil melirik Nico.

“Tentu saja dia keberatan. Kupikir kau cukup cerdas untuk memahami situasi ini. Bukankah kau bilang kau dokter terbaik di rumah sakit ini?” Sahut Nico dengan suara tegas.

Aku menatap Nico yang mengerutkan dahinya hingga membuat alis tebalnya nyaris menyatu. Aku segera menurunkan senyumku karena firasatku mulai memburuk.  Aku bergantian menatap Nico yang semakin meruncingkan pandangannya dan Andre yang menyeringai.

“Maafkan aku, tetapi kau tahu situasinya seperti apa sekarang, bahkan untuk makan saja aku tak berselera. Aku meminta pengertianmu.” Ujarku mencoba memecahkan keheningan yang mencekam ini. “Mungkin lain kali saja.”

“Tentu. Aku akan menghubungimu nanti.” Andre mengedipkan sebelah matanya padaku dan aku yakin hal itu membuat Nico semakin gusar.

“Untuk apa kau bilang lain kali? Seharusnya kau katakan saja kalau kau juga ingin makan denganya!”

Ku tatap Nico yang sedang menggerutu sambil melirik tajam ke arahku. Aku sedang tidak dalam kondisi yang cukup tangguh untuk mendebat pembicaraannya. Aku menghela nafasku lelah, menyisipkan rambutku ke belakang telinga, kemudian berbalik menuju ke ranjang tempat Evan tertidur.

Wajahnya tampak pucat degan lebam-lebam biru di sekitar wajahnya. Dahi, tangan dan kaki kanannya terbalut perban yang cukup tebal. Aku yakin itu akan membuatnya tak nyaman. Kugenggam tangan kirinya yang terasa dingin. “Bangunlah, kak, bukankah kau bilang kau masih akan melindungiku?”

Ingatkanku kembali melayang pada saat kami duduk di sekolah dasar. Saat itu teman-teman kami berkumpul di halaman belakang sekolah. Mereka bersorak, saling mendukung jagoan mereka. Bisa kupastikan mereka tengah beradu untuk memenangkan sesuatu. Hal itu membuatku bersemangat untuk bisa mendukung salah satu dari mereka.

“Ayo kita lihat, Silvia.” Seruku sambil menyeret Silvia yang ada bersamaku. 

“Tunggu… tunggu… Jangan, Len, aku takut. Kita bilang saja pada bu guru.” Tolak Silvia takut. Aku tahu bahwa perempuan yang memiliki tahi lalat di sudut matanya itu memang anti kekerasan. Dia begitu lembut hingga terkadang membuatku tak bisa mengajaknya untuk menemaniku di saat seperti ini.

“Ya sudah kalau takut, aku akan melihatnya sendiri.” Aku meninggalkan Silvia. “Awas, beri jalan, princess mau lewat!” Teriakku membelah keramaian teman-teman yang bergerombol.

“Giant… Giant… Giant!!!” Seru sebagian besar siswa yang bertaruh untuk kemenangan Giant, yang kutahu adalah nama panggilan salah seorang siswa senior bertubuh besar. Kemudian samar-samar kudengar minoritas suara menyerukan nama Evan untuk bertahan sehingga membuatku semakin kuat untuk menerobos tubuh-tubuh yang jauh lebih besar dariku.

Mataku terbelalak saat kulihat Evan tersungkur kesakitan. Akupun semakin kuat mendorong kerumunan itu hingga aku sampai tepat di belakang Giant. Aku melepaskan sepatuku dan melempar kepala Giant dengan sepatu.

“Hei, bocah gendut! Apa yang kau lakukan pada kakakku?” Teriakku setangguh wonder women.

“Wah… Princess kita sudah datang teman-teman. Hei, kau itu anak perempuan. Jangan ikut-ikut dengan masalah laki-laki. Nanti kau kena pukul.” Giant memperingatkan.

“Kau memukul kakakku, akan kulaporkan kau pada bu guru.” Teriakku sambil melempar sebelah sepatuku pada wajah Giant. Aku berlari menghampiri Evan, membantunya untuk berdiri. “Kakak kenapa tidak membalas? Ayo berdiri.”

Saat aku hendak membantu Evan berdiri, tiba-tiba seseorang mendorongku hingga aku terjerembap ke tanah. Saat itu Evan bangkit dan segera melempar tinjunya pada Giant.

“Kenapa kau melukai perempuan? Jangan ganggu adikku atau aku akan menghajarmu!”

Aku mengingatnya dengan jelas saat aku menangis keras karena lututku berdarah. Guru kemudian datang dan membubarkan gerombolan. Sedangkan Evan yang panik bergegas menggendongku yang sedang menangis meski aku merasakan bahwa kakinya sendiri terluka.

“Meski mama dan papa tidak ada, aku akan selalu melindungimu, Elena. Aku berjanji.”
***

NICO POV
Dia memejamkan matanya yang tampak mengeluarkan air mata. Mungkin ia tengah bermimpi buruk dalam tidurnya. Aku memerhatikan kakak beradik yang tampak saling melindungi itu. Terkadang aku berpikir, jika saja adik perempuanku masih hidup, dia akan tumbuh seperti Elena. Mungkin akupun akan melindunginya semampuku, sama seperti aku melindungi Elena.  

Terkadang sendiri membuatku sangat kesepian. Ibu dan adikku meninggalkanku bertahun-tahun yang lalu dalam sebuah kecelakaan mobil. Sempat pada suatu ketika aku menyesali kehidupanku. Hingga sampai saat ini aku penasaran, apa yang membuatku tetap hidup, sedangkan kecelakaan itu merenggut orang-orang yang kusayangi, ibu dan adikku.

Mereka bilang kita dapat merubah nasib, tapi tidak dengan takdir. Namun bagiku, apapun yang telah kita lakukan, itulah takdir kita. Meski saat itu aku berusaha menyelamatkan ibu dan adikku, tak akan ada yang berubah. Pada akhirnya aku tetap akan sendiri. Di saat seperti inilah, aku tahu betapa pentingnya orang terdekat yang akan mendampingi kita.

Jemari Evan perlahan bergerak dan membangunkan Elena yang telah tertidur cukup lama.

“Kakak…” Elena berseru girang, kemudian memencet tombol yang berfungsi untuk memanggil perawat. Dalam hitungan detik, seorang perawat memasuki kamar dengan terburu-buru disusul oleh seorang... dokter.

“Apakah ada perkembangan, Elena?” Tanya dokter sialan itu sambil menyentuh tubuh Evan dengan stetoskopnya.

“Jarinya bergerak.”

“Kenapa kau di sini?” Entah mengapa kehadiran lelaki itu membuatku sangat kesal, bahkan hanya mendengar namanya membuatku ingin memuntahkan lahar panas.

“Kau harus percaya padaku. Sudah kubilang, bukan, bahwa aku ini adalah dokter terbaik. Kakakmu sekarang berada dalam kondisi stabil. Sebentar lagi dia akan membuka matanya. Kondisinya akan pulih dengan cepat.” Lelaki itu menyentuh bahu Elena tanpa memedulikan pertanyaanku.

“Kurasa kau harus memperbaiki saraf di telingamu.” Aku benci melihat mereka melakukan kontak fisik. Tidak, ini bukan karena aku cemburu berlebihan. Tetapi kurasa dokter sialan itulah yang berlebihan. Dia hanya dokter. Di mana ada dokter yang megajak adik pasiennya kencan, padahal dengan jelas ia tahu adik pasiennya itu bersamaku. Lelaki itu sama sekali tidak menghiraukan kehadiranku.

“Apa kau sedang mengatakan sesuatu?” Dokter sialan itu akhirnya mulai mendengarku.

“Aku bertanya padamu apa yang kau lakukan di sini?”

“Aku melakukan tugasku sebagai seorang dokter terbaik di rumah sakit ini.” Nada suaranya terdengar mengejek, ditambah dengan tatapan menghina yang melukai harga diriku. Jika saja situasi ini menguntungkanku, aku akan menghajar lelaki ini hingga dia yang akan terbaring di ranjang menggantikan Evan.

“Jika kau merasa menjadi yang terbaik, maka lakukanlah segalanya dengan baik, termasuk jadilah dokter yang profesional.” Aku meraih tangan Elena, menariknya menjauh dari lelaki itu.

“Tawaranku masih berlaku, Elena. Aku akan menghubungimu jika saatnya sudah tepat.” Lelaki itu menatap Elena dengan senyuman yang hangat, kemudian senyuman itu berganti seringaian saat dia menatapku sebelum meninggalkan kamar Evan.

Jemariku mengepal dengan erat, menahan amarah yang rasanya semakin sulit ku bendung. Elena menyentuh jemariku, berusaha untuk mengurai kepalan tangan yang membuat buku-buku jariku memutih. Aku yakin ia tak menyadari betapa marah diriku saat ini. Aku mengacak rambutku, menoleh lemas ke arahnya dan menyandarkan kepalaku yang terasa sangat berat di bahu Elena.

“Tenanglah, aku tak akan memedulikannya. Aku hanya membutuhkannya untuk penyembuhan Evan. Hanya itu.”

“Aku tahu. Aku yakin padamu. Tetapi tingkah lelaki itu membuatku sangat kesal. Mungkin sebaiknya kau pulang, aku akan menjaga Evan.”

Elena menggeleng. “Bagiku kau dan Evan adalah orang-orang yang penting, aku tak akan meninggalkan kalian.” Usapan tangan kecil Elena di punggungku membuat amarahku sedikit demi sedikit mereda. “Apalagi kau tak akan bisa menjamin keamanan dan kedamaian di kamar ini jika kau bertemu dengan dokter Andre.” Lanjut Elena terkekeh.

Elena POV
Wajah lusuh dan kemeja kusut itu membuat penampilannya tampak berantakan. Lelaki itu tampak sangat lelah karena beberapa hari ini ia hampir tak pernah tidur di rumah. Ia selalu datang ke rumah sakit sepulang kerja dengan alasan ia tak ingin melihat dokter Andre menggodaku saat ia tak bersamaku.

Hari sabtu pagi yang seharusnya disambut dengan cuitan ceria burung gereja justru disambut dengan percikan air hujan yang membasahi kaca jendela kamar Evan. Sudah lebih dari dua jam hujan tak kunjung reda. Dinginnya udara di luar membuat Nico enggan bergerak dari dalam selimut hangat yang  membuatnya meringkuk seperti bayi.

Evan tersenyum memandangi Nico yang sesekali mengigau meski jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi. “Seharusnya dia bisa menghabiskan akhir pekannya dengan beristirahat di rumah.”

“Semalam aku menyuruhnya pulang, tetapi tetap saja dia menolak karena khawatir mengenai dokter Andre.”

“Aku juga merasa janggal dengan cara dokter itu menatapmu. Mungkin dokter itu memiliki perasaan kepadamu, dan aku yakin hal itu akan membuat Nico gusar.”

“Di pagi yang dingin seperti ini, rupanya kalian sudah membuatku panas dengan membicarakan lelaki itu ya.” Ujar Nico yang mulai beranjak dari sofa tempatnya tidur.  Nico berusaha membuka matanya yang mungkin masih terasa berat.

“Tidak sayang, cepatlah mandi, lihat kau sama sekali tidak keren.” Aku mencoba menggoda lelaki tampan yang tampak menolak segala kegiatan apapun di pagi yang dingin ini. Namun tanpa perlawanan, langkah malas lelaki itu menuntunnya menuju toilet, setidaknya untuk membasuh wajahnya.

Tepat setelah pintu toilet tertutup, pintu kamar terbuka, seorang dokter umum penanggung jawab Evan dan dua orang suster datang untuk mengecek kondisi Evan. Tak lama kemudian seseorang dengan kemeja keemasan yang tampak cocok dengan kulit putihnya masuk ke dalam kamar.

“Selamat pagi dokter Andre.” Sapa dokter umum yang ku ketahui bernama dokter Rio tersebut.  Lelaki itu tak menggunakan jas putih kebesarannya kali ini, sehingga ia tak tampak seperti seorang dokter, justru seperti seorang artis yang mengesankan.

“Selamat pagi. Bagaimana keadaanmu sekarang?” Tanya dokter Andre pada Evan.

“Sangat baik. Aku justru berharap agar bisa pulang hari ini juga.”

“Tentu saja, jika kau merasa lebih baik, dokter Rio akan mengeluarkanmu dari sini secepat mungkin.” Ujar dokter Andre dengan senyuman menawannya. “Elena, aku ingin bicara denganmu, bisa keluar sebentar?”

Aku mengernyitkan dahi, mencoba menerka hal sepenting apa yang akan dikatakan oleh dokter Andre hingga ia memintaku untuk bicara secara pribadi. Aku memilin-milin jemariku gugup, entah karena apa. Mungkin karena Nico. Entah apa yang akan Nico pikirkan jika saat ia keluar dari toilet aku tak berada di sana, dan entah apa yang akan dilakukannya jika ia tahu bahwa aku pergi bersama lelaki ini.

“Hmm…” Andre berdehem, memecah keheningan yang tercipta saat kepalaku bergulat dengan pemikiran tentang Nico.  “Tampaknya pacarmu itu setiap hari berada disini ya.” 

Aku mengangguk pelan. Lelaki itu menghela nafas, senyum miring di bibirnya seolah ingin menunjukkan bahwa ada sesuatu yang salah tentang keberadaan Nico. “Apa ada yang salah dengan itu?”

“Tidak, hanya saja aku ingin mengatakan bahwa selama ini aku menyukaimu.”

“Selama ini? Kurasa delapan hari kakakku dirawat di rumah sakit ini bukanlah waktu yang cukup untuk kau bisa memutuskan bahwa kau menyukaiku, dokter Andre.”

“Tidak, bukankah sudah kubilang aku sering melihatmu di rumah sakit ini sebelumnya? Dan lagi aku tak perlu membutuhkan waktu lebih lama dari delapan hari untuk dapat memutuskan bahwa aku menyukaimu.”

“Terima kasih atas perasaanmu kepadaku, tetapi kau tahu, aku menyukai orang lain.”

“Aku tidak memaksamu untuk balas menyukaiku, hanya izinkan aku untuk tetap menyukaimu. Dan aku akan senang jika kau memberiku kesempatan untukku agar selalu dapat bersamamu.”

Aku terkesiap mendengar pernyataan tiba-tiba itu. Meski Evan sudah memperingatkan padaku mengenai hal itu sebelumnya, namun aku masih tak ingin percaya. Bahkan aku sama sekali tak mengaggapnya serius.

Aku menarik nafas yang panjang, aku membutuhkan banyak tenaga dan oksigen untuk menanggapi percakapan canggung ini.  “Sebaiknya kau berhenti bercanda. Ini bukanlah sesuatu yang seharusnya kau ucapkan di lorong rumah sakit.”

“Begitukah? Apakah kita harus memulainya dengan makan malam bersama?”

“Tidak, bukan itu maksudku. Maksudku….”

“Elena.” Suara itu membuatku hampir terlonjak dari tempatku berdiri. Dengan cemas aku menoleh untuk menatap pemilik suara yang terdengar dingin itu. “Apa yang kau lakukan?” Tanyanya kemudian. Kutatap wajah dingin pria memesona yang berdiri di belakangku.

Aku menelan ludah, aura dingin yang dipancarkan lelaki itu tampak membuatnya begitu menyeramkan. “Tidak. Nick. Aku…”

“Tidak ada, dia tidak melakukan apapun. Aku hanya memintanya untuk memberi kesempatan padaku. tetapi dia menolakku.” Andre mencoba menjelaskan. “Tapi aku tak akan menyerah, aku akan berusaha lebih keras, Elena.” Lanjutnya.

Bisa kulihat dengan jelas bagaimana rahang Nico mengetat menahan amarah dengan tangan terkepal kuat, seakan hendak melayangkan tinjunya. Kilat penuh kebencian tampak jelas di mata gelap Nico.  Dengan sigap aku menarik lengan Nico sebelum perperangan terjadi, “Sudalah. Ayo bicara di dalam.”

“Kau… sudah kuperingatkan padamu untuk berhenti mendekati Elena. Aku akan membuat perhitungan denganmu!” Ancam Nico.
***
NICO POV
Di pagi yang dingin ini aku begitu merasa membara. Hanya sebentar saja aku meninggalkan Elena untuk mencuci wajahku, lelaki sialan itu telah mencuri Elenaku. Aku mengintip pada celah pintu yang terbuka, dan aku mendengarkan pembicaraan mereka.

“Terima kasih atas perasaanmu kepadaku,” Aku meyakinkan diriku sendiri bahwa apa yang kudengar adalah suara Elena. “tetapi kau tahu, aku menyukai orang lain.” Lanjutnya.

Bagus, dasar pria tidak tahu diri. Aku sudah memperingatkannya berkali-kali untuk menjauhi Elena, tapi tampaknya dia sama sekali tak mengindahkan peringatanku. Entah apa yang dipikirkan lelaki itu, tapi dia terlalu terang-terangan untuk perasaannya.

Aku terus mendengarkan sejauh mana percakapan mereka tentang sesi pernyataan cinta ini.  “Sebaiknya kau berhenti bercanda. Ini bukanlah sesuatu yang seharusnya kau ucapkan di lorong rumah sakit.” Ujar Elena tegas.

Segera kuterobos pintu dan berdiri tepat di belakang Elena. Lelaki sialan itu menatapku sejenak dan memberikan seringaian untukku. “Begitukah? Apakah kita harus memulainya dengan makan malam bersama?”

“Tidak, bukan itu maksudku. Maksudku….”

“Elena.” Kupotong pembicaraan mereka sehingga tatapan mereka berdua terfokus ke arahku. “Apa yang kau lakukan?” Kutatap Elena dan lelaki itu bergantian. Lelaki itu melempar seringai penuh hinaan kepadaku. Sungguh aku ingin menghancurkan wajahnya saat ini juga.

“Tidak ada, dia tidak melakukan apapun. Aku hanya memintanya untuk memberi kesempatan padaku. tetapi dia menolakku.” Lelaki itu mencoba menjelaskan. “Tapi aku tak akan menyerah, aku akan berusaha lebih keras, Elena.”

Aku tak pernah memiliki kesabaran yang cukup untuk menghadapi lelaki ini. Aku pun mengepalkan tanganku dan bersiap untuk melemparkan tinju untuknya. Tetapi di saat yang sama, Elena menarik tanganku.

“Ayo bicara di dalam.” Seru Elena menarikku menuju ke kamar Evan.
***
Evan menatap kami penasaran, seolah ia memiliki daftar pertanyaan yang cukup panjang untuk kami. Elena membuka lemari es dan menuangkan segelas air dingin yang kemudian ia berikan padaku.

“Untuk apa?”

“Minumlah.” Kata Elena singkat. Aku tahu dari nada suaranya bahwa ia sedang kesal saat ini. Tapi aku yakin rasa kesalnya itu tak akan melebihi rasa kesalku melihat mereka berduaan di lorong tadi.

“Yang benar saja, pagi yang dingin ini kau menyuruhku meminum ini?”

“Aku yakin kau kepanasan. Apa perlu kau kudinginkan dengan air ini kusiramkan ke tubuhmu? “

“Elena, jaga bicaramu.” Sahut Evan. “Sebenarnya apa yang terjadi?”

“Nico hampir saja memukul dokter Andre di depan tadi.”

“Karena aku tidak suka mereka memiliki sesi pernyataan cinta tanpa sepengetahuanku.” Aku yakin Evan akan berpihak padaku, mengingat kami dilahirkan dalam jenis yang sama. “Begitukah? Apakah kita harus memulainya dengan makan malam bersama?” Aku mencoba menirukan suara lelaki sialan itu.

Evan mengernyit, “Tunggu… Elena, apakah itu artinya kau sedang mencoba melakukan sesuatu dengan dokter itu?”

“Tidak kak, aku bersumpah.” Elena membela diri. “Nick, kenapa kau berkata seperti itu? Dia menyatakan perasaannya padaku, tapi aku menolaknya karena aku menyukaimu. Itu yang kukatakan padanya.”

“Lalu ada apa dengan makan malam bersama?” Tanyaku berpura-pura penasaran meski aku sudah mendengar hampir seluruh percakapan mereka.

”Saat itu aku sedang canggung dan tak tahu harus berkata apa. Lalu aku mengatakan padanya untuk tidak bercanda di lorong rumah sakit. Dan dia membalasnya dengan kata-kata seperti itu.” Elena menjelaskan dengan terbata-bata. Kulihat wajahnya mulai memerah dan air mata mulai membasahi matanya. Ia mengusap dengan cepat air matanya yang belum sempat menuruni pipinya. Dan hal itu membuatku sedikit melunak.

Aku beranjak dari tempat dudukku dan memeluk tubuh Elena. Aku menyadari mungkin memang aku sudah keterlaluan. Aku tahu apa yang terjadi namun aku masih saja menuntut penjelasan dari gadis itu.

“Maafkan aku. Aku mempercayaimu, Elena.”

“Tapi tidakkah kau merasakan sesuatu yang aneh pada dokter itu?” Tanya Evan menyela. Aku mengernyit untuk mencari tahu maksud perkataan Evan. “Menurutku dia terlalu kentara dalam menunjukkan perasaannya. Maksudku, dia tampak sengaja membuatmu marah meski kau berada di dekat Elena. Aku tak tahu apa tujuan dia sebenarnya, tapi apakah kau yakin jika lelaki itu hanya menyukai Elena seperti kau menyukainya?”

“Aku tidak mengerti maksudmu, kak.” Elena yang tampak penasaran mulai membuka suara.

“Entahlah aku merasa memiliki firasat yang aneh. Aku tak menjanjikan itu buruk, hanya saja aku merasa dia sangat janggal.”

“Apakah itu semacam dia seperti dokter gadungan?” Aku semakin tertarik dengan topik ini.

“Tidak, bukan seperti itu, aku rasa dia memang seorang dokter tapi kupikir dia memiliki maksud yang lain. Entalah, sebaiknya kau waspada, Elena.”


Bersambung…..


Kamis, 16 Maret 2017

Purple Maple (Sebelas)


SEKUAT tenaga, Kalila menahan kantuk yang menggelayuti kelopak matanya. Semalaman ia tidak bisa tidur. Sepanjang waktu ia selalu merasa ada yang mengawasinya. Maka ia menghabiskan waktu dengan memeriksa setiap sudut kamarnya. Beberapa benda tampak sedikit berubah posisi. Seperti urutan tatanan buku atau pakaian di lemarinya. Beruntung, tidak ada sesuatu yang dipasang di kamarnya, seperti kamera tersembunyi atau hal mengerikan lainnya.

Sekarang bukanlah saatnya ia memikirkan itu. Ia harus berjuang melawan pintu gerbang dunia mimpi yang mengundangnya. Apa pun yang terjadi, ia tidak boleh tertidur di kelas. Ia harus mendengarkan dosennya. Ia harus mencatat. Ia harus

“Kalila!”

Bentakan itu melintasi ruang kelas, menampar pendengaran Kalila. Seketika itu juga kantuknya lari terbirit-birit menyisakan keringat dingin yang membasahi kulitnya. Bersama debaran jantungnya yang semakin cepat.

Kalila menghela napas panjang sebelum menjawab tergagap. “Sa-saya, Pak?”

Sambil membetulkan letak kacamatanya, pria itu melangkah ke arah tempat Kalila duduk.

“Jadi seperti ini, kelakuan mahasiswi yang katanya diterima dengan nilai terbaik?” Kata-kata tajam itu meluncur lancar dari pria dengan rambut yang mulai beruban tipis itu.

Kepala Kalila tertunduk dalam. Kali ini bukan karena mengantuk, melainkan rasa malu dan penyesalan yang bercampur jadi satu.

“Sudah merasa hebat, ya? Sampai merasa pantas tidur di kelas saat saya mengajar?” Nada bicaranya datar tetapi telinga Kalila seperti ditusuk-tusuk.

“Saya mohon maaf, Pak.” Hanya itu yang bisa diucapkan Kalila.

Dosennya berdecak kesal. “Kuliah saya akhiri. Tapi kalau sampai hal serupa terjadi lagi, seluruh kelas akan mendapat hukuman.”

Hening. Hanya terdengar suara sepatu pantofel yang menapaki lantai. Suasana kelas berubah tegang seperti bisokop yang memutar film horor. Hingga akhirnya dosen mereka meninggalkan kelas, barulah seisi kelas bisa menghela napas lega. Lantas berbondong-bondong ke luar dari ruangan. Tidak sedikit yang menggerutu dan mengarahkan kesalahan kepada Kalila.

Sial. Kalila membenamkan wajahnya ke telapak tangannya yang sedingin es. Kepalanya terasa berdentam-dentam sekarang. Dan perutnya terasa mual.

“Kau baik-baik saja, Kal?” Suara Elliot terdengar khawatir. Saat ini hanya tersisa mereka berdua di dalam kelas.

Gadis itu mendongakkan kepalanya sedikit. Matanya menyipit. Entah mengapa cahaya di sekitarnya terasa sangat menyilaukan.

“Aku baik-baik saja.” Kalila mengangguk ringan sambil memaksakan seulas senyum.  “Terima kasih, Elliot.”

“Apa ada yang bisa kulakukan unt

“Hei, Lil Princess!” Seruan itu menginterupsi tawaran Elliot.

Serentak, mereka berdua menoleh ke arah pintu. Di sana tampak Diego yang melangkah memasuki kelas dengan dagu sedikit diangkat. Sementara tangan kanannya tersuruk ke dalam saku jeans birunya.

“Sudah kubilang, jangan memanggilku seperti itu,” protes Kalila lemah lantas melirik sekilas ke arah Elliot.

“Memang kenapa? Itu, kan, panggilan sayang kita,” balas Diego sambil menekankan sepasang kata terakhir dalam kalimatnya. Tanpa disadari Kalila, kedua matanya saling mengunci tajam dengan lelaki lain di ruangan itu. Dan bukan merupakan pandangan yang menyenangkan.

Untuk sesaat, Kalila merasakan perubahan suasana yang berbeda setelah Diego datang. Nyaris sama seperti suasana kelas saat dosen memarahinya tadi. Tetapi yang ini lebih berat. Seolah ada seutas senar yang kedua ujungnya ditarik kuat ke arah berlawanan hingga mencapai batas. Dan jika dipaksakan, senar itu akan putus dan menyakiti siapa pun yang ada di dekatnya.

Tetapi ia tidak ingin ambil pusing. Setahunya, Diego dan Elliot tidak saling mengenal. Jadi tidak ada alasan bagi mereka untuk saling bersikap seperti musuh. Kalila menduga itu semacam ritual antara penduduk Mars dalam pertemuan pertama mereka.

Karena yang ia butuhkan saat ini hanyalah tidur atau kopi. Ya, secangkir kopi pahit bisa membantunya meredam kepalanya yang seperti dihimpit batu besar.

“Apa benar dia pacarmu, Kal?” tanya Elliot pada Kalila. Walaupun matanya sama sekali tidak menatap langsung pada gadis itu.

Kalila mendenguskan tawa. “Dia ini

“Hei, hei, Lil Princess. Kau tampak kurang sehat,” sela Diego di antara jawaban Kalila. “Lebih baik kita segera pergi.”

“Ah, kau benar.” Kalila mengangguk setuju. “Aku butuh kopi.”

Sudut bibir Diego menyunggingkan seulas senyum kemenangan. Hanya sedetik. Tetapi Elliot bisa melihat itu sejelas melihat bintang di malam hari.

Kalila bangkit berdiri. Tas tergantung di bahunya. “Aku pergi dulu, Elliot. Sampai ketemu.”

Elliot melambaikan tangan sekilas seraya tersenyum. Kemudian ia terpaku memerhatikan dua punggung yang menjauh itu. Ia tidak bisa tinggal diam. Karena bagaimanapun, ia harus bisa mendapatkan Kalila dalam genggamannya.
***

Dari balik sudut dinding yang bersebelahan dengan papan pengumuman, seseorang memerhatikan kedua orang yang baru saja keluar dari salah satu ruang kelas. Ia menempelkan diri ke dinding berwarna kuning telur kocok itu, memastikan dirinya tersembunyi. Dan juga tidak berada dalam jalur yang akan dilalui orang yang sedang diperhatikannya.

Saat orang itu berjalan menjauh ke arah yang berlawanan, ia mengembuskan napas panjang. Astaga, dunia ini benar-benar tidak adil. Dilihat bagaimanapun, gadis itu selalu membuat ia terpukau.

Andai saja ia memiliki segala yang ada di diri Kalila.

Andai saja ia memiliki kekasih seperti kekasih Kalila.

Ah, andai saja ia adalah Kalila.

“Hei, hei! Sedang apa, Kal?”

Sebuah suara riang disertai tepukan di bahu membuatnya terlonjak kaget. Ia membalikkan badan dengan kedua tangan menempel di dada kirinya. Jantungnya sekuat tenaga memukulnya dari dalam sana.

“Astaga, Erin,” keluhnya begitu mengenali orang yang menyapanya.

“Oh?” gumam Erin dengan raut wajah bingung. “Ternyata kau, Val. Kukira tadi Kal.”

Valeria tidak mengatakan apa-apa. Dan membiarkan Erin mengamatinya dari atas sampai bawah.

“Penampilanmu... benar-benar mirip Kal,” ucap Erin secara spontan. “Rambut bob dan chukka boots

“Kurasa, itu semua bukan hanya milik Kal,” potong Valeria ketus. Kedua alisnya nyaris menyatu karena tersinggung mendengar komentar gadis berpenampilan serba ungu di hadapannya. “Memangnya dia punya lisensi legal untuk itu? Semua orang bebas memotong rambutnya dengan gaya apa pun.”

“Ya, ya, memang. Lagipula aku lebih suka kau daripada Kal,” gumam Erin menanggapi pembelaan diri Valeria yang terkesan berlebihan. “Sampai-sampai aku merasa lebih baik kalau Kal lenyap saja.”

Valeria tertegun. Entah mengapa, gumaman Erin itu terdengar mengerikan di telinganya.

“Lalu siapa yang sedang kau perhatikan dari sini? Apa itu  lelaki yang kau sukai?” tuduh Erin dengan nada bergurau. Nuansa muram yang tadi sudah hilang tidak berbekas. Gadis itu menjulurkan kepala mencoba melihat ke balik punggung Valeria.

“T-tidak. Bukan siapa-siapa

Tepat saat itulah, Erin melihat Elliot keluar dari salah satu ruang kelas. Dan seketika wajahnya kembali muram.

“Aku harap kau tidak bermaksud merebut Elliot dariku. Seperti yang dilakukan Kal.” Erin mengatakan itu dengan nada tajam tanpa repot-repot menatap lawan bicaranya yang kebingungan.

“Elliot? Siapa

Tanpa menjawab pertanyaan Valeria yang belum selesai, Erin sudah berjalan menjauh dengan ekspresi ceria. Setelah beberapa langkah, gadis itu melambaikan tangannya. Senyum lebar terpasang di bibirnya.

“Elliot!”

Lelaki yang dipanggilnya menghentikan langkah lalu menoleh. Tetapi tanggapan lelaki bernama Elliot itu tidak mengimbangi sikap ceria Erin. Bahkan nyaris datar. Mungkin susana hatinya sedang tidak baik karena kuliahnya barusan.

“Mau makan bareng?”

“Boleh.” Elliot mengangguk menyetujui ajakan itu. Lalu mereka berdua berjalan beriringan menuju pintu keluar gedung.

Sementara Valeria terpaku di balik persembunyiannya. Meragukan pernyataan Erin tentang Kalila. Bukankah hidup Kalila sudah sempurna? Hingga sanggup membuat orang lain iri. Termasuk dirinya.

Lantas, apa mungkin Kalila masih menginginkan milik orang lain?
***

“Kenapa kau tidak melaporkan itu ke polisi?”

Kalila menggeleng. Ia menggenggam gelas kertas dengan kedua tangan, lalu menyesap kopi sedikit demi sedikit. “Tidak ada barang berharga yang hilang atau rusak. Mungkin saja itu hanya pemeriksaan rutin dari pemilik kos.”

“Tapi itu tidak bisa dibiarkan. Bagaimana kalau kamarmu dipasangi kamera tersembunyi dan videomu saat sedang berganti pakaian disebar?”

Kalimat itu tentu saja membuat Kalila meirinding. “Jangan mengatakan hal yang mengerikan begitu.”

“Kau memang harus memikirkan kemungkinan mengerikan seperti itu.”

Kalila mengangguk. Tanpa diminta, kemungkinan itu sudah muncul lebih dahulu dalam benaknya. “Semalaman aku sudah memeriksa kamarku. Dan aku tidak menemukan benda-benda seperti itu,” sahut Kalila sambil mengernyit membayangkan ada seseorang yang diam-diam mengawasinya.

“Pindah saja ke apartemenku.”

Mata Kalila mendelik mendengar saran itu. Mana mungkin mereka tinggal seatap

“Kita bisa menjadi tetangga,” tambah Diego sebelum Kalila tersedak kopi. “Lagipula aku yakin kau cukup mampu untuk tinggal di tempat dengan sistem keamanan yang jauh lebih baik.”

Kalila menggeleng. Kehidupan mewah bukan lagi bagian dari dirinya yang sekarang. Ia takut jika berada berada di tempat yang tinggi, nanti ia jadi semena-mena pada orang yang berada di tempat yang lebih rendah darinya. “Aku tidak mau hidup seperti itu lagi.”

Alis Diego terangkat mendengar gumaman Kalila. Tetapi kemudian ia memilih untuk tidak peduli pada kehidupan seperti apa yang tidak lagi diinginkan gadis itu. “Lalu, apa rencanamu sekarang?”

Untuk sesaat Kalila terdiam. Gadis itu menyelipkan rambut ke belakang telinga. “Sebenarnya aku mau meminjam mobilmu. Boleh?”

Kening Diego mengernyit. “Memangnya kau mau pergi ke mana? Biar kuantar.”

“Jangan,” tolak Kalila sambil menggeleng. “Kau, kan, ada kuliah setelah ini.”

“Aku bisa bolos. Asal aku bisa memastikan kau tidak menyetir dalam keadaan seperti ini,” sahut Diego. Tatapannya terkunci pada wajah pucat dan lingkaran hitam disekeliling mata Kalila.

Wajah Kalila menghangat. Hanya sesaat. Karena detik berikutnya Diego menyambung kalimatnya dengan ucapan menyebalkan.

“Bukan apa-apa. Aku hanya takut terjadi sesuatu pada mobilku.”

 Kalila mencebik. “Tenang saja. Aku hanya ingin meminjam mobilmu untuk kamar darurat.”

“Kamar? Maksudmu, kau mau kita

“Aku mau tidur,” tukas Kalila cepat. Sebelum Diego bergurau melebihi batas kesadarannya. “Aku sangat mengantuk, oke? Kepalaku pusing. Jadi cukup dengan omong kosongmu.”

Alis Diego terangkat satu. “Jadi, begitu caramu meminta tolong? Sopan sekali, Lil Princess.”

“Jadi, kau mau meminjamkan mobilmu atau tidak?”

“Tentu saja aku mau.”

Kalila mengembuskan napas lega. Otaknya semakin terasa berat sekarang. Seolah ribuan jarum menancap di dalam kepalanya.

“Tapi dengan syarat kau harus ikut denganku ke suatu tempat di hari ulang tahunmu. Bagaimana?”

Telunjuk Kalila memijat-mijat keningnya dengan kesal. Tetapi kemudian ia menganggukkan kepala dengan pasrah.
***

Lory tiba di kampus sepuluh menit sebelum kuliahnya dimulai. Ia memarkir mobilnya tepat di samping sebuah sedan abu-abu gelap yang sudah sangat dihafalnya. Mobil miliknya tampak mencolok dengan warna shocking pink yang menarik perhatian.

Sebelum turun, gadis itu sengaja memeriksa penampilannya di cermin. Ia menambah pulasan merah di bibirnya yang tersenyum lebar. Kemudian ia meninggalkan mobilnya dengan langkah-langkah ceria menuju sedan di samping kanan mobilnya.

Lory mahir membuat penampilannya menarik perhatian. Ia mengenakan blus model terkini, jeans kurus berwarna biru, stiletto berwarna serupa warna mobilnya. Terdengar bunyi samar dari tiga buah gelang jade di tangannya setiap kali ia berjalan.


Tadi sekilas ia sempat melihat jendela mobil itu sedikit terbuka. Jadi ia berasumsi si pemilik mobil masih berada di dalam. Mungkin saja Diego sengaja menunggu kedatangannya agar mereka bisa datang ke kelas bersama.

Lory bisa melihat jelas seseorang sedang merebahkan kaki di jok penumpang bagian belakang. Astaga, romantis sekali. Diego sampai tertidur karena menunggunya. Lain kali sepertinya ia harus mempersingkat waktu berdandannya.

Gadis itu merunduk, bermaksud mengetuk jendela mobil. Dan ia tertegun. Matanya membelalak karena amarah. Benar juga. Sepasang kaki dalam balutan jeans itu terlalu ramping untuk ukuran kaki lelaki.

Tetapi dari semua orang di dunia ini, kenapa harus Kancil Genit itu yang tidur di mobil Diego?

Ingin rasanya Lory berteriak. Memukul keras kaca jendela mobil itu. Menumpahkan seember penuh tarantula berbisa ke dalam mobil. Menuliskan kata-kata cacian dengan cat semprot di kap mobil. Atau mungkin membakar dan mendorong mobil itu jatuh ke dalam jurang yang dalam. Bersama si gadis perebut itu di dalamnya.

Sedetik kemudian ia tersadar dari bisikan iblis dalam benaknya. Apalagi mengingat ia selalu kalah jika harus berdebat melawan kancil licik itu. Tangannya yang tadi membeku di depan jendela mobil, mulai bergerak dan membentuk kepalan. Ia mendesis sambil kembali menegakkan tubuhnya.

Maka, Lory berbalik dan berjalan menuju pintu fakultasnya. Setiap langkahnya menghentak  keras karena dibebani emosi. Hingga menarik perhatian orang di sekitarnya. Atau ia memang sengaja agar orang-orang memerhatikannya. Menyadari bahwa ia sedang marah. Ia berharap semua orang yang ditemuinya selama perjalanan ke kelas memiliki hari yang lebih buruk darinya.

“Hei, Lory. Ada apa?” tanya Jenna yang sudah hafal tabiat buruk temannya itu. Ia dan Sharon sudah tiba di kelas beberapa menit lebih awal.

Seolah tidak mendengar, Lory malah berdiri di depan kelas dengan tatapan yang menyapu ruangan. Setelah tidak menemukan apa yang dicarinya, ia bertanya, “Di mana Diego?”

Jenna dan Sharon kompak mengangkat bahu. “Entahlah. Aku belum melihatnya.”

“Mungkin belum datang,” tambah Sharon.

“Tapi mobilnya ada di tempat parkir.”

“Lantas, apa itu yang membuatmu kesal?” tanya Jenna masih dibuntuti rasa ingin tahu.

“Di dalam mobil Diego, ada orang itu.”

Kening Jenna mengerut bingung. “Siapa?”

“Kalila?” tebak Sharon dengan mudah.

Lory hanya menjawab dengan anggukan.

“Lalu, apa kau melakukan sesuatu seperti melabraknya?” tanya Sharon.

“Atau mencoret-coret mobilnya?” tambah Jenna dengan nada bergurau.

Kali ini, Lory menggeleng. “Aku ingin.” Sangat ingin. “Tapi aku tidak bisa melakukannya.”

“Jadi kau sudah menyerah?”

Lory tertawa sinis. Ia melipat tangan di depan dada. “Apa kau bercanda? Sejak kapan seorang Glorya mengenal kata menyerah? Itu tidak ada dalam kamusku.”

“Lalu apa yang membuatmu ragu?”

“Itu mobil Diego, tahu? Aku tidak mau melakukan hal buruk pada mobilnya.”

Tidak ada tanggapan dari kedua gadis di hadapan Lory. Mereka kompak bungkam. Dan detik berikutnya, ia baru menyadari penyebabnya saat seseorang datang bergabung ke dalam obrolan mereka.

“Memang ada apa dengan mobilku?”

“Diego,” sapa Lory seceria mungkin. Diikuti senyum terpaksa dari Jenna dan Sharon. Bahkan, ia mengamit manja lengan lelaki itu. “Kau sudah datang ternyata. Mau duduk di sebelahku lagi? Seperti biasa?”

Tetapi Diego tidak tertarik dengan pertanyaan itu. “Ada apa dengan mobilku?”

Hening. Tidak satu pun dari tiga gadis itu yang berani bersuara. Mereka seketika bungkam di antara hiruk pikuk mahasiswa yang bersenda gurau menjelang kuliah dimulai.

“Mobilmu, hem, catnya bagus,” ucap Lory sekenanya. Kurang tepat memang. Tetapi hanya itu yang bisa terpikirkan oleh otaknya saat ini. Mengalihkan perhatian. “Aku juga mau mengecat mobilku seperti itu. Bisa kau beri tahu aku salon mobil langga

Kata-kata Lory terputus. Tetapi ia bersyukur karena kedatangan dosennya membuat ia bisa menghindar dari pertanyaan Diego. Walaupun hanya untuk sementara.



Rabu, 01 Maret 2017

Green Eyed Chapter 10



NICO POV
Aku menatap kepergian mereka berdua. Seketika rasa kecewaatau marahbagaikan halilintar yang menyambar hatiku. Aku melaju dengan kecepatan tinggi membayangkan gadisku terpuruk sendirian di lorong rumah sakit, dan berharap aku akan segera tiba untuk dapat segera memeluknya. Tapi sepertinya aku berpikir terlalu jauh hingga membuatku jatuh.

Aku merangkul emosiku, menenangkannya dengan logika. Lalu berjalan menyusuri lorong rumah sakit berlantai granit tersebut. Kulihat tangan lelaki itu melingkar di bahu gadisku. Tanpa sungkan ia terus berjalan menuntun Elena meski gelagat Elena tampak enggan, hal itu membuatku resah.

“Hai bung, kurasa dia bisa berjalan sendiri.” Aku menarik tangan lelaki kurang ajar yang telah memeluk milikku sebelum emosiku menghancurkan segalanya.

“Maaf, aku hanya membantunya. Kakaknya baru saja mengalami kecelakaan, dan kurasa…”

“Jangan rasakan apapun. Sebaiknya kau segera kembali, pasienmu sudah menunggu. Kau harus bertanggung jawab sebagai dokter.”

“Aku lebih tahu apa yang harus ku kerjakan. Jangan mengajariku.” Ujar lelaki itu dengan nada santainya, “Ayo, Elena.” Ia kembali melingkarkan tangannya pada bahu Elena.

Aku merasa sudah cukup sabar menghadapi lelaki brengsek itu. Tanpa kusadari tanganku mengepal dengan erat. Menyadari itu, Elena memberikan jarak untuk lelaki itu.
“Terima kasih, aku bisa sendiri.” Ujar Elena yang kemudian berjalan menjauhi kami.

“Elena…” Panggil lelaki itu.

Aku mengacungkan jari telunjukku tepat di hadapannya, “Jangan kau berani dekati dia.”
***
“Apa yang terjadi?” Kuhampiri Elena yang duduk di kursi kayu di samping kasir kantin.

“Evan mengalami kecelakkaan dan pendarahan di kepalanya. Kondisinya masih kritis dan belum sadarkan diri. Aku menghubungi orang tua kami tapi tak satupun yang tersambung. Apa yang harus kulakukan?”

Aku terdiam sesaat, emosiku padam seketika berganti perasaan sedih menatap Elena yang tampak pucat. Air mata terus mengalir dari matanya.

“Aku akan mencoba menghubungi orang tuamu. Sudahlah. Aku yakin semua akan baik-baik saja, Elena.”

“Apakah ini adalah balasan untukku?”

“Cukup, Elena. Ini bukan balasan. Jika ini adalah sebuah balasan, maka bukan Evan yang terbaring di ruangan itu, tapi aku.”

Elena terdiam, menatapku dengan tatapan garangnya. Aku paham maksud gadis itu, tetapi aku memilih untuk berpura-pura tidak memahaminya. Hal itu kulakukan bukan tanpa sebab, aku yakin, jika aku meneruskan topik ini, dia akan semakin marah. Dan aku bertaruh hal itu sama sekali tidak baik untuknya, untukku, maupun untuk kenyamanan kantin ini.

“Kita tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi firasatku Evan akan segera siuman. Sebaiknya kau tenangkan dirimu.” Kucoba menenangkan gadis itu dengan memeluk pundaknya yang terasa semakin kurus.
***
ELENA POV
Aku menyandarkan kepalaku di dadanya. Aku mendengar jelas suara detak jantungnya yang terdengar kencang. Aku tahu pasti apa sebabnya. Jelas karena perasaan kesalnya pada Andre.

“Apa kau masih merasa kesal?”

“Untuk apa?” Tanya Nico yang kemudian mendorong tubuhku untuk menatapku.

“Kau cemburu?”

“Untuk apa aku cemburu?”

“Pembohong. Aku tahu kau cemburu dan kau kesal pada Andre karena sikap manisnya padaku. Bukan begitu?”
 “Apa kau merasa sikap lelaki itu manis? Kau suka dengannya?”

Aku tersenyum melihat sikapnya saat cemburu. Itu justru terlihat sangat manis bagiku. Selama ini aku tidak pernah melihatnya mengungkapkan secara langsung bahwa dia cemburu. Dia selalu bersikap keren di hadapanku.

“Kenapa kau tidak menghajarnya seperti yang terakhir kali kau lakukan?”

Lelaki itu tertawa.

“Kau ingin aku melakukannya? Cemburu buta dan mengobrak abrik ketenangan rumah sakit ini? Lalu satpam akan membawaku ke kantor polisi? Tidak Elena, aku sadar, aku sudah agak tua untuk melakukan hal kekanakan seperti itu.” Ujar Nico sambil menegaskan kata ‘agak’ pada ucapannya.

“Kenapa? Aku sering menonton dalam drama, ketika seorang lelaki cemburu, dia akan menghajar lawannya dan melindungi gadisnya. Kurasa hal itu akan menyenangkan.”

“Kau merasa seperti itu? Tapi itu adalah drama. Kerusakan yang ditimbulkan oleh perkelahian itu tidak akan dipermasalahkan. Lalu jika aku melakukannya? Jangan bercanda, Elena, aku hanyalah pegawai kantor pajak sekarang. Gajiku tidak sebesar saat aku menjadi direktur sementara di perusahaan ayah. Lalu berapa uang yang harus kukeluarkan untuk membayar kerusakan itu?” Kata Nico tertawa.

“Setidaknya aku senang mengetahui bahwa kau merasa cemburu.”

“Mungkin seharusnya aku tak perlu cemburu.” Aku mengernyitkan dahi mendengar pernyataan itu. Kutatap matanya dengan tatapan penuh tanya. Lelaki itu memandangku dengan melempar senyumnya padaku. “Cemburu adalah bagian dari perasaan. Dan seharusnya aku yakin bahwa perasaanmu padaku tidak akan pernah berubah. Jika aku merasa cemburu, bukankah itu berarti aku tidak percaya padamu?”

“Apa itu artinya kau tidak merasakan cemburu?”

“Aku merasakannya. Tapi kau tidak akan tahu.”

“Pembohong.”

“Kenapa sekarang kau menuduhku pembohong? Jika saat menonton drama kau tahu saat-saat lelaki itu cemburu hanya dengan melihatnya, kenapa kau tidak bisa melihat perasaanku? Kau menyebalkan, Elena.” Gerutu lelaki itu yang membuatku tersenyum geli.

Aku sadar, kami memang tidak sedang menjalankan skenario drama. Mungkin aku terlalu terbuai dalam drama-drama romantis yang sering kutonton. Dan realitanya kehidupanku tidak sesuai dengan apa yang seharusnya kuinginkan. Hal itu membuatku kembali teringat bahwa kecelakaan itu juga bukanlah sebuah drama. Aku tidak tahu berapa lama lagi aku bisa menghindar.


NICO POV
Entahlah, aku sudah mengendalikan diriku untuk bersikap lebih dewasa. Tetapi Elena selalu membuatku kesal. Aku mencuci wajahku untuk menghilangkan rasa kantukku. Aku kembali ke ruang tunggu di depan ruang ICU, ini sudah pukul empat pagi dan Elena masih terjaga di tempat duduknya. Wajahnya tampak murung dan pucat sambil sesekali ia memainkan ponselnya. Kurasa ia masih mencoba menghubungi orang tuanya.

“Halo, ma, Evan sedang kritis, tidak bisakah kau pulang? Aku sangat takut.” Ujar Elena yang tampaknya telah tersambung dengan ibunya. Aku menghentikan langkahku, membiarkannya memiliki ruang untuk berbicara dengan orang tuanya. Namun tampaknya pembicaraan itu tak berlangsung selama yang kuduga, Pembicaraan itu berakhir ditutup dengan tangisan pilu Elena.

“Apa yang terjadi?” Aku berlutut dihadapan Elena, menyibakkan rambut kusutnya yang menutupi wajahnya.

“Aku baru saja tersambung dengan ibuku, kami tidak banyak bicara.”

“Lalu?”

“Aku mengatakan bahwa Evan sedang kritis, tapi beliau masih ada proyek penting di Paris, lalu menyuruhku menghubungi ayahku.”

Aku sudah tahu bahwa ibu Elena adalah orang yang unik. Evan pernah menceritakannya padaku. Sebelumnya aku tidak pernah melihat ada seorang ibu yang tidak begitu memerhatikan anak-anak mereka selain ibu Evan dan Elena, dan satu lagi, ibu dari teman SMAku. Bahkan, Roby, ia tak sempat melihat ibunya di saat terakhir kematiannya.

“Aku yakin beliau akan segera kembali. Beliau akan menyelesaikan proyek itu terlebih dulu.” Aku mencoba menghiburnya.

“Kau salah, Nick. Itu artinya dia tak akan bisa pulang setidaknya satu atau dua bulan lagi.”

“Tapi…”

“Kau tidak mengenal ibuku, bukan? Aku dan Evan sudah sangat sering mendapatkan jawaban seperti ini. Dia bahkan tak peduli pada kami. Yang terpenting baginya adalah dia bisa memberikan uang pada kami. Sejak aku kecil, ibuku sudah sering meninggalkan kami hingga beberapa bulan. Hal itu sudah biasa.”

“Meski tak bisa menggantikan orang tuamu, aku akan menemanimu, Elena.”

Hanya itu yang bisa kukatakan padanya. Aku berdiri untuk mengambil duduk di sampingnya ketika tiba-tiba beberapa perawat datang menyerbu ruangan Evan. Pandangan kami tertuju pada ranjang Evan yang dikelilingi oleh beberapa perawat yang tampak panik, begitu pula dengan kami. Elena berteriak memanggil nama Evan saat seorang perawat menghalanginya untuk masuk. Seketika aku melihat elektrokardiograf yang berada di sisi ranjang Evan telah menunjukkan garis lurus, dimana yang kutahu itu adalah sebuah pertanda buruk.


Bersambung…