Kamis, 25 Desember 2014

Guardian


Semerbak aroma bunga yang berwarna-warni menyeruak di udara. Gita berjalan memasuki toko bunga yang memajang bunga-bunga dengan begitu cantik. Terdengar suara berdenting saat gadis itu mendorong pintu kaca. Seorang pramuniaga yang ramah datang menyambut lalu membantunya memilih bunga.

Sambil menggenggam sebuket bunga lily putih di depan dada, Gita melanjutkan perjalanan pulang dengan langkah ceria. Lengkungan senyum merekah di wajah cantiknya. Tidak akan ada yang pernah menyangka bahwa pernah ada goresan luka yang amat dalam di hati gadis itu.

Saat Gita berusia lima tahun, ia dan keluarganya mengalami sebuah kecelakaan mobil yang menewaskan ayah, ibu, dan kakaknya. Tapi entah bagaimana keajaiban terjadi sehingga hanya ia yang selamat dari kecelakaan itu. Keajaiban itu menjadi anugerah sekaligus kesialan bagi Gita yang harus sendirian  menjalani hidupnya.

Setelah kecelakaan itu, Gita yang sebatang kara tinggal di sebuah panti asuhan. Pada awalnya, Gita datang sebagai gadis penyendiri dan murung. Ia lebih sering menangis daripada bermain dengan anak-anak seusianya di sana. Tapi suasana kekeluargaan yang hangat mampu membuat Gita menyembuhkan kesedihannya dan tumbuh menjadi gadis yang ceria.

Gita meninggalkan panti asuhan itu lima tahun lalu. Saat itu ia diterima kuliah di sebuah universitas negeri di kota tempat ia tinggal saat ini. Ia menjalani kehidupan sebagai mahasiswa yang aktif. Sikapnya yang supel dan ceria membuat Gita begitu dikenal teman-temannya. Ia juga sempat menjalin hubungan spesial dengan seorang lelaki. Hidupnya terasa begitu lengkap. Tapi dua tahun yang lalu lelaki itu menghilang begitu saja. Meninggalkan Gita tanpa kabar apa pun.

Hati Gita sangat terluka saat itu. Tentu saja. Perasaan sedih dan kesepian yang dulu pernah sekuat tenaga ia singkirkan dari hatinya, tiba-tiba kembali. Tapi kali ini ia bisa dengan cepat menyembuhkan luka itu. Hanya saja goresan kecewa membuat pintu hatinya tertutup untuk lelaki mana pun.

“Gita.”

Telinga Gita menangkap sebuah suara maskulin yang menyebut namanya. Ia menghentikan langkahnya lalu berbalik. Saat melihat siapa yang memanggilnya, wajah gadis itu berubah pucat pasi. Kedua tangannya yang memegang buket bunga mendadak gemetar. Sekujur tubuhnya seakan mematung seperti habis melihat hantu.

Lelaki itu berdiri di sana.
Lelaki yang paling tidak ingin ia temui.
Lelaki yang sudah mencuri hatinya lalu meninggalkannya.
Lelaki bernama Gabriel.

Gita sangat membenci lelaki ini hingga tidak ingin lagi melihat wajahnya. Ingin rasanya ia berteriak minta tolong. Tapi apa daya, mulutnya seakan membungkam suaranya. Saat ini yang bisa dilakukannya hanyalah berlari menjauh. Tapi kakinya membeku dan berat seperti batu.  Berlarilah kaki bodoh! Gita terus menerus merutuk dalam hatinya.

Sementara lelaki itu mulai berjalan perlahan menuju tempat Gita berdiri. Bunyi sepatu pantofel hitam yang mengetuk aspal terdengar sumbang di telinga Gita. Tidak banyak perubahan berarti yang tampak pada lelaki itu. Hanya pipinya yang tampak lebih tirus dari terakhir kali mereka bertemu.

Gita menggigit bibirnya. Rasa sakit yang ditimbulkan menyadarkan gadis itu bahwa ini bukan saat yang tepat untuk mengingat kenangan sialan itu. Ia harus segera pergi dari hadapan Gabriel.  Tidak sedikitpun ada keinginan di hati Gita untuk bertemu apalagi mendengar suara lelaki itu lagi. Hatinya sudah terlalu sakit.

Kini Gabriel sudah berdiri menjulang di hadapan Gita dengan ekspresi tak terbaca. Lelaki itu membuka mulutnya sedikit seperti hendak mengatakan sesuatu. Tapi tiba-tiba Gita yang panik melemparkan buket bunga yang digenggamannya ke arah lelaki itu lalu berlari sekuat tenaga.

Lelaki itu hanya berdiri terperangah dengan tindakan yang sama sekali tidak ia duga itu. Sebuket bunga menghantam dadanya lalu jatuh ke dekat kakinya. Ia merunduk dan memungut bunga dari atas aspal. Matanya menatap nanar ke arah Gita yang terus berlari menjauh.

Gabriel tahu Gita tidak akan memaafkan dirinya semudah itu. Meninggalkan gadis yang dicintainya tanpa kabar dan sebab yang jelas merupakan kesalahan terburuk yang pernah dilakukannya. Ia sangat menyesal. Tapi keadaan saat itu meletakkannya dalam posisi yang rumit.

Kaki Gabriel melangkah ke arah mobil yang diparkir tidak jauh dari sana. Tadi ia sengaja menunggu di jalan yang biasa dilalui Gita saat pulang dari kantor. Ia menghibur hatinya sendiri dengan meyakini bahwa kali ini bukan saat yang tepat untuk menemui gadis itu.

Sabar. Benar juga. Bersabarlah, Gabriel. Mungkin ia harus menunggu sebentar lagi. Setidaknya saat ini Gita sudah mengetahui bahwa Gabriel telah kembali untuknya. Lagi pula ia sudah memiliki semua data mengenai gadis itu.

* * *
Semua lampu dalam ruangan itu dalam keadaan padam. Cahaya rembulan menyusup sedikit melalui celah yang bisa dilalui. Dalam suasana temaram itu, Gita meringkuk di atas tempat tidurnya. Duduk meyandarkan punggungnya ke dinding yang dingin. Gadis itu memeluk kedua lututnya. Pakaian kerjanya masih melekat walau sedikit kusut. 

“Aku mencintaimu, Gita. Sampai kapan pun aku akan selalu menjagamu.”

Tubuh Gita gemetar karena isakan demi isakan yang semakin terdengar jelas. Kata-kata yang dulu selalu diucapkan lelaki itu kembali terngiang. Pertemuan yang mengejutkan sore tadi sudah membuat luka di hati gadis itu kembali terbuka. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Gabriel masih punya muka untuk datang menemuinya. Tapi setelah dua tahun berlalu, untuk apa lelaki itu datang kembali?

Sekuat tenaga Gita mencoba melupakan Gabriel. Berusaha untuk tidak mencari tahu keberadaannya walaupun ia ingin. Maka, ia memilih untuk menyibukkan diri dengan kegiatan apa pun yang ia mampu. Beruntung, usahanya itu berhasil. Ia bisa menyelesaikan kuliahnya tepat waktu. Bahkan datang surat panggilan dari sebuah perusahaan ternama yang memintanya bekerja di sana. Gita tidak menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Hingga saat ini sudah hampir setahun ia bekerja di perusahaan itu.

Gita kembali menangis tersedu-sedu. Kenangannya bersama Gabriel dalam benaknya muncul silih berganti seperti potongan-potongan film tak beraturan. Semua kenangan yang setengah mati ia coba lupakan dalam dua tahun terakhir. Tapi kemunculan Gabriel di hadapannya sudah menghancurkan segalanya.

Pertama kali Gita berkenalan dengan Gabriel adalah saat mereka menjadi panitia untuk sebuah acara di fakultas. Gabriel yang saat itu merupakan seniornya, ditunjuk menjadi ketua panitia. Setelah itu, mereka menjadi semakin akrab hingga akhirnya menjadi sepasang kekasih.

Banyak gadis yang merasa iri kepada Gita karena ia berhasil mendapatkan hati Gabriel yang tampan. Wajah lelaki itu memang memiliki komposisi tepat yang merupakan perpaduan antara Spanyol dan Indonesia. Di samping penampilan fisik yang menawan, Gabriel juga dikenal sebagai lelaki yang setia. Tidak pernah sedikit pun lelaki itu tampak mendekati gadis selain Gita.

Tapi lelaki itu meninggalkan Gita tanpa kabar.

Gita semakin merapatkan pelukan untuk dirinya sendiri. Ia menyadari bahwa ia hidup di dunia ini sebatang kara dan akan seperti itu selamanya.  Tapi ia tidak ingin membiarkan dirinya terpuruk jatuh dalam lumpur kesedihan yang mendalam. Itu tidak akan terjadi. Tidak untuk lelaki mana pun. Tidak untuk bajingan seperti Gabriel.

* * *
Cahaya matahari yang hangat menelusup masuk melalui ventilasi ruangan. Gadis yang masih terlelap itu perlahan membuka matanya. Ia bangun lalu duduk di tepi tempat tidurnya. Entah kapan ia terlelap, tapi efek yang terjadi di pagi hari ini benar-benar buruk. Matanya bengkak. Tenggorokannya terasa kering. Kepalanya sakit seperti ditusuk-tusuk jarum.

“Jam berapa sekarang?” gumam Gita dengan suara parau.

Gadis itu melirik jam di kamarnya sambil menutup mulutnya yang menguap lebar. Astaga! Rasa kantuknya hilang dalam sekejap. Gita bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Bisa-bisa ia datang terlambat ke kantor jika terus bergerak seperti siput.

Jarak ke kantor tempat Gita bekerja memang cukup dekat. Dalam waktu kurang dari limabelas menit, ia bisa tiba di kantor dengan berjalan kaki. Tapi dalam waktu yang sempit seperti ini, Gita tidak mungkin bisa merasa santai. Ia ingin datang ke kantor dengan penampilan rapi dan suara yang tidak serak. Gadis itu masih menyempatkan diri untuk menyeruput secangkir teh hangat sebelum akhirnya berangkat ke kantornya dengan setengah berlari.

Baru saja Gita melangkahkan kakinya di jalan utama saat tiba-tiba sebuah cengkraman kuat di tangannya mengehentikan  langkahnya seketika. Ia ingin berteriak. Tapi suaranya tercekat saat menyadari bahwa tangan Gabriel yang sedang mencengkram kuat tangannya saat ini.

“Gita, ada yang ingin aku bicarakan,” kata Gabriel dengan datar tanpa ekspresi.

Gita memandang Gabriel dengan pandangan penuh kebencian. “Tidak! Aku harus pergi bekerja sekarang!”

“Aku mohon, Gita. Dengarkan aku dulu.” Suara Gabriel sedikit meninggi sekarang. “Aku tidak pernah memintamu untuk memaafkan semua kesalahanku padamu. Aku menyadari bahwa aku tidak pantas untuk itu. Aku hanya memintamu untuk mendengarkan.”

“Aku menolak. Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Sekarang lepaskan aku!” Gita meronta dan menarik tangannya dari Gabriel. Tapi lelaki itu malah memperkuat cengkramannya. 

“Aku tidak akan melepaskanmu sampai kau bersedia mendengarkan aku!”

“Brengsek kau! Lepaskan aku! Kau menyakiti tanganku!” jerit Gita sambil terus meronta.

“Aku tidak akan membiarkanmu pergi! Aku ingin kembali bersamamu. Aku ingin selalu menjagamu... seperti dulu!” 

Gita merasakan sakit saat mendengar perkataan Gabriel. Hal itu mengingatkannya kembali pada kenangan mereka berdua. Gadis itu sudah berhenti meronta sekarang. Tapi tubuhnya bergetar karena air mata yang tidak bisa ditahan lagi.

“Aku sudah melupakan semua kebersamaan kita. Aku bahkan sudah menganggap kau tidak pernah hadir dalam kehidupanku!”

Sengaja Gita mengatakan itu untuk membuat Gabriel mengerti seperti apa rasa sakit yang ditanggungnya. Tapi ternyata dampaknya di luar dugaan Gita. Wajah lelaki itu berubah pucat luar biasa. Seperti ada yang menghantam kuat tepat di jantungnya. Perlahan Gabriel melonggarkan pegangannya di tangan Gita.

Seperti tidak ingin kehilangan kesempatan yang berharga, Gita segera menarik kuat tangannya. Ia memacu langkahnya cepat untuk menjauh. Tanpa Gita sadari, sebuah mobil tengah melaju ke arahnya. Sedetik kemudian ia merasakan sesuatu yang keras menghantam tubuhnya. Bunyi klakson dan rem yang berdecit menghantarkan tubuhnya jatuh berdebam di atas aspal.

Gita merasakan rasa sakit luar biasa yang seolah menelan habis kesadarannya. Mungkin ini sudah saatnya ia kembali berkumpul dengan keluarganya di surga. Di tengah kesadaran yang terus menipis ia masih bisa mendengar suara Gabriel meneriakkan namanya.

* * *
Gita perlahan membuka mata. Langit-langit yang putih menyambutnya. Bau obat dan rumah sakit begitu memenuhi udara di sekitarnya. Ia mengernytikan dahinya lalu mulai merasakan genggaman yang hangat di tangannya. Gadis itu menggerakkan kepalanya dan bertatapan langsung dengan Gabriel. Lelaki itu duduk di samping tempat tidurnya dengan penuh khawatir.

Apa Gabriel menangis? Pertanyaan itu yang muncul seketika dalam benak Gita saat melihat mata lelaki itu yang tampak basah. Tapi sedetik kemudian ia tertawa sinis dalam hatinya. Mana mungkin lelaki seperti Gabriel menangis, huh? Mungkin ini hanya efek dari pandangannya yang masih terasa kabur. Lelaki yang tak memiliki hati seperti Gabriel mana mungkin menangis apa lagi untuk gadis bodoh seperti dirinya.

Gabriel mengecup jemari Gita dengan lembut. “Syukurlah kau sudah sadar.” Entah mengapa suaranya terdengar serak. “Aku menyesal tidak bisa menjagamu dengan baik.”

Gita merasa muak. Ingin rasanya ia menarik tangannya dari Gabriel lalu berlari pergi. Tapi apa daya, tubuhnya masih terasa sangat lemas dan tak bisa leluasa digerakkan.

“Apa yang terjadi?” gumam Gita saat merasakan kepalanya berdenyut-denyut. Ia memegang kepalanya yang dibalut perban.

“Kau mengalami kecelakaan.” Wajah Gabriel sedikit meringis saat teringat kejadian mengerikan yang terjadi di depan matanya tadi. “Sebuah mobil menabrakmu. Tapi syukurlah, dokter bilang, tidak ada luka yang serius. Kau hanya perlu istirahat. Aku juga sudah menelepon ke kantor  dan meminta izin untukmu.”

Gita menghela napas lega saat mendengar semua itu. Walaupun sedikit ada perasaan sedih yang mengganjal karena itu berarti ia tidak jadi berkumpul dengan keluarganya. Ia harus kembali merasakan kesendirian di dunia yang luas ini.

“Gita.” Gabriel menyebut nama gadis itu dengan begitu lembut. “Aku tahu ini bukan saat yang tepat untuk membahas hal ini. Tapi aku ingin kau mendengarkan aku.”

Hening. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut Gita. Dan Gabriel merasa tidak tahan dengan suasana yang menyiksa itu. Ia menghela napas panjang lalu berkata, “Aku mencintaimu, Gita. Sungguh. Kau mungkin tidak akan percaya karena apa yang sudah aku lakukan padamu. Tapi dua tahun yang lalu aku benar-benar berada dalam posisi yang... rumit.”

Gita memilih untuk tetap bungkam. Ia memejamkan matanya. Berusaha menghalau air mata yang nyaris menetes ke pipinya.

“Aku tahu kau tidak akan dengan mudah memaafkanku. Lagi pula aku juga tidak pantas untuk dimaafkan.” Gabriel tersenyum pahit di dalam kata-katanya. “Aku hanya ingin kau mendengarkan. Setelah itu kau boleh pergi kemana pun dan menemukan lelaki yang lebih baik. Jangan pernah lagi kau pergi seperti tadi. Melihatmu jatuh tergeletak... membuatku... membuat jantungku seakan berhenti berdetak.”

Gita tertegun. Melalui tangan Gabriel di tangannya, ia merasakan tubuh lelaki itu gemetar menahan perasan. Ia memberanikan diri menatap Gabriel. Tapi lelaki itu sendiri justru sedang menundukkan kepala. Matanya menerawang seperti sedang mengingat masa lalu.

“Dua tahun yang lalu, sebenarnya aku berniat... untuk melamarmu.” Gabriel mengigit bibir bawahnya dengan gugup. “Kedua orang tuaku di Spanyol sudah menyetujuinya tapi mereka ingin bertemu langsung denganmu. Saat itu aku langsung membeli tiket untuk kita berdua ke sana. Tapi sebuah peristiwa terjadi sehingga aku mempercepat kepulanganku tanpa sempat mengatakan atau berpamitan padamu.”

Gabriel mengangkat wajahnya. Lelaki itu menatap Gita dengan mata hijaunya. “Apa kau mendengar, berita tentang gempa bumi yang melanda Spanyol dua tahun yang lalu? Keluargaku menjadi korban bencana itu. Kedua orang tuaku meninggal, sementara adikku terluka parah karena tertimpa puing-puing bangunan. Dia koma selama hampir sebelas bulan.”

Gita kembali tertegun. Jantungnya seperti diremas saat mendengar fakta yang dipaparkan Gabriel. Ia tahu benar bagaimana rasanya ditinggalkan seperti itu. Ingatan saat kecelakaan yang merenggut keluarganya, muncul dalam benaknya. Kali ini, Gita menggenggam hangat tangan Gabriel. Ia ingin menyalurkan semangat ke dalam hati lelaki ini.

“Lalu, kenapa kau tidak pernah menghubungiku?”

“Aku sangat ingin tapi tak bisa. Seminggu setelah itu, aku berkali-kali mencoba mengirim pesan melalui akun media sosialmu, tapi semuanya sudah tidak aktif. Begitu juga dengan nomor teleponmu. Aku juga tidak mengetahui alamat barumu.”

Benar juga. Saat itu Gita memang sengaja cepat-cepat menghapus semua akun media sosialnya. Pindah tempat tinggal dan juga mengganti nomor teleponnya. Ia sama sekali tidak mengira bahwa Gabriel akan mencoba untuk menghubunginya. Saat itu yang ada dipikirannya hanya kenyataan bahwa lelaki itu sudah meninggalkannya tanpa sebab. Hilang seperti ditelan bumi. Dan Gita hanya ingin melupakan segala hal tentang lelaki itu.

“Dalam suasana yang kalut itu, aku dituntut untuk mengambil alih kepemimpinan ayahku di perusahaan.  Juga mengurus adikku di rumah sakit. Dan saat itu aku bersumpah bahwa setelah semua keadaan stabil, aku akan kembali ke hadapanmu. Walaupun... dengan kemungkinan bahwa aku sudah hilang dari hatimu.” Suara Gabriel mendadak serak.

Lelaki itu membelai pipi Gita dengan penuh kasih sayang. “Berbulan-bulan aku melihat adikku terbaring di ranjang rumah sakit, dan sekarang aku harus melihat hal yang sama terjadi padamu. Benar-benar... aku benar-benar merasa menjadi lelaki yang tidak berguna. Tidak bisa menjaga orang yang aku sayangi.”

Gita menatap Gabriel dengan lembut. Amarah dan kebencian yang selama ini ia pupuk kepada sosok di hadapannya, perlahan mulai sirna. “Dan syukurlah sekarang kita bisa bertemu kembali.”

“Ya. Sebenarnya... perusahaan tempatmu bekerja sekarang adalah salah satu cabang perusahaan yang dimiliki ayahku. Aku yang meminta untuk mengirimkan surat perekrutan kerja ke fakultas. Dengan begitu aku akan dengan mudah mendapatkan alamat tempat tinggalmu.”

Gita tertawa kecil. Pantas saja lelaki ini dengan mudah mencegatnya di tengah jalan pulang. “Astaga- bukankah itu tindakan yang curang?”

Gabriel mengangkat bahunya lalu tersenyum. “Tidak ada cara lain yang terpikirkan. Lagi pula cara itu cukup berhasil untuk bertemu denganmu.”

Gita membelai kulit Gabriel yang kecokelatan dan membalas senyuman lelaki itu. “Terima kasih sudah kembali.”

Gabriel kembali menundukkan kepalanya lalu bertanya dengan suara tercekat. “Lalu... apa sudah ada lelaki yang mengisi hatimu sekarang?”

Gita tidak langsung menjawab. Ia mengambil jeda sebentar tapi terasa begitu menyiksa bagi Gabriel.

“Ada.”

Jawaban itu seketika langsung membuat jantung Gabriel seakan ditusuk sebuah belati. Begitu cepat dan melukainya dengan hebat.

Gita menahan napas saat melanjutkan kata-katanya. “Lelaki itu kau, Gabriel. Apa pun perasaanku terhadapmu, entah benci atau cinta, tapi hanya kau yang selalu aku pikirkan.”

Binar kebahagiaan terbit di mata Gabriel. Ingin rasanya ia memeluk gadis ini dengan erat sebagai ungkapan kebahagiaannya. Tapi ia sadar bahwa kondisi tubuh Gita masih lemah. Akhirnya, Gabriel berdiri dari duduknya lalu menundukkan kepala mengecup dahi Gita.

“Terima kasih,” gumam Gabriel. Bergegas lelaki itu memutar tubuhnya menghadap meja di samping tempat tidur Gita. Air matanya mulai menetes dan ia terlalu malu untuk menunjukkannya di hadapan gadisnya.

Gita merasakan basah di pipinya. Padahal ia tidak mennagis. Lalu apakah ini air mata Gabriel? Ia menatap punggung lelaki yang tampak sibuk dengan sesuatu di atas meja. Ketika baru membuka mulut hendak bertanya, Gabriel sudah berbalik dan tersenyum padanya. Kening Gita mengernyit heran. Tidak ada tanda-tanda lelaki itu menangis.

“Ini sudah waktunya makan. Kau harus berusaha untuk mengembalikan kondisi tubuhmu,” kata Gabriel sambil mengatur ranjang agar posisi kepala Gita lebih tinggi. “Aku akan menyuapimu. Jadi berjanjilah untuk cepat sembuh.”

Gita menyantap makanannya dengan lahap. Bubur itu terasa lebih lezat karena Gabriel sudah kembali ke sisinya sekarang. Berkali-kali Gita tersenyum tak mampu menyembunyikan kebahagiaannya.  Hingga lelaki di hadapannya mengernyitkan dahi karena kebingungan.

Selesai menyuapi gadisnya, Gabriel kembali menggenggam tangan Gita. Ia mengecup lembut jemari gadis itu. Lalu berbisik,“Getelah kau diperbolehkan pulang dari rumah sakit, ikutlah aku ke Spanyol.”

Apa? Gita menajamkan pendengarannya. “Kenapa? Maksudku- untuk apa?”

“Aku ingin kau bertemu dengan adikku, satu-satunya keluargaku saat ini.”

Gita harus mengingatkan dirinya untuk bernapas. Ia sudah terlalu bahagia saat menemukan fakta bahwa  Gabriel masih mencintainya. Tidak seperti yang ia pikirkan selama ini. Dan sekarang lelaki itu meminta dirinya untuk ke Spanyol bersamanya. Untuk bertemu dengan anggota keluarganya. Gita merasa tidak percaya. Apa ini mimpi?

“Jadi, apa jawabanmu?” tanya Gabriel tidak sabar.

Gita menganggukkan kepala seraya tersenyum. Ia menjawab tanpa perlu memikirkannya berkali-kali. “Aku akan ikut denganmu ke Spanyol.”

Mata Gabriel terbelalak tidak percaya. Ia berharap ini bukan mimpi di antara tidurnya. Untuk lebih meyakinkan hatinya sendiri, ia menempelkan tangan Gita ke pipinya. Merasakan setiap kelembutan kulit gadis itu. Lalu ia berkali-kali menghujani tangan Gita dengan kecupan-kecupan ringan.

“Terima kasih,” gumam Gabriel. “Aku mencintaimu, Gita. Aku akan selalu menjagamu dan juga cinta kita.”

Gita mengerjapkan matanya. Ia merasa takjub dengan apa yang terjadi. Lelaki yang meninggalkannya kini kembali hadir dengan membawa cinta yang sama. Sepertinya jarak yang sempat membentang di antara mereka cukup menggali kerinduan yang sangat dalam. Tak henti-hentinya Gita mengucap syukur di dalam hati. Kini ia tahu, tidak ada manusia yang diciptakan sebatang kara di dunia ini. Hal yang terpenting adalah mau atau tidaknya kita membuka hati.

Air mata kebahagiaan menitik di sudut mata Gita. Dengan lembut Gabriel mengusap air matanya lalu tersenyum. Sedetik kemudian, Gita merasakan bibirnya disentuh ringan oleh bibir Gabriel. Baru saja ia dicium oleh seorang lelaki yang menjaga hatinya demi gadis seperti dirinya.


TAMAT

Selasa, 23 Desember 2014

Overdue



“Brak!!” Suara kursi yang dibanting dengan penuh amarah terdengar begitu mengerikan.

“Hentikan Carla! Atau aku akan membunuhmu saat ini juga!!” Ancaman dengan suara gemetar keluar dari mulut seorang wanita yang tengah menodongkan pistol kepada wanita gila di hadapannya.

“Aku tahu kau takkan membunuhku, Diana.” Seulas senyum licik tersungging di bibir Carla yang berlumuran darah. Diana yang kakinya gemetar mundur selangkah demi selangkah untuk menjauhi Carla yang semakin mendekat.

“Kyaaaaa” teriak Diana yang jatuh terduduk karena tersandung sebuah benda di belakangnya. Tangannya meraba kain basah yang di dudukinya. Darah. Diana melihat darah di tangannya. Bau anyir yang sedari tadi menusuk hidungnya ternyata adalah darah yang mengalir dari tubuh pria yang tergeletak mengenaskan dengan tangan dan kaki yang terpisah dari tubuhnya. Rasa mual mengaduk-aduk perut Diana.

“Kau mengerikan Carla!” Teriak Diana histeris, bergegas berdiri dan melesat menuju pintu utama rumahnya. Tawa puas Carla menggelegar memenuhi seisi ruangan.

“Tenang saja adikku tersayang, kau tak perlu lari. Harusnya kau tak melihat semua ini. Sayang sekali, karena kau telah melihatnya, terpaksa kau pun harus segera mengikuti ayah saat ini juga.” kata Carla dengan wajah sedih yang dibuat-buat. Kemudian ia mengikuti Diana dengan santai menuju ke pintu utama. Diana yang berusaha memasukkan kuncinya pada lubang kunci dengan terburu-buru, panik mendengar langkah Carla hingga kuncinya terjatuh. Tanpa ragu lagi, Carla segera mendekat dan mengarahkan pisau tajam yang digenggamnya ke arah tubuh adiknya.

“Kyaaaaaaaaaa!!!!!”

“Sarah!! Berisik!” Kata seorang lelaki yang sedang berdiri di belakang Sarah.

“Kau yang mengagetkanku Vin. Aku sedang konsentrasi menonton ini.” Protes Sarah geram sambil menunjuk laptopnya yang memutar film thriller barat, yang sedang booming di Indonesia.

“Selalu saja menonton film seperti itu. Itu tak baik untuk otakmu.” kata Vino sambil mengacak-acak rambut Sarah. Tanpa peduli omongan Vino, Sarah tetap asyik menonton film tersebut.

“Sar, besok aku ke Surabaya.” Satu kalimat yang membuat Sarah mengalihkan perhatian dari film yang ditontonnya. Sarah terdiam memandang lelaki yang telah menjadi kekasihnya selama setahun itu.

“Untuk apa? Kenapa kau baru mengatakannya padaku? Berapa hari?” Pertanyaan memberondong keluar dari mulut Sarah.

“Arka sakit. Mama memintaku menemaninya menjenguk Arka. Mungkin seminggu.” Jawab Vino sambil mempermainkan ponsel yang ada di tangannya.

“Oh..Baiklah” Suasana hening menyelimuti sekitar mereka. Sarah masih terus memandang Vino, mengerutkan dahinya, merasakan ada sesuatu yang salah dengan Vino.

“Aku pulang dulu sayang, aku harus bersiap-siap. Kau cepatlah pulang. Hari sudah gelap.” Kata Vino meraih tasnya kemudian berjalan meninggalkan Sarah. Sarah meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja dan mengetik sebuah pesan singkat.

Apa kabarmu, Arka?

Bimbang antara mengirimnya atau tidak. Akhirnya tanpa ragu lagi, Sarah segera mengirim pesan singkat yang telah ditulisnya. Sarah memainkan ponselnya, menunggu balasan pesan yang telah dikirimnya. Tak perlu menunggu lebih lama lagi, akhirnya ponsel Sarah berbunyi. Dengan cepat ia membuka isi pesan di ponselnya.

Luar biasa baik. Apa kau merindukanku?

Sarah memejamkan matanya. Harusnya ia tahu jika tindakannya salah. Namun kecurigaannya pada Vino belakangan ini membuatnya harus segera bertindak. Tanpa membalas pertanyaan Arka, Sarah memasukkan ponselnya kedalam saku jaketnya. Kemudian membereskan laptop dan buku-bukunya untuk segera pulang ke rumahnya.

Hari Sabtu pagi. Seperti biasanya, Sarah memulai aktivitasnya dengan segelas teh manis hangat dan biskuit gandum kesukaannya. Udara pagi ini begitu segar berkat hujan semalam yang tak henti-hentinya mengguyur kota Malang. Ponsel di saku celana Sarah bergetar. Segera dibukanya pesan singkat dari kekasihnya, Vino.

Aku berangkat sayang. Sampai jumpa minggu depan. I love you.

Pesan singkat yang dikirim Vino membuatnya teringat akan jawaban Arka semalam.

Benar kau ke Surabaya bersama mama untuk menjenguk Arka?

Tentu saja! Apa kau sedang menuduhku berbohong?

Tidak. Aku hanya bertanya. Jika memang benar, kenapa kau harus marah?! Bye. Berhati-hatilah di jalan. I love you too.

Sarah mengalah, meskipun kecurigaan semakin merajai hati dan pikirannya. Agar tak berlarut-larut dalam kecurigaannya, akhirnya Sarah memutuskan untuk melakukan hobinya, menulis. Tanpa terasa pagi pun telah berganti senja. Cukup lama, bahkan terlalu lama ia meluangkan waktu untuk hobinya. Perutnya mulai berontak karena demi sebuah hobi, membuat Sarah tidak memperhatikan jam makannya. Orang tuanya yang terlalu sibuk pun membuatnya jarang mendapatkan perhatian. Diraihnya jaket abu-abu yang tergantung di pintu kamarnya kemudian Sarah menuju warung terdekat dari rumahnya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dibukanya pesan dari Astrid, adik tingkatnya.

Kak, buruan ke kafe dekat kampus. Sekarang!

Tidak biasanya Astrid mengirim pesan pada Sarah. Pasti ada yang salah, pikirnya. Sarah kembali ke kamarnya, mengambil kunci motor dan memacu motornya secepat mungkin menuju kafe yang dimaksud oleh Astrid. Sungguh mengejutkan. Apa yang dilihatnya membuat kakinya gemetar. Gadis berkemeja ungu itu menangis tersedu. Diusapnya air mata dari kedua pipinya dengan sebelah tangannya. Lalu sebelahnya lagi terhubung dengan tangan seorang lelaki.

Astrid menepuk bahu Sarah bermaksud menenangkannya. Namun mata Sarah masih terfokus pada lelaki yang duduk membelakanginya, hingga ia menyadari sesuatu. Jam tangan yang dipakai lelaki itu adalah jam tangan yang diberikan Sarah pada lelaki itu empat tahun yang lalu saat ia berulang tahun.

“Arka..” Ucapnya pelan.

“Apa?? itu bukan Vino?” Mata Astrid terbelalak kaget. Seulas senyum lega tersungging di bibir tipis Sarah.

“Bukan. Itu adiknya.” Jelas Sarah singkat. Astrid menunduk malu karena menyadari kesalah pahamannya. Berulang kali Astrid meminta maaf karena kesalahannya. Sarah tertawa melihat kepolosan dan maksud baik Astrid. Akhirnya perutnya yang keroncongan membuat ia memutuskan untuk memesan makanan kesukaannya di kafe tersebut. Selagi menunggu pesanannya dihidangkan, sesuatu mulai mengusik pikirannya. Diraihnya ponsel di dalam saku celananya dan diketiknya sebuah pesan singkat untuk kekasihnya.

Kau dimana?

Tak perlu menunggu lama untuk mendapatkan balasan dari Vino.

Aku di Surabaya sekarang. Ada apa?

Bagaimana keadaan Arka?

Demamnya tinggi. Mungkin besok akan dibawa ke rumah sakit.

Kurang ajar! Batin Sarah dalam hati. Vino telah menggunakan adiknya untuk membohongi Sarah. Darahnya mulai mendidih. Pikirannya kacau. Rasa mual mulai menyerbunya. Sarah yang tengah berkutat dengan pikirannya sendiri tiba-tiba dikagetkan oleh kedatangan lelaki yang memanggil-manggil namanya.

“Arka..” Sarah tercengang melihat lelaki dihadapannya. Lelaki itu menyunggingkan senyum di bibirnya memperlihatkan lesung pipinya yang mempesona.

“Kenapa kau ini? SMSku kau biarkan begitu saja.” Kata Arka cemberut sambil menopang dagunya dengan sebelah tangannya.

“Kau baik-baik saja? Kenapa kau disini?” Sarah balik bertanya tanpa mempedulikan pertanyaan Arka.

“Seperti yang kau lihat. Aku baik-baik saja kan. Apa salahnya aku pulang kampung, Sar?”

“Vino bilang kau sakit?”

“Lantas kau mengkhawatirkanku?”

“Vino bilang menemani mama ke Surabaya untuk menjengukmu selama seminggu.” Arka mengerutkan kening mendengar jawaban Sarah. Mimik wajahnya yang begitu sedih, suaranya yang bergetar, matanya yang mulai berair membuat Arka tak tahan melihat gadis yang disayanginya itu terluka oleh kakaknya sendiri. Diketiknya nama Vino di layar ponsel empat inchinya, kemudian ia menempelkan ponselnya ke telinga.

“Vin, kau dimana? Jemput aku di terminal.” Kata Arka ketika Vino mengangkat ponselnya.

“Sori, Ka. Setelah ini aku harus ke stasiun.” Tolak Vino.

“Untuk apa? Sekarang?”

“Iya, aku ke Semarang. Setengah jam lagi aku harus berangkat ke stasiun. Kau bisa kan pulang sendiri?” Tanpa menjawab pertanyaan Vino, Arka mematikan telponnya. Ditatapnya gadis di depannya yang tengah mengunyah makanannya dengan perlahan. Dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring kaca terdengar saat gadis itu mempermainkan makanannya.

“Habiskan makananmu.” Kata Arka lembut. Sarah menggeleng pelan, menelungkupkan sendok dan garpunya tanda ia telah menyelesaikan makannya.

“Aku sudah kenyang.” Kata Sarah seraya meraih secangkir teh hangat yang telah dipesannya. Setelah menghabiskannya, ia menuju ke kasir untuk membayar makanannya dan berjalan keluar tanpa berpamitan pada Arka. Arka memandang gadis itu melangkah gontai menuju pintu kafe.
***
Ditatapnya cukup lama gadis yang sedang berusaha memasukkan kunci pada lubang gembok untuk membuka gerbang sebuah rumah. Ia sangat mengerti bahwa gadis itu selalu berpura-pura tegar karena cukup lama ia mengenal gadis berambut ikal tersebut.

Hatinya mulai bimbang, antara memberi tahu sebuah kenyataan atau menyimpannya agar tak melukai gadis kesayangannya itu. Cukup lama ia berkutat dengan pergolakan hatinya hingga sebuah keputusan telah dibuat. Ia tahu apapun resikonya, meski nantinya gadis itu harus menemukan kenyataan terburuk dengan melihat Vino yang mungkin bersama gadis lain.

“Ikut denganku.” Kata Arka yang tiba-tiba berdiri di belakang Sarah. Sarah membalikkan badannya untuk memandang pemilik suara. Sarah mengernyitkan keningnya, tidak mengerti dengan ucapan Arka. Arka menggenggam tangan Sarah kemudian menariknya menuju mobil yang terparkir di depan rumah Sarah. Sarah tak melawan saat Arka menarik tangannya. Pikiran warasnya seolah meninggalkan otaknya, harusnya ia menghindari hal seperti ini karena hal ini bisa jadi bumerang bagi dirinya sendiri.

Arka memacu mobilnya dengan cepat demi memburu waktu. Sepuluh menit kemudian sampailah mereka berdua di depan stasiun. Belum sempat Sarah dan Arka turun dari mobil, sebuah pemandangan romantis mengejutkan mereka berdua. Vino menggandeng tangan seorang gadis yang baru saja turun dari taksi yang sama.

Arka memandang gadis yang duduk gemetar di sampingnya. Air yang menggenangi matanya seolah tak mampu lagi terbendung hingga menetetes membasahi wajah cantiknya. Emosi Arka yang tertahan akhirnya meledak ketika gadis yang disayanginya itu menangis. Dengan cepat Arka keluar dari dalam mobilnya dan menendang kakaknya hingga jatuh tersungkur. Umpatan kotor bertubi-tubi keluar dari mulut Arka untuk kakak yang selama ini dihormatinya.

“Dia siapa, Vin?” Tanya Sarah dengan suara yang bergetar karena menahan tangisnya.

“Seperti apa yang kau pikirkan.” Jawab Vino acuh yang membuat hati Sarah semakin terasa sakit.

“Lalu, aku?”

“Maaf Sar, aku tidak lagi bisa melanjutkannya denganmu.” Jawabnya santai seraya mengambil tas yang tergeletak dan menggandeng gadis itu menuju ke dalam stasiun. Tangis Sarah pecah. Hatinya terkoyak pedih ketika melihat Vino menggandeng gadis itu dengan mesra. Arka segera merengkuh gadis kesayangannya itu kedalam pelukannya. Menenangkannya dengan caranya. Seperti empat tahun yang lalu.
***
“Lepaskan!” Teriak Sarah sekencang-kencangnya melawan hingar-bingar musik yang dimainkan oleh band kesayangannya. Konser yang penuh sesak itu membuat Sarah terpisah dari teman-temannya dan seseorang berlaku kurang ajar padanya. Sarah terus meronta karena lelaki tersebut terus menerus meraba tubuhnya hingga ia menangis ketakutan. Ia tak bisa menghindar karena semua orang sibuk dengan kesenangannya tanpa mempedulikan gadis yang tengah berjuang untuk menyelamatkan harga dirinya.

Tiba-tiba seseorang menariknya menjauh dari kerumunan tersebut. Kepanikannya semakin menjadi-jadi. Ia terus-menerus meronta hingga menyadari siapa yang telah menariknya.

Arka.

Lelaki tampan berlesung pipi yang merupakan cinta pertamanya yang ia lihat saat class meeting sekolah setahun yang lalu. Ia memang tak pernah punya keberanian untuk berbicara  dengan Arka sebelumnya.  Dan hari ini mungkin kesempatannya untuk berbicara dengan Arka. Tindakan Arka membuatnya bak seorang putri yang diselamatkan pangerannya seperti di cerita dongeng.

Air mata kelegaan mengalir dari mata indah Sarah. Ia terisak membayangkan apa saja yang akan terjadi pada dirinya jika Arka tak menolongnya. Lalu lengan yang begitu kuat merengkuh Sarah dengan erat. Menenangkan tangisnya sambil membisikkan kata-kata yang menenangkah hatinya.

“Aku menyukaimu.” Bisik Arka di telinga Sarah. Dua kata tersebut membuat Sarah membeku. Dua kata yang begitu menghangatkan hatinya. Namun sayangnya setelah kejadian itu, Arka tak pernah lagi mengucapkan kata-kata itu pada Sarah. Bahkan Arka tak pernah mempertanyakan bagaimana perasaan Sarah padanya. Hubungan mereka hanya sebatas teman. Tak ada salah satu dari mereka berdua yang berani memulai untuk menjalin hubungan yang lebih serius.  

Setelah lulus SMA, Arka melanjutkan kuliah sebagai mahasiswa ekonomi di Surabaya. Dan Sarah melanjutkan kuliahnya sebagai mahasiswi sastra di Malang. Sampai akhirnya, Ia bertemu dengan senior yang memiliki paras mirip dengan Arka.

Setahun kemudian Arka kembali disaat Sarah terlanjur menjalin hubungan dengan seniornya, Vino, yang ternyata baru diketahui bahwa dia adalah kakak kandung Arka. Hati Sarah bimbang. Arka terlambat. Berulang kali Arka membujuk agar Sarah memutuskan hubungannya dengan Vino. Namun Sarah tetap pada pendiriannya. Ia memikirkan perasaan Vino meskipun harus mengorbankan perasaannya, dan perasaan Arka tentu saja. Hingga tibalah hari ini. Hari yang sekian lama ditunggu oleh Arka.
***
“Aku mencintaimu.” Bisik Arka lembut di telinga Sarah. Sarah melepaskan dekapan erat Arka. Hatinya berdebar. Ia tak percaya bahwa Arka akan mengatakannya.

“Kenapa kau mengatakan itu jika akhirnya kau meninggalkanku?” Sarah menatap lekat-lekat cinta pertamanya yang tak pernah pudar dari hatinya.

“Maafkan aku. Saat itu aku terlalu penakut. Aku takut kau menolakku, karena sikapmu biasa saja setelah aku mengungkapkan perasaanku.” Jelas Arka. “Kemudian, aku bertemu Nina, sahabatmu dan dia menceritakan semuanya padaku. Tapi aku terlambat. Kau telah menjadi milik Vino.” Lanjutnya. Cukup lama mereka saling menatap satu sama lain. Hingga Arka memberanikan diri untuk mendekatkan wajahnya pada Sarah dan mengecup ringan bibir tipisnya yang lembut.

“Aku tahu aku terlambat, tapi kumohon berikan kesempatan padaku. Aku berjanji akan membahagiakanmu Sarah.” Arka sekali lagi memohon pada Sarah. Sarah membisu, seolah terhipnotis oleh ucapan Arka. Sesaat gadis itu tersadar akan sesuatu dan mengerutkan keningnya.

“Lalu, perempuan  yang bersamamu di kafe kemarin?”

“Dia mantan pacarku. Kami sudah putus saat kau melihatnya kemarin.”  Beberapa detik setelah Arka mengakhiri penjelasan singkatnya, seulas senyum simpul terkembang dari bibir Sarah.

“Aku mencintaimu, Arka. Dan itu tak pernah berubah sedikitpun.” Bisik Sarah sambil melingkarkan tangannya pada leher Arka.
TAMAT